Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 58


__ADS_3

Happy reading ✓


Bruaakkkkk seorang Pria paruh baya memukul meja dengan kencangnya. Erik dia adalah ayah bintang kini matanya melotot nyalang menatap anak semata wayangnya, pria itu begitu marah karena bintang baru saja mengutarakan keinginan nya yang akan membatalkan pertunangannya dengan Kanaya, bukan hanya itu saja yang membuat Erik marah. Keputusan bintang yang tidak mau lagi melanjutkan study nya di Oxford.


Hal itu seperti tamparan keras untuk Erik dan Alda selaku orang tua bintang. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir anaknya, "keterlaluan kamu bintang, kamu berhasil mengangkat kami terbang sampai ke langit, tapi dengan entengnya kamu menjatuhkan kami begitu keras" ucap Erik dengan amarah nya.


Alda hanya bisa menangis membiarkan sang suami yang bertindak, jika ini bukan kesalahan fatal perempuan itu pasti yang akan maju membela sang putra, karena pada dasarnya Alda memilih hati yang lembut. Ia tidak akan membiarkan orang yang disayangi kena omel.


Namun tidak dengan kasus kali ini, menurutnya bintang sudah sangat keterlaluan jadi tidak ada alasan bagi wanita itu untuk membela anaknya.


"Ayah masih bisa mentolerir jika keputusan kamu stop berkuliah di Oxford, tapi kalau kamu yang memutuskan pertunangan dengan Naya apa kamu udah nggak waras bintang" ucap Erik berapi-api


"Bintang nggak bahagia yah sama Naya, harus dengan cara apa ayah sama bunda mau ngertiin perasaan bintang" ujar laki-laki itu lemah.


"Lantas apa kamu nggak ngertiin perasaan Kanaya nantinya hm?!!" Tanya Erik murka.


"Aku akan ngomong terus terang sama orang tua Naya yah, bintang yakin mereka pasti ngerti" tukasnya meyakinkan


"Cukup bintang ayah sama bunda akan merasa berhutang nyawa sampai terjadi apa-apa dengan Naya" pungkas Erik


"Terserah ayah, kali ini bintang nggak perduli lagi. Bintang akan tetap batalin pertunangan aku sama Naya, bintang nggak ijinin ayah atur-atur urusan pribadi aku lagi, stop ayah" ucap bintang lantang. Selanjutnya ia keluar rumah dan melaju pergi menggunakan mobilnya. Meninggalkan rasa kecewa yang harus kedua orang tuanya telan pahit-pahit.


****


Disisi lain bulan kini sudah pulang lagi kerumahnya, gadis itu memilih berdiam diri dikamar sembari mengerjakan beberapa tugas kuliahnya,l. Sementara itu papa Dimas Yuni serta Kanaya sedang berada diruang keluarga, melepas rasa kangen antara anak dan orang tua.


Keseruan tiga orang itu hari berhenti manakala mendapati bintang yang sudah berdiri tak jauh dari ruang keluarga, menyadari ada bintang Dimas dan Yuni tersenyum ramah. Sedangkan Kanaya tersenyum hangat menyambut kedatangan laki-laki yang paling dicintainya.

__ADS_1


"Eh bintang sini nak duduk" Titan Dimas,


"Makasih om, bintang kesini juga nggak lama ko, bintang mau mengatakan sesuatu yang penting sama om Dimas dan Tante Yuni" kedua pasangan suami-istri itu mulai mendengar kan. Namun tidak dengan Kanaya jantung gadis itu mulai berdebar tidak karuan. Ia takut jika bintang akan mengatakan hal yang tidak ingin dirinya dengar.


"Ada apa bintang?" Tanya Dimas, pemuda itu menghela nafas dalam-dalam menatap Dimas serius.


"Aku mau membatalkan pertunangan antara aku dan Kanaya" ucap bintang yakin


Deg!! Dimas kaget, Yuni kaget, Kanaya? Jangan ditanya gadis itu tak hanya kaget namun juga menegang satu tetes bulir bening sudah jatuh digenggaman tangannya. Akhirnya apa yang ditakutkan terjadi juga. Bintang akan mengatakan hal itu.


"Tapi kenapa? Apa kalian ada masalah? Tanya Yuni shock menatap bintang dan Naya bergantian.


"Maaf Tante sebenarnya sudah sejak lama aku ingin batalin pertunangan ini, tapi orang tua aku yang menjadi alasan agar aku tetap mempertahankan hubungan ini" bintang menunduk sejenak menata lagi rangakaian kata agar Dimas dan Yuni mau mengerti dengan keputusan nya.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku rasa sebelum terlalu jauh aku harus stop disini, karena jika dipaksakan itu akan sama-sama menyakiti hati aku ataupun Naya" sambungnya lagi, Dimas dan Yuni merasa sedih dan terpukul namun tidak bisa berbuat banyak. Lantaran mereka tidak berhak untuk memaksa.


Selanjutnya bintang menyerahkan sebutir cincin pertunangan dulu dengan Naya. Menyerahkan kehadapan Yuni dan dimas. Mengartikan jika pertunangan antar Naya dan dirinya telah usai, Naya makin bergetar rasanya ia ingin sekali berteriak mencegah semua itu, namun tak sanggup untuk ia lakukan.


"Naya maaf mulai sekarang aku bukan lagi tunangan mu, permisi om Dimas Tante Yuni aku pamit dulu permisi" bintang beranjak setelah menyalami tangan dua orang paruh baya itu dia langsung pergi dari kediaman Dimas.


Ketiganya saling terdiam, Yuni melirik putrinya ia paham betul dengan apa yang tengah anaknya rasakan saat ini. Sebagai seorang ibu jelas ia merasa sakit, karena Yuni paham betul Kanaya sangat mencintai laki-laki itu. Namun kini harus memberi pengertian pada Naya jika bintang bukanlah jodohnya.


Satu tangan Yuni meraih tangan Naya yang sedari tadi terkepal. Tersenyum hangat mencoba memberikan kekuatan pada Naya, agar jangan terlalu berlarut-larut.


"Naya ikhlasin yah nak, kamu akan dapat laki-laki yang lebih baik dari bintang. Papa yakin itu" kata Dimas menyemangati. Naya tersenyum tipis sebagai respon


***

__ADS_1


Disisi lain bulan tak kalah shock dengan apa yang baru saja didengarnya, bulan tak sengaja menguping saat dirinya hendak turun untuk mengisi botol airnya yang kosong. Mendapati ada bintang dirumahnya. Awalnya ia akan bersikap cuek. Namun mendengar obrolan yang mengarah pada hubungan Naya dan bintang, ia jadi kepo lalu dengan seksama ia menguping semua pembicaraan bintang.


Bulan kaget ia tidak menyangka dengan ucapan bintang waktu itu. Ternyata Laki-laki itu tidak main-main dengan ucapannya.


****


Kamar Kanaya kini berubah seperti habis diterjang badai. Berantakan semua barang-barang nya pecah berserakan dimana-mana. Selepas kepulangan bintang ia langsung masuk kedalam kamar dan meluapkan. Semua kekecewaan serta sakit hatinya.


Kanaya kacau penampilan sungguh kacau entah sudah berapa banyak air mata yang ia teteskan. Namun tak juga memberikan rasa lega, rasa sesak didada begitu sangat menghimpitnya, ia menatap dirinya didepan cermin tersenyum mengejek dirinya sendiri yang sudah kalah.


"Naya, Naya kasian yah kamu, kamu nggak seharusnya hidup, mati itu lebih pantas kamu dapatkan" gadis itu terkekeh Mengajak bicara pada pantulan dirinya dicermin.


Gadis itu menggeleng, "enggak Naya bukan kamu yang harusnya mati, selama ini kamu udah sangat sabar, harus nya perempuan itu yang mati, ya perempuan itu yang harus mati gara-gara dia juga kan kamu dicampakkan bintang" nama masih mengajak bicara dirinya didepan cermin. Senyum smirk mulai terbit dibibir nya.


****


Keesokan harinya keluarga Dimas sedang menikmati acara makan malamnya, mereka makan dengan tenang tak ada yang bersuara. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring.


"Bulan ayo cepat dimakan, nanti keburu dingin sup nya" titah Dimas, menyadari bulan yang tak kunjung menjamah makannya, itu karena dirinya yang sedikit sibuk berbalas chat dengan Langit.


"Iya pa" bulan menurut ia langsung meletakkan ponselnya. Lalu mulai menyantap makanannya


Bulan mulai terbatuk-batuk sesekali menggosok lehernya, ia memilih untuk menyudahi suapan makan nya. Ia terbatuk-batuk makin hebat. Membuat yang disitu terheran. Lantas selanjutnya yang terjadi adalah bulan yang jatuh terkapar dengan mulut penuh busa.


Sontak semuanya langsung berhambur panik, mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dimas langsung membopong tubuh bulan untuk ia bawa masuk kedalam mobil. Yuni dan Naya pun ikut naik, mereka semua terlihat sangat cemas.


Bersambung. .

__ADS_1


__ADS_2