
Sudah dua hari Bintang rela bermalam di rumah sakit untuk menemani Bulan yang masih dirawat. Kondisi Bulan sudah semakin membaik, tinggal latihan untuk berjalan saja karena kaki Bulan masih terasa kaku jika digunakan untuk berjalan.
Bulan memang sengaja meminta pada Bintang untuk tidak memberitahukan kejadian ini pada ayah dan ibunya di Surabaya. Karena Bulan tidak ingin merepotkan mereka, apalagi seminggu lagi orang tua Bulan akan ke Jakarta dalam rangka acara pernikahan Bulan dan Bintang. Jadi supaya mereka tidak bolak balik Surabaya-Jakarta, khawatir nanti kecapekan.
Yang datang menengok Bulan dan Dina selama di rumah sakit adalah orang tua Dina, mereka menjaga Dina bergantian dengan Arda, apalagi kondisi Dina kemarin memang agak parah. Namun Dina sekarang sudah tidak memerlukan transfusi darah lagi, hanya diinfus saja.
Malam ini Bintang pulang dari kantor langsung menuju ke rumah sakit untuk menemani Bulan, dia bergantian dengan Bu Ines yang sebelumnya menjaga Bulan.
Bintang sudah selesai mandi dan berganti pakaian yang sudah dibawakan oleh Bu Ines dari rumah. Kemudian mendekati Bulan yang sedang memainkan ponselnya, dia sedang chatting dengan dua sahabatnya, Nita dan Mega.
"Bulan, kamu makan dulu ya biar cepat sembuh," perintah Bintang pada Bulan.
"Sebentar lagi Bin, rasanya mulutku masih ngilu buat mengunyah makanan," jawab Bulan.
"Aku suapi ya, pelan-pelan saja ngunyah makanannya. Yang penting perutnya tidak kosong," kata Bintang sambil mengambil jatah makan malam Bulan dari rumah sakit yang ada di atas nakas.
Bintang dengan sabar menyuapi Bulan, "Ayo, buka mulutnya," kata Bintang sambil menyiapkan sesendok nasi ke mulut Bulan.
"Kamu nggak makan juga Bin, nanti kamu lapar," ucap Bulan.
"Nanti setelah kamu selesai makan, aku akan ke kantin rumah sakit beli makanan," jawab Bintang sambil terus menyuapi Bulan seperti anak kecil.
"Bin ..." Bulan memanggil pelan pada Bintang.
"Hmm ... ada apa?" tanya Bintang.
"Tanggal pernikahan kita tinggal seminggu lagi, nanti kalau aku nggak kuat berdiri bagaimana dong Bin?" tanya Bulan sambil memandangi wajah calon suaminya yang tampan itu.
"Ya kamu duduk saja, biar aku yang berdiri, atau kita sama-sama duduk," jawab Bintang. Dia bisa memahami kekhawatiran Bulan.
"Makanya kamu harus makan yang banyak dan minum obatnya, supaya kamu lekas sembuh. Besok pagi kita ke taman depan ruangan ya, sekalian kamu latihan untuk berjalan," ucap Bintang memberikan semangat pada Bulan.
"Maafkan aku ya Bin ..." kata Bulan sambil menunduk.
"Maaf karena apa?" tanya Bintang lagi.
"Karena aku sudah merepotkanmu, aku janji aku akan semangat untuk sembuh," ucap Bulan.
"Kamu memang selalu merepotkan aku Lan, dan semua ini tidak gratis lho," kata Bintang sambil menahan tawa.
"Jadi aku berhutang padamu nih, baiklah berapa yang harus aku bayar untuk semua ini?" tanya Bulan penasaran.
"Nanti bayarnya kalau kita sudah menikah," kata Bintang sambil menyentil hidung Bulan.
"Mengapa begitu Bin, mengapa tidak sekarang saja?" tanya Bulan semakin penasaran.
"Karena kalau sekarang belum boleh, tapi kalau kamu maunya sekarang juga tidak apa-apa, hahaha ... " Bintang akhirnya tidak kuat menahan tawanya.
"Kok malah tertawa, memangnya aku harus bayar berapa?" Bulan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Nanti kamu akan tahu jika sudah waktunya, aku akan menagih hutang itu," jawab Bintang sambil menyodorkan obat pada Bulan supaya diminum.
__ADS_1
"Dasar, begitu saja tidak mengerti," ucap Bintang dalam hati.
Kemudian Bintang pamit mau beli makanan dulu ke kantin rumah sakit. Bulan sudah mulai mengantuk lagi setelah minum obat.
Sesampai di kantin, ponsel Bintang berdering dan dilihatnya ada panggilan dari Arda.
"Hallo bro... " ucap Bintang.
"Kamu ada dimana sekarang?" tanya Arda.
"Aku ada di kantin rumah sakit, ada apa?" tanya Bintang balik.
"Baiklah, tunggu aku di kantin. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu," kata Arda.
"Baik, aku tunggu," jawab Bintang dan segera menutup ponselnya.
Tidak lama kemudian Arda tiba di kantin dan duduk di bangku sebelah Bintang.
"Bro, aku ada berita yang baru saja kudapatkan dari anak buahku tentang kejadian itu," kata Arda.
"Kabar apa yang kamu bawa?" tanya Bintang.
"Sudah ada titik terang siapa pelaku yang membuat kecelakaan itu terjadi. Sepertinya kejadian itu memang sudah direncanakan. Sopir yang mengemudikan mobil itu telah tertangkap oleh anak buahku," cerita Arda pada Bintang.
"Lalu bagaimana?" tanya Bintang mendengarkan dengan seksama.
"Menurut sopir itu jika dia telah disuruh seseorang untuk menabrak Bulan agar Bulan celaka dan tidak jadi menikah denganmu," lanjut Arda bercerita.
"Sopir itu hanya bilang kalau dia disuruh oleh seorang perempuan, tapi belum memberitahukan siapa perempuan itu," ucap Arda.
"Tapi mengapa Bulan yang jadi korban, mengapa bukan diriku? dan siapa perempuan itu?" tanya Bintang sambil mengerutkan keningnya.
"Entahlah Bin, perempuan itu masih misteri buat kita," kata Arda.
"Sekarang dimana sopir itu?" tanya Bintang penasaran.
"Dia di tempat yang aman, dijaga oleh anak buahku," jawab Arda.
"Oke, antar aku kesana sekarang. Orang itu harus diberi gertakan agar mau mengaku !" ucap Bintang dengan wajah memerah menahan emosi.
"Baiklah, tapi sebentar Bro, aku kembali dulu ke kamar Dina. Aku akan pamit dulu pada orang tua Dina sekaligus menitipkan Dina dan Bulan pada mereka," kata Arda.
"Ya, aku tunggu. Jangan lama-lama," jawab Bintang tidak sabar.
Setelah selesai berpamitan dengan orang tua Dina, kemudian Arda pergi bersama Bintang ke tempat anak buahnya menyekap sopir yang mencelakai Bulan dan Bintang.
Bintang masuk ke dalam bangunan tua dan di dalamnya ada ruangan kosong, disitulah anak buah Arda menyekap sopir tadi. Bintang segera melakukan interogasi pada sopir itu, sedangkan Arda pergi menghubungi polisi.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu !" ucap Bintang membentak sopir itu.
Namun sopir itu tetap diam tidak menjawab pertanyaan dari Bintang.
__ADS_1
" Baiklah kalau kamu tidak mau mengatakannya, tapi lihatlah video ini, kamu tahu kan siapa yang ada dalam video ini ?!" tanya Bintang dengan suara keras.
Sopir itu kemudian melihat ke arah layar ponsel Bintang, dia terkejut saat tahu siapa yang ada di video itu.
"Jangan kalian sentuh keluargaku. Mereka tidak bersalah !" ucap sopir itu dengan penuh harap pada Bintang.
"Tenang saja, keluargamu akan aman-aman saja selama kamu mau jujur padaku. Siapa yang menyuruhmu menabrak calon istriku !!" bentak Bintang tepat di depan wajah sopir itu.
"A.. aku disuruh oleh nona ... nona Eva !" jawab sang sopir dengan wajah ketakutan. Akhirnya dia harus mengakui kesalahannya, demi keselamatan keluarganya di rumah.
"Bagus. Apa motivasi dia menyuruhmu?" tanya Bintang dengan suara agak pelan.
"Aku tidak tahu, aku hanya diperintahkan untuk menabrak nona Bulan, itu saja, " jawab sopir itu.
Setelah sang sopir mengakui siapa dalangnya, kemudian Arda masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa personil polisi. Akhirnya polisi pun meringkus sopir itu dan dibawa ke kantor polisi untuk diminta keterangan lebih lanjut.
Bintang dan Arda kini menjadi lega setelah mengetahui dalang semua kejadian ini. Mereka tinggal menunggu kelanjutan penyidikan dari polisi, dan tidak akan memaafkan kejahatan Eva.
***
Setelah tiga hari Bulan dirawat di rumah sakit akhirnya dia sudah diijinkan pulang oleh dokter, karena luka-lukanya sudah mengering dan Bulan sudah bisa berjalan dengan lancar meskipun harus pelan-pelan.
Sedangkan Dina masih melakukan perawatan dulu beberapa hari, karena cedera di punggungnya belum pulih benar.
Seperti yang telah disepakati, Bulan akhirnya pulang ke rumah keluarga Surya, karena kalau tinggal di kosan tidak ada yang mengawasi, apalagi semenjak kejadian ini Bintang semakin melakukan penjagaan ketat pada Bulan agar Eva tidak melukainya lagi.
Kini Bulan sudah berada di rumah keluarga Surya, kedatangannya disambut oleh Bu Ines dan Bella. Mereka senang akhirnya Bulan sudah sembuh.
"Bulan, untuk sementara kamu tidur bersama Bella ya sayang," ucap Bu Ines.
"Iya Ma, terima kasih. Bulan minta maaf nantinya akan merepotkan kalian," kata Bulan.
"Jangan berkata begitu kak, aku senang kok kalau kak Bulan tidur denganku. Nanti kita bisa bercerita banyak dan kita bisa nonton Drakor kak," ucap Bella sambil menuntun lengan Bulan berjalan masuk ke dalam kamar.
Bintang dan pak Surya harus pergi ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan, karena ada beberapa informasi yang akan disampaikan oleh pihak kepolisian mengenai kejadian kecelakaan yang menimpa Bulan dan Dina.
Setelah Bintang dan pak Surya sampai di kantor polisi, akhirnya mereka dipertemukan dengan Eva yang telah tertangkap di apartemennya.
Bintang menanyakan pada Eva apa motif dia melakukan semua ini, dan Eva pun mengatakan dengan jujur jika semua ini dia lakukan karena dia tidak ingin Bulan menikah dengan Bintang. Selain itu Eva juga sudah lama berharap bisa menjadi bagian dari keluarga Surya Mahardhika.
Sudah lama dia suka dengan Bintang, namun ternyata Bintang menolak perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Akhirnya Bintang memilih Bulan untuk menjadi istrinya.
Bintang menahan amarah setelah ditenangkan oleh papanya. Bagaimana pun juga hukum tetap ditegakkan. Pak Surya tidak memandang siapapun orang yang telah berbuat jahat pada calon menantunya, maka orang itu harus dihukum, meskipun Eva adalah anak dari rekan bisnisnya yang telah berteman baik.
#################
Makin seru kan ceritanya, masih ingat lanjut?
jangan lupa like, vote, rate dan poin untuk Bulan ya, supaya Bulan selalu hadir setiap hari.
Happy reading all 😍😍😍😍
__ADS_1