Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 63


__ADS_3

Happy reading ✓


"Buka pintunya" titah Langit, setelah pintu terbuka nampaklah seorang pria dengan kaki dan tangannya yang terikat serta mulutnya yang disumpal menggunakan lakban.


Langit melotot kaget, semuanya pun sama akhirnya mereka membantu seseorang tadi yang ternyata Reo, membukakan pengikat tangan dan kakinya juga lakban yang tertempel menutupi mulut.


"Reo Lo kenapa ada disini, siapa yang ngelakuin ini" cecar Langit heran.


"Langit kamu harus tolongin bulan dia dalam bahaya, bintang yang nyulik bulan saya tau dan sempat mendengar rencana dia yang akan membawa bulan pergi, maka dari itu dia mengikat saya disini karena saya berusaha untuk menggalakkan rencananya" beritahu Reo, tentu saja pengakuan yang diberitahukan oleh Reo membuat semua nampak tercengang.


Dimas langsung menghubungi Alda dan juga Erik, menceritakan semua yang telah terjadi.


*****


Bulan masih berkutat dengan airmata nya, ia senantiasa memeluk lututnya erat mencoba menghalau rasa takut yang begitu menyiksa, mengabaikan baki yang berisikan makanan yang tadi bintang beri.


Tak lama sosok yang saat ini bulan takuti muncul, bintang masuk kedalam ruangan yang dijadikan sebagai tempat penyekapan gadis itu. Atensi bintang mengarah pada sebuah baki yang terletak diatas malas. Ia heran karena bulan sama sekali tidak mau mendengar kan perintahnya. Makanan yang seharusnya dihabiskan namun sama sekali tidak disentuh.


"Jangan keras kepala bulan, makan atau Lo gue perkosa sekarang juga" ucap bintang tajam dengan tatapan melotot.


Bulan langsung mendongak cepat, ia menggelengkan kepalanya rasa takutnya menyeruak kembali saat bintang mengatakan ancaman seperti itu. Namun dirinya juga enggan untuk mengikuti perintah laki-laki itu. Bagaimana bisa disaat-saat seperti ini bintang menyuruh nya makan. Bahkan seteguk air saja dirasa tidak mungkin tertelan untuk saat ini.


Bintang mengangkat satu sudut bibirnya mengulas senyum miring, dirinya maju naik keatas ranjang merangkak kembali mendekati bulan. Gadis itu waspada makin memeluk lututnya erat.


"Kenapa hm takut?? Kenapa harus takut gue bintang sahabat kecil Lo, cowok yang pernah Lo cintai bukan??" Ujar bintang. Bulan menunduk enggan menatap pada laki-laki itu.


"Gue yakin betul dihati Lo masih ada nama gue, Lo menikah sama laki-laki itu karena untuk pelarian kan? Gue akan wujudkan impian Lo bulan. Gue yang akan jadi suami Lo seutuhnya" kata Langit tersenyum, bulan langsung menatap bintang tajam.


"Lo salah tang, hubungan gue sama langit bukan sebuah pelarian, karena gue real cinta sama dia, bahkan saat langit masuk dalam hidup gue. Nggak ada tempat lagi nama Lo di hati gue" tukas bulan menohok.


"BOHONG!!!!" Bentak bintang, bulan langsung memejamkan mata respon tubuhnya kaget.

__ADS_1


"Cepat ganti baju, kita nggak punya waktu lagi bulan. Kita harus secepatnya pergi dari sini. Kita akan pergi jauh dimana tidak ada yang mengenal kita disana gue sama Lo akan jadi pasangan suami-istri" ucap bintang memerintah.


"Dengerin gue baik-baik, perintah gue kali ini nggak ada penolakan, kalo Lo nggak ganti baju juga dalam waktu 3 menit, gue akan perkosa Lo" kata bintang menampilkan senyuman miring, setelahnya ia langsung keluar dari kamar itu.


"Langit tolong" lirih bulan. Berucap dengan dirinya sendiri, bulan makin terisak-isak, selanjutnya ia memilih untuk menuruti kemauan bintang. Ia takut dengan ancaman Lelaki itu yang ingin memperkosa nya jika tidak segera menuruti.


Benar saja setelah 3 menit berlalu, bintang masuk lagi kedalam ruang itu. Senyum nya terbit saat bintang melihat bulan yang sudah berganti pakaian, laki-laki itu berjalan mendekat, menatap bulan lekat satu tangannya membelai pipi putih gadis itu lalu mencium nya.


Bulan diam tak bergeming, rasanya ingin berontak namun keberanian nya saat ini lenyap entah kemana. Ia takut jika bintang benar-benar akan melaksanakan ancaman nya itu. Jadilah ia memilih diam.


"Bulan" ucap bintang terus menciumi pipi gadis itu dengan nafas yang mendesah. Namun laki-laki itu harus menghentikan ciuman nya kala menyadari jika pipi bulan sudah membasah. Bintang mendongak dan benar saja bulan kini sedang menangis dalam diam.


"Kenapa? Lo nggak suka gue cium?" Tanyanya tajam.


"Gue nyesel tang, gue nyesel pernah jatuh cinta sama laki-laki macam Lo, saat ini Lo bisa dapetin tubuh gue, tapi nggak dengan hati gue" ucap bulan lantang. Rahang bintang langsung mengatup matanya menatap bulan begitu tajam.


PLAAAKKK "aakkhh" bulan terhuyung akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh bintang. Rasa kebas perih dan panas bercampur menjadi satu. Bahkan ujung bibirnya sobek sehingga mengeluarkan cairan merah. Bintang berjongkok mencengkram rahang bulan. Hal itu membuat gadis itu merintih kesakitan. Sampai-sampai bulir air bening menetes begitu saja.


Bruaakkkkk bintang menoleh cepat saat Langit berhasil menemukan dirinya dan juga bulan. Ia langsung menyeret tubuh bulan untuk berdiri, lalu ia langsung memutar tubuhnya menjadi diposisi tubuh bulan, satu tangannya dengan sigap meraih belati lalu ia todongkan belati tersebut pada leher bulan.


"Lepasin istri gue bangsat" umpat Langit, menatap tak kalah tajam seperti bintang. Dua tangannya terkepal kuat sampai urat-urat tangannya terlihat saling mencuat.


Ternyata tak hanya Langit yang datang ketempat itu. Bahkan sudah ada Alda dan Erik yang notabene orang tuanya, Alda yang melihat putranya seperti itu langsung menitikkan airmata.


"Nak jangan sayang, kenapa kamu kaya gini? Ingat bintang dia bulan sahabat kamu" jelas Alda dengan suara lembutnya. Bintang tak bergeming mengabaikan peringatan ibunya.


"Minggir, awas minggir" bintang meminta agar orang-orang yang baru saja datang. Memberikan nya akses jalan. Masih dengan menyandera bulan sebagai tawanannya menempelkan belatinya pada leher jenjang gadis itu. Sorot mata bulan mengarah pada langit. Seolah meminta pertolongan.


Setelah berhasil melewati kerumunan orang-orang tersebut. Bintang membawa bulan untuk naik kesebuah rooftop gedung Tersebut. Langit tak tinggal diam ia mengikuti kemana langkah bintang yang membawa istrinya. Kali ini langit harus hati-hati ia tidak mau gegabah, takut membahayakan sang istri. Bisa saja ia langsung maju menerjang bintang. Namun ia enggan untuk melakukan nya. Mengingat ada bulan yang dalam bahaya.


Kini bintang berada tepat diatap gedung, bulan sesekali memejamkan mata, tubuhnya gemetar manakala merasakan benda dingin yang menempel dilehernya saat ini.

__ADS_1


"Bintang lepasin bulan nak, tolong jangan kaya gini" pinta Alda lagi, wanita itu sudah tak kuasa menahannya tangisannya. Akan tetapi bintang acuh ia mengabaikan keinginan orang tuanya.


"Lepasin istri gue bajingan, sumpah demi apapun sekali Lo buat dia luka gue bunuh Lo saat ini juga" murka Langit, menatap bintang tajam.


"Lo siapa hah!! Lo hanya orang baru yang hadir dalam hidup bulan, gue sahabat bulan dari dia bayi. Gue udah bareng sama dia dari dulu. Dan sampai sekarang pun harus begitu kalau pun gue nggak bisa dapetin bulan. Maka orang lain pun tidak boleh mendapatkan nya. Setelah gue sayat lehernya pake belati. Gue juga akan melakukan hal yang sama. Itulah yang disebut persahabatan sehidup semati " ungkap bintang panjang lebar. Bulan hanya bisa menangis antara takut dan pasrah.


Langit maju beberapa langkah, ia berjalan mendekati tiang pembatas gedung. Lalu berbalik menatap bintang yang masih menyandera bulan.


"Lo sama bulan nggak boleh mati, lebih baik gue yang mati" ucap Langit, mendengar itu bulan membulatkan matanya. Bintang tersenyum miring menyepelekan ucapan Langit, saat melihat Langit yang mulai naik pada undakan besi pembatas tersebut lalu selanjutnya Langit terjun dari atas gedung itu kebawah.


"Langitttt" bulan berteriak histeris, ia mencoba berontak dari jeratan bintang. Gadis itu menangis meraung-raung. Begitupun dengan Miranda wanita itu langsung jatuh pingsan kala menyaksikan putranya yang terjun begitu saja.


Bintang kaget ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Langit benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Saat bintang sedikit lengah, seseorang dengan cerdik langsung menerjang bintang, menerjang nya sampai laki-laki itu terpental.


Melihat ada kesempatan emas, para laki-laki yang ada disitu langsung mengamankan bintang, termasuk ada Niko, Ares Darren, Bram dan juga Reo. Semuanya bergotongroyong menangkap bintang.


dengan histeris nya Bulan langsung berlari menghampiri tiang pembatas tempat yang tadi suaminya meloncatkan diri, ia melongok kebawah ternyata ada Langit yang sedang bergelantungan " hai" ucapnya mencoba naik lagi ke atas.


Setelah sudah berhasil naik. Bulan makin menangis tersedu-sedu merasa haru kala bisa melihat langit yang selamat tidak terluka sedikitpun. Laki-laki itu langsung memeluk tubuh istrinya. Bulan memukuli dada Langit dengan sangat kencang.


"Awwwh sakit sayang" ucap Langit


"Nggak lucu tau nggak. Jangan kamu ngelakuin kaya gitu lagi Langit, kamu nggak tau jantung aku rasanya mau meledak waktu liat kamu loncat" kata bulan masih terisak. Langit tersenyum lalu kembali memeluk bulan.


"Cinta banget yah sama aku, sampai ketakutan gitu kalo aku mati" ucap langit terkekeh. Bulan kembali memukuli dada Langit kesal. Langit langsung meraih tangan itu lalu mencium punggung tangannya dengan mesra. Kini mereka saling berhadapan.


Namun langit langsung menelisik kondisi wajah bulan. Terdapat memar dan luka sobek disana, Rahang lelaki itu kembali mengatup amarah yang semula reda kini menyeruak kembali. Ia mengusap lembut pipi istrinya yang sedikit memar. Bulan meringis saat laki-laki itu menyentuh nya.


"Kamu diapain sama dia bilang sama aku?" Tanyanya. Bulan terdiam


"Kamu dipukul, ditampar?" Cecar Lelaki itu mengulangi. Bulan mengangguk lemah.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi. Langit langsung menggandeng tangan istrinya. Setelahnya ia meminta pada salah satu anak buahnya meminta untuk membawa bulan ke klinik dimana juga ada Miranda yang tengah mendapatkan perawatan. Langit mau supaya luka di wajah bulan Segera diobati ia paling tidak bisa melihat bulan terluka barang secuil pun.


bersambung. .


__ADS_2