Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Episode 19. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Saat Bulan akan memindahkan data perusahaan di komputer, ada panggilan masuk di ponselnya.


Bulan  :  “Hallo Bin”


Bintang : “Nanti kita makan siang di luar, setelah itu kita bertemu WO untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan kita.”


Bulan  :  “Oke, siap Bin”


Bintang :  “Sebelumnya kamu ke ruanganku dulu, setelah itu baru kita pergi.”


Bulan  :  “Iya Pak Bos”


Bulan tersenyum mendengarkan suara Bintang, setidaknya bisa menghilangkan rasa rindunya. Padahal ruangan mereka bersebelahan, karena kini Bulan telah menjadi sekretaris Bintang menggantikan Adryana yang resign. Kemudian Bulan kembali meneruskan pekerjaannya, dia kembali melihat semua laporan dari berbagai divisi yang membutuhkan persetujuan dan tanda tangan dari Bintang


Tak terasa waktu cepat bergulir, waktunya istirahat makan siang pun telah tiba. Bulan menuju ke ruangan Bintang, dia mengetuk pintu dulu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam setelah terdengar suara Bintang memerintahkan untuk masuk.


“Mengapa kamu tidak langsung masuk saja sih ?” tanya Bintang pada Bulan.


“Ini kan masih di kantor Bin, ya sesuai etikanya dong kalau karyawan akan masuk ke ruangan Bos,” jawab Bulan kemudian duduk di hadapan Bintang.


“Kamu sudah siap ?” tanya Bintang. “Sudah “ jawab Bulan singkat.


“Baiklah sekarang kita berangkat,” Bintang menggandeng tangan Bulan menuju ke lift dan turun ke lantai bawah.


Sampai di lantai bawah pintu lift terbuka kemudian Bintang dan Bulan berjalan keluar masih sambil bergandengan tangan. Beberapa pasang mata memandang ke arah mereka sehingga membuat Bulan jadi merasa risih.


“Bin, tolong kamu lepas tanganku biarkan aku jalan sendiri,” ucap Bulan sambil setengah berbisik pada Bintang.


“Memangnya kenapa ?” tanya Bintang.


“Apa kamu tidak melihat semua orang memandang ke arah kita Bin,” jawaab Bulan sambil menunduk.


“Biarkan saja, mereka punya mata kok,” jawab Bintang sambil terus menggandeng tangan Bulan menuju ke mobil Bintang.


Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil kemudian Bintang menjalankan mobilnya keluar dari area kantor menuju jalan raya.


“Kamu ingin makan apa ?” tanya Bintang.


“Aku ingin makan sop iga, “ jawab Bulan sambil membetulkan letak duduknya.


“Yuk, akupun ingin makan sop iga,” Bintang mengarahkan mobilnya ke area restoran yang khusus menyuguhkan menu makanan dengan bahan utama iga sapi dan iga kambing.

__ADS_1


Setelah acara makan siang selesai, mereka berdua lanjut perjalanan menuju ke WO untuk membicarakan konsep acara pernikahan mereka.


Kedatangan Bulan dan Bintang disambut oleh pemilik WO yang juga teman Bintang saat SMA dulu.


“Selamat datang Bintang, apa kabar ? lama ya kita tidak bertemu, eh sekarang kita bertemu saat kamu mau nikah,” kata Sari, pemilik WO bersalaman dengan Bintang.


“Seperti yang kamu lihat saat ini, aku baik-baik saja. Oh ya kenalkan, ini Bulan calon itriku,” ucap Bintang sambil memperkenalkan Bulan.


“Wah, Bulan, kamu beruntung dapat dia. Sebelumnya dia itu terlihat sangat anti dengan perempuan semenjak dia pisah dengan Renata tiga tahun yang lalu. Kukira dia akan jadi bujang tua, ternyata hatinya luluh juga denganmu. Selamat ya Bulan,” kata Sari yang memang suka sekali mengobrol dan mudah bergaul.


Bulan hanya tersenyum pada Sari, “Terima kasih Kak Sari.”


“Hei malah ngobrol yang nggak penting, aku kesini bukan untuk ngerumpi.” ucap Bintang sambil menatap tajam pada Sari.


“Hmmm … ternyata sifatmu masih saja tidak berubah. Baiklah, kita kembali ke pokok bahasan kita ya,” kata Sari sambil memperlihatkan album foto contoh konsep pernikahan yang bisa dipilih oleh Bulan dan Bintang.


“Kira-kira konsep apa yang akan kalian pilih untuk acara pernikahan kalian?” tanya Sari.


“Aku ikuti apa kata Bulan saja,” ucap Bintang sambil memandang pada Bulan.


“Kami ingin pesta dengan nuansa nasional dan internasional.” kata Bulan.


“ Wah, ide yang bagus itu Bulan, aku juga setuju. Lalu warna apa yang ingin mendominasi sebagai dekorasinya nanti dan apakah menggunakan upacara adat atau bagaimana ?” tanya Sari.


“Aku setuju,” jawab Bintang singkat.


“Siap,” kata Sari sambil mencatat apa yang menjadi bahan diskusi mereka.


“Kalau untuk menu makanan bagaimana, tradisional atau internasional ?” tanya Sari.


“Nah, acara nanti kan terbagi menjadi dua sesi. Sesi pagi sampai siang khusus untuk keluarga dan saudara dari luar kota, jadi makanannya yang tradisional nusantara saja ya Kak. Sesi sore sampai malam undangan teman-teman kami dan kolega dari papa, jadi kita gunakan menu makanan internasional, lebih ke makanan western Kak” jawab Bulan menerangkan pada Sari.


Setelah dirasa urusan dengan WO sudah selesai, kemudian Bulan dan Bintang berpamitan. Mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Saat di mobil, ponsel Bintang berbunyi dan saat dilihat ada telpon dari mamanya.


“Lan, tolong kamu jawab telpon dari mama,” perintah Bintang.


“Hallo Bin, kamu dimana sekarang ?” tanya mama dari seberang.


“Hallo Ma, ini Bulan Ma, Bintang sedang nyetir mobil. Ada apa Ma ?” jawab Bulan.

__ADS_1


“Oh, syukurlah kalau ada kamu juga. Kalian segera ke butik tempat teman mama ya. Kalian harus fiting baju pernikahan kalian dulu, Mama tunggu sekarang. Nanti mama kirim lokasinya,” ucap Bu Ines.


“Baik Ma, tunggu kami,” jawab Bulan dan menutup telpon dari calon mama mertuanya.


“Duh mama ini, memangnya besok nggak bisa apa ya, kenapa harus sekarang sih? Aku kan juga butuh istirahat,” ucap Bintang agak kesal karena perintah dari mamanya.


“Sudahlah Bin tidak apa-apa, mungkin mama ingin semuanya bisa berjalan dengan lancar, jadi persiapannya juga harus matang. Kalau besok belum tentu juga kamu bisa, mungkin malah besok kamu ada rapat penting hingga sore,” ujar Bulan memberikan pengertian pada Bintang.


Bintang pun menuruti keinginan mamanya dan segera menuju butik milik teman mamanya sesuai lokasi yang sudah dikirim.


***


 


“Hallo sayang, ayo kemarilah !” perintah Bu Ines pada Bulan dan Bintang setelah mereka bertemu di butik milik teman bu Ines.


“Jeng Indah, kenalkan ini Bulan, calon menantuku,” kata Bu Ines mengenalkan diri Bulan pada temannya.


“Wah, nak Bulan memang cantik ya. Eh Bintang, kamu ternyata pintar ya cari calon istri, cantik dan kalem orangnya, “ ucap Bu Indah sambil menepuk bahu Bintang.


“Oh, iya dong Tan,” jawab Bintang dengan bangga dan mereka tertawa bersama.


Bulan akhirnya mendapat giliran lebih dahulu mencoba kebaya untuk akad nikah serta baju pengantin modern untuk pesta malam harinya.


Bulan keluar dari ruang ganti menggunakan kebaya warna putih, memperlihatkan kecantikan Bulan semakin terpancar. Bintang yang sedang menunggu giliran dan mengobrol dengan mamanya, mendadak terkejut dan terpesona saat melihat Bulan.


“Kamu cantik sekali,” gumam Bintang tanpa mengedipkan kedua matanya.


“Wah, menantu mama ini memang cantik sekali, “ puji bu Ines sambil memeluk erat tubuh Bulan.


Setelah Bulan dan Bintang menggunakan baju untuk pernikahan mereka, kemudian dilanjutkan foto prewedding yang dilakukan di studio di belakang bangunan butik ini dan masih milik teman bu Ines.


Tidak terasa hari sudah beranjak petang, langit sudah mulai menunjukkan cahaya gelap, akhirnya mereka kembali pulang ke rumah. Bu Ines pun ikut di mobil Bintang dan sebelum menuju rumah, Bintang mengantarkan Bulan terlebih dahulu ke kosannya.


 


###########################


Hai, hai, hai ... bagaimana jalan ceritanya, apa kalian suka ??


Lanjutkan lagi ya like, vote dan rate untuk Bulan dan Bintang.

__ADS_1


Happy reading ... :-)


__ADS_2