
Pagi ini Bulan dan Bintang melakukan perjalanan ke kota Surabaya. Sesampai di bandara Juanda, mereka menuju ke kediaman orang tua Bulan menggunakan jasa taksi online. Bulan bahagia sekali melihat perkembangan kota Surabaya saat ini setelah dia tinggal untuk hijrah ke kota Jakarta, setiap sudut kota dia pandangi dan mulai teringat dengan kenangan dahulu saat dia menghabiskan masa kecil dan remajanya disini.
Perjalanan dari bandara ke rumah orang tua Bulan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah pak Dharma, ayah Bulan, rumah yang sangat sederhana dengan bangunan yang masih lama karena orang tua Bulan belum mampu untuk merenovasi rumah meeka menjadi lebih bagus.
Bulan dan Bintang memasuki rumah dan kondisi di rumah itu tampak sepi. Kemudian ada tetangga yang melihat kedatangan Bulan dan menghampirinya.
“Bulan, kapan datang ?” tanya Bu Sri, tetangga Bulan.
“Baru saja bulik Sri. Rumah kok sepi ya Bulik,” jawab Bulan dengan sopan.
“Ayah dan ibumu belum pulang nduk, Bima dan Tari juga masih sekolah. Sebentar ya bulik panggilkan ibumu dulu,” ucap Bu Sri, beliau memang tetangga Bulan yang sangat baik dan perhatian sekali dengan keluarga bulan.
Tak berapa lama Bu Annisa jalan tergopoh-gopoh menuju ke rumahnya setelah diberi tahu oleh Bu Sri kalau anaknya datang dari Jakarta.
“Assalamu’alaikum Bu,” Bulan mengucapkan salam pada ibunya.
“Wa’alaikumsalam nduk, walah kok tidak beri kabar ayah dan ibu dulu to nduk kalau mau pulang ?” jawab Bu Annisa terlihat senang sekali bisa bertemu dengan anaknya.
Kemudian Bu Annisa memandang ke arah Bintang dengan penuh selidik, karena memang asing baginya. “Lha iki sopo nduk, kok ono wong lanang ganteng?” (Lha ini siapa nduk, kok ada pria tampan?), tanya Bu Annisa pada Bulan.
“Kenalkan, saya Bintang Bu,” ucap Bintang memperkenalkan dirinya pada Bu Annisa dengan sikap hormat.
“Oh, nak Bintang. Ayo kalau begitu kalian masuk yuk, ibu sampai lupa belum menyuruh kalian masuk rumah.” kata Bu Annisa sambil membuka rumah yang terkunci dan diikuti oleh Bulan dan Bintang masuk ke dalam rumah.
Siang hari setelah waktunya dhuhur, pak Dharma datang dari berjualan bakso, dia tampak mendorong gerobak baksonya dan diletakkan di depan teras rumahnya. Masih ada sedikit bakso yang tersisa kemudian disimpan di dalam rumah dibantu oleh bu Annisa.
Bulan menghampiri ayahnya, “Assalamu’alaikum Yah,” sapa Bulan pada ayahnya. ‘Wa’alaikum salam,” jawab pak Dharma, kemudian ayah dan anak itu bersalaman dan berpelukan erat melepas rasa rindunya yang sudah lama tidak bertemu.
Lalu Bulan pun memperkenalkan Bintang pada ayahnya dan mereka bersalaman saling memperkenalkan diri. Bintang tampak senang karena telah disambut baik dan ramah oleh kedua orang tua Bulan.
Setelah semua anggota keluarga Bulan terkumpul, akhirnya Bulan dan Bintang mengutarakan maksud kedatangannya ke Surabaya termasuk rencana keluarga Surya Mahardhika, orang tua Bintang, akan melamar Bulan pada keluarga Dharma Putra. Betapa bahagianya kedua orang tua Bulan, tampak bu Annisa tidak bisa lagi membendung air matanya yang sudah membasahi pipinya karena bahagia, tidak mengira anak sulungnya kini telah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
“Nak Bintang, bapak ingin bertanya padamu …” pak Dharma memanggil Bintang. “Ya Pak, apa yang ingin bapak tanyakan ?” jawab Bintang
__ADS_1
“Apakah nak Bintang serius ingin memperistri anak bapak ini?” tanya pak Dharma sambil tangannya memegang lengan Bulan yang duduk di sampingnya.
“Benar pak, saya serius,” jawab Bintang dengan mantap.
“Bulan ini kan dari keluarga yang sangat sederhana, nak Bintang sudah tahu kan apa pekerjaan bapak dan ibu ? Apakah nak Bintang nantinya tidak malu jika memiliki mertua seperti kami ini, sedangkan nak Bintang sendiri berasal dari keluarga yang memiliki banyak harta dan kekayaan. Apalagi orang tua nak Bintang adalah pemilik perusahaan tempat Bulan bekerja. Bapak hanya takut nanti kalau nak Bintang jadi menyesal di kemudian hari dan menceraikan Bulan. Tentang hal itu apakah nak Bintang sudah pikirkan dengan matang nak ?” tanya pak Dharma mengenai sikap Bintang terhadap pernikahannya kelak dengan Bulan.
“Insya Allah saya bisa menerima Bulan apa adanya Pak, dengan segala kelebihan dan kekurangan dari Bulan. Kalau saya bisa menerima diri Bulan, berarti saya juga harus bisa menerima keluarga Bulan Pak. Jadi bapak dan ibu jangan khawatir lagi tentang masalah itu,” jawab Bintang meyakinkan ayah Bulan, meskipun dalam hatinya sendiri dia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya baru saja. Namun secara jujur, dia memang sudah menaruh hati pada Bulan namun gengsi untuk mengatakannya pada Bulan.
Bulan yang mendengarkan pengakuan Bintang pada ayahnya, meneteskan air matanya karena bahagia. Dia tidak menyangka jika Bintang bisa berkata seperti itu, dan dalam hati dia berjanji akan meneima Bintang dengan tulus apa adanya.
Pak Dharma dan bu Annisa menyambut baik rencana keluarga Surya dan mereka siap untuk menyambut kedatangannya pada minggu ini. Kedua adik Bulan juga tidak kalah senangnya, apalagi memiliki calon kakak ipar yang baik serta tampak cocok dan serasi dengan Bulan.
***
Malam hari Bulan dan Bintang memilih untuk berjalan-jalan melihat indahnya kota Surabaya di malam hari. Mereka memilih tujuan ke mall yang sudah sangat terkenal di Surabaya, yaitu Tunjungan Plaza. Bintang menggandeng tangan Bulan selama menikmati jalan-jalan di dalam mall. Bulan memandang tangannya yang digandeng Bintang dan wajahnya berubah sedikit merah serta jantungnya berdegup lebih kencang karena baru kali ini Bintang menggandengnya dengan memberikan rasa yang nyaman.
“Eh, bukan, bukan itu … aku senang kok,” jawab Bulan gugup menahan malu.
“Aku tidak mau kalau kamu hilang di mall, tidak lucu kan kalau calon istri Bintang Mahardhika hilang di mall, makanya aku pegang tanganmu,’ ucap Bintang berbisik pada Bulan.
“Dasar, memangnya aku anak kecil ?” tanya Bulan sambil bibirnya sedikit maju.
“Hey, itu tolong ya bibir dikondisikan, jangan terlalu maju!! nanti kalau ada yang cium bibir kamu bagaimana ?” kata Bintang dengan nada ketus pada Bulan.
“Biarin,” jawab Bulan singkat.
“Enak saja, terus kamu akan beri aku bekas orang lain hah ?!?” ucap Bintang dengan pandangan yang tajam ke arah Bulan.
“Iih, begini salah, begitu salah …” rengek Bulan dalam hati supaya tidak terdengar oleh Bintang.
“Memang kau salah !” ucap Bintang tiba-tiba. Bulan yang mendengar ucapan Bintang langsung terkejut, ‘kok dia bisa mendengar yang aku katakan dalam hati ya ?’
__ADS_1
Kemudian Bintang mengajak Bulan menuju toko pakaian. Bintang membeli beberapa stel pakaian untuk orang tua Bulan dan adik-adik Bulan. Setelah barang-barang yang dibeli sudah banyak, akhirnya mereka kembali pulang ke rumah Bulan. Selain hari sudah larut malam, mereka juga harus beristirahat karena keesokan hari harus berangkat kembali menuju Jakarta untuk memberikan kabar pada keluarga Surya dan mereka berdua juga masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Keesokan harinya Bulan dan Bintang berpamitan pada keluarga pak Dharma, Bintang mencium punggung tangan kedua calon mertuanya diikuti oleh Bulan.
“Nak Bintang, bapak titip anak bapak ya,” kata pak Dharma. “Baik pak, kami permisi dulu. Tiga hari lagi kami akan datang kembali bersama kedua orang tua saya pak,” jawab Bintang dan akhirnya masuk ke dalam taksi online yang sudah dipesan menuju ke bandara.
***
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu hari dimana keluarga besar Surya Mahardhika datang ke kediaman Dharma Putra untuk mengadakan acara lamaran Bulan dengan Bintang serta perkenalan kedua keluarga.
Meskipun baru pertama kali bertemu namun ternyata antara pak Surya dan istri bisa langsung akrab dengan pak Dharma dan istrinya. Mereka berbincang dengan diselingi tawa canda seperti teman dekat yang sudah lama kenal. Apalagi keluarga pak Surya tidak canggung dengan kondisi keluarga pak Dharma.
Puncak acara yang dinantipun telah tiba, yaitu penetapan tanggal pernikahan antara Bulan dengan Bintang, akhirnya mereka sepakat yaitu pernikahan Bulan dan Bintang diadakan sebulan lagi. Dan acara akan diadakan di hotel milik keluarga Surya di Jakarta. Mau tidak mau Bulan dan Bintang harus menerima hasil musyawarah keluarga besarnya itu.
Saat ini Bulan menggunakan kebaya warna pastel yang kalem membuat aura kecantikannya semakin terpancar dari dirinya, sedangkan Bintang menggunakan setelan jas warna biru navy terlihat gagah dan tampan sekali.
Semua anggota keluarga mengucapkan selamat pada Bulan dan Bintang, tidak ketinggalan Arda dan Dina juga ikut menghadiri acara lamaran itu, karena Dina masih saudara sepupu Bulan.
Akhirnya antara Bulan dan Bintang saling menyematkan cincin pertunangan mereka di jari manis masing-masing, kemudian menunjukkan pada seluruh keluarga dan difoto oleh Arda yang bertugas sebagai sie dokumentasi pada acara itu.
Penampilan Bulan dan Bintang saat acara lamaran, bagaimana menurut kalian ??
#######################
Hai readers kesayangan, kalau kalian masih suka dengan kisah Bulan dan Bintang, jangan lupa tekan like, vote dan rate juga ya. Kalian masih ingin kelanjutan kisahnya kan ?
Happy reading :-)
__ADS_1