
Sore ini Bulan ingin sekali minum es krim tapi dia tidak ada yang menemani, Mega dan Nita tidak bisa ikut karena Mega harus segera pulang dan Nita dijemput tunangannya untuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan mereka minggu depan. Akhirnya Bulan berjalan sendiri ke depan dan bermaksud untuk naik ojek online, namun tiba-tiba terdengar klakson mobil dari arah belakang.
Tiiin … tiiin …
Bulan berjalan menepi dan dilihatnya mobil itu, setelah jendela mobil terbuka nampaklah wajah Bintang dari dalam mobil. “Masuk !” perintah Bintang.
“Tapi pak …” jawab Bulan. “Jangan membantah !” tegas Bintang ke arah Bulan.
Akhirnya Bulan mengikuti perintah Bintang, dia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di depan sebelah Bintang. “Kamu mau kemana ?” tanya Bintang pada Bulan. “Saya mau pulang tapi masih ingin mampir dulu untuk membeli es krim pak,” jawab Bulan.
“Jangan terlalu formal, kita sudah di luar kantor. Apalagi kita akan menikah, ingat itu !” ucap Bintang dengan tatapan lurus ke jalan raya. “Ayo, kita beli es krim dulu. Dan jangan panggil aku dengan sebutan Pak lagi, panggil saja namaku” kata Bintang.
Bulan hanya diam saja mengikuti apa yang dikatakan oleh Bintang. “Pak, eh, Bin … kita beli es krim di restoran itu yuk !” ajak Bulan sambil menunjuk ke arah restoran khusus menyajikan berbagai macam es krim. Bintang pun mengarahkan mobilnya ke parkiran.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bintang dan Bulan masuk ke dalam restoran dan memesan es krim, keduanya sama-sama memesan es krim rasa green tea.
Es krim yang dipesan oleh Bulan dan Bintang
“Bulan …” Bintang memanggil Bulan. “Ya, ada apa ?” tanya Bulan, kini dia sudah mulai membiasakan diri untuk tidak bersikap formal pada Bintang kecuali saat berada di dalam kantor.
“Mama dan papa ingin bertemu dengan orang tuamu minggu ini untuk melamarmu dan membicarakan pernikahan kita,” ucap Bintang, membuat Bulan menelan salivanya dengan kasar karena terkejut dengan ucapan Bintang.
“Mengapa begitu cepat Bin? Sedangkan aku belum mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Dan apakah kau yakin rencana ini akan kita lanjutkan, kita yang tadinya hanya berpura-pura akhirnya akan menjadi kenyataan. Padahal kita baru kenal dan tidak ada rasa cinta diantara kita, iya kan?” Bulan menghela nafasnya dengan panjang sambil mengaduk-aduk es krimnya.
“Tapi kedua orang tuaku sudah sangat bahagia dengan kehadiranmu Bulan, dan mereka sangat berharap kamulah yang menjadi menantunya. Aku hanya tidak ingin mengecewakan hati mereka saja,” tutur Bintang berharap Bulan mau meneruskan rencana pernikahan mereka.
Bulan masih nampak berpikir, dia masih bingung dengan keputusan ini meskipun sebetulnya jika dia boleh jujur, dia suka dengan Bintang sejak dia diantar pulang olehnya beberapa waktu yang lalu. Hanya saja dia juga tahu diri siapa dia dan keluarganya dari kalangan menengah kebawah.
“Lalu kapan aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku sebelum orang tuamu melamarku?” tanya Bulan.
“Besok kita ke Surabaya !” ucap Bintang seketika. “Apa ?! Besok kan aku harus kerja Bin,” kata Bulan.
“Bulan … apa kamu lupa dengan siapa kamu akan menikah nanti?” tnya Bintang balik sambil mengangkat sebelah alisnya memandang ke arah bulan.
Wajah Bulan merona merah malu karena dipandang oleh Bintang dengan jarak begitu dekat. ‘Benar juga kata Bintang, aku akan menikah dengan atasanku sendiri, bodohnya aku!’ gumam Bulan kesal pada dirinya sendiri.
“Besok pagi-pagi kita berangkat ke bandara, naik pesawat ke Surabaya. Biarkan Arda yang mengatur semua keperluan kita besok sekaligus mengurus cuti kamu selama dua hari,” kata Bintang tegas. Bulan hanya bisa mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.
“Hyaaaa … hayo ketahuan sedang berduaan !” seru Arda, yang ternyata memperhatikan Bulan dan Bintang dari tadi. Arda datang bersama seorang gadis cantik.
“Woyy … kira-kira dong kalau teriak, ganggu saja !” ucap Bintang kesal sambil melempar tisu ke arah Arda.
“Pak Arda … ??!!” seru Bulan malu karena ketahuan sedang berduaan dengan Bintang.
“Ehem, ehem … sudah ada gandengan nih ceritanya ?” goda Bintang balik ke Arda ketika melihat Arda sedang menggandeng tangan seorang gadis.
“Hah ?! Mbak Dina … ?! kok bisa ada disini ?” tanya Bulan yang terkejut dengan kehadiran Dina, sepupunya itu hanya tersenyum lebar melihat respon Bulan.
“Jangan bilang kalau kamu jadian dengan sepupu Bulan ya Ar,“ ucap Bintang penasaran pada Arda.
“Kami memang baru saja jadian kok, memangnya kamu saja yang jadian dengan Bulan? Hahaha … “ Arda dengan bangga mengumumkan status barunya dengan Dina saat ini pada dua sahabatnya, dan direspon oleh Bintang dengan tepuk tangan.
“Oh ya Ar, aku minta tolong ke kamu. Pesankan aku dua tiket pesawat tujuan ke Surabaya untuk besok pagi, karena aku dan Bulan akan ke rumah orang tuanya di Surabaya. Aku ingin berkenalan dulu dengan mereka, karena minggu ini kedua orang tuaku akan melamar Bulan pada orang tuanya. Urus juga ijin cuti Bulan selama dua hari ke depan ya !” perintah Bintang pada sahabatnya itu.
“Wah, wah, wah … gerak cepat rupanya dirimu Bro ?!” ucap Arda merasa tidak percaya pada sahabatnya ini.
“Semoga rencana kalian bisa berjalan dengan lancar ya dek,” kata Dina sambil memeluk Bulan. “Terima kasih mbak Din, begitu juga dengan kalian berdua,” balas Bulan sambil memandang ke arah Dina dan Arda.
"Siap Bos !” balas Arda sambil mengangkat tangan kanannya ke dahi.
“Hmmm … mulai ada perhatian nih rupanya dirimu Bro,” bisik Arda ke telinga Bintang sambil terkekeh, kemudian dibalas pukulan ringan ke arah bahu arda oleh Bintang.
“Mbak Dina, sampai ketemu nanti di rumah ya,” seru Bulan, dibalas acungan jempol oleh Dina.
“Hai Dina, hati-hati dengan pria ini, banyak modusnya !” ucap Bintang pada Dina sambil reflek menggandeng tangan Bulan menuju ke arah parkir mobil. Mereka berempat tertawa bersama, Arda dan Dina pun melanjutkan jalan-jalan mereka.
***
Malam ini Bulan tidak bisa memejamkan matanya, dia masih memikirkan besok pulang ke Surabaya serta persiapan keluarga Surya Mahardhika yang akan bertemu kedua orang tuanya untuk melamar dirinya. Banyak hal yang dipikirkan oleh Bulan saat ini. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, Dina sudah terlelap dalam tidurnya, namun Bulan masih belum nampak mengantuk.
Drrrtt .. drrrttt ….
Ponsel Bulan bergetar ada pesan masuk, dilihat olehnya ada pesan dari Bintang.
Bintang : “Belum tidur ?”
__ADS_1
Bulan : :Belum”
Bintang : “Apa yang sedang kamu pikirkan ?”
Bulan : “Banyak hal”
Bintang : “Apa kamu sedang memikirkan aku ?” (Emotikon tertawa)
Bulan : “Tidak”
Bintang : “Padahal aku sedang memikirkan kamu”
Bulan : “Gombal”
Bintang : “Calon suamimu ini tidak pernah menggombal Bulan …”
Bulan : “Terserah, aku mau tidur”
Bintang : “Cepatlah tidur, besok harus bangun pagi”
Bulan : “Iya”
Bintang : “ Selamat tidur calon istriku”
Bulan : (emotikon menjulurkan lidah)
Bintang : “Bye”
Bulan : “Bye”
Bulan mematikan ponselnya dan diapun tidur dengan nyenyak.
Di seberang sana, Bintang juga tidak kunjung memejamkan matanya. ‘Mengapa aku selalu memikirkan dia, dan mengapa setiap kali memikirkan dirinya jantungku selalu berdebar tak menentu ?’ ucap Bintang dalam hati. Akhirnya pelan-pelan Bintangpun tertidur dan dibuai oleh mimpi-mimpi manisnya.
################
Semoga kalian tetap suka dengan cerita ini, tinggalkan like, vote dan komentar kalian disini ya teman-teman kesayangan.
Happy reading
__ADS_1