Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Episode 5. Ngerumpi di Kantin


__ADS_3

Waktu istirahat siang telah tiba, Bulan merapikan meja kerjanya dan beranjak keluar ruangan dengan tujuan akan makan siang di kantin bersama sahabat-sahabatnya, Nita dan Mega.


“Hai Bulan, cepat pesan makanan. Kami tunggu di meja sini ya !” panggil Nita sambil melambaikan tangan pada Bulan.


“Oke, “ sahut Bulan sambil berjalan menuju tempat Bu Marni berjualan, Bulan kali ini memesan nasi soto ayam dan teh manis hangat.


Bulan duduk bergabung dengan dua sahabatnya itu. Nita sudah menikmati menu makan siangnya nasi Padang dan Mega tampak sedang lahap makan gado-gado.


Akhirnya mereka bertiga mulai mengobrol tentang beberapa kejadian yang mereka alami sepanjang hari ini, tidak terkecuali Bulan. Dia pun terlihat antusias bercerita tentang apa yang telah di alami tadi pagi saat baru sampai di kantor.


“Hah, masa sih Lan ? wah, bisa gawat nih kamu,” kata Nita terkejut saat mendengaar cerita Bulan.


“Gawat kenapa ?” tanya Bulan penasaran.


“Iya lah, secara dia itu kan bos kita Lan. Siapa yang ngga tahu tentang bagaimana sifat dan karakter seorang Bintang Mahardhika Putra coba? “ jelas Nita pada Bulan sambil menikmati es jeruk yang sudah dipesannya tadi.


“Bagaimana dia ?” Bulan semakin dibuat penasaran oleh sahabatnya.


“Pak Bintang itu orangnya dingin sekali Lan, berbicara pun seperlunya saja, susah senyum apalagi dengan orang yang baru dia kenal. “ cerita Nita lebih bersemangat.


“Tapi pak Bintang kan orangnya tampan sekali, siapa sih yang tidak ingin jadi kekasihnya? Aku saja berharap bisa jadi kekasihnya, hehehe … “ ucap Mega dengan sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Bintang, atasannya itu.


“Hahaha …. Mimpiiiiii …. “ jawab Bulan dan Nita hampir bersamaan.


Mereka bertiga melanjutkan makan siangnya sambil diselingi candaan diantara mereka.


Meskipun mereka belum lama kenal tapi kalau sudah berkumpul sudah seperti sahabat yang sudah bertahun-tahn kenalnya.


“Lan, kamu sudah punya pacar ?” tanya Mega pada Bulan tiba-tiba.


“Tidak, aku tidak punya pacar. “ jawab Bulan.


“Ah, masa sih Lan ? Kamu kan punya wajah cantik, postur tubuh kamu juga ideal, otakmu cerdas juga. Masa tidak ada laki-laki yang mau bidadari seperti kamu? Tanya Mega penasaran.


“Iya, sungguh aku tidak punya pacar saat ini. Kalau kalian kan pasti sudah punya ya? Bulan tersenyum bertanya pada mereka.


Nita dan Mega mengangguk bersamaan.


“Bulan, bagaimana kalau kamu pacaran aja sama bos kita ?” ucap Nita menawarkan ide pada Bulan.


“Siapa yang kamu maksud itu Nit ?” tanya Bulan penasaran lagi.


“Itu Lan, pak Bintang … Beliau kan belum punya istri Lan, meskipun dia sudah hampir berusia 30 tahun,” ucap Nit


“ Apa ?! Oh, tidaaaakk … “ teriak Bulan sambil menggerakkan kedua tangannya menunjukkan penolakan.


Mendengar teriakan Bulan, para pengunjung yang duduk di dekat meja Bulan dan sahabatnya itu langsung memandang ke arah Bulan, membuat Bulan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Kedua sahabatnya sama-sama menahan tawa, kemudian Nita bertanya lagi pada   Bulan “Mengapa kamu tidak mau ?”


“Ih, aku benci dia, aku masih kesal sama dia gara-gara tadi pagi. Gayanya sombong sekali, tidak ada ungkapan untuk minta maaf padahal dia yang salah“ ucap Bulan sambil melototkan matanya.


“Hmm … Hati-hati dengan ucapanmu itu Lan, “ kata Mega.


“Iya Lan, sekarang kamu bilang benci, nanti lama-lama kamu akan jatuh cinta padanya.  Haahaa … “ kata Mega sambil tertawa memandang Bulan.


Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama sebelum akhirnya kembali ke ruangan.


***


 


“Hmm … siapa ya dia, aku baru melihatnya ?” gumam Bintang yang sedang duduk di kursi kebesarannya di dalam ruangannya itu. Bintang tampaknya sedang memikirkan sosok Bulan, perempuan cantik yang tidak sengaja dia temui tadi pagi saat baru sampai di kantor dan saat presentasi dengan klien di ruang pertemuan.


Arda, asisten pribadi Bintang sekaligus sahabat baiknya sedang duduk di sofa didalam ruangan Bintang, menatap wajah bosnya itu dengan penuh tanda tanya, “Bin, kamu kekenyangan ya setelah makan tadi? Tanya Arda.


“Tidak … “ jawab Bintang lirih.


“Lalu, mengapa kamu bengong begitu ?” tanya Ardi lagi.


“Aku sedang penasaran dengan seseorang.”


“Siapa Bin, apa aku mengenalnya ?”


“Hahaha … Kirain ada apa Bin, ternyata soal perempuan. Kamu sepertinya penasaran sekali ya dengan Bulan,” ucap Arda sambil mendekat duduk di depan meja Bintang.


“Siapa, Bulan?” tanya Bintang pada sahabatnya itu.


“Iya, dia itu namanya Bulan, anak Marketing staffnya pak Tomi. Dia baru seminggu ini bekerja disini, anaknya cantik sekali dan mudah bergaul” Arda menjelaskan gadis yang dimaksud oleh Bintang.


“Oh … kok kamu tidak bilang aku kalau ada karyawan baru ?” ucap Bintang sambil merubah posisi duduknya supaya lebih nyaman.


“Hah, apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan seorang Bintang tiba-tiba peduli pada karyawan baru?” tanya Arda kehheranan.


“Ah, sudahlah lupakan saja perkataanku,” Bintang melanjutkan lagi membuka laptop dan mulai bekerja didampingi oleh Arda memeriksa bursa saham yang sedang berkembang di peusahaannya.


Arda, asisten pribadi Bintang


 



***


Hari sudah semakin sore, waktu telah menunjukkan pukul 5 dan Bulan mengemasi barangnya untuk kebai pulang.

__ADS_1


Sesampai di lobby kantor, Bulan segera keluar dari lift karyawan dan melangkahkan kakinya menuju keluar gedung dengan berlari kecil karena terburu-buru. Secara tidak sengaja tubuh Bulan bertabrakan dengan tubuh seseorang sehingga diapun jatuh ke lantai.


“Hai, kalau jalan pakai mata !” kata orang itu pada Bulan dengan nada kasar.


“Maaf, maaf, saya tadi terburu-buru … “ jawab Bulan sambil memegang lututnya yang sakit tanpa melihat ke arah orang itu.


“Ceroboh !” ucap Orang itu singkat.


Kemudian Bulan melihat ke arah orang itu dan tampak keduanya terkejut “Hah, kamu ?!” kata Bulan sambil matanya melotot terkejut.


“Cih, kamu lagi rupanya, sial … !!” rupanya orang itu adalah Bintang yang baru saja keluar dari lift khusus untuk dirinya.


Bintang pun segera meninggalkan Bulan tanpa melihat ekspresi Bulan yang kesakitan karena akibat jatuh tadi.


Bulan perlahan-lahan berdiri dan melanjutkan langkahnya menuju keluar gedung kantor.


Dari arah luar tampak Mega akan menuju ke parkiran mobil dan melihat Bulan sedang berjalan dengan tertatih-tatih. “Bulaaann …!” seru Mega memanggil Bulan.


“Hai, ada apa dengan kakimu Lan ?” tanya Mega mendekati Bulan.


“Tadi aku jatuh di dekat lift, “ jawab Bulan sambil meringis kesakitan.


“Yuk, pulang denganku saja Lan. Hari ini kebetulan aku bawa mobil, aku akan antar dirimu dulu pulang ke rumahmu, ajak Mega menawarkan bantuan.


“Baiklah, tapi tidak merepotkanmu kan ?” tanya Bulan, karena dia merasa tidak enak kalau harus merepotkan sahabatnya itu.


“Tidak Lan, sama sekali tidak merepotkan. Yuk, naik ke mobil, “ ucap Mega sambil memapah Bulan menuju ke dalam mobil.


Selama perjalanan Bulan dan Mega tampak bercanda dalam obrolan-obrolan mereka. “Lan, jangan-jangan kamu memang berjodoh dengan pak Bintang, hahaha … “ canda Mega pada Bulan setelah Bulan menceritakan saat dia bertabrakan dengan Bintang.


“Ada-ada saja kamu ini, “ kata Bulan sambil memandang ke arah jalan raya.


“Rumahmu yang mana ?” tanya Mega setelah masuk kedalam gang rumah Bulan.


“Itu yang pagar hijau, itu tempat kosan aku dengan mbak Dina, “ jawab Bulan sambil tangannya menunjuk ke arah kosannya.


“Mega, terima kasih ya sudah mengantar aku pulang, “ Bulan mengucapkan terima kasih pada sahabat baiknya itu.


“Kalau kamu perlu bantuan, bilang saja ya Lan. Insya Allah aku akan membantumu, “ kata Mega sambil mengantar Bulan sampai ke dalam kosannya. “Aku pulang dulu ya Lan sampai ketemu besok, Assalamu’laikum” Mega berpamitan pada Bulan.


“Wa’alaikumsalam … hati-hati di jalan ya,” Bulan melambaikan tangan saat Mega melajukan mobilnya ke jalan.


###########


Jangan lupa tekan like, berikan komentar kalian dan vote nya untuk author ya teman-teman.


Happy reading ... :-)

__ADS_1


__ADS_2