Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 68


__ADS_3

Happy reading ✓


Setelah makan malam bulan dan Langit sudah berada di kamar mereka, tiduran dalam satu selimut yang sama sembari nonton Netflix.


Bulan fokus dengan tontonan yang saat ini sedang diputar pada layar televisi yang berukuran sangat besar, namun tidak dengan Langit yang tidak tertarik dengan tontonan itu, ia malah asik menciumi istrinya sesekali membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri untuk menghisap aroma strawberry ciri khas dari seorang bulan.


Langit terus menjahili bulan yang tengah fokus menonton. Dari menciumi pipi. Mengendus leher nya serta memberikan nya tanda merah pada leher tersebut. Lalu ia kini menjilat dan menggigit daun telinga istrinya. Hal itu membuat fokus bulan buyar.


Merasa geli dengan apa yang suaminya lakukan, lalu ia memiringkan tubuhnya untuk saling berhadapan dengan Langit, sontak saja laki-laki itu langsung melu-mat lembut bibir bulan. Meminta agar bulan membuka mulutnya sehingga langit bisa mengabsen rongga mulut istrinya.


Langit mengulum lidah bulan. Sampai wanita itu mengerang ditambah tangan langit yang sudah aktif bergerilya di gundukan payu-dara bulan, memilin serta meremas nya lembut.


"Aahhh" desa-han bulan lolos begitu saja. Hal itu membuat mata langit menggelap. Laki-laki itu langsung merubah posisi, dimana sekarang ia sudah berada diatas tubuh istrinya dengan bibir mereka yang tidak terlepas.


Sebenarnya posisi mereka sudah agak susah kalau untuk bercinta. Karena memang kondisi bulan yang sudah hamil besar.


Langit sudah berhasil membuka dress tidur bulan. Menatap tubuh istrinya dengan binar puja, bulan merasa bangga dirinya makin percaya diri memamerkan tubuhnya.


Dan selanjutnya mereka berdua pun melakukan hubungan suami istri kembali. Padahal dua jam lalu mereka habis melakukan nya, entah kenapa aktifitas s-e-x yang mereka lakukan bagi keduanya adalah aktivitas yang menyenangkan, sehingga membuat mereka sering sekali melakukan nya.


Langit langsung terguling kesamping tubuh istrinya kala sudah mendapatkan pelepasan nya. Dengan nafas terengah-engah Langit langsung memeluk tubuh istrinya.


"Aku mau kaya gini terus sekarang sampai seterusnya" ucap Langit, bulan tersenyum mendengar nya.


"Aku juga" jawab bulan tulus


"Kamu pengennya anak cewek atau cowok" tanya bulan.


"Cowok" jawab langit mantap.


"Kenapa ko cowok"


"Karena biarlah kamu satu-satunya wanita yang paling spesial dihati dan mata aku" jawab Langit, bulan tersenyum kembali


"Kamu udah siapin nama buat anak kita" tanya bulan lagi.


"Udah dong" jawabnya


"Siapa?"


"Galaksi angkasa biru" jawab Langit

__ADS_1


"Nama yang bagus" kata bulan setuju dengan nama itu.


Bulan dan Langit sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka apa. Biarlah itu menjadi sebuah kejutan untuk mereka, makanya hal itu membuat Miranda makin kalap belanja, jika ingin membelikan peralatan bayi, ia memilih warna unisex sebanyak-banyaknya.


****


Keesokan harinya sesuai yang sudah diketahui. Langit hari ini ada tugas kunjungan kelompok dari kampusnya, kunjungan kali ini ia harus berangkat ke ke Kalimantan tidak lama cuma tiga hari.


"Aku ko malas banget yah mau ninggalin kamu" ucap Langit. Yang kini sudah siap tinggal berangkat saja.


"Aku juga nggak tau kenapa berat lepas kamu pergi. tapi ya udahlah cuma tiga hari doang kan" sergahnya lagi.


Langit memeluk istrinya mencium keningnya sangat lama. Sampai bulan memejamkan mata menikmati ciuman itu.


Langit mendesah pelan saat pelukan nya sudah terlepas. "Aku berangkat yah" ucap Langit sebelum benar-benar pergi ia sempat mengelus terlebih dahulu perut istrinya.


****


Ponsel bulan benar-benar tidak boleh terlepas dari genggaman nya, jika ia dan Langit tengah LDR begini dirinya harus siap siaga dengan chat dari langit Atau pun meladeninya untuk video call. Kalo telat dikit aja tidak membalas chat nya, langit langsung menelfon dan ngomel-ngomel tidak jelas.


Kini bulan dan Miranda sedang menyusun alat-alat bayi yang baru saja datang dari luar negeri, Miranda sengaja memesan box bayi dan beberapa furniture dari luar, karena memang di Indonesia tidak ada maka demi menyenangkan kepuasan hati, wanita itu sampai merogoh kocek yang begitu besar hanya untuk tempat tidur.


"Mami apa ini nggak berlebihan. Maksud bulan apa nggak terlalu mahal toh kita juga nggak tahu nanti bayinya mau apa nggak tidur di box bayi ini" kata bulan merasa tidak enak. Miranda tersenyum


Ditengah-tengah kesibukan nya saat ini dikamar bayi. Kebetulan kamar bayinya berada tepat disamping kamar bulan dan Langit masih kondominium yang sama. Bulan meraih ponselnya kembali tumben tidak ada chat atau panggilan dari Langit, biasa nya ia lengah sebentar saja chat sudah beruntungan masuk.


Setelah selesai merapikan belanja bayi, bulan izin mau balik lagi ke kamarnya ia merasa tubuhnya lelah dan lengket ingin mandi. Makanya sesampai nya dikamar bulan langsung masuk kedalam kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi bulan meraih kembali ponselnya, masih sama tidak ada chat atau panggilan masuk dari suaminya.


Akhirnya bulan mencoba menelfon Langit terlebih dahulu, namun aneh tidak aktif bulan mencoba chat juga bercentang itu artinya memang tidak aktif, entah kenapa membuat bulan cemas, tidak biasa nya Langit seperti ini.


****


Keesokan hari nya bulan masih bergulung dalam selimut, namun ia harus membuka mata saat samar-samar mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Perlahan ia bangkit sebenarnya bulan sendiri sudah merasa kesusahan saat saat berjalan, diakibatkan oleh kehamilannya yang makin membesar.


Setelah pintu terbuka nampaklah Miranda dan Edwar berdiri diambang pintu. Bulan makin bingung manakala melihat Miranda yang bermata sembab seperti habis menangis.


"Bulan sayang kamu yang sabar yah" kata Edwar sendu. Miranda kembali meneteskan airmata nya lalu selanjutnya wanita itu langsung memeluk tubuh bulan yang masih kebingungan.


"Mami kenapa? Ko nangis, papi ini ada apa sebenarnya?" Heran bulan masih berpelukan dengan Miranda yang makin tersedu.


Akhirnya Edwar menggiring menantu dan Miranda untuk masuk kedalam kamar bulan. Mereka semua duduk, hal itu membuat bulan dibuat semakin mati penasaran.

__ADS_1


"Papi tolong jawab ini kenapa ada apa?" Paksa bulan. Edwar Menghela nafas dalam-dalam.


"Kamu sabar yah nak, tadi pagi-pagi sekali papi dapat kabar dari maskapai penerbangan kalau pesawat yang ditumpangi Langit kecelakaan"


Jedeerrr bagai disambar petir didepan wajahnya, pernyataan kabar dari Edwar sangat sulit diterima akal. Miranda tiba-tiba saja jatuh pingsan. Membuat Edwar berteriak memanggil pelayan dan anak buahnya membantu keadaan sekarang. Namun bulan masih tak bergeming mencoba mencerna dengan apa yang baru saja mertuanya beritahu.


"Papi bercanda kan, papi jangan kaya gini kalo bercanda nggak lucu Pi" tanya bulan menuntut, matanya memerah kepalanya mendadak pusing.


"Sabar yah sayang, nanti ada Tante Elisa sama mama Yuni datang kesini buat temenin kamu.papi sama om Erwin juga papa kamu mau ke TKP untuk melihat identifikasi mayat korban kecelakaan itu" pernyataan Edwar benar-benar menampar keras bulan. Bagaimana mungkin langit pergi meninggalkan nya yang dalam kondisi hamil besar, Bahkan anaknya lahir saja belum.


Benar saja Tante Elisa, mama Yuni serta bunda Alda. Datang ke mansion kediaman Edwar. Mereka menenangkan bulan yang sedari tadi menangis tersedu-sedu, bahkan para perempuan yang kini tengah menemani nya tak kuasa ikut menangis, mereka ikut merasakan sesak berpikir bagaimana nanti nasib bulan dan anaknya. Mungkin kalau sekedar urusan materi itu hal gampang, tapi bagaimana dengan sosok ayah itu yang jadi permasalahan nya.


"Sabar sayang, kamu harus kuat yah demi anak kamu" kata Alda masih memeluk bulan yang terus menangis.


"Iya bulan, kamu harus ikhlas semua sudah kehendak yang mahakuasa" Yuni menimpali, bulan menggeleng sehingga airmata nya bercucuran.


"Langit, langit kamu nggak boleh pergi" gumam bukan pada tangisannya. Ketiga wanita itu saling memberikan kekuatan pada bulan.


Bulan meraih ponselnya untuk melihat chat dari Langit. Ia berharap semua ini salah paham, namun kenyataannya tidak ada chat atau panggilan masuk, membuat bulan menangis kembali.


"Bulan kamu dari pagi belum makan, kamu makan yah bunda suapin" pinta bulan masih menitikkan airmata nya. Bulan diam ia sedang menangis dalam diam.


"Kamu jangan kaya gini bulan. Kasian anak kamu dia juga butuh nutrisi" pinta Tante Elisa, mencoba menyuapi namun ditolak oleh bulan. Wanita itu enggan memasukan sesuatu kedalam mulutnya.


*****


Saat ini suasana dimansion kediaman Edwar sudah ramai pengunjung, juga ada teman-teman mereka yang ikut melayat, jenazah Langit pun sudah dibaringkan dan ditutup kain, jenazah Langit sulit teridentifikasi namun hanya mengenal barang-barang yang dipakai oleh jenazah membuat tim SAR yakin kalau itu Langit anak dari Edwar.


"Ini bukan Langit, aku yakin ini bukan Langit" bulan berteriak kala dirinya mencoba melihat jenazah suaminya yang sudah terbujur dengan kondisi sulit dikenali. Walaupun barang-barang yang menempel pada tubuh korban adalah benar milik Langit bulan pun tahu, dari tas kecilnya sampai ponsel dan beberapa barang lainnya. Namun entah kenapa bulan merasa ini bukan suaminya.


Bulan terus berteriak histeris semua keluarga dan juga temannya tak kuasa menahan tangis, Mereke semua menangis melihat bulan yang seperti ini. Pada akhirnya bulan pun tumbang pingsan tak sadarkan diri. Dengan wajahnya yang sangat pucat.


Beberapa keluarga langsung melarikan bulan kerumah sakit, disana bulan langsung ditangani oleh dokter dan juga ada dokter Shena yang menangani kandungan bulan.


Selama bulan tak sadarkan diri dan dirawat dirumah sakit, dimansion keluarga berbondong-bondong untuk segera melakukan prosesi pemakaman pada jenazah Langit.


Dokter Shena memberi tahu pada Tante Elisa dan juga Alda serta beberapa teman-teman bulan, mengatakan kalau kandungan bulan melemah. mungkin itu dikarenakan bulan yang menyiksa diri kari kemarin tidak mau menelan apapun.


"dokter tolong selamatkan kondisi ibu dan bayinya berikan penangan yang terbaik" titah Alda memohon. raut wajah yang lain begitu cemas. mereka ikut berkabung dengan kesedihan ini.


Alda duduk merenung wanita itu sudah seperti ibu kandung untuk bulan. ia sangat menyayangkan kenapa tuhan memberikan ujian seberat ini untuk bulan. disaat ia akan menyambut kelahiran anaknya, disisi lain ia juga harus melepaskan suaminya yang pergi untuk selama-lamanya, bagaimana ini terus gimana dengan anaknya, apakah bulan bisa melewati semua ini.

__ADS_1


bersambung. .


__ADS_2