
Sesuai jadwal yang direncanakan, Bulan dan Dina hari sabtu pagi berangkat ke stasiun untuk melakukan perjalanan ke kota Bandung.
Bulan terlihat senang sekali, dia masuk ke dalam gerbong menyusul dibelakang Dina Setelah menemukan nomor bangku yang dicari, mereka segera duduk dan Bulan duduk di dekat jendela.
Bulan memang baru kali ini pergi ke kota Bandung, jadi dia sangat senang ketika Dina mengajaknya untuk pergi mengunjungi kedua orang tua Dina di Bandung. Selama perjalanan mereka berdua mengobrol sambil makan cemilan yang mereka bawa dari rumah. Sesekali Bulan mengarahkan pandangannya ke luar jendela menikmati keindahan alam, gunung, sawah, jembatan dan Bulan merasa bersyukur pada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk bisa menikmati indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa.
Bulan naik kereta api menuju kota Bandung
“Kamu keliatannya senang sekali Lan ?” tanya Dina pada Bulan yang duduk di sebelahnya.
“Eh, iya mbak, alhamdulillah akhirnya aku bisa berkunjung ke kota Bandung sambi menikmati indahnya pemandangan alam ciptaan Allah mbak,” jawab Bulan sambil tidak lepas pandangannya ke luar jendela.
“Nanti kalau sudah di Bandung, mbak akan ajak kamu jalan-jalan ke kotanya ya dek,” kata Dina.
“Beneran mbak? Duh, jadi tidak sabar nih untuk sampai di Bandung,” seru Bulan dengan tersenyum lebar.
Dina hanya merespon sepupunya itu dengan senyuman sambil geleng-geleng kepala.
Akhirnya kereta berhenti di tujuan, yaitu stasiun Bandung. Dina dan Bulan segera turun dari kereta bersama para penumpang lain.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman orang tua Dina menggunakan jasa taksi online.
Tak berapa lama merekapun telah sampai dan disambut hangat oleh kedua orang tua Dina.
“Assalamu’alaikum pak, bu … “ Ucap Dina sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
“Assalamu’alaikum Pakde, Bude … “ Ucap Bulan selanjutnya sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Dina. Senyum manis tidak lupa diperlihatkan oleh Bulan.
“Pak, Bu, ini Bulan, putrinya paman Dharma dan bibi Annisa. Masih ingat kan ?” ujar Dina pada orang tuanya yang mulai lupa pada Bulan, karena mereka sudah lama tidak bertemu dengan Bulan. Sejak ayah Dina pindah tugas ke Bandung, mereka memang jarang sekali bertemu. Pak Bambang, ayah Dina bekerja di kantor pemerintahan sebagai pegawai negeri yang sekarang bertugas di Bandung.
“Oh, Ya Allah … kamu semakin cantik aja nak,” ucap bu Lilis, ibu Dina sambil memeluk erat keponakannya itu.
“Bulan, ayo silahkan masuk. Ya beginilah rumah pakde dan bude nak, anggap seperti rumah kamu sendiri ya,” ajak pak Bambang pada Bulan supaya masuk ke dalam rumah.
“Din, baju-bajunya Bulan bawa masuk ke kamarmu,” perintah Bu Lilis pada anaknya.
“Permisi Bude, Bulan mau ke kamar mbak Dina dulu,” Bulan berpamitan untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“Iya, nak. Kamu kalau mau istirahat dulu, boleh silahkan saja ya. Ini teh hangatnya bude letakkan di meja depan ya,” kata bu Lilis.
“Baik bude, terima kasih,” jawab Bulan.
Setelah ganti baju dan membersihkan badannya, Bulan kembali ke depan bergabung dengan Dina dan orang tuanya. Mereka berkumpul di halaman depan rumah, pak Bambang dan istrinya sedang berkebun menanam bibit cabe dan tomat.
“Wah seru sekali berkebunnya nih pakde dan bude, “ ucap Bulan pada mereka.
“Iya nak, beginilah kesibukan pakde kalau sedang libur, “ kata pak Bambang sambil mengaduk-aduk tanah dan pupuk di atas pot.
“Pak, Bu, Dina mau ajak Bulan jalan-jalan ke alun-alun kota dulu ya. Bulan ingin sekali jalan-jalan katanya,” kata Dina pada kedua orang tuanya.
“Lho, Bulan tidak capek badannya ?” tanya bu Lilis pada Blan.
“Tidak kok Bude, mumpung lagi di Bandung, jadi Bulan ingin jalan-jalan melihat kota Bandung” jawab Bulan dengan semangat.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati kalian di jalan ya,” ujar Bu Lilis pada keduanya.
Setelah kedua gadis itu berpamitan kemudian Dina melajukan motornya meluncur ke jalan raya, Bulan duduk di belakang Dina. Tujuan mereka adalah alun-alun kota Bandung.
***
“Hmmm, cocok ttu kalau kamu pakai,” Arda menyetujui perkataan Bintang sambil tangannya masih memilih baju-baju yang ingin dibelinya.
“Oke deh, aku ambil dua setel beda warna. Yang satu untukmu Ar, biar kita pakai bajunya bisa kembaran, “ ucap Bintang sambil menuju kasir.
“Hahhaha … kau pikir kita anak SD bajunya seragaman?” kata Arda sambil tertawa pada BIntang. Lalu diapun pergi ke kasir.
Bintang telah memborong kaos, kemeja dan celana pendek model bermuda sebanyak 10 potong, sedangkan Arda memborong kaos, celana jeans dan kemeja sebanyak 7 potong. Setelah mereka membayar belanjaan kemudian pergi meninggalkan tempat itu menggunakan mobil yang dikendarai oleh Arda menuju jalan raya.
Akhir pekan ini Bintang dan Arda memang sudah janjian untuk berkunjung ke kota Bandung. Selain untuk jalan-jalan, mereka juga mengunjungi anak perusahaan Mahardhika Group yang berada di cabang Bandung. Tentunya mereka menyelesaikan urusan pekerjaan dulu sebelum pergi jalan-jalan.
“Bin, kemana lagi kita sekarang? Hari sudah menjelang sore nih ?” tanya Arda yang sedang menyetir mobil.
“Ke alun-alun aja yuk, kalau malam minggu begini pasti ramai. Mobil kita parkir saja di Kepatihan, lalu kita jalan kaki menyusuri indahnya kota Bandung. Disana juga banyak kuliner yang bisa kita coba,” jelas Arda sekali lagi.
“Terserah kamu saja lah Ar, aku ngikut saja,” jawab Bintang, karena dia sendiri memang belum pernah jalan-jalan di daerah alun-alun kota Bandung.
Soal wisata kuliner, Arda memang jagonya apalagi di daerah Bandung. Maklum dulu saat Arda memang sekolah di Bandung mulai SD sampai SMA, kemudian kuliah pindah ke Jakarta sampai sekarang.
__ADS_1
Sesampai di jalan Kepatihan, Arda memarkirkan mobilnya di salah satu mall disana, kemudian mereka berdua keluar dari mobil dan memulai jalan kakinya menyusuri jalan Kepatihan dan Dalem Kaum menuju ke alun-alun kota Bandung yang sangat dekat jaraknya.
Meskipun masih sore tapi jalanan sudah dipenuhi orang yang sedang jalan-jala menikmati suasana kota Bandung.
“Bin, kamu suka batagor ?” tanya Arda pada Bintang sambil berjalan beriringan.
“Batagor? Seperti apa bentuknya Ar, keras atau lembek ?” Bintang malah ganti bertanya pada Arda.
“Ya ampun, pak Direktur belum pernah makan batagor ya? Hahaha …” ucap Arda sambil mentertawakan sahabatnya itu.
“Belum,” jawab Bintang singkat.
“Batagor itu baso tahu goreng, diberi bumbu kacang, kecap, dan sambal. Kamu mau mencoba?” ajak Arda ssambil menjelaskan pada Bintang.
“Baiklah, aku akan mencobanya,” ucap Bintang.
“Aku punya langganan batagor enak sekali, pakai gerobak, yang jualan namanya Mang Didin. Yuk kita kesana,” Bintang megikuti langkah sahabatnya sambil membayangkan makanan jenis apa itu.
“Ar, apa ngga salah nih, yang antri banyak sekali,” ucap Bintang keheranan.
“Iya Bin, batagor ini memang terkenal, jadi pembelinya selalu sabar antri,” kata Arda.
“Bin, kamu antri dulu ya disitu, aku mau ke warung beli rokok sebentar,” Arda meninggalkan Bintang mencari warung untuk membeli rokok.
Bintangpun akhirnya ikut mengantri sambil mulutnya menggerutu tidak jelas apa yang diucapkan, dia merasa kesal harus antri panjang yang dia sendiri belum pernah melakukan hal seperti ini. Kalau ingin makanan di luar, pasti asisten rumah tangga yang belikan.
Disaat Bintang antri, dia melihat keramaian di antrian depan. Nampak ada gadis yang didorong oleh pembeli dari belakang yang berusaha menyerobot untuk minta didahulukan, akhirnya terjadilah perang mulut keduanya.
“Jangan kasar pada perempuan. Antrilah sesuai urutannya !” ucap Bintang pada pembeli yang berusaha mendorong gadis itu. Orang itu pun akhirnya menuruti ucapan Bintang, karena tatapan Bintang sangat tajam.
Gadis berbaju biru yang didorong itu mengucapkan terima kasih namun tertahan ucapannya setelah melihat ke wajah Bintang, “Terima ka …. Hah? Kamu?!?”
#################
Hai readers kesayangan ... saat ini author sangat membutuhkan komentar, kritik dan saran untuk cerita ini.
__ADS_1
Jika kalian suka, jangan lupa sertakan like dan vote kalian untuk author ya ...
Selamat membaca :-)