
Happy reading ✓
Entah sudah berapa banyak air mata yang sudah bulan kucurkan, hari akan menjelang pagi bulan gadis cantik itu masih terus menangis, bahkan tangisan tak kunjung berhenti sejak tadi malam.
Hatinya terasa sesak serta tenggorokan yang terasa mencekik, hal itu dikarenakan karena pada hari ini adalah hari dimana bintang dan Kanaya akan berangkat ke Inggris. Tentu saja gadis itu merasa sangat terpukul membayangkan dirinya yang akan berpisah dengan waktu yang lama.
Walaupun ia sudah bertekad tidak akan berhubungan secara apapun lagi dengan bintang. Namun tetap saja didalam hati kecilnya bulan sangat hancur.
Tok tok tok. Bulan terperanjat saat pintu kamarnya ada yang mengetuk. Ia langsung mengusap sisa air matanya dan memilih turun dari ranjangnya.
Nampak lah Dimas yang sudah berdiri diambang pintu. "Selamat pagi sayang, nanti kamu ikut kan ke bandara antar Kanaya"
Bulan diam. Entah kenapa saat dirinya mendengar nama Kanaya disebut kan rasanya sangat muak. Dimas diam menelisik wajah sang putri ia merunduk mensejajarkan wajah dengan wajah bulan.
"Papa kenapa sih" kata bulan sembari memalingkan wajahnya. Ia takut jika Dimas mengetahui wajah sembab nya.
"Kamu kenapa lan? Abis nangis?" Tebak dimas, masih menelisik wajah gadis itu.
"Enggak kenapa-napa ko habis mimpi buruk. Udah yah pa aku mau mandi dulu" pamit gadis itu pada ayahnya.
"Mimpi buruk" beo Dimas
Bulan tampak bimbang. Apakah ia harus ikut ke bandara ataukah tetap dirumah, sejujurnya ia merasa sangat malas dari pada harus melihat adegan perpisahan yang sangat menjengkelkan saat di bandara lebih baik ia memilih untuk tidur saja.
"Bulan ayo nak kita udah mau berangkat" teriak Dimas dari luar pintu.
"Iya pa" bulan menyahuti. Gadis itu tampak menghela nafasnya dalam-dalam lalu ia putuskan untuk tetap ikut ke bandara.
*****
__ADS_1
Sesampainya di bandara. Ternyata bintang dan juga kedua orang tuanya sudah sampai terlebih dahulu. Para orangtua saling berjabat tangan. Bulan pun tak ketinggalan ia menyalami tangan Erik dan Alda bergantian. Begitupun Naya ia melakukan hal yang sama seperti bulan.
Selanjutnya Naya langsung berjalan disi bintang. Saling melempar senyum jika Naya tersenyum tulus lain lagi dengan bintang ia hanya membalas dengan senyum simpul,
Gadis itu memilih menjauh dari jangkauan bintang. Ia seakan tidak mau mengganggu pasangan tersebut. Ia lebih memilih duduk sendiri memainkan gawai nya.
Tak lama berselang ternyata Niko, Ares dan Anita juga turut ikut serta mengantarkan bintang dan Kanaya yang akan terbang ke Inggris.
"Bulan sini ngapain Lo disitu mojok Sendirian kaya belek" kata Niko, mendapati sahabat perempuan nya itu terlihat menyendiri.
"Res aku kesana yah" pinta Anita pada sang pacar yang Ingin menemui bulan, Ares mengangguk.
Anita turut menghampiri bulan saling peluk dan ikut duduk bersamanya. Sedangkan Niko dan Ares ada dikubu bintang dan Kanaya, berbincang-bincang seakan ingin berpuas-puas karena Sadar ia akan berpisah dengan bintang dalam waktu yang cukup lama.
"Ini pada kenapa sih, ayolah man" ujar Niko menyadari bintang yang seakan menatap bulan dengan tatapan berbeda.
"Mendingan kita foto bersama yuk. Buat kenang-kenangan siapa tau tau ini terakhir kalinya gue liat Lo tang" kata Niko
"Eh gue nggak bilang Lo mati yah upil biawak" elak Niko enteng.
"Udah deh ah ribut Mulu kaya kucing sama anjing aja" kata Ares menengahi.
"Niko tuh yang anjing nya" kata bintang
"Ye Lo tuh megalodon" balas Niko.
Ares merotasikan bola matanya, jengah dengan adu mulut antar dua sahabatnya itu.
Lantas dirinya memberikan kode pada Anita. Supaya mau menyeret bulan ikut bergabung dengan yang lain. Karena akan ada sesi foto bersama. Sebagai momentum karena perpisahan akan terjadi.
__ADS_1
Ares mengarahkan para teman-teman nya agar berpose semenarik mungkin. Dan juga dapat angle yang pas. Para orang tua hanya bisa menyaksikan keseruan para anak remaja itu dengan senyum-senyum.
"Ayo-ayo begitu hitungan ke tiga keluarin ekspresi kalian yah gaes" teriak Ares yang lain setuju.
"Satu, dua, tiga" cekrek mereka langsung berekspresi sesuka hati. Bintang dengan mengacungkan dua jempolnya kedepan kamera. Naya yang hanya tersenyum cantik. Serta bulan yang tertawa lepas begitu juga dengan Anita, karena pada saat foto melihat gaya Niko yang super absurd, yaitu menirukan topeng monyet. Sedangkan Ares dengan gaya sok imutnya yaitu kedua tangannya yang melengkung keatas kepala membentuk hati.
****
Para orangtua memberi tahu pada bintang dan Naya. Bahwasanya pesawat yang akan mereka tumpangi setengah jam lagi akan lepas landas. Maka dari itu baik Naya maupun bintang sudah mulai berpamitan dengan kedua orang tua masing-masing.
Alda dan Yuni terlihat sibuk menitikkan airmata seakan berat melepas anak semata wayang mereka. Sementara para ayah terlihat lebih tegar. Niko pun tak kalah lebay nya ia mulai menangis saat bintang dan Kanaya ingin berpamitan dengan nya.
"Bintang, Naya Lo berdua hati-hati yah disana. Jangan lupa kalau ada bule cakep kabarin gue" ujar Niko dengan sok mengusap airmata nya.
"Tai Lo" keduanya terkekeh dan lanjut berpelukan. Kanaya pun melakukan hal yang sama memeluk Niko. Tentu saja hal itu menjadi kesempatan emas bagi pemuda itu kapan lagi bisa berpelukan dengan Kanaya si gadis cantik.
"Jaga diri Lo disana baik-baik gue sebagai sahabat tetap nunggu Lo disini" ujar Ares bijak. Bintang langsung merangkul Ares keduanya berpelukan. Anita hanya menjabat tangan bintang karena tidak diperbolehkan pelukan oleh Ares.
Kini giliran bintang berhadapan dengan bulan. Gadis itu seakan memilih membuang pandangan nya kesegala arah enggan menatap bintang. Air wajah pemuda itu langsung berubah karena mendapatkan respon bulan yang seperti itu pada akhirnya bintang memilih tidak berpamitan dengan bulan dan langsung pergi dari hadapan gadis itu.
Bulan menggigit bibir bawahnya sekilas. Lalu ia mengehela nafas dalam-dalam dan membuang nya perlahan, kini Kanaya yang sudah berhadapan dengannya. Bulan membuang arah Matanya seakan tidak Sudi menatap saudarinya.
Namun tak diduga Kanaya langsung merangkul tubuh bulan, gadis itu memeluk bulan erat lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga bulan "aku menang, bintang milikku"
Kanaya langsung menjauh kan kembali tubuhnya. Lalu ia tersenyum manis, bulan mengepalkan kedua tangannya menatap Naya tajam.
"Naya ayo nak pesawat nya" ucap Yuni memberi kode pada Sang putri agar segera masuk kedalam pintu pemeriksaan. Semua ber dadah-dadah ria melepas kepergian dua remaja yang akan menuntut ilmu jauh diseberang sana.
Tak terasa mata bulan semakin memanas kala jarak bintang dan Kanaya makin jauh melangkah. Tidak ada yang bisa bulan perbuat. Selain menerima takdirnya kalau dirinya memang tidak ditakdirkan bersama bintang.
__ADS_1
Tes, satu tetes bulir air asin lolos begitu saja dipipi bulan. Setelah benar-benar tidak melihat lagi punggung bintang.
Bersambung. .