
Bella mengetuk kamar kakaknya, Bintang, sambil membangunkan kakaknya dari luar kamar.
“Kak, bangun kak … Kakak apa ngga kerja? Ditunggu mama dan papa sarapan tuh !” teriak Bella.
Sudah sepuluh menit Bella mencoba membangunkan kakaknya, tapi tidak ada respon dari dalam kamar. Akhirnya Bella kembali menuruni tangga ke lantai bawah berkumpul dengan orang tuanya melanjutkan sarapan di meja makan.
“Bintang mana Bel? “ tanya bu Ines, mama Bella sambil mengambilkan nasi untuk suaminya.
“Masih tidur Ma, kakak susah bangunnya tuh,” jawab Bella sambil cemberut.
“Ya sudah kamu sarapan dulu, biar mama yang bangunkan kakakmu,” akhirnya bu Ines naik ke lantai atas menuju kamar Bintang.
Tok, tok, tok … pintu kamar Bintang diketuk-ketuk oleh bu Ines membangunkan anak lelakinya itu. “Bin, bangun sayang … Sudah jam 7, apa kamu ngga kerja? Ayo segera bangun! Mama tunggu di bawah ya Bin.”
Bintang mulai membuka matanya karena terkena sinar matahari yang mengintip dari jendela kamarnya. Dia pun terkejut setelah melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
“Mati aku, sudah jam 7. Duh, bakal terlambat ke kantor nih,” Bintang pun buru-buru menuju kamar mandi untuk mandi.
Sepuluh menit kemudian Bintang sudah memakai kemeja warna putih dipadukan dengan jas serta celana dengan warna hitam motif bergaris. Setelah memasang dasi merapikan rambutnya, akhirnya Bintang keluar kamar dan menuju ke bawah.
Bintang
Di lantai bawah terlihat sepi hanya ada mamanya yang duduk di ruang keluarga sambil membaca koran pagi.
“Pagi Ma, kok sepi sih?” Bintang menyapa mamanya.
__ADS_1
“Papamu sudah berangkat ke kantor, sedangkan Bella sudah pergi ke sekolah diantar oleh Pak Sahril tadi. Kamu sih bangunnya kesiangan, ya sudah sana kamu sarapan dulu,” kata Bu Ines sambil memandang anak sulungnya itu.
“Bintang ngga sempat Ma, Bintang berangkat dulu ya Ma,” Bintang berpamitan dan menuju ke dalam mobilnya di garasi.
Bu Ines hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu sambil memperhatikan mobil Bintang melaju meninggalkan rumah mewahnya.
****
Bintang mengemudikan mobilnya melaju ke jalan raya yang terlihat cukup macet. Bintang mulai gelisah ketika menghadapi kemacetan di depannya. Karena dia hari ini harus menemui klien dari Singapura untuk memulai kerjasama dengan perusahaan yang dipimpinnya pada pukul 9 pagi.
Akhirnya Bintang telah sampai di depan gedung kantornya setelah menempuh perjalanan selama 60 menit karena terhalang oleh macet di jalan raya tadi.
Setelah turun dari mobil, Bintang segera masuk ke dalam gedung, semua karyawan segera menundukkan kepala sambil tersenyum dan menyapa atasannya yang terkenal sangat tampan namun selalu dingin pada setiap orang, terutama yang belum dikenal olehnya. Seperti biasa Bintang tidak pernah merespon sapaan karyawannya, dia menuju ke lift yang menghubungkan ke ruangannya.
Ruangan Bintang berada di lantai 5, setelah keluar dari lift Bintang menuju ruangannya dan disambut oleh sekretarisnya yaitu Adryana. “Pagi Pak Bintang, di ruangan bapak sudah ada pak Arda yang menunggu kedatangan bapak.”
Setelah membuka pintu ruangannya, Bintang melihat asistennya sekaligus sahabatnya sejak dia duduk di bangku kuliah, Arda.
“Hai Bro, tumben datang jam segini. Apa kamu lupa kalau kita akan bertemu dengan klien dari Singapura jam 9 pagi ini ? “ tanya Arda pada sahabat sekaligus atasannya itu.
“Ingat lah, tadi aku bangun kesiangan terus kena macet di jalan, “ jawab Bintang.
“Dimana kita akan bertemu dengan mereka ? “ tanya Bintang sambil merapikan bajunya.
“Mereka minta pertemuan di Restoran Royal depan kantor,” Arda menjelaskan pada Bintang sambil membawa beberapa berkas yang diperlukan untuk pertemuan dengan klien kali ini.
Kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan untuk segera menuju ke restoran Royal.
__ADS_1
Setelah sampai di restoran yang dituju dan menunggu kliennya datang, akhirnya Mr. Chong klien perusahaan Bintang dari Singapura itu pun datang bersama asistennya. Mereka segera membicarakan kesepakatan untuk bekerja sama antara perusahaan Mr. Chong dengan perusahaan Bintang. Hasil akhirnya adalah Mr. Chong sepakat untuk bekerjasama dengan perusahaan Bintang, yaitu proyek pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan Mr. Chong akan menggunakan bahan yang diproduksi oleh perusahaan Bintang. Mereka pun menandatangani surat perjanjian kerjasama dan saling bersalaman dengan penuh rasa senang.
Setelah melakukan pertemuan dengan Mr. Chong, Bintang dan Arda kembali ke kantornya dan meneruskan pekerjaan mereka.
Di dalam ruangan Bintang segera menuju ke kursi kebesarannya tempat biasa dia berkutat dengan pekerjaannya. Sedangkan Arda duduk di sofa yang ada di ruangan Bintang sambil membuka laptop untuk melihat perkembangan perusahaan yang Bintang pimpin.
“Adryana, tolong ke ruangan saya sebentar,” perintah Bintang pada sekretarisnya melalui pesawat interkom.
“Baik Pak,” jawab Adryana dan segera beranjak dari meja kerjanya menuju ruangan Bintang.
“Ada yang bisa saya bantu Pak ?” tanya Adryana pada atasannya itu.
“Tolong belikan saya cheese burger dan lemon tea ya sekarang juga.” perintah Bintang.
“Baik pak, ada lagi pak ?”
“Tidak, cukup itu saja.”
Adryana segera minta ijin keluar ruangan untuk segera memesan makanan yang diinginkan oleh atasannya itu melalui aplikasi online.
Arda sejenak memandang sahabat sekaligus atasannya itu dengan penuh tanda tanya “Hei, tumben pesan makanan. Kenapa dengan perutmu bro ?” tanya Arda.
Bintangpun menjawab pertanyaan Arda, “Aku tadi kan bangun kesiangan, jadi aku ngga sempat sarapan di rumah. Tiba-tiba sekarang perutku merasa lapar dan bunyi melulu dari tadi.”
Tidak berapa lama Adryana sudah masuk lagi ke ruangan direktur sambil membawa makanan dan minuman pesanan atasannya kemudian meletakkan di atas meja Bintang. Akhirnya Bintangpun makan burger tanpa menawarkan pada Arda yang dari tadi sudah melihat ke arah bungkusan yang dibawa oleh Adryana.
###########
__ADS_1
Readers kesayangan, jangan lupa sertakan like, komentar dan vote ya biar author lebih semangat lagi ...