
Happy reading ✓
Suasana dicafe itu mulai semakin ramai. Banyak pasangan muda mudi yang datang sekedar numpang wifi untuk mengerjakan tugas, terbukti hanya ada es teh manis yang tergeletak diatas mejanya. Tapi sudah berjam-jam belum juga ingin menyudahi.
Bulan dan bintang masih sama-sama terdiam. Setelah membahas tentang obrolan yang menyangkut urusan hubungan mereka yang bingung akan dibawa kemana, jujur saja bulan memang sangat mencintai sahabat kecilnya itu, namun hati nuraninya mengatakan kalau jangan sampai menyakiti siapapun demi ambisinya.
Bagaimana pun bintang bukan cowok single dia sudah bertunangan. Akankah bulan tega akan menghancurkan perasaan Kanaya, bulan terus mendesah kasar. Menyadari bulan yang gamang bintang meraih dua tangan gadis itu untuk digenggam.
"Kita go publik yah" kata bintang mengulangi keinginannya.
"Kanaya gimana. Gue nggak tega hancurin perasaan dia tang" jelasnya,
"Gue udah bilang sama Lo lan. Nggak ada yang diuntungkan dengan hubungan antara gue dan Kanaya" bulan menunduk, mengigit bibir dalamnya. Lalu ia angkat lagi wajahnya menatap bintang.
"Gue masih inget tang kisah ibu Lania nyokap yang udah melahirkan gue. Dia pernah merebut suami dari orang lain yang tak lain dan tak bukan itu Tante Yuni. Gue nggak mau di cap sama seperti ibu Lania perebut suami orang"
"Jadi maksud Lo, Lo benar-benar nyerah sama perasaan Lo?" Kata bintang dengan mimik seriusnya.
"Nggak tang gue cinta sama Lo. Tapi gue..." Bulan tak kuasa melanjutkan perkataannya.
Bintang akhirnya menyeret tangan bulan. Setelah membayar semua pesanan nya ia langsung membawa bulan agar masuk kedalam mobil. Gadis itu tampak heran dengan sikap bintang kali ini.
"Tang mau kemana? Motor gue gimana'' kata bulan. Memikirkan nasib motornya karena dirinya datang ke cafe itu menggunakan motor.
"Udah gampang itu urusan gue" katanya, dan lelaki itu mulai fokus pada jalan. Bulan masih belum tau akan dibawa kemana
"Tang ini kita mau kemana?" Tanyanya lagi
__ADS_1
"Ntar Lo tau sendiri " jawab bintang tanpa menoleh.
Setelah menempuh jarak yang lumayan. Mobil bintang belok kearea parkir sebuah hotel, tentu saja bulan langsung mengerutkan keningnya.
"Tang Lo mau ngapain kesini?" Kata bulan. Bintang menghela nafas dalam-dalam lalu membuang nya kasar. Menatap bulan tajam
"Ayo kita tidur bareng lan, kita ML dengan begitu Lo nanti akan hamil dan disitu lah nggak ada yang bisa ngehalangin lagi hubungan kita"
Glek, bulan menelan Saliva nya susah payah. Air wajah nya menunjukkan rasa kaget yang teramat. Jujur bulan nggak habis pikir dengan niatan bintang kali ini. Kenapa dirinya bisa mempunyai rencana kotor seperti itu.
"Lo gila yah, gue nggak mau" tolak bulan tegas.
Bintang menunduk menjilat bibir bawahnya sekilas lalu ia terkekeh miring. Kembali menatap gadis itu "ini satu-satunya cara yang bisa kita lakuin lan, kalau Lo hamil mereka bisa apa. Mau nggak mau kan mereka akan nikahin kita!!"
"Ya tapi nggak dengan cara kaya gitu juga bintang!!" Tukas bulan masih menatap tidak percaya.
Bulan diam, bintang meraih dua tangan bulan lalu mengecup punggung tangannya akan tetapi gadis itu nampak tak bergeming.
"Lo pernah denger kata-kata ini nggak. Cinta tak harus memiliki" ucap bulan akhirnya. Bintang langsung menatap gadis itu tajam wajahnya berubah datar.
"Itu artinya Lo menyerah, oke mulai saat ini kita selesai lupakan masing-masing perasaan kita. Bila perlu musnahin!!!!"
Pemuda itu langsung memundurkan mobilnya dan keluar dari area parkiran hotel. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hal itu membuat bulan memekik takut. Bulan melirik sekilas kearah bintang terlihat dengan jelas. Betapa lelaki itu yang sedang dikuasai rasa emosi. Ketahuan dari rahangnya yang mengatup keras.
"Turun" titah bintang tanpa menatap
"Tang maksud gue..."
__ADS_1
"Turun gue bilang!!"
Bulan menurut ia akhirnya turun dari dalam mobil bintang. Dengan cepat kendaraan roda empat itu melesat pergi meninggalkan bulan yang nampak sudah berkaca-kaca.
Dengan langkah gontai bulan berjalan ingin masuk kedalam rumah nya. Ia terperanjat kala melihat Kanaya seolah sedang menghadang jalan nya. Bulan menghentikan kaki lalu kini keduanya saling berhadapan.
"Kamu udah puas kan bulan ketemuan sama tunangan orang, aku harap ini terakhir kalinya kamu bersikap seperti itu, karena aku nggak akan lagi membiarkan kamu berhubungan dengan bintang dibelakang aku" tukas Kanaya memperingati dengan menampakkan senyuman manisnya.
"Dan yah aku harap kamu nggak akan punya niat seperti mendiang ibu yang sudah melahirkan kamu, menjadi seorang ja-lang yang merebut laki-laki yang sudah beristri" kata Kanaya enteng masih terus menyunggingkan senyum.
Rahang bulan mengatup keras. Kedua tangannya sudah terkepal dibawah sana, gadis itu merasa tersinggung dengan semua ucapan saudarinya. Bulan menatap Kanaya sangat tajam seakan ingin menguliti gadis itu hidup-hidup.
"Ngomong apa Lo sialan" bulan memajukan tubuhnya mencengkram kuat kedua bahu Naya. Gadis itu meringis samar menutupi rasa sakit akibat cengkraman yang bulan lakukan.
"Kenapa? kamu tersinggung dengan ucapan aku. Memang benar begitu adanya kan!" Ucap Naya lagi. Sesekali ia akan meringis karena bulan yang belum juga melepaskan cengkraman nya.
"Jaga bacot Lo cewek sialan" tukas bulan. Ia mendorong tubuh Naya sehingga gadis itu membentur tembok.
"Ssshhh " Kanaya mendesis. Merasakan sakit di area punggung serta bahunya. Bulan melotot, namun tidak dengan Kanaya gadis itu masih setia tersenyum. Senyuman yang terdapat kemenangan disana.
Bulan makin geram. Melihat Kanaya yang sengaja mengejek dengan senyuman yang bagi bulan sangat menjijikkan. Gadis itu kembali maju ingin memukul wajah Naya yang sudah memejamkan mata.
Happ. Kepalan tangan bulan berhasil ditangkap oleh lengan seseorang. Kalau saja seseorang itu tidak berhasil menghalau, sudah dipastikan wajah Kanaya akan memar saat itu juga. Dengan nafas naik turun bulan menoleh cepat kearah si pemilik lengan tersebut. Ternyata Reo laki-laki itu datang dan langsung menginterupsi perbuatan bulan yang mencoba menyakiti Kanaya.
Untung nya rumah saat ini sedang sepi. Hanya ada ketiganya dan art yang sedang bertugas dibelakang dapur. Jadi tidak melihat atau mendengar keributan yang sedang terjadi.
"Jangan bulan jangan lakukan itu" ucap Reo menggeleng. Bulan menatap sengit pada Naya dan memilih langsung pergi dari hadapan kedua orang itu.
__ADS_1
Bersambung. .