
Happy reading ✓
Niko dan Ares terlihat sibuk membantu mengobati luka pada kulit lengan bintang yang sebelumnya ia beli di apotik. Sesekali pemuda itu akan meringis saat kapas antiseptik itu menempel pada luka nya.
Disisi lain sesampai nya bulan di arena balap. Dari kejauhan ia dapat melihat ketiga sahabatnya. Gadis itu sedikit berlari tak sabar rasanya ingin segera bergabung dengan mereka.
"Lo kenapa tang?" Tanya bulan setelah dirinya sudah berdiri didepan tiga Sahabatnya. Ketiganya langsung menoleh kearah suara.
"Lan Lo sama siapa?" Ares bertanya. Dirinya celingukan siapa tahu ada yang mengantarkan bulan ke arena tersebut.
"Gue sendirian, Bawa motor" jawabnya lagi
Atensi bulan mengarah pada bintang. Namun sayang pemuda itu seakan tidak menganggap bulan ada. Melihat itu bulan mendesah pelan
"Lo abis balapan?" Pertanyaan bulan ditujukan pada bintang. Namun lagi-lagi pemuda itu tak bergeming membuat bulan merotasikan bola matanya jengah. Baik Niko dan Ares juga saling menatap satu sama lain.
"Tang gue ngomong sama Lo!!" Sungut bulan mulai kesal pada pemuda yang tetap diam.
Mengerti dengan keadaan. Niko dan Ares pun memilih untuk pergi meninggalkan bulan dan bintang. Ia berfikir mungkin masih ada permasalahan yang belum selesai. Maka dari itu mereka pun langsung pergi dari situ.
"Gue cabut dulu ya" pamit Ares
"Gue juga" Niko mengikuti Ares yang sudah lebih dulu pergi.
Kini tinggallah bulan dan sahabat laki-lakinya itu. Sama-sama terdiam dengan pemikiran nya masing-masing,
__ADS_1
"Tang dulu Lo udah janji nggak bakalan balapan lagi!" Diam. Pemuda itu tetap diam bagai orang bisu.
"Oke gue pergi" dengan cepat bintang mencekal pergelangan tangan bulan. Saat gadis itu hendak berlalu pergi.
****
Bulan dan bintang kini duduk disebuah taman. Cukup sepi hal itu dikarenakan hari memang sudah memasuki malam hari. Setelah dari arena balap tersebut. Bulan akhirnya berhasil membujuk bintang agar mau segera pulang.
Bulan awalnya meminta agar bintang saja yang mengendarai motornya. Namun pemuda itu malah menepikan motor itu disebuah taman. Jadilah mereka berada saat ini sekarang.
"Maaf" kata itu yang keluar pertama kali dari mulut bintang setelah sekian lama terdiam.
"Soal apa lagi? Soal Lo udah balapan liar?" Tanya bulan memastikan.
"Soal semuanya, termasuk gue yang tunangan sama Kanaya " kini bintang sudah mengubah posisi duduknya menghadap bulan. Menatap gadis itu penuh penyesalan
Bintang meraih dua tangan bulan. Hal itu membuat bulan langsung balik menatap laki-laki yang kini menggenggam tangan nya. Hatinya mendadak bergejolak. Detik berikutnya bintang membawa tangan itu untuk ia kecup punggung tangan nya. Bulan langsung mengigit bibirnya.
"Gue cinta sama Lo lan" ucap bintang pada akhirnya. Jantung gadis itu mendadak berdebar-debar. Ia segera berdiri dan menepis genggaman tangannya
Bulan berlari menghindari bintang dari tempat duduknya. Ia memilih berdiri menghadap kearah lain tak jauh dari bintang duduk. Jujur bulan saat ini merasakan marah dengan apa yang bintang ucapkan barusan. Namun disisi lain dirinya juga terbawa perasaan dengan pernyataan pemuda itu.
Tiba-tiba saja bintang datang dan langsung memeluk tubuh bulan dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma strawberry dari rambut gadis itu. Bulan kaget ia langsung berontak guna melepaskan pelukan itu. Selanjutnya ia memutar tubuhnya dan berhadapan dengan bintang.
"Nggak lucu tang, nggak seharusnya Lo begitu. Lupain rasa cinta diantara kita. Ingat lo udah punya Kanaya" ucap bulan dengan mata yang mulai berembun.
__ADS_1
Bintang menggeleng lemah tatapan nya sendu "dari awal gue sadar. Ternyata rasa suka gue ke Kanaya itu hanyalah obsesi. Gue terobsesi sama kecantikan dia. Tapi bukan berarti gue cinta sama dia dari hati. Tapi kalau Lo beda lan Posisi Lo khusus ada dihati gue"
"Gue tulus cinta sama Lo lan" ucap bintang panjang lebar. Dirinya mengatakan semua itu sampai berkaca-kaca. Bulan mengigit bibirnya yang bergetar dirinya masih terdiam.
"Kenapa Lo ngomong kaya gitu tang Lo bohong kan. Kalau Lo cinta sama gue kenapa Lo tunangan sama Naya hah dasar brengsek!" Bulan tak kuasa menitikkan airmata setelah mengatakan hal tersebut.
"Gue kasian lan sama Naya. Tapi gue nggak pernah bohong tentang perasaan gue ke Lo. Itu benar kalau gue cinta sama Lo"
"Gue nggak percaya" kata bulan terkekeh miris
"Lo mau bukti" tanya bintang
"Cukup tang"
Bintang semakin maju mengikis jarak diantara keduanya. Hingga tubuh keduanya menempel pemuda itu membingkai wajah bulan. Bulan bergetar jantung nya berdebar sangat kencang seakan ingin meledak saat jarak wajah bintang dan wajahnya begitu dekat. Hingga akhirnya bulan merasakan bibir bintang menempel pada bibirnya.
Sangat lembut bintang ******* bibir bulan begitu pelan bagai sapuan angin. Bulan tak bergeming ia hanya bisa diam merapatkan bibirnya. Seolah enggan membalas ciuman bintang. Namun bintang tidak perduli ia semakin hilang kendali saat mencium bulan sampai akhirnya gadis itu mendorong dada lelaki itu kuat. Berhasil bintang melepaskan nya
Bulan merasakan sudah kehabisan nafas. Ia meraup udara sebanyak-banyaknya akibat ulah bintang yang menciumnya dengan brutal.
"Itu bukti gue lan kalau gue cinta sama Lo. Gue tau Lo juga masih punya perasaan kan sama gue" bulan mengigit bibirnya ia menunduk. Bintang kembali maju mendekati sahabat kecilnya. Ia mengangkat dagu bulan agar mau menatapnya
Selanjutnya bintang kembali menyatukan bibirnya pada bibir bulan. Keduanya kembali berciuman dua tangan bintang sudah ia gunakan untuk mencengkram sisi kepala gadis itu agar tidak kembali berontak. Mereka berciuman cukup lama. Bahkan bulan pun sampai terpancing membalas ciuman bintang.
Tanpa mereka sadari ada dua tangan yang mengepal kuat dan air mata yang menetes kala melihat dua insan yang sedang berciuman.
__ADS_1
Bersambung. .