
Hai readers kesayangan ...
maaf ya author baru UP lagi nih. Jangan lupa berikan like, komentar kalian, vote, rate dan kalau ada yang berkenan silahkan untuk membagikan tip seikhlasnya ya buat author. Nanti author akan UP lagi deh episode berikutnya.
########################
Hari ini Bintang mengawali hari baru, begitu menurutnya. Karena ia baru saja melamar anak orang, yaitu Bulan, meskipun sebenarnya dia lakukan dengan sedikit terpaksa karena papa dan mamanya memaksa dia mengenalkan calon istri pilihannya sendiri pada mereka dan kalau tidak maka dia akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya. Meskipun begitu dia sudah mulai menaruh hati pada Bulan, gadis ceroboh yang membuat hati Bintang selalu kesal dengan tingkahnya. Dan tentu saja acara lamaran kemarin tidak ada karyawan perusahaan yang tahu, Bintang meminta untuk merahasiakan dulu hingga acara pernikahannya digelar.
Dan hari ini dia mulai terlihat galau lagi, memikirkan sekretarisnya yaitu Adryana akan resign dari perusahaan karena akan menikah dan pindah ke luar kota menyusul suaminya.
“Ar, kamu ke ruanganku sekarang !” perintah Bintang pada Arda melalui interkom.
Arda melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Bintang. “Ada yang bisa saya bantu Pak ?” tanya Arda pada Bintang dengan sikap formal.
“Duduklah !” perintah Bintang, dan Arda mengikuti perintah bosnya itu. “Minggu depan Adryana akan resign, berarti kursi sekretaris akan kosong. Untuk merekrut kembali sekretaris baru pasti butuh waktu lagi, dan aku tidak mau berlama-lama menunggu sekretaris baru,” ucap Bintang mengawali obrolannya dengan Arda.
“Lalu, maksudmu bagaimana?” tanya Arda. “Aku minta tiap divisi mengirimkan satu perwakilan yang sekiranya bisa diseleksi untuk menjadi sekretarisku Ar. Apakah kamu bisa bantu aku untuk menyeleksinya, nanti kamu koordinasi dengan kepala HRD ya,” kata Bintang sambil memegang kening memikirkan solusinya.
“Baiklah kalau itu maumu,” jawab Arda. “Eh, Bin … “ Arda memanggil Bintang yang sedang memandang layar laptop.
“Hmm … ?” jawab Bintang.
“Mengapa bukan Bulan saja sih yang jadi sekretarismu, angkat saja jabatannya jadi sekretarismu. Nanti kita rekrut karyawan lagi untuk pengganti Bulan di divisi marketing,” Arda memberikan solusi pada Bintang dan direspon oleh Bintang dengan menganggukkan kepalanya berkali-kli.
“Hmmm … mengapa aku tidak berpikir sampai kesitu ya? otakmu tumben encer Ar !” ucap Bintang sambil tertawa ke arah Arda.
“Sial*n kamu Bin, dari dulu otakku memang encer Bro !” jawab Arda sambil membanggakan dirinya sendiri dan berniat akan memukul bahu Bintang namun bisa ditangkis oleh Bintang, kemudian keduanya tertawa kencang sekali, entah orang-orang yang berada di ruangan dekat ruangan Bintang bisa mendengar atau tidak.
“Baiklah, sekarang kamu koordinasikan dengan kepala HRD, dan dalam seminggu ini Bulan harus belajar pada Adryana tentang tugas-tugasnya yang baru!” titah Bintang dan Arda segera minta ijin keluar ruangan untuk bertemu dengan kepala HRD.
Sekilas Bintang nampak tersenyum tipis, karena sebentar lagi Bulan akan berada di dekatnya terus dan dia akan lebih mudah untuk mengawasinya jika ada karyawan laki-laki lain yang mencoba untuk mendekatinya. ‘Kenapa aku jadi tidak suka jika dia dekat dengan laki-laki lain ya?’ ucap Bintang dalam hati. Kemudian Bintang kembali meneruskan pekerjaannya.
Siang hari saatnya istirahat untuk makan, semua karyawan segera pergi ke kantin untuk memesan makanan, ada juga yang pergi ke mushollah lebih dahulu utuk melaksanakan sholat dhuhur.
Bintang mengirim pesan pada Bulan, “Siang calon istriku …”
"Siang juga Bin … ada apa?” balas Bulan. “Apakah kamu sudah makan ?” tanya Bintang. “Ini sedang makan di kantin,” jawab Bulan. “Kamu makan bersama siapa?” tanya Bintang serius. “Teman,” jawab Bulan singkat. “Hah ?! Laki-laki atau perempuan, apakah dia mengganggumu atau dia saat ini merayumu, kamu baik-baik saja kan ?” tanya Bintang menginterogerasi.
Bulan membaca pesan itu dengan wajah kebingungan, “Kamu ini bicara apa sih Bin, ada-ada saja deh.”
__ADS_1
“Aku bertanya sama kamu, karena aku kan tidak melihatmu saat ini,” ucap Bintang. “Tunggu aku disitu, jangan kemana-mana. Awas saja kalau kamu tidak ada di situ!” seru Bintang dalam pesannya.
“Hei, untuk apa kamu kesini? Kenapa sih tidak percaya padaku. Biasanya kan kamu makan di restoran,”jawab Bulan namun tak ada balasan dari Bintang.
Kedua sahabat Bulan, Mega dan Nita tampak serius melihat wajah temannya itu yang sedang kesal. “Pesan dari siapa sih Lan ?”tanya Mega. “Si Jutek !” jawab Bulan singkat sambil terus makan mie ayamnya.
“Si Jutek ???” jawab Mega dan Nita bersamaan seperti sudah janjian untuk berkata dalam waktu yang sama.
“Siapa itu Si Jutek ?!!” spontan ketiga gadis itu terkejut tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi Bulan.
“Pak … Bintang … ??!!” pekik mereka bertiga bersamaan, persis mendengarkan paduan suara yang suaranya bisa bersamaan dengan perbedaan suara satu, suara dua dan suara tiga.
“Boleh bergabung disini ?” tanya Bintang. “I .. iya … silahkan Pak,” jawab Mega gugup dan saling berpandangan dengan Nita. Mimpi apa mereka semalam tiba-tiba didekati oleh atasannya yang tampan bagaikan oppa Korea ini, pikir Mega dan Nita. Sedangkan ekspresi Bulan kembali datar seperti tidak ada sesuatu yang heboh.
Bintang duduk di samping Bulan, sedangkan Mega dan Nita duduk di hadapan mereka. Bintang memesan mie ayam seperti Bulan dan teh botol dingin. Kedua sahabat merasa canggung dengan situasi seperti ini, makan pun jadi pelan-pelan menjaga image, padahal biasanya mereka kalau makan seperti orang kelaparan selama seminggu.
“Bapak tumben makan di kantin ?” tanya Bulan pada Bintang dengan gaya formal, karena disekeliling banyak karyawan yang sedang makan.
“Tidak boleh ?” .tanya Bintang balik. “Oh, tentu saja boleh, boleh kok pak … “ jawab Nita spontan, padahal bukan dia yang ditanya melainkan Bulan. Mega langsung menendang kaki Nita sebagai kode untuk diam.
“Aku kan pemilik perusahaan ini, apa ada yang melarang saya makan di kantin !?” tanya Bintang sambil memandang tajam ke arah Bulan. “Saya tadi tidak berkata seperti itu Pak, saya hanya sekedar bertanya saja,” jawab Bulan kesal.
Nita dan Mega saling berpandangan, lalu berinisiatif untuk pergi meninggalkan kantin terlebih dahulu. “Mmm … Pak Bintang, mohon maaf kami ijin terlebih dahulu,” kata Mega. “Silahkan,” jawab Bintang.
“Bin, aku masuk lebih dulu ya,” kata Bulan setengah berbisik pada Bintang agar tidak terdengar oleh orang lain. “Tunggu aku !” jawab Bintang. “Nanti banyak yang lihat,” ucap Bulan lagi dengan pelan sambil berpura-pura mengaduk es jeruknya yang sudah tinggal es batunya. “Aku belum selesai makan Lan,” kata Bintang. Bulan sudah mulai kesal namun diusahakan tidak terlihat .oleh orang ain.
Setelah Bintang menghabiskan seporsi mie ayamnya dan meminum teh botolnya, diapun mengajak Bulan kembali masuk ke gedung.
Sesampai di depan lift karyawan, tangan Bulan ditarik oleh Bintang menuju lift khusus untuk pembesar perusahaan. Bulan terkejut tangannya ditarik Bintang dan dia tampak tengok kanan kiri kalau saja adegan tadi ada yang melihatnya, dia pasti akan jadi bahan pembicaraan seisi gedung.
“Lepasin, sakit Bin !” seru Bulan karena pergelangan tangannya digenggam sangat erat oleh Bintang. “Ikut aku !” ucap Bintang di dalam lift. Bulan hanya diam saja sambil memasang wajah kesal karena keakitan pada tangannya.
“Jangan cemberut begitu, kelihatan jeleknya,” kata Bintang sambil melirik ke arah Bulan.
“Memang jelek,” balas Bulan. Bintang tidak mau memperpanjang lagi daripada semakin membuat emosi dirinya saja melihat Bulan seperti itu.
Setelah sampai di lantai 5, Bintang keluar dari lift dan menuju ke ruangannya sambil menggandeng tangan Bulan. “Aku bukan anak kecil, aku bisa jalan sendiri,”ucap Bulan. Sesaat setelah Bintang melepaskan pegangannya, tanpa Bulan ketahui tiba-tiba kakinya tersandung kaki meja yang ada di dekat dinding, sehingga tubuh Bulan sedikit melayang dan hampir jatuh ke lantai namun gerakan Bintang lebih cepat untuk menangkap tubuh Bulan.
“Dasar ceroboh … !” ucap Bintang sambil memandang tajam pada Bulan. “Bisa ngga sih kalau jalan itu matanya melihat ke arah jalanan, kamu tuh ngga pernah berubah dari dulu. Kalau besok masih begini lagi, kamu akan aku gendong dari bawah sampai atas !” Bintang berbicara dengan nada kesal pada Bulan.
__ADS_1
“Bintaaaangg …. apa-apaan sihh kamu itu, pakai acara gendong segala !?” gerutu Bulan sambil terus berjalan menahan sakit di jari kakinya.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan Bintang, tanpa mereka berdua sadari, Arda dan Adryana yang berada dalam satu ruangan dan bersebelahan dengan ruang Bintang nampak bengong sambil memandang tingkah dua insan yang aneh tadi. Adryana sebagai sekretaris Bintang, sudah tahu kisah antara bosnya itu dengan Bulan namun dia tetap bungkam sesuai permintaan Bintang. Kedua orang kepercayaan Bintang ini hanya menahan tawa ambil geleng-geleng kepala.
“Duduklah !“ perintah Bintang pada Bulan saat sudah berada di dalam ruangan. “Tapi aku masih ada kerjaan Bin …” jawab Bulan. “Kan sudah ada Pak Tomi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Bintang. “Ada apa?” tanya Bulan sambil duduk di kursi di hadapan Bintang.
“Mulai besok kamu akan didampingi oleh Adryana untuk mempelajari tugas-tugas Adryana selama ini,” kata Bintang memberikan perintah pada Bulan.
“Memangnya kenapa Bin ?” tanya Bulan penasaran.
“Mulai minggu depan Adryana akan resign dari perusahan karena akan menikah. Nah daripada aku terlalu lama mencari penggantinya, maka aku memilihmu untuk menggantikan tugas-tugas Adryana,” Bintang mulai memberikan pengarahan pada Bulan.
“Mengapa harus diriku ?” tanya Bulan. “Jangan membantah, ini perintah !!” seru Bintang ketus.
‘Mulai deh wajah juteknya keluar,’ gumam Bulan pelan, tapi ternyata masih terdengar oleh Bintang. “Bicara apa kamu ?!” tanya Bintang sambil memandang Bulan denga sorot mata tajam.
"Tidak … aku tidak berkata apa-apa,” Bulan pun gugup menjawab pertanyaan Bintang sambil menampilkan senyumnya yang sedikit dipaksakan.
“Masih ada lagi yang ingin dibicarakan ?” tanya Bulan.
“Tidak, kembalilah ke ruanganmu !” perintah Bintang.
“Bulan …” panggil Bintang. Langkah Bulan pun terenti mendengar panggilan dari Bintang. “Hmm … ?” tanya Bulan. Sekarang Bulan sudah mulai berani berbicara tidak formal lagi dengan Bintang.
“Pulangnya tunggu aku,” kata Bintang lembut. “Iya,” jawab Bulan singkat sambil berpikir kalau calaon suaminya ini memang aneh, kadang jutek dan bicaranya kasar tapi kadang terlihat lembut. Bulan melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya.
“Duh, kok bisa sih aku ketemu orang macam dia, wajahnya jutek, bicaranya ketus, matanya tajam, eh sebentar lagi malah akan jadi suamiku …, “ gerutu Bulan hingga dia tidak sadar dia hampir menabrak seseorang saat berjalan sambil menundukkan kepalanya.
“Bulan …??!” kata orang yang hampir ditabrak Bulan tadi.
Bulan mendadak menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah suara yang memanggilnya.
“Ka .. kamu ?!” Bulan terkejut saat dia melihat orang yang memanggilnya dan hampir dia tabrak.
##################
Duhh, kira-kira siapa ya yang memanggil Bulan ?
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komentar, vote, dan jadikan cerita favorit kalian ya :-)
Happy reading semuanya yang masih setia menunggu cerita selanjutnya.