Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 29


__ADS_3

Happy reading ✓


"Lo ngapain disini" tanya bintang setelah dirinya ikut duduk disamping bulan beralaskan rerumputan. Gadis itu menoleh sekilas lalu atensinya kembali menatap kedepan.


"Lo juga ngapain disini. Tunangan Lo ditinggalin" tanya balik bulan. Masih menghadap kedepan


"Pulang yuk udah malem" ajak bintang menatap Sabahat kecilnya.


Hening tak ada jawaban atau pergerakan apapun. Bintang menghela nafasnya mengeluarkan melalui mulutnya perlahan.


"Maaf" kata itu akhirnya lolos dari mulut bintang. Gadis itu langsung menoleh pada lelaki yang kini tengah menatapnya.


"Untuk apa?" Tanya bulan. Matanya mulai memanas. Bintang menunduk sekilas lalu kembali menatap bulan


"Lo kecewa yah gue udah tunang sama Naya?"


"Itu hak Lo mau tunangan sama siapa aja. Kenapa gue harus kecewa" jelas bulan tersenyum tipis.


Bintang bukan orang bodoh. Meski mulut bulan mengatakan baik-baik saja. Tapi tidak dengan sorot matanya yang memberi tahu hal berbeda.


"Selamat yah tang" ujar bulan kemudian. Kini dirinya langsung berdiri lalu pergi meninggalkan bintang yang masih terduduk.


Bintang tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menatap punggung bulan yang berjalan kian menjauh.


FLASHBACK ON ~


"Gimana Bun keadaan Naya ?" Tanya bintang yang baru tiba dirumah sakit tempat dimana Kanaya dirawat.

__ADS_1


"Tadi dokter bilang masa kritis nya udah lewat. Untung posisi jatuhnya enggak kena bagian yang vital" ujar bunda Alda memberi tahu.


Bintang menghela nafas lega. Namun raut wajahnya kurang ceria.


"Ada apa nak?" Tanya Alda pada putranya.


"Bun bulan mau pergi" mendengar itu Alda memejamkan mata. Dia tampak berfikir keras harus berbuat apa. Jujur Alda dan juga mendiang Dewi adalah sahabat karib. Saat Dewi meninggal Alda berjanji akan menjaga putrinya apapun yang terjadi. Dari hal itulah ia merasa bulan adalah tanggung jawabnya.


"Bintang kamu pergi sekarang. Cegah bulan pergi" titah sang bunda.


Saat bintang ingin melangkah pergi. Teriakan Erik suami sekaligus ayah bintang menghentikan gerakannya.


"Alda, bintang, Kanaya udah siuman" beritahu Erik. Baik Alda maupun bintang menoleh cepat pada Erik . Keduanya tentu langsung berlari kecil untuk melihat kondisi Naya didalam ruangannya


Dan benar saja saat keluarga bintang sudah masuk kedalam ruangan dimana Naya berada. Disitu juga sudah ada Yuni serta Dimas. Terlihat Naya yang juga sudah sadar matanya berkedip lemah. Wajahnya juga pucat.


Bintang dan juga Alda mendekati Naya. "Hei kamu udah sadar" tanya bintang mengusap kening Naya lembut. Melihat itu Yuni menitikkan air mata haru.


Setelah dokter itu selesai memeriksa kondisi Naya. Tak lama terlihat Kanaya juga sudah tertidur karena memang dokter memberikan Vitamin yang membuat pasien tertidur.


"Kondisi anak saya gimana dok. Enggak ada yang serius kan?" Tanya Dimas dan Yuni yang sudah berdiri berhadapan dengan Dokter tersebut"


"Kondisinya baik-baik saja untuk saat ini. Tapi perlu diingat Kanaya mengalami lemah otak. Itu artinya jangan membuat dia stres atau banyak pikiran. Kalau bisa setiap yang dia inginkan atau pikirkan lebih baik segera dituruti agar tidak menyebabkan pikiran" jelas sang dokter serius.


****


Kini Yuni Dimas dan juga Alda, Erik duduk didepan kamar rawat inap Naya. Sementara itu bintang menemani Kanaya didalam kamar. Sebelumnya bintang sudah diberi tahu mengenai kondisi Naya. Jadilah sebisa mungkin bintang berusaha membuat Kanaya senang. Sesekali ia mengajaknya bercanda sehingga Naya tertawa lepas dibuatnya.

__ADS_1


"Gini loh da, rik, aku mau ngomong terus terang sama kalian. Mengenai Kanaya dan juga bintang" ucap Dimas


"Aku pengen kita mengikat hubungan bintang dan juga Naya lebih serius lagi. Dengan cara mereka bertunangan " seru Dimas. Alda dan juga Erik saling menatap satu sama lain.


"Gini mba Alda. Entah kenapa saya sangat yakin dengan bintang. Dia anak yang baik bisa membuat Naya bahagia. Mba Alda bersedia kan kalau anak kita disatukan" pinta Yuni.


Lagi-lagi Alda menoleh pada suaminya seakan meminta persetujuan. "Kalau kami serahkan saja sama bintang" ucap Erik akhirnya selaku ayah kandung bintang.


Disisi lain Naya menatap bintang sehabis mereka tertawa akibat bintang yang menceritakan kisah-kisah nya yang konyol dengan dua temannya yaitu Niko dan Ares.


"Kenapa ngeliatin. Iya tau aku emang ganteng" kata bintang dengan pede nya


"Bintang a-aku, aku mau kita terus kaya gini bisa?" Ucap Naya pelan.


"Aku nyaman sama kamu bintang. Aku enggak tahu lagi selain sama kamu bisa merasakan senyaman ini apa enggak" ucapnya lagi. Bintang paham maksud dari ucapan Naya. Lalu ia pun langsung tersenyum lembut pada gadis itu. Mengusap rambutnya lembut.


****


Setelah Naya tidur. Bintang keluar dari ruangan itu kondisi Kanaya pun sudah jauh lebih baik. Mungkin dalam beberapa hari lagi ia akan diperbolehkan pulang.


Dan kini saatnya pemuda itu berhadapan dengan orang tuanya. Mereka memilih duduk disebuah cafe tak jauh dari rumah sakit dimana Naya dirawat.


"Bintang bunda mau mengatakan sesuatu sama kamu. Tapi intinya semua keputusan ada ditangan kamu. Kalau bunda sama ayah ingin kamu bertunangan sama Kanaya apa kamu bersedia?" Seloroh Alda menatap putranya lekat-lekat.


"Ini bukan paksaan bintang. Kalaupun kamu enggak bersedia juga enggak papa kami nggak mak-"


"Aku mau Bun tunangan sama Naya" ucap bintang lantang penuh keyakinan.

__ADS_1


FLASHBACK OFF ~


Bersambung. .


__ADS_2