
Happy reading ✓
Bulan akhirnya memilih untuk tidak mengikuti seminar tersebut, percuma juga kalau pun dirinya datang malah yang ada ia tidak fokus karena memikirkan Langit.
Makanya ia memberanikan diri untuk datang ke mansion Langit dirinya berniat menjelaskan, sesampai nya di mansion besar itu Bulan sudah disambut oleh salah satu pelayan dirumah itu.
Pelayan tersebut mengatakan jika nyonya Miranda sedang tidak ada dirumah, hanya ada langit yang kini sedang berada dikamar nya, setelah mengucapkan terimakasih gadis itu bergegas naik lantai tiga menggunakan lift.
Saat ia berhasil berada diambang pintu kamar Langit, seketika tubuhnya bergetar matanya memanas saat melihat ada seorang perempuan cantik yang sedang memeluk tubuh langit dan mencium pipinya.
Langit yang menyadari ada bulan didepan pintu kamarnya. Segera ia menepis pelukan dari perempuan cantik bernama Audrey itu. Langit langsung beranjak lari menghampiri bulan, lelaki itu bisa melihat bulan yang sudah meneteskan airmata nya.
"Bulan"
"Kita putus" tandas bulan akhirnya. Dirinya lari sekuat yang ia bisa. Tak tinggal diam langit pun langsung berlarian mengejar bulan yang sudah menuruni tangga.
Nampaknya seseorang jika sedang emosi, kecepatan larinya bagai kecepatan cahaya, itu yang dirasakan oleh bulan gadis itu terlihat sudah pergi dari mansion kediaman Langit, lelaki itu berteriak frustasi kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Lalu ia pun langsung masuk kedalam mobilnya guna mengejar bulan. Laki-laki itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak perduli dengan keselamatan nya sendiri. Yang ada di otak nya saat ini hanya ada bulan dan bulan.
Langit turun dari mobilnya. Saat ingin mencoba masuk kedalam pekarangan rumah tersebut, pak Umar selaku satpam yang bekerja dirumah itu Memohon maaf karena saat ini langit tidak diperbolehkan masuk. Itu pesan dari bulan, Yang memerintah kan jika ada langit datang dilarang menemuinya.
Langit mengerti ia pun dengan berat hati akhirnya memilih pergi dari rumah itu, disisi lain kini bulan sedang menangis dikamar nya, bayangan tentang cewek yang memeluk langit dan dengan mesra mencium pipinya terus berputar bagai kaset rusak.
Kenapa langit tega membalas dirinya dengan lebih sakit, Bahkan bulan sendiri tidak melakukan hal yang berbau pengkhianatan, Gadis itu merasa semua laki-laki sama saja. Disaat dirinya semakin tumbuh rasa cinta yang begitu besar, dengan tega nya langit berkhianat selingkuh didepan mata.
*****
Langit memasuki sebuah club malam dentuman suara keras langsung menyeruak masuk Ke Indra pendengarannya, disana dirinya sudah bergabung dengan Darren dan juga Bram.
Tak bisa mengelak mereka adalah teman dekat semasa SMA bahkan kuliah pun mereka masih bersama. Dan ketiga sekawan itu akan ketempat ini jika dari mereka ada yang sedang terkena masalah.
"Lang udah kali, Lo gila yah udah mau abis dua botol" sergah Darren mengingatkan.
"Diem Lo" kata Langit. Matanya mendelik kearah Darren, pemuda itupun pasrah, karena mereka tahu betul tabiat temannya itu.
"Aku cinta banget sama kamu lan. Cinta banget" baik Darren maupun Bram saling menatap saat mendengar langit yang mulai meracau efek karena minuman kerasnya. Mereka berdua tahu dengan apa yang sedang terjadi.
"Lang pulang yuk" kali ini Bram yang mengajak.
"Pergi Lo anjing, mau mati Lo" langit berontak menolak keras ajakan Bram.
__ADS_1
******
Bulan malam ini benar-benar tidak bisa tidur, padahal ia berusaha memejamkan mata. Membolak balikan tubuh nya namun tetap saja matanya justru bertambah segar, akhirnya iapun memilih duduk, lalu tak lama notifikasi chat masuk kedalam ponselnya.
Dengan malas ia membuka, kedua matanya sukses membulat saat seseorang yang mengaku bernama Darren teman langit, mengirimkan foto langit yang kini sedang mabuk parah disebuah club malam. Intinya Darren meminta agar bulan mau datang menjemput laki-laki itu.
Jujur hal itu membuatnya gusar, ia mondar mandir didalam kamarnya berfikir keras apakah harus dirinya pergi dan menjemput Langit. Tapi untuk apa toh mereka sudah putus kan. Bulan mencoba cuek namun tetap saja ia tidak tenang.
Akhirnya ia meraih jaket dan memakinya, saat ini waktu sudah menunjukan tengah malam, papa Dimas pun Pasti sudah tidur.
Sukses dirinya mengendap-endap bagai maling, bulan pun berhasil sampai pada pangkalan ojek yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Ia meminta agar pak ojek mengantarkan nya kesebuah club malam.
Hingga tak berselang lama, ojek itu sudah berada diarea club malam yang bulan maksud. Setelah membayar ongkosnya gadis itu masuk dan mengidarkan pandangannya mencari keberadaan Langit,
Dapat, sosok laki-laki yang ia cari sudah ada didepan mata, segera ia berjalan menghampiri. Sebelumnya Darren sempat bilang jika ia dan Bram sudah pulang terlebih dahulu. Jadi dengan terpaksa langit ditinggal sendirian.
"Lang kamu ngapain disini" ucap bulan dirinya kini sedang berdiri didepan lelaki itu yang duduk bersandar disofa. Mendengar ada suara bulan , langit menoleh dengan mata beler ala orang mabuk.
"Belum juga tidur udah ngimpi aja gue" racau nya. Langit mengira dirinya sedang berhalusinasi jika ada bulan didepan mata Gadis itu merotasikan bola matanya.
"Ayo pulang" tanpa menunggu jawaban dari langit. Bulan langsung merangkul tubuh lelaki itu. Satu tangan langit disampirkan ke bahunya, langit benar-benar sudah teler berat. Bahkan bulan pun sedikit kesusahan karena beberapa kali langit yang akan jatuh akibat cara jalan nya yang kelimpungan.
*****
Lantas ia langsung menundukkan pandangan dan betapa kaget campur senang merasa tidak percaya kalau saat ini ada bulan yang sedang tidur memeluknya.
Kedua sudut bibir langit terangkat keatas membentuk senyuman, tidak ada bosannya ia memandangi gadis pujaannya sedang memejamkan mata terlihat polos dan menggemaskan. Langit tak ingin bergerak barang sedikit pun. Ia lakukan karena semata-mata dirinya tidak mau jikalau sampai bulan terbangun.
Namun tak lama gadis itu pun perlahan mulai membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Untungnya baru jam 07:00 ia baru ada jam kuliah pukul 09:00.
"Hei" ucap langit membuka obrolan
Kini bulan sudah duduk ditepi ranjang. Langit pun melakukan hal yang sama ikut duduk disebelahnya. Meraih tangan gadis itu dan menempelkan bibirnya pada punggung tangan bulan. Gadis itu diam mengabaikan semua perlakuan langit.
"Semalam aku yang bawa kamu kesini, kamu minum sampe lupa daratan" beritahu bulan , enggan menatap laki-laki itu, semalam bulan terpaksa buka kamar hotel yang tak jauh dari club malam tempat dimana Langit mabuk.
"Maaf, aku bisa jelasin kalau kamu berfikiran kalau aku selingkuh, dia Audrey dulu aku sama dia bersahabat, sampai suatu hari dia mengutarakan rasa cintanya sama aku, tapi aku tolak karena memang aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Sampe berjalan nya waktu ternyata dia udah punya pacar. Katanya sih dia sayang banget sama pacarnya. Dia juga sering datang kerumah sama pacarnya. Kebetulan pas kamu kemarin kesana ada dia. Kalo kamu tahu pacar Audrey juga ada tapi dia lagi dikamar mandi. Kamu Nya keburu lari" jelasnya masih memegang tangan bulan erat
"Kenapa dia sampe cium-cium kamu" sewot bulan. Langit langsung mengulum senyum.
"Mungkin dia terpesona kali sama aku" ucap langit menggoda.
__ADS_1
"Ck nggak lucu ih" bulan mendengus. Langit terkekeh lalu mencium mesra pipi bulan.
"Kamu cemburu " tanyanya menggoda
"Apaan sih ah" ucap bulan tambah kesal. Langit makin terkekeh melihat bulan yang seperti itu.
"Kita tetap pacaran kan?" Tanya langit kemudian, bulan merotasikan bola matanya
"Iya kita tetap pacaran, tapi kamu janji jangan cium-ciuman lagi sama cewek.
"Ih fitnah siapa juga yang cium-ciuman, kamu kali yang pengen dicium sama aku, sini-sini" goda langit, dirinya sudah monyong-monyong tidak jelas. Alhasil bulan tertawa melihat tingkah langit yang menyebalkan itu.
Saat pasangan kekasih itu sedang bercanda saling berguling-guling di ranjang. Ponsel milik bulan berbunyi. Bulan dan langit menghentikan aksinya lalu bulan bangkit dan melihat siapa yang menelepon. Ia menggigit ujung lidahnya saat tau Dimas lah yang telfon.
"Gimana nih papa aku telfon, aku harus ngomong apa yah" bulan panik, langit langsung merampas ponsel itu dan langsung menggeser tombol hijau.
"Halo om ini aku Langit, maaf om bulan sekarang lagi sama aku, tadi malam dia nginep dirumah ,Nanti aku yang akan antar bulan pulang"
"...."
"Oke om siap"
"Nih papa kamu mau ngomong"
"Iya pa. Iya aku ng-nginep dirumah Langit" bulan terlihat sedang ngobrol dengan sang papa. Namun bulan harus tetap menjaga kewarasan nya saat langit yang memeluknya dari belakang. Menciumi tengkuk lehernya, Lelaki itu menyibakkan rambut kekasihnya sampai leher putih jenjangnya terlihat, dengan nafsu laki-laki itu menciuminya tanpa jeda.
"Udah yah pa, bulan mau mandi dah" bulan langsung mematikan panggilan telefon nya.
Ia ingin melepaskan dari pelukan langit. Namun lelaki itu tak menggubris nya masih menciumi leher serta tengkuknya.
"Langit" desis bulan kesal.
"Heemm" jawab langit parau.
Langit membalikkan tubuh bulan agar menghadapnya, mencium lembut bibir gadis itu, bulan pun dengan suka rela membalas ciuman itu, Semakin lama ciuman mereka semakin bernafsu. Sampai langit mendorong tubuh bulan agar berbaring di ranjang, masih terus berciuman tanpa terlepas. Kabut gelap sudah merajai mata Langit. Satu tangannya sudah masuk menelusup kedalam kaos yang bulan kenakan.
Langit berhasil meraih satu gundukan squishi milik bulan. Dengan lembut ia meremas gundukan tersebut. Bulan pasrah dengan apa yang dilakukan Langit.
"Bulan kita ML yuk" ucap langit akhirnya. Kabut gairah masih terdapat Disana.
"Enggak Lang, aku nggak mau aku masih oke kalau cuma ciuman, tapi untuk yang satu itu no, belum saatnya Lang"
__ADS_1
Bersambung. .