
Happy reading ✓
Awalnya Langit nampak heran saat dirinya sudah masuk kedalam kamar pengantin yang ia dan bulan tempati. Melihat ruangan yang gelap gulita serta jendela yang terbuka lebar. Langit langsung menjelajahi setiap ruangan kamar tersebut.
"Bulan kamu dimana sayang" hening tak ada jawaban atau pergerakan apapun. Kening Langit mengerut saat ia berhasil memencet saklar lampu dan hanya melihat seonggok sepatu milik istrinya tergeletak begitu saja.
Dirasa dalam kamar tidak ada bulan. Langit pun memutuskan untuk keluar dari kamar hotel tersebut, ia turun untuk mendatangi ruangan orang tuanya serta beberapa kerabat jauh yang memang menyempatkan hadir kepesta pernikahan itu, dan memilih menginap dihotel dimana diadakan acara pernikahan.
Tok tok tok dengan tergesa laki-laki itu mengetuk pintu kamar orang tuanya, tak lama munculan Edwar yang nampak terbangun dari tidurnya akibat ulah sang putra.
"Kenapa Lang ada apa" tanya papi Edwar kala melihat air wajah langit yang nampak gusar.
"Pi bulan kemana nggak ada didalam kamar" adunya, Edwar makin bingung.
"Lah gimana sih Lang itu kan istri kamu ko malah tanya papi" heran Edwar.
"Dikamar nggak ada Pi, Langit cari kemanapun nggak ada. Tapi anehnya jendela kamar kebuka lebar" beritahu nya, Edwar ikut cemas ia langsung Keluar berjalan menuju aula disusul dengan Langit.
Setelah sudah diaula Edwar dan Langit telah berkumpul dengan beberapa petugas hotel dan staf-stafnya, para kerabat pun beberapa ada yang terbangun kala mendengar gaduh-gaduh terutama miranda dan juga Dimas dan Yuni yang nampak cemas kala mendengar kalau bulan telah menghilang.
"Tolong kamu semua berpencar menyusuri tiap gedung ini, cari menantu saya" titah Edwar pada petugas hotel tersebut. Mereka menurut dan langsung menjalankan tugasnya.
"Sama CCTV tolong dicek dong" kali ini Langit yang memerintah, dan segera diangguki oleh beberapa staf hotel berbintang itu.
Dirinya dan yang lain pun tak tinggal diam, langit berjalan kesana kemari mencari istrinya. Sesekali akan menghela nafas dalam-dalam pandangan nya ia idarkan kesekeliling, sampai-sampai ada salah satu pegawai hotel yang tergopoh menghampiri Langit.
__ADS_1
"Tuan Langit permisi, gini tuan saya tadi habis cek kebagian gudang saya denger ada suara-suara aneh takutnya ada sangkut pautnya sama hilang nya nona bulan" beritahu pegawai hotel tersebut. Tanpa menunggu lama langit langsung berlari kecil menuju gudang. Disusul dengan papi, Dimas dan juga beberapa kerabat yang lain.
Setelah sampai didepan gudang benar saja Langit dan yang lain mendengar suara-suara aneh, tanpa berlama-lama Langit memerintahkan agar segera membuka pintu gudang itu.
Semua tercengang saat melihat tubuh seorang laki-laki meringkuk dengan kaki dan tangannya yang terikat, serta mulut yang disumpal lakban.
*****
Disisi lain disebuah ruangan tergeletak tubuh seorang perempuan, perlahan wanita itu mulai mengerjapkan matanya, mengamati tiap sudut ruangan dimana ia berada.
Kepingan ingatan kembali tersusun, bulan gadis itu langsung membulatkan matanya kala sepenuhnya tersadar dengan apa yang sedang terjadi. Ia ingat betul saat malam itu ada seseorang yang membekap mulutnya dan dari situlah ia tidak mengingat apapun lagi.
Ia berdiri beranjak ingin keluar dari ruangan tersebut. Namun sebelum benar-benar keluar seseorang sudah masuk terlebih dahulu kedalam ruangan itu, bulan kaget tidak percaya dengan seseorang yang menghalangi jalannya.
"Apa yang lagi Lo pikirin benar, gue yang bawa Lo kesini" kata bintang memotong ucapan bulan sebelumnya. Gadis itu tambah bingung.
"Maksud Lo apa bawa gue kesini bintang, minggir gue mau pulang Langit pasti nyariin gue" kata bulan panik, ia terburu-buru ingin pergi dari tempat itu. Namun disaat dirinya melangkah bintang langsung mencekal pergelangan tangan gadis itu. Bulan melotot
"Lo apa-apaan sih tang, Lo kenapa bawa gue kesini Lo nggak punya pikiran gimana kalo suami dan keluarga nyariin gue hah" sergah bulan kesal, bintang tak menjawab ia malah balik melotot kearah bulan. Lalu ia menyeret tangan gadis itu dan melemparkannya keatas ranjang.
Tentu saja sikap bintang yang barusan membuat bulan kaget tidak percaya, gadis itu langsung beringsut mundur saat bintang juga ikut naik keatas ranjang, laki-laki itu mulai maju merangkak mendekati bulan. Gadis itu menggeleng ia panik, takut melihat sorot mata bintang yang berubah bagai pria penjahat.
"Tang Lo mau apa, gue mohon jangan macem-macem" lirih bulan terus mundur menyeret bokongnya. Sampai punggungnya harus mentok pada tembok dipojok ranjang.
Bintang semakin mendekati bulan. Seringaian terbit dikedua sudut bibirnya, bulan mulai ketakutan merasa ngeri dengan tingkah laku bintang yang sangat berbeda dengan bintang yang dulu.
__ADS_1
"Tang gue mohon jangan macem-macem" ucap bulan memohon. Matanya mulai memanas merasa takut.
"Sssttt jangan takut sayang gue ada disini, dengar, kita akan pergi jauh dimana nggak ada orang yang kenal sama kita" ucap bintang Tersenyum, jari tangannya senantiasa membelai pipi bulan, gadis itu menggeleng kuat matanya memanas merah.
"Tang sadar Lo kenapa!! Lo kenapa jadi kaya gini" kata bulan suaranya parau menahan tangis yang nyaris keluar.
"Because I LOVE YOU" jawab bintang lembut. Lalu ia mencium pipi bulan.
PLAAAKK satu tangan bulan terayun menampar pipi bintang, sehingga laki-laki itu menolehkan wajahnya kesamping. Kali ini rahangnya mengatup kuat matanya mendadak memerah, nafasnya naik turun menatap bulan nyalang.
bintang langsung mencengkram rahang bulan kuat-kuat sampai gadis itu merintih merasakan rasa sakit yang teramat. "Sa-sakit tang" rintih nya, bintang tak menghiraukan dia makin melotot mencengkram rahang gadis itu makin kuat.
"Lo jangan munafik bulan. Gue tau Lo masih cinta kan sama gue hm" desis laki-laki itu, bulan tak menjawab ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tubuhnya gemetaran rasa sakit campur takut bercampur menjadi satu.
Bintang melepaskan cengkraman nya, lalu ia bangkit masih menatap bulan tajam.
"Lo harus makan, habis ini Lo ganti baju" titah bintang. Ia melempar kan sebuah paperbag kehadapan bulan.
"Gue nggak mau kasar sama Lo, asalkan Lo harus nurut sama gue. Lo harus cepet pake baju pemberian gue karena gue mau ajak Lo pergi kesuatu tempat, disana kita akan menikah" bintang terkekeh sumbang, bulan menoleh cepat ia menggelengkan lagi kepalanya. Bulir air asin entah sejak kapan sudah menjalar dipipinya.
"Tang gue mohon"
"DIAM!!!!" jangan pernah ada penolakan, kalao Lo berani bantah atau menolak, gue akan perkosa Lo" bulan makin meringkuk ketakutan dengan ancaman yang terlontar dari mulut bintang. Tubuhnya makin gemetaran, shock berat tak menyangka bintang bisa menjadi sosok psycopath.
Bersambung. .
__ADS_1