
Selepas sholat maghrib Bulan menuju ke dapur kemudian memasak mie instan dicampur dengan sayur sawi dan membuat telur goreng. Setelah matang, dia segera menyantap masakannya hingga habis. Sejenak dia tiba-tiba rindu ayah dan ibunya yang tinggal di kampung halaman.
Selama ini Bulan memang tinggal bersama kedua orang tuanya beserta dua orang adiknya di kota Surabaya. Ayahnya bernama pak Dharma Putra, sehari-harinya hanyalah sebagai pedagang bakso yang mangkal di depan kantor kecamatan dekat rumahnya. Sedangkan ibunya bernama bu Annisa yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah tetangganya. Dua adik Bulan yaitu Bimantara yang duduk di kelas 3 SMA dan Mentari yang duduk di kelas 2 SMP.
Bulan pun mengambil HP yang ada di atas meja dan segera menelpon ayahnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum ayah … “ Bulan menyapa ayahnya.
“Wa’alaikum salam nduk … bagaimana kabarmu, sehat to? “ sahut ayahnya dari seberang.
“Alhamdulillah sehat, ayah dan ibu sehat semua kan? Bulan kangen sama ayah, ibu dan adik-adik,” kata bulan pada ayahnya.
“Iya nduk, kami sehat semuanya. Bagaimana kerja pertamamu hari ini?” tanya ayah Bulan.
__ADS_1
“Alhamdulillah Bulan senang yah, atasan Bulan orangnya baik dan Bulan dapat teman baru yang baik-baik juga yah. Ibu dan adik-adik sedang apa yah ?”
“Syukurlah kalau kamu senang nduk. Ibumu sedang ada kegiatan pengajian, adik-adikmu lagi belajar tuh di kamar mereka,” kata ayah Bulan.
“Oh, Baiklah yah, sampaikan salam Bulan pada ibu dan adik-adik ya yah. Ayah jangan lupa jaga kesehatan,” Bulanpun segera mengakhiri obrolan dengan ayahnya dan mematikan HPnya.
Bulan tersenyum bahagia setelah menelpon ayahnya, kemudian dia mengingat kembali tentang bagaimana dia bisa mengadu nasib ke Jakarta. Bulan baru saja wisuda lulusan dari fakultas teknik industri di perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya dengan nilai IPK yang lumayan bagus yaitu 3,75. Kemudian dia diajak oleh sepupunya yang tinggal di Jakarta untuk mencari kerja.
Bulan tinggal satu kos dengan Dina, dan bila akhir pekan mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan kegiatan memasak di kosan. Bila malam minggu tiba waktunya Dina diapeli oleh kekasihnya, Taufik, dan mereka sering pergi berdua untuk jalan-jalan menghabiskan malam berdua. Dan biasanya Bulan hanya di kos mendengarkan musik melalui HPnya sambil ngemil makanan ringan.
****
Sementara itu di kediaman pak Dharma di Surabaya, bu Annisa baru saja pulang dari pengajian dan disambut oleh Mentari sambil menggelayut manja di lengan ibunya, “Bu, bawa kue ngga? Buatku ya bu … “
__ADS_1
Annisa memberikan kue yang dibawanya dari pengajian tadi pada Mentari sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu.
Pak Dharma mendekati istrinya kemudian bercerita kalau Bulan tadi baru saja telpon. Bu Annisa langsung menanggapi “Bagaimana kabar anak kita disana pak, baik-baik saja kan?”
“Alhamdulillah anak kita baik-baik saja bu, dia hari ini pertama kali bekerja dan dia nampak senang sekali dengan pekerjaannya,” jawab pak Dharma sambil menyesap kopi di gelas yang tinggal setengah itu.
“Alhamdulillah kalau begitu pak, tapi ibu jadi rindu pada Bulan pak. Bapak kan tahu sendiri kalau Bulan itu ngga pernah pisah dengan kita dari kecil, sekarang dia malah memilih tinggal di Jakarta. Oalah nduk, nduk …” kata bu Annisa sambil memandang ke arah suaminya.
“Tenang aja Bu, Bulan sudah besar dan biarlah dia mengejar cita-citanya. Beri kesempatan padanya untuk membuktikan kalau dia juga bisa mandiri dan sukses disana Bu. Kita tinggal mendo’akan anak kita itu,” jelas pak Dharma pada istrinya agar tidak mengkhawatirkan anak sulungnya itu.
“Iya pak,” kata bu Annisa.
Kemudian pak Dharma mengajak istrinya untuk segera beristirahat di kamar karena hari sudah malam dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
__ADS_1