
“Bro! Ngapain lo disini?” Agung anak TSM menepuk bahu revan yang duduk dikursi koridor bengkel TSM.
“Eh, gak ada nunggu temen” Jawab revan melirik agung yang ikut duduk disebelah nya.
“Owh yang punya motor itu?” Tanya agung yang tahu bahwa ada motor titipan revan dibengkel jurusan nya.
Revan hanya balas dengan anggukan dan kembali bermain ponsel begitu juga agung.
Dia sudah diberitahu adiba bahwa mereka ada latihan upacara sekarang, jadi tidak bisa menemui nya untuk mengambil motor. Namun gadis itu bilang kunci motor nya titipkan saja pada anak TSM yang ada disitu nanti akan mengambil nya dan ijin pada guru, jadi tak apa revan pulang saja dulu.
Revan menolak dengan alasan jika dia juga masih ada urusan disekolah sampai sore jadi nanti cari dia saja kalau mau mengambil motor itu.
🌼🌼🌼
“Gue panggil Pak Rahmat dulu, awas lo kalau kabur” Adin kembali mengancam teman-teman nya yang sekarang sudah berada dilapangan utama.
“Udah sana cepetan, bacot mulu lo” Adiba menjawab adin yang terus mengancam mereka. Padahal tidak ada yang kabur.
Adin dan pak rahmat wali kelas mereka berjalan beriringan dari kantor guru.
“Selamat siang semua” Ucap walikelas begitu sampai dilapangan.
“Pasti pada deg degan kan ciwi-ciwi, takut bapak tunjuk” Pak rahmat si walikelas yang kekinian.
“Pak Panas! Ayo atuh buruan” Nur yang protes awal takut pak rahmat kebanyakan pembukaan.
“Takut banget skincare nya rusak ya bund” Ejek pak rahmat. Guru itu memang kekinian mungkin karena masih muda.
“Adin bacain yaa, bapak pantau dari sana” Pak rahmat melanjutkan ucapan nya dan memberi adin selembar kertas.
“Pak rahmat gak setia kawan banget” Ajis berbicara ketika melihat pak rahmat yang hendak memantau dari koridor kelas saja biar adem.
“Betol, kata nya kawan masa’ gitu pak. Kami kepanasan bapak ngadem” Joko juga ikut protes.
Bukan mereka tidak sopan kepada guru namun begini lah cara berkomunikasi antar guru dan siswa di STM PB kadang formal atau sebaliknya. Pandai-pandai saja menempatkan bahasa juga jangan berlebihan.
“Giliran gini aja lo pada ngaku temen, kalau bapak lagi kesusahan mana ada yang mau ngaku temen” Pak rahmat menyindir siswa-siswi kelas nya yang tidak mau rugi.
“Udah lanjut, bapak pantau disitu aja” Pak samsul berkata sambil berjalan kearah podium pembina upacara.
“Oke gue bacain” Adin mengalihkan perhatian kembali yang menertwakan pak samsul berjalan dengan wajah dibuat-buat cemberut. Pak samsul memang guru terasik.
“Pembawa acara, Adiba” Terdengar adin berseru.
Adiba memang langganan menjadi petugas pembawa acara karena dia memiliki suara yang enak didengar, pelafalan jelas, dan juga sangat fokus ketika bertugas. Kebanggan XII TKJ-1 lah pokoknya.
(TKJ\= TEKNIK KOMPUTER JARINGAN)
__ADS_1
“Pengibar bendera, Ambar, adiba, nur” Ketiga perempuan itu terkejut begitu nama nya dipanggil rasa tidak ingin namun tidak bisa menolak.
“Pemimpin upacara, Ayu Bunga” Adin berseru lagi, membuat semua melongo kaget dan menoleh kearah ayu yang sejak tadi melamun dibelakang barisan.
Ayu heran kenapa mereka semua melihat kearah dia?
Ternyata dia tidak mendengarkan seruan adin tadi, sampai tangan nya disenggol adiba.
“Lo jadi pemimpin upacara bung” Perkataan adiba membuat ayu juga melongo kaget.
“Kenapa gue?” Tanya nya kepada adiba.
“Tanya pak rahmat noh” Adiba juga tidak tau kalau susunan petugas upacara nya bakal berubah, hanya dia yang jadi petugas tetap.
“Oke, semua sudah kebagian tugas. Jangan ada yang protes ke gua. Bukan gue yang nyusun, kalau mau protes sana sama pak rahmat” Adin memberitahu dahulu sebelum dia direpotkan dengan mereka yang tidak terima dengan tugas yang didapat.
“Protes sama pak rahmat sana, kalau lo berani” Adiba menyuruh ayu protes saja kalau tidak suka. Itupun kalau pak rahmat izin, walaupun pak rahmat guru yang kekinian dan banyak bercanda. Kalau masalah keputusan tidak ada mereka yang berani menolak, mau tidak mau ya harus mau.
Ayu langsung merasakan perut nya mules apa jadi nya kalau dia jadi pemimpin, haduh gimana ini.
“Latihan dimulai!!” Pak rahmat berteriak dari podium.
Latihan sudah berjalan, mereka latihan seperti upacara biasa dihari senin hanya bendera yang tidak dinaikkan.
Petugas bendera lebih banyak berlatih dibandingkan petugas lain sampai mereka tidak melakukan kesalahan lagi. Barulah latihan untuk terakhir kali sebelum pulang.
“SIAP!!” Teriakkan serentak siswa kelas itu.
“Boleh bubar, buat ayu semangaatt! Wkwkwkwk” Pak rahmat tertawa keras dan berlalu.
“Pak rahmat terlihat seperti ada dendam” Ucap ambar dramatis.
“Dalah, ayu cocok kok jadi pemimpin” Adara menambahi semangat buat teman nya tampak murung itu.
“Ayo ambil motor” Adiba mengajak mereka berempat, teman nya yang lain juga sudah bubar.
🌼🌼🌼
Revan masih setia berada dibengkel TSM, sambil menunggu ayu dkk dia juga membantu anak TSM membersihkan bengkel itu.
Ting!
Bunyi ponsel revan tanda ada pesan masuk.
Adiba TKJ1
Lo masih disanakan van?
__ADS_1
^^^Saya^^^
^^^Iya, langsung kebengkel aja.^^^
Adiba TKJ1
Otw
Seperti nya mereka sudah selesai latihan upacara. Entah karena alasan apa jantung revan berdebar sedikit kencang memikirkan ayu dkk sedang berjalan kesini.
“Permisi” Ucapa adiba sambil membuka pintu ruangan itu.
Revan dan dua orang anak TSM yang ada disitu menoleh kearah pintu.
Berdiri dari duduk nya revan berjalan kearah adiba yang dipintu tidak mau masuk.
“Ini kunci nya” Revan menyerahkan kunci motor ayu pada adiba.
“Udah bisa nyala, kayak nya motor itu jarang di service sama ganti oli” Revan memberitahu pendapat nya.
“Iya, ayu emang gak pernah service motor” Adiba juga menyetujui ucapan revan.
“Makasih yaa. Udah dibenerin. Bayar gak ni?” Tanya adiba kepada revan karena kan kalau dibengkel biasa nya bayar.
Hanya dibalas gelengan kepala oleh revan, dia juga bingung apakah adiba ini juru bicara nya ayu? Karena dari tadi yang bertanya hanya adiba. Sedangkan yang punya motor hanya diam.
Apa ayu masih marah perihal dijam istirahat pertama tadi.
“Yaudah makasih sekali lagi, kita duluan yaa” Adiba beranjak dari pintu itu dan menyusul teman-teman nya yang menunggu sedikit jauh.
“Balik langsung?, lo tidur dimana?” Adiba bertanya pada ayu, setelah melempar kunci kearah ayu.
“Gue nginep dirumah lo ya, besok minggu. Males banget gue dirumah” Ayu menjelaskan kepada sahabat nya.
“Oke, lo berdua gimana mau Join?” Adiba beralih pada adara dan ambar.
“Oh tentu pasti” jawab adara, karena dia takkan membiarkan ayu hanya berbagi cerita kepada adiba malam ini.
Sedangkan revan yang masih berdiri dipintu bengkel itu bermenung, dia masih merasa bersalah kepasa ayu tentang ucapan nya di istirahat pertama.
“Perut gue mules banget, ngebayangin hari senin nanti” Ayu dilubuk hati terdalam.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terimakasih telah membaca cerita ini.
Jangan lupa Vote, comment dan jadi kan favorite ceritaa ini.
__ADS_1