Bulan Dan Bintang

Bulan Dan Bintang
Chapter. 50


__ADS_3

Happy reading ✓


Bulan diam sejenak, memikirkan bagaimana caranya bercerita dengan langit tentang bintang, sejujurnya ia sendiri malas untuk sekedar mengingat tentang laki-laki itu apa lagi harus menceritakan nya. Huuuf bulan membuang nafasnya pelan.


"Ayo bulan ceritain semua ke aku, jangan ada yang kamu tutupi aku nggak mau hubungan kita ada sesuatu hal yang bersifat rahasia" kata langit serius


"Aku nggak perlu ceritain secara detail langit, yang pastinya nggak ada hubungan apa-apa antara aku sama bintang aku sama dia hanya sebatas sahabat nggak lebih" tukasnya meyakinkan.


"Nggak ada yang benar-benar murni sahabat antara perempuan dan laki-laki bulan aku tau betul akan hal itu" tandas langit menekan.


Bulan Menghela nafas lalu ia menunduk, akhirnya dia bersedia terus terang dan menceritakan semua pada langit. Dari awal bagaimana ia dan bintang bersahabat dan sampai Keduanya sempat saling jatuh cinta dan terakhir bintang dan Kanaya saudari tirinya memutuskan untuk bertunangan.


"Tapi yang harus kamu tahu Lang, saat ini aku udah nggak punya perasaan apapun lagi sama bintang, bahkan saat terakhir sebelum dia pergi ke Inggris, aku sempat mengatakan semuanya telah usai tidak ada persahabatan lagi diantara kami" jelas gadis itu, mencoba meyakinkan Langit.


"Kamu percaya kan sama aku?" tanya bulan pada Langit, melihat kesungguhan dan kejujuran dari mata bulan, langit akhirnya bisa tersenyum lega, ia langsung mengusap lembut pipi gadis itu lalu mengecup keningnya. Bagi langit saat ini bintang bukanlah siapa-siapa bulan, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan ia hanya perlu menggali hati bulan sedalam-dalamnya mengeluarkan bintang didalam sana, dan dirinya lah satu-satunya orang yang akan bersemayam didalam nya.


"Maaf yah aku tadi sempat diemin kamu" kata langit menyesal.


"Kamu ternyata childish juga yah haha" ledek bulan tertawa. Langit langsung memencet hidung mancung kekasihnya agar berhenti menertawakan dirinya.


"Bulan" panggil Langit lirih


"Heemm" jawabnya sama lirihnya


"I love you"


"Love you more"


Langit meraih tengkuk bulan agar bibirnya menempel pada bibir gadis itu, bulan sudah tidak kaget lagi dengan hal semacam ini. Karena selama berhubungan entah sudah berapa kali mereka berciuman. Terkadang ciuman intens maupun ciuman kilat.


Dua tangan bulan sudah ia kalungkan pada leher laki-laki itu. Saling menekan agar ciuman mereka lebih dalam lagi, sampai tiba-tiba saja "bulan, langit" suara Miranda Terdengar memanggil kedua orang yang tengah berciuman tersebut.


Alhasil bulan langsung mendorong dada langit sekuat tenaga, sampai laki-laki itu terjungkal ke atas ranjang akibat kerasnya dorongan gadis itu.


"Maaf ya mami ganggu, mami cuma bawain kalian minum sama kue, Jangan lupa dimakan yah bulan, mami mau pergi keluar dulu" ucap Miranda ramah. Bulan tersenyum merasa canggung takut kalau wanita itu berfikiran negatif.

__ADS_1


"Terimakasih Tante maaf kalo ngrepotin " ucap bulan


"Enggak lah cuma begini doang" jawabnya wanita itu pun memutuskan untuk keluar kembali dari kamar putranya.


"Kamu cewek tapi tenaganya kayak Samson ih kuat banget" sergah Langit.


"Kamu nya aja tuh kaya kapas lemah banget jadi cowok" kata bulan sembari menjulurkan lidahnya, langit terkekeh lalu ia langsung menangkap tubuh kekasihnya itu yang menurutnya sangat menggemaskan.


Dibaringkan nya Diatas kasur lalu langit menggelitiki perut bulan, sampai gadis itu tertawa terpingkal dengan tubuhnya ia gerakan bagai ulat nangka, menangkal kejahilan pacarnya yang super absurd.


*****


Jam kuliah pertama bulan selesai. Ia memutuskan kekantin karena dirinya merasa kelaparan hal itu dikarenakan dirinya yang tidak sempat sarapan terlebih dahulu.


Seperti yang sudah disepakati, tidak ada yang tahu tentang hubungan langit dan bulan yang berpacaran, bulan terpaksa hanya membuka rahasia itu pada pretty, Lagi pula ia cukup percaya pada temannya itu akan tetap tutup mulut, ditambah lagi ia dan pretty adalah teman sejurusan yaitu psikolog.


"Hai bulan" baik bulan maupun pretty menoleh dengan orang yang baru saja datang, ternyata sudah ada Aiden Kaka tingkatnya dan lagi dia adalah anggota BEM dikampus itu.


"Hai juga ka Aiden" balas bulan ramah, hal itu ia lakukan semata-mata karena Aiden adalah senior nya.


"Nanti sore ada seminar ikut yuk, lumayan buat tambah wawasan" ajak lelaki itu, masih terus menyunggingkan senyum ramahnya.


Pretty menyikut lengan bulan menggunakan siku nya. "Ekhem maaf ka kayaknya gue nggak bisa deh. Kebetulan ada acara nanti sore" bulan mencoba menolak dengan sopan.


"Tapi ini sebagian tugas juga sih lan, para senior harus membawa atau mengikut sertakan para mahasiswa junior untuk mengikuti acara seminar itu" nampaknya Aiden tak putus akal.


"Oke deh ka tapi gue nggak bisa lama yah" jawab bulan akhirnya.


"Oke nanti berangkat bareng yah" setelah itu Aiden pun langsung undur diri.


"Lo gila yah lan, gimana kalo langit tahu gue yakin dia bakal ngamuk sih, tau sendiri cowok Lo super cemburuan, dia mana perduli itu sebagian dari tugas" kata pretty. Bulan menggigit bibirnya kuat. Mulai terpengaruh ucapan gadis itu.


"Tapi kan rame-rame pret bukan hanya gue sama Aiden doang"


"Serah Lo deh, gue nggak ikut-ikutan kalau sampai si langit ngamuk" ucap pretty mengangkat Dua tangannya keatas.

__ADS_1


****


Sudah berapa kali langit mencoba menghubungi nomer bulan tapi tetap tidak ada jawaban, bahkan puluhan chat tidak ada satupun yang dibuka apalagi dibalas, langit gusar ia merasa frustasi kalau sudah seperti ini.


"Kenapa sih man butek amat tuh muka kaya air kobokan" tanya Darren salah satu teman dekat langit. Lelaki itu tetap diam tak menggubris perkataan Darren


Lalu datang lagi teman langit yang lain, bernama Bram ikut duduk bergabung dengan langit dan juga Darren.


"Kenapa Lo Lang?" Tanya Bram , lalu ia mengarah pada Darren ingin tahu apa penyebab nya. Darren mengedikan bahu tanda tak tahu.


"Eh btw tadi gue liat bulan pergi sama Kaka senior yang namanya Aiden anggota BEM itu loh" beritahu Bram, hal itu sontak membuat langit menoleh cepat kearah temannya itu. Selain pretty yang mengetahui akan hubungan antara langit dan juga bulan. Disisi lain Darren dan Bram pun mengetahui nya.


*****


Mobil sport mewah milik Langit berhenti tak jauh dari sebuah cafe, ternyata benar hasil lacakan yang dilakukan oleh Darren pada ponsel bulan menunjukkan lokasi gadis itu yang berada disebuah cafe.


Dengan mata kepalanya langit melihat bulan yang sedang duduk dengan Aiden, sesekali mereka terlihat tertawa entah apa yang mereka bicarakan. Didalam mobil kedua tangan langit sudah meremas kuat stir mobilnya, dadanya terasa terbakar melihat bulan terlihat intens dengan laki-laki lain.


Tak tahan dengan semua itu, langit pun memutuskan turun dari mobilnya, berjalan dengan langkah lebar ingin menghampiri sang kekasih yang kini sedang duduk santai bersama dengan seorang pria. Tanpa sepengetahuan nya.


"Jadi ini yang kamu lakukan sampai telpon dan chat aku nggak kamu bales" sergah langit dengan kilatan amarah nya. Bulan terkesiap ia kaget sekaligus takut, takut langit salah paham dengan apa yang kini sedang dilihatnya.


"Lang aku bisa jelasin" mohon bulan, langit menatap nya tajam


"Lo siapa?" Tanya Aiden mengarah pada Langit.


"Lo yang siapa bangsat, Lo tau nggak dia ini cewek gue, nggak seharusnya Lo ajak dia ditempat beginian" ucap langit dengan nada tinggi pada Aiden, persetan dengan dia seorang senior nya dan juga anggota BEM dikampus. Yang pasti jika menyangkut soal bulan . Ia akan libas siapapun itu.


"Langit udah dong kamu jangan kaya gitu malu diliatin orang" pinta bulan memohon. Sontak aksi dari langit berhasil membuat mereka jadi ajang tontonan.


"Kamu belain dia?" Kata langit terlihat raut kecewa.


"Aku bisa jelasin Lang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan, dan aku kesini bukan cuma berdua nanti teman-teman yang lain ada yang nyusul kebetulan mereka masih dijalan. Kita ada tugas Dateng ke seminar lang, please percaya sama aku"


"BULSHIT" ucap langit membentak. Bulan tercenung rasanya sesak dibentak seperti itu didepan umum, Tanpa sadar air mata bulan menetes begitu saja,

__ADS_1


Tak berselang lama, benar saja teman-teman yang dimaksud bulan yang juga akan hadir pada seminar itupun terlihat baru sampai, mereka terheran-heran dengan yang terjadi. Langit pun langsung pergi dari hadapan bulan, membawa serta rasa amarahnya. Bibir bulan bergetar tubuhnya kaku, rasanya ia ingin sekali mengejar Langit. Namun seakan kakinya berat untuk sekedar melangkah.


Bersambung. .


__ADS_2