
Sudah tiga hari Bulan tinggal bersama keluarga Surya Mahardhika, dia selalu ditemani oleh Bu Ines dan Bella selama Bintang berangkat kerja. Kaki Bulan juga sudah berangsur sembuh dan sudah bisa berjalan seperti sedia kala.
Bulan sesekali memeriksa kembali catatannya untuk persiapan pernikahannya yang akan diselenggarakan empat hari lagi. Baju pengantin sudah siap berikut MUA yang akan merias Bulan, Catering dan dekorasi pelaminan juga sudah siap, undangan sudah disebar dengan bantuan sahabat Bulan, yaitu Mega dan Nita. Pendaftaran nikah ke kantor KUA juga sudah dilakukan dengan bantuan Arda beberapa waktu lalu.
Bulan saat ini tinggal menunggu tenda yang akan dipasang di rumah mewah keluarga Surya. Sore ini kata pegawai sewa tenda akan segera datang dan langsung dipasang.
Sambil menunggu kedatangan tenda, Bulan menyempatkan untuk menelpon orang tua nya di Surabaya.
"Assalamualaikum Bu, bagaimana kabarnya keluarga di Surabaya?" tanya Bulan pada ibunya melalui telepon.
"Alhamdulillah sehat semuanya nduk, kamu sendiri sehat kan?" tanya Bu Annisa balik.
"Iya Bu, Alhamdulillah sehat. Bu, tiket kereta api yang sudah Bulan belikan masih disimpan kan?" ucap Bulan pada ibunya.
"Iya, masih kok nduk. Besok pagi kami berangkat," kata Bu Annisa senang.
"Bu, besok hati-hati ya kalau berangkat. Jangan sampai ada yang ketinggalan barangnya," Bulan mengingatkan ibunya.
"Iya nduk, insya Allah. Kamu mau dibawakan oleh-oleh apa dari Surabaya?" tanya Bu Annisa.
"Nggak perlu bawa apa-apa lah Bu, nanti malah jadi tambah banyak bawaan ibu. Ayah, ibu dan adik-adik datang ke Jakarta saja sudah membuatku senang," ucap Bulan.
"Oalah ... masa jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta tidak bawa apa-apa buat keluarga besan?" kata ibunya Bulan.
"Ya sudah kalau begitu terserah ibu saja, tapi jangan sampai merepotkan ayah dan ibu ya. Kalau sudah sampai di Jakarta kabari ya Bu," kata Bulan.
"Iyo nduk, Yo wis ibu mau ke pengajian dulu ya. Jaga kesehatan ya nduk. Assalamualaikum," Bu Annisa mengakhiri percakapan dengan Bulan.
"Waalaikumsalam," jawab salam ibunya dan menutup ponselnya.
Tak begitu lama ada laporan dari sekuriti kalau tenda sudah datang, Bulan menyuruh untuk segera dipasang saja sesuai yang sudah diinstruksikan oleh Bintang pada para pekerja di rumahnya.
Bulan memang ikut sibuk membantu Bintang menyiapkan apa saja menjelang pernikahan mereka.
Bu Ines senang melihat Bulan ikut serta terlibat dalam persiapan pernikahannya, karena yang Bu Ines tahu dari teman-teman arisannya kalau sebagian besar para menantu mereka suka lepas tangan dan tidak mau ikut membantu. Jadi Bu Ines merasa beruntung memiliki calon menantu seperti Bulan dan semakin sayang pada calon menantunya itu.
"Eh ada mama ternyata, maaf Bulan tidak melihat mama sudah di teras. Tadi Bulan masih mengawasi tenda yang baru saja datang Ma," kata Bulan pada calon mertuanya itu.
"Bulan, kamu jangan terlalu capek sayang. Biarkan para pegawai kita yang mengawasi. Sini, kamu duduk dekat mama saja !" perintah Bu Ines.
Bulan segera berjalan mendekati Bu Ines dan duduk di kursi sebelah Bu Ines.
"Kakimu masih sakit ?" tanya Bu Ines sambil memperhatikan kaki Bulan
"Alhamdulillah sudah tidak ma, tiap hari Bulan kan selalu minum obat dari dokter, Bulan juga terima kasih atas perhatian dari mama selama ini," ucap Bulan sambil memeluk Bu Ines.
" Alhamdulillah kalau kakimu sudah sembuh," ucap Bu Ines sambil mengusap kepala Bulan.
__ADS_1
"Oh ya Ma, besok pagi ayah dan ibu juga adik-adik akan berangkat dari Surabaya, jadi mungkin sampai Jakarta malam hari Ma," ujar Bulan bercerita pada Bu Ines.
"Oh ya? Baiklah kalau begitu besok malam kita jemput ya ke stasiun," jawab Bu Ines senang.
"Iya Ma, tapi tidak merepotkan mama dan papa kan ?" tanya Bulan.
"Ah kamu ini ada-ada saja, mereka juga keluarga kami sayang. Jelas tidak merepotkan dong, malah kami senang sekali dengan kedatangan keluarga kamu," Bu Ines menyentil hidung Bulan sambil tersenyum.
"Sekali lagi Bulan ucapkan terima kasih ya Ma," Bulan memeluk kembali Bu Ines dengan erat sekali.
Kemudian dua perempuan beda usia itu masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam.
***
Keesokan harinya Bulan dibantu oleh asisten rumah tangga Bu Ines menyiapkan kamar untuk orang tua dan saudara Bulan. Bu Ines dan pak Surya memang meminta pada Bulan supaya seluruh keluarganya untuk menginap di kediaman mereka, karena di tempat kos Bulan sudah ada orang tua Dina menginap.
Setelah semuanya sudah selesai disiapkan, Bulan membantu memasak di dapur untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
"Sayang, biar bibi saja yang masak. Kamu jangan terlalu capek Bulan, ingat sebentar lagi kamu akan menikah lho. Kamu jangan sampai sakit di saat hari pernikahan kalian," Bu Ines mengingatkan Bulan.
Akhirnya Bulan pun menuruti perintah calon mertuanya yang baik hati itu.
Hari sudah sore, Pak Surya dan Bintang sudah pulang dari kantor. Bintang mendekati Bulan yang duduk di ruang tengah sambil nonton TV bersama Bu Ines.
"Assalamualaikum Ma, Bulan," ucap Bintang.
"Bagaimana kakimu, masih sakit?" tanya Bintang pada Bulan.
"Sudah nggak kok Bin, nih lihat aku sudah bisa berjalan cepat," kata Bulan sambil memperlihatkan dia sedang berjalan cepat pada Bintang.
Bu Ines dan pak Surya tertawa melihat tingkah calon menantunya itu.
"Oh ya Bin, kita harus jemput ayah dan ibu di stasiun, tadi mereka telpon kira-kira sampai di Jakarta pukul 8 malam," ucap Bulan.
"Baiklah, aku mandi dulu ya." jawab Bintang.
"Siap bos," ucap Bulan sambil tersenyum.
Bintang ikut tersenyum sambil menarik hidung Bulan dengan gemas, hingga Bulan kesakitan. Pak Surya dan Bu Ines ikut tertawa dan mereka masuk ke dalam kamar utama.
Setelah Bintang selesai mandi, dia dan Bulan akan berangkat ke stasiun menjemput orang tua Bulan. Bintang tidak menggunakan mobil pribadinya tapi menggunakan mobil keluarga yang ukurannya lebih besar. Bu Ines dan pak Surya tidak ikut ke stasiun, mereka nanti akan menyambut di rumah saja.
Perjalanan menuju stasiun kurang lebih satu jam karena terkena macet. Sekarang Bintang sudah mengarahkan mobilnya di tempat parkir dan mereka segera turun.
Sebelumnya Bintang sudah menawarkan untuk naik pesawat saja tapi orang tua Bulan menolaknya karena takut jika berada di ketinggian, apalagi di atas langit mereka tidak bisa membayangkan. Akhirnya Bintang memesan tiket kereta api kelas eksekutif supaya cepat sampai di Jakarta.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, petugas stasiun mengumumkan bahwa kereta api yang dari Surabaya sudah sampai di rel jalur 2. Bulan dan Bintang menunggu mereka di pintu keluar stasiun.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Mentari memanggil kakaknya, "Mbak, mbak Bulan ... !!"
Bulan mencari sumber suara itu, dia tengok kanan dan kiri dimana keluarganya. Akhirnya Bintang melihat mereka berjalan cepat menuju pintu keluar. Setelah mereka berkumpul lalu saling bersalaman dan berpelukan seperti Teletubbies.
"Bagaimana perjalanan tadi, apakah lancar?" tanya Bintang pada orang tua Bulan.
"Alhamdulillah lancar nak Bintang," jawab pak Dharma senang sekali karena baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di Jakarta, begitu pula dengan istri dan anak-anaknya.
"Bapak dan ibu Surya tidak ikut?" tanya Bu Annisa pada Bulan.
"Tidak Bu, mama dan papa menunggu di rumah," jawab Bulan.
"Mari pak, Bu, kita segera ke rumah supaya bisa segera beristirahat setelah perjalanan jauh," ajak Bintang pada keluarga Bulan.
Akhirnya mereka dalam perjalanan menuju kediaman pak Surya, banyak hal yang menjadi bahan pembicaraan mereka di mobil. Pak Dharma tertegun melihat kota Jakarta di malam hari, banyak gedung bertingkat. Mereka seperti bermimpi, karena selama ini mereka hanya melihat dari televisi saja tapi sekarang bisa melihat langsung.
Mentari tidak kalah senangnya, apalagi saat melihat tugu Monas dan masjid Istiqlal, dia bersorak gembira sekali.
"Mbak, kapan kita ke Monas, aku ingin kesana," tanya Mentari dengan tidak sabar.
"Tari, duh kamu ini berisik sekali sih. Jangan membuat malu orang tua saja !" kata Bu Annisa pada Mentari.
"Tidak apa-apa Bu, nanti kapan-kapan kita jalan-jalan keliling Jakarta ya," kata Bintang sambil memandang Mentari melalui kaca spion di atasnya.
"Yeeee ... asik, kita bisa lihat Dufan juga kan mbak," teriak Mentari senang.
"Iya, tapi Tari harus belajar yang benar jangan main game terus ya!" ucap Bulan.
"Aku sudah tidak main game kok, tuh mas Bima yang suka main game, " kata Mentari mengadu pada Bulan.
"Eh, nggak kok mbak, dia tuh yang selalu nggak mau mendengarkan kata-kata ibu!" protes Bima tidak mau kalah.
"Hei, siapa yang nggak mau mendengarkan kata-kata ibu? mas Bima tuh! enak saja," teriak Mentari tidak mau terima kata-kata kakaknya.
"Sssstt ... sudah, sudah, kenapa kalian jadi berisik sih ? kalau masih berisik, biar diturunkan di pinggir jalan sini saja !" kata pak Dharma pada Bima dan Mentari.
Bintang yang mendengar aksi mereka hanya tersenyum saja, membuat hati Bulan jadi tidak enak.
"Maaf ya Bin," kata Bulan. Direspon Bintang dengan menggenggam erat jemari Bulan sambil tersenyum ke arah Bulan yang duduk di sampingnya.
##############
Ramai juga ya mereka, kalian juga bisa kok meramaikannya dengan menulis komentar kalian. Juga ditunggu votenya yang banyak ya biar semakin naik lagi rangking Bulan dan Bintang.
Jadikan cerita mereka sebagai cerita favorit kalian 🤗🙏
Happy reading all ... semoga indah hari kalian 🤗😘😍
__ADS_1