
Di kediaman Surya Mahardhika sore ini kedatangan tamu penting yaitu keluarga Adipura, pemilik perusahaan Lintas Grup, yang bergerak di bidang otomotif. Adipura juga ikut menanamkan saham di Mahardhika Grup sebesar dua puluh persen. Kedatangan keluarga Adipura selain untuk menjalin hubungan bisnis, mereka juga ingin menjalin hubungan keluarga dengan Surya Mahardhika. Tak lain maksud kedatangannya adalah menjodohkan anak mereka.
“Pak Surya, perkenalkan ini istri saya dan yang ini anak gadis saya, namanya Eva,” ucap Adipura memperkenalkan keluarganya pada Pak Surya.
“Wah, apa benar ini Eva yang dulu suka ikut pak Adipura ke kantor, waktu itu masih sekolah ya dan sekarang sudah dewasa,” kata Pak Surya.
“Iya, benar sekali Pak Surya,” jawab Adipura dengan senyum lebar ke arah Pak Surya.
“Eva cantik ya, masih kuliah atau sudah bekerja ?” tnya Bu Ines pada Eva.
“Saya sudah selesai kuliah tante, sekarang bekerja di perusahaan papa,” jawab Eva dengan ekspresi datar.
“Benar bu, Eva ini sekarang bekerja di perusahaan kami sebagai direktur keuangan,” Adipura menjelaskan pada keluarga pak Surya.
Obrolan demi obrolan pun dilakukan dengan garis besarnya bahwa Adipura ingin menjodohkan Eva dengan Bintang supaya semakin erat hubungan kedua keluarga. Pak Surya dan Bu Ines tidak sepenuhnya menyetujui maksud dan keinginan Adipura itu, mereka menyerahkan semua keputusan pada Bintang. Namun pada saat kedatangan keluarga Adipura ke kediaman Pak Surya ini, Bintang tidak nampak di rumah karena masih menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Berhubung Bintang belum kembali juga ke rumah, akhirnya keluarga Adipura berpamitan pada Pak Surya dan Bu Ines.
Keesokan paginya semua anggota keluarga Pak Surya sudah berada di meja makan untuk sarapan. Bella sudah menyelesaikan sarapannya dan berpamitan untuk berangkat sekolah diantar oleh Pak Sahril, sopir keluarga Pak Surya.
“Ma, Pa, Kak, Bella berangkat ke sekolah dulu ya,” pamit Bella sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan kakaknya.
“Iya sayang, belajar yang pintar ya di sekolah,” ucap Pak Surya sambil mencium kening Bella dengan kasih sayang.
“Bella, kamu di sekolah belajar yang benar ya, jangan pacaran dulu,” kata Bintang sambil menggoda adiknya.
“Ih kakak, mana ada Bella pacaran? Bella belum mikir kesana, masih mau belajar dulu biar pintar seperti papa, “ jawab Bella sambil menjulurkan lidahnya ke arah Bintang dan berlari kecil menuju ke depan rumah yang sudah ditunggu oleh pak Sahril.
“Pak Sahril, hati-hati ya nyetir mobilnya,” kata Bu Ines saat mengantar Bella masuk ke dalam mobil. “Baik nyonya,” jawab pak Sahril dengan anggukan kepala ke arah Bu Ines.
Setelah mengantar Bella ke depan, Bu Ines kembali masuk ke dalam rumah bergabung dengan suami dan anaknya yang suda duduk di ruang depan.
“Bintang, sebelum berangkat ke kantor papa dan mama mau bicara sama kamu,” ucap Pak Surya mengawali pembicaraannya.
“Bicara apa Pa, keliatannya serius sekali,” kata Bintang.
“Begini, papa dan mama merasa kamu sudah dewasa dengan usia kamu saat ini, dan sudah waktunya kamu menikah. Tapi sampai sekarang kamu belum pernah mengenalkan seorang gadispun ke hadapan papa dan mama, sejak kamu berpisah dengan Renata tiga tahun yang lalu. Nah, papa dan mama berencana untuk menjodohkan kamu dengan Eva, putri pak Adipura pemilik Lintas Grup,” ucap Pak Surya menjelaskan pada Bintang.
__ADS_1
Sontak Bintang pun terkejut dengan keputusan kedua orang tuanya, tentu saja dia menolak rencana mereka.
“Papa dan ama ini ada-ada saja, pakai acara perjodohan segala. Sekarang jaman sudah modern, sudah tidak lagi idup di jamannya Siti Nurbaya yang dijodohkan dengan Datuk Maringgih, “ kata Bintang dengan wajah gusar mengungkapkan rasa tidak suka terhadap rencana kedua orang tuanya.
“Bin, niat kami baik buat kamu. Sampai kapan kamu akan melajang terus? Apa kamu tidak kasihan pada mamamu ini yang sudah menginginkan hadirnya cucu ?” kata Bu Ines dengan memegang lembut bahu Bintang.
“Tapi Bintang tidak suka jika dijodohkan seperti ini, biarkan Bintang yang mencari dan memilih pasangan Bintang sendiri Ma, Pa,” jawab Bintang dengan sedikit emosi.
Tampak Pak Surya menghela nafas panjang mendengar ucapan anak sulungnya itu. Bagaimanapun juga Bintang jga berhak atas pilihannya, mereka tidak bisa emaksakan kehendak pada Bintang.
“Baiklah kalau kamu memang tidak mau dengan perjodohan ini. Tapi kamu harus bisa menunjukkan pada papa dan mama calon istrimu dalam waktu seminggu, kamu harus bisa mengajak gadis pilihanmu itu minggu depan di hadapan kami !” kata Pak Surya dengan tegas pada Bintang.
Bintang semakin terkejut dengan perkataan papanya itu, “Baiklah, minggu depan Bintang akan ajak calon istri Bintang kesini, akan aku kenalkan pada papa dan mama,” ucap Bintang sambil mengusap kasar wajahnya, karena dia sendiri tidak tahu siapa gadis yang akan dia ajak menemui orang tuanya.
Bintang pun berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat kerja, tak lama kemudian dia sudah melajukan mobilnya keluar rumah dengan pikiran masih kacau dengan permintaan papanya tadi.
Di jalan raya Bintang tampak mengemudikan mobilnya dengan kencang sekali hingga hampir saja dia menabrak ibu-ibu yang keluar dari tikungan naik motor. Bintang dan ibu-ibu itu sama-sama terkejut dan sama-sama mengerem mendadak. Bintang turun dari mobil dan mendekati ibu tadi.
“Maaf Bu, apa ibu tidak apa-apa ?” tanya Bintang cemas akibat ulanya tadi.
“Baik bu, sekali lagi saya minta maaf,” kata Bintang mbil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu pda ibu itu.
“Tidak perlu Nak, ibu tidak memerlukannya. Motor ibu baik-baik saja tidak tergores,” ujar ibu tadi sambil melanjutkan perjalanannya.
Akhirnya Bintang pun melanjutkan perjalanannya menuju ke arah kantornya.
***
“Pagi Pak Bintang … “ sapa Afifah, resepsionis kantor Mahardhika Grup saat atasannya itu masuk kedalam gedung kantor.
Hal yang sama juga dilakukan oleh karyawan lainnya saat bertemu dengan Bintang saat akan menaiki lift. Bedanya karyawan naik lift untuk karyawan, dan Bintang menuju ke lift khusus untuk ke ruangannya.
Setelah keluar dari lift, Bintang segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya, dia disambut rmah oleh Adryana, sekretarisnya. “Selamat pagi Pak Bintang, di dalam ruangan sudah ada Pak Arda menunggu bapak,” kata Adryana pada atasannya itu.
“Baik, terima kasih. Lanjutkan tugasmu !” perintah Bintang, dan dia melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangannya dan disambut pula oleh Arda.
__ADS_1
“Pagi bro, ada beberapa laporan yang harus kamu tanda tangani tentang kerjasama dengan perusahaan dari Singapura waktu lalu,” ucap Arda setelah duduk di hadapan Bintang.
“Ada kabar apa hari ini yang berhubungan dengan kemajuan perusahaan ?” tanya Bintang sambil menanda tangani laporan yang diserahkan oleh Arda.
“Sepertinya Lintas Grup akan menambahkan sahamnya pada perusahaan kita Bro,’ jawab Arda melaporkan tentang perkembangan perusahannya.
Bintang mendengar kata Lintas Grup membuat dirinya mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Arda yang melihat sikap Bintang itu kemudian mengerutkan dahinya.
“Ada apa lagi bro, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan saat ini ?” tanya Arda.
“Iya, pikiranku sedang kacau saat ini,” jawab Bintang sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Ada masalah apa, ceritalah padaku mungkin aku bisa membantu kesulitanmu,” kata Arda penasaran.
Kemudian Bintang bercerita tentang perjodohan yang direncanakan oleh orang tuanya dengan keluarga Adipura, lalu dia menolak perjodohan itu yang pada akhirnya orang tuanya menginginkan agar dia segera mengenalkan calon istri pilihannya pada mereka minggu depan.
Seketika itu juga Arda langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Bintang. “Hahaha … akhirnya Bintang Mahardhika Putra dijodohkan juga akibat terlalu lama jomblo … “ ucap Arda menggoda Bintang yang direspon oleh Bintang dengan lemparan bolpen ke arah Arda namun bisa ditangkis oleh Arda.
“Woy, ngaca dong dirimu … bukannya kamu juga telat nikah, hah ?! kata Bintang protes pada Arda. “Kamu tu bukannya membantuku cari solusi, malah mentertawakan aku sja,” gerutu Bintang sambil mengusap kasar wajahnya.
“Hai, meskipun aku telat nikah aku sudah punya calon pacar, “ jawab Arda sambil menjulurkan lidah ke arah Bintang.
‘Halah, masih calon saja sudah bangga, huuhh … “ ucap Bintang sambil menaikkan salah satu ujung bibir atasnya.
“Bro, kenapa sih kamu bingung, ajak saja Bulan ke rumahmu. Kenalkan saja gadis itu sebagai calon istrimu pada Om Surya dan tante Ines, pusing-pusing amat sih” ucap Arda memberikan solusi pada Bintang.
Bintang tampak termenung dengan ucapan sahabat sekaligus asistennya itu. Dia memang beberapa minggu ini selalu terbayang selalu wajah Bulan sejak pertemuan pertamanya yang tidak diduganya itu, ‘tapi apakah Bulan mau dengan rencana ini?’ Tanya Bintang dalam hati.
##############
Nah, apakah Bulan mau jika diajak oleh Bintang ke rumah dan diperkenalkan pada kedua orang tua Bintang sebagai calon istrinya? Bagaimana menurut kalian? Tulis ya di komentar.
Happy reading semuanya ... semoga indah hari kalian :-)
__ADS_1