
Happy reading ✓
Warning chapter ini mengandung unsur (21+)
Awalnya keluarga Edwar berniat akan menjebloskan bintang kedalam penjara, akan tetapi Erik dan Alda memohon-mohon agar jangan sampai hal itu terjadi, tak tega dengan Alda yang terus memohon dan menangis membuat bulan tidak tega, pada akhirnya bulan meminta pada Langit agar jangan menjebloskan sahabat kecilnya itu kepenjara.
Setelah mempertimbangkan langit menyetujui namun dengan satu syarat, bintang harus dikirim keluar negeri dan jangan pernah pulang lagi ke Indonesia. Jika sampai melanggar maka langit tak segan-segan untuk menyeretnya masuk kedalam bui.
Dan kedua orang tua bintang pun setuju, dengan berat hati mereka harus melepaskan anak semata wayangnya yang akan dikirim pergi jauh darinya. Langit tak membiarkan bintang lepas begitu saja, disana nanti langit memerintah kan beberapa anak buahnya untuk terus mengintai pergerakan bintang. Sekiranya laki-laki itu berbuat mencurigakan atau ingin kabur pulang Indonesia tanpa persetujuan nya, Maka anak buah langit akan langsung bertindak.
****
SATU MINGGU KEMUDIAN
setelah sibuk mengurusi berbagai masalah ini dan itu. Miranda selaku ibu dari Langit menggiring putra dan menantunya pulang ke mansion nya, awalnya langit menolak ajakan Miranda yang meminta pasangan suami-istri itu untuk tinggal bersama nya.
Langit ingin agar ia dan bulan hidup terpisah dengan rumah yang terpisah juga, karena laki-laki itu ingin belajar mandiri dan yang pastinya supaya tidak terlalu banyak aturan yang dibuat Miranda. Yah walaupun aturan masuk akal selayaknya seorang ibu namun tetap saja membuat langit tak enak. Ia takut kalau satu atap dengan orangtuanya bulan tidak nyaman.
Tapi untungnya bulan tidak mempermasalahkan itu. Dengan bujukan maut dari Miranda bulan setuju saja mengikuti keinginan mertuanya. Toh lagipula mansion itu sangat besar kalau hanya untuk ditempati oleh Miranda dan juga Edwar, alangkah lebih baiknya bulan dan Langit ikut serta tinggal disitu.
"Mami seneng banget kalian mau nurutin kemauan mami tinggal disini" ucap Miranda senang. Bulan balas tersenyum sedangkan langit merotasikan bola matanya
"Mami sih maksa jadi mau nggak mau deh" kata Langit enteng, bulan langsung mencubit perut suaminya.
"Aawwh sakit bulan" protesnya meringis.
"Bener cubit aja tuh lan, bila perlu kamu tempeleng sekalian, biar rada lembutan kalau ngomong sama mami nya" kata Miranda terkekeh puas. Langit mendengus
__ADS_1
Miranda dan Edwar sudah menyiapkan satu kondominium yang masih menyatu dengan kawasan mansion nya, kondominium itu sudah dirubah sedemikian rupa untuk Langit dan bulan tempati.
Dan sekarang lah saat ini kedua pasangan suami-istri baru itu berada. Bulan menatap takjub dengan semua fasilitas yang berada didalam kondominium itu, sementara langit biasa saja. Baginya hal seperti ini makanan sehari-hari untuknya.
Bulan langsung keluar di balkon kamar mereka, menatap hamparan perbukitan hijau yang memang keluarga Langit rawat, begitu indah Dimata bulan, langit menyusul istrinya keluar menuju balkon, memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuk leher istrinya, dag Dig dug itulah yang dirasakan bulan saat ini.
Padahal Langit sudah sangat sering menciumnya dibagian tengkuk, namun entah kenapa ciuman kali ini membuatnya berdebar tidak karuan, dan juga merasakan gugup yang luar biasa.
Langit membalikkan tubuh istrinya untuk berhadapan dengannya, langit melu-mat lembut bibir istrinya, bibir yang membuatnya candu, bulan membalas ciuman itu dua tangannya sudah ia kalungkan pada leher Langit, mereka berciuman cukup lama dan panas. Lidah mereka saling membelit dan juga saling bertukar Saliva sangat menuntut.
"Aahhhh" bulan mendesah disela-sela ciuman nya, hal itu membuat langit makin menggelora. Ia melepaskan ciuman tersebut lalu menatap istrinya dengan mata menggelap tertutupi kabut gairah.
"Kamu cape nggak" tanya Langit, bulan mengulum senyum
"Emang kamu masih mau menunda" jawab bulan sensual. Langit langsung mengulum senyum dan membopong tubuh istrinya.
Entah kenapa Miranda punya pikiran menghias kamar pengantin itu dengan sangat elegant, tempat tidurnya bertaburan kelopak bunga mawar, dan mengandalkan pencahayaan temaram dari lilin-lilin aromaterapi.
"Aaahhh" bulan melenguh membuat langit makin bernafsu, ciuman nya turun ke leher memberikan banyak tanda merah disetiap jengkal nya. Langit berselancar menggunakan lidahnya menyusuri kulit mulus bulan. Sampai bibirnya berhenti tepat di dua gundukan milik bulan lalu ia melahap gundukan itu penuh nafsu, tangan satunya memilin pucuk payudara satunya lagi.
"Eeuuunngghh" bulan kembali mendesah, saat mendapati pelepasan pertama nya. Ia hanya bisa memejamkan mata, pasrah dengan apa yang sedang langit lakukan.
Hingga sampai yang ditunggu-tunggu, yaitu bagian yang belum pernah Langit lihat sebelumnya. Karena selama mereka pacaran atau tunangan, bulan memang sama sekali tidak membolehkan Langit melihatnya ataupun menyentuhnya. Tapi tidak dengan malam ini. Langit akan menguasai milik bulan yang satu itu.
Langit sudah berhasil melepaskan semua pakaian bulan. Sehingga wanita itu benar-benar polos tanpa sehelai benangpun, bulan memalingkan wajah kesamping, ia merasa malu wajah nya memerah ia gugup karena Langit yang sedang menatapnya penuh puja. Apa lagi langit begitu terperangah kala bisa melihat bagian inti dari tubuh bulan yang selama ini membuatnya penasaran.
Lalu selanjutnya Langit langsung membenamkan wajahnya pada area inti itu. Lidahnya menari-nari dengan lincah, membuat bulan makin mengerang , walaupun bulan masih sedikit malu dan kaku. Namun nampaknya langit lumayan handal untuk memimpin permainan mereka.
__ADS_1
Langit masih setia bermain-main diarea inti istrinya. Menjilat, menghisap dan menyapu menggunakan lidahnya, sampai bulan menegang kala mendapati pelepasan untuk yang kesekian kalinya, ia merasa sudah lemas padahal permainan belum dimulai sama sekali.
Langit membuka semua pakaiannya Membuang nya asal, sehingga kondisi nya sama seperti bulan yang polos, melihat itu lagi-lagi bulan memalingkan wajah ia malu melihat Langit yang seperti itu. Menyadari istrinya malu bulan terkekeh lalu kembali berciuman bibir.
Langit berbaring dan menyuruh bulan duduk, laki-laki itu mengarah agar bulan memuaskan senjata miliknya yang memang sudah tegak sedari tadi. Paham dengan kemauan suaminya, bulan pun menurut ia langsung meraih milik suaminya lalu ia masukan kedalam mulutnya mengulum nya bagai makan eskrim. Kali ini langit yang mengerang satu tangannya membelai kepala istrinya yang sedang naik turun.
Setelah dirasa akan meledak, langit meminta istrinya menyudahi dan membaringkan kembali tubuh bulan, ia menindih Diatas nya lalu dengan mata yang sudah menggelap, Langit langsung mengarahkan senjatanya yang sudah berdiri tegak untuk diarahkan pada inti istrinya.
"Aaahhh sakit banget Lang!!" Bulan memekik dan meringis kala Langit yang mencoba memasukan batang miliknya.
"Kamu rileks yah aku pelan-pelan ko" ucapnya, bulan mengangguk lalu langit mulai aksi nya kembali.
"Sakitttt" pekik bulan lagi. Langit berhenti sejenak menciumi bibir bulan. Bermaksud mengurangi rasa sakitnya.
"Aku coba lagi yah" pinta Langit, bulan mengangguk
Benar saja Langit melakukan nya dengan sangat perlahan, dari awalnya sakit namun dengan kemahiran langit rasa sakit itu berganti dengan rasa nikmat tiada Tara.
Langit memimpin permainan mereka. Ia menghentakkan pinggulnya sehingga bulan terus mendesah dan mengerang kencang, desa-han bulan mampu membuat langit makin menggila. Keduanya sangat bersemangat melakukan malam pertama mereka yang sempat tertunda.
Kasur yang semula rapi kini berantakan bagai kapal pecah. Ranjang yang semula tenang kini bergoyang bagai terhantam gempa. Suara desa-han keduanya saling bersahutan memenuhi tiap sudut kamar tersebut.
Saat mereka mendapatkan pelepasan secara berbarengan. Tubuh langit langsung ambruk disamping tubuh bulan, mencium pipi istrinya nafas mereka terengah-engah sampai peluh sudah membasahi tubuh keduanya.
"Enak banget sumpah lan" kata Langit, bulan tentu tidak mau menjawab, ia masih malu untuk sekedar menjawab pertanyaan sensual itu. Ia hanya mengulum senyum
"Lagi yuk" ajak Langit, dirinya langsung menindih kembali tubuh istrinya.
__ADS_1
Bulan tidak perlu menjawab. Karena Langit yang memang sudah memulai aksinya kembali. Mereka benar-benar main tanpa jeda, dari Malam Sampai menjelang pagi baru mereka mengakhiri permainan mereka. Karena bulan juga sudah merasakan lelah yang luar biasa, Langit pun sama ia juga sudah lelah. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur dibawah satu selimut yang Sama. Saling berpelukan
Bersambung. .