
...*Happy Reading**đź’•*...
Acara untuk tahun ini sudah selesai dan semua berjalan lancar tidak ada kesalahan sedikit pun membuat pak Rahmat selaku penanggung jawab kali ini berbangga diri, dan untuk merayakan nya beliau mengajak semua panitia untuk makan bersama.
“Thanks ya untuk kerjasama nya hari ini” Pak Rahmat memandang satu-persatu murid nya yang memasang wajah lelah.
“Your welcome sir!” Seru beberapa murid serentak.
“Kok pada lemes sih, lelah ya?” Ucap Pak Rahmat mengejek.
“Karena hari ini kalian kerja nya bagus, AYO KITA MAKAN DI LUAR” Pak Rahmat berseru semangat tapi tidak dengan respon para muridnya yang biasa saja.
“Kita pulang aja pak, gak ada duit ini buat makan diluar” Indra mengeluh, ternyata mereka semua tidak paham dengan kode beliau.
“Bapak traktir” Ucapan pak Rahmat kontan membuat mereka semua menoleh kearah beliau dengan tatapan bertanya.
“SERIUS PAK?” Indra menjadi bersemangat mendengar kata traktir.
“Iye serius gue mah, buru lah” Pak Rahmat berjalan duluan keluar dari Aula yang sudah sepi.
“Wih pak Rahmat memang the best” Adara mengangkat kedua jempol tangan nya.
“Iya pak Rahmat best pokok’e” Ambar juga ikut memuji, kapan lagi bisa di traktir guru.
“Kami doain deh semoga bapak cepat dapat jodoh yang baik seperti bapak” Adiba berusaha membuat mood pak Rahmat lebih baik.
“Gak usah bacot lo pada, buruan kita ketemu disana aja” Pak Rahmat merogoh tas nya mencari kunci mobil.
“Dimana pak, jangan bilang bapak mau kabur” Indra mencegat guru nya yang hampir pergi.
“Siapa juga yang mau kabur, di cafe dekat lampu merah pertama aja gimana?” Pak Rahmat menyarankan tempat makan nya.
“Oke pak, kita nyusul dah. Jangan kabur” Adara memperingati pak Rahmat dan menarik ketiga sahabat nya menuju parkiran.
Sesuai keputusan mereka berangkat dengan kendaraan masing-masing dan akan bertemu di cafe yang dimaksud.
@Cafe Daladion
Ada sekitar sepuluh murid yang sudah sampai di pelataran cafe menunggu si bapak guru yang katanya mau traktiran.
“Gue curiga pak Rahmat kabur ni” Adara celingak-celinguk mengecek parkiran mobil berharap pak Rahmat sudah sampai.
“Jan soudzon, kali aja kejebak macet kan jam pulang kerja” Ambar menoyor kepala Adara penuh niat.
“Kita tunggu di dalam aja” Revan beranjak memasuki cafe, dan mau tidak mau teman nya yang lain pun menyusul nya.
Revan pun duduk disalah satu meja di pojok kanan cafe yang memiliki pemandangan ke jalan raya langsung, kursi yang tersedia di meja itu hanya cukup untuk empat orang sedangkan mereka ada sepeluh orang.
“Mbak!!” Revan memanggil salah satu pelayan cafe.
“Ya bang, ada yang bisa di bantu” Pelayan itu menanyakan.
“Meja nya tolong di tambah ya mbak, untuk sepuluh orang” Jelas Revan menunjuk teman-teman nya yang masih berdiri.
__ADS_1
“Oiya sebentar ya, silahkan di pilih dulu menu nya” Mbak pelayan meninggalkan kertas menu makanan dan minuman diatas meja dan kemudian pergi, mungkin untuk menambah meja.
“Kita pesan aja dulu, nanti pak Rahmat nyusul aja biar gak kemaleman” Revan menyerahkan menu nya pada keempat gadis yang sudah duduk itu.
Ladies first
“Nanti kalau pak Rahmat gak datang gimana?” Indra khawatir kalau mereka sudah memesan makanan tapi beliau tidak datang bagaimana.
“Pasti dateng, pesan aja” Revan percaya kalau beliau adalah guru yang omongan nya bisa dipegang.
“Permisi bang, kita gabungin meja nya ya” Pelayan cafe tadi kembali dengan teman laki-laki nya menggeser meja.
“Oh iya silahkan” Adiba dan kawan-kawan berdiri agar mempermudah perkerjaan pelayan cafe itu.
“Sudah, silahkan duduk” Ucap pelayan laki-laki itu begitu susunan meja nya pas sepuluh orang.
“Sudah ingin memesan?” Pelayan wanita tadi menanyakan balik pesanan mereka.
Pelayan cafe sudah mencatat pesanan sesuai dengan yang di sebutkan mereka semua, hampir sepuluh menit pak Rahmat belum sampai juga.
“Aduh maaf ya guys gue telat, macet tadi” Pak Rahmat duduk di kursi yang kosong yaitu di hadapan Ayu.
Sekarang pak Rahmat sudah tidak memakai kemeja guru, beliau sudah mengganti kemeja coklat tua nya dengan kaos hitam polos dan menyisakan celana bahan berwarna hitam juga. Kalau begini beliau terlihat lebih muda dan keren seperti anak tongkrongan.
“Kita kira bapak bakalan kabur” Indra menyindir pak Rahmat yang baru duduk.
“Gabakal kabur gue mah, udah pesen ya?” Pak Rahmat bertanya pada mereka semua dan dibalas anggukan.
“Mbak!” Pak Rahmat memanggil pelayan, menyebutkan pesanan nya.
“Bapak sering kesini ya?” Adara mengajukan pendapat.
“Jangan manggil bapak dong, gue masih muda panggil abang aja, mas, Aa atau sayang juga boleh. Ya gak Ayu!” Pak Rahmat menggoda Ayu dengan muka menyebalkan nya dan Ayu hanya mendengus sebal.
“Nanti di kata gak sopan lagi” Adara mendengus.
“Sama gue mah santuy, selagi masih sesuai tempat gak masalah”
“Geli banget manggil abang” Adiba memasang wajah jijik yang di buat-buat.
“Yaudah senyaman kalian aja” Pak Rahmat
“Jadi bapak sering kesini?” Adara kembali bertanya, tetap menggunakan panggilan formal.
“Gak sering banget sih, tapi beberapa kali lah” Jawab Pak Rahmat.
“Sama siapa pak kalau kesini?” Indra bertanya penasaran, karena berdasarkan informasi yang beredar kalau pak Rahmat masih jomblo.
“Kepo lo!” Pak Rahmat menjawab sarkas.
“Permisi ini pesanan nya…” Dua orang pelayan datang membawa nampan yang berisi makanan dan minumam mereka.
“Terimakasih mbak” Ambar yang duduk di ujung meja berucap terimakasih dan di balas senyuman oleh pelayan cafe.
__ADS_1
“Loh kok dikit banget mesen nya?” Tanya Pak Rahmat bingung.
“Segan kita pak, kalau di traktir mah harus tau diri jangan malu-maluin” Adiba yang menjawab.
“Alah..biasa nya juga malu-maluin” Ucap pal rahmat mengejek.
“Pesen lagi gih, cake di sini recommended banget” Pak Rahmat menggeser kertas menu ke hadapan murid nya.
“Serius ni pak?” Adara memastikan lagi, takut salah dengar.
“Iya gue serius, pesen aja”
“Yeeaayyy” Sorak Adiba, Adara dan Ambar serentak dan berebutan kertas menu.
“Tukan kalian emang gak cocok jadi anak yang gak malu-maluin”
“Lo gak mesen lagi yu?” Tanya Pak Rahmat pada Ayu yang sejak tadi diam.
Gadis itu hanya menggeleng tanda tidak.
“Temeng gue lagi sariawan pak” Adara mulai bicara informal, bukan tidak sopan tapikan memang si bapak yang nyuruh.
“Perasaan tadi nyanyi bisa” Indra yang berkata kebingungan.
“Iye dia kalau lagi di tempat ramai, sariawan sering kambuh. Jadi mohon di maklumi” Adara menjelaskan dengan serius seolah-olah hal yang dia sampaikan itu adalah kebenaran.
“Ngarang!” Adiba menoyor kepala Adara.
Sedangkan Ayu yang sedang di bicarakan hanya diam, entalah sejak tadi pikiran nya terarah pada Revan. Laki-laki itu terlihat aneh padahal tadi sebelum Ayu tampil Revan masih mau ngajak Ayu ngomong sekarang kenapa diam saja bahkan sengaja memilih tempat duduk jauh dari nya.
“Ck bodoh, kan ada cewek nya. Yakali masih ngajakin lo ngobrol” Ayu menyimpulkan kalau Revan bersikap seperti itu pasti karena takut Adiba salah paham.
...🌼🌼🌼...
“Wah wah pulang malam lagi kamu ha?” Suara wanita dewasa menyambut Ayu yang baru masuk kedalam Rumah.
Memilih untuk tidak memperdulikan, Ayu melanjutkan langkah nya menuju tangga.
“Tidak punya sopan santun kamu ya!!” Suara wanita itu mulai meninggi, karena Ayu tidak menanggapi ucapan nya.
“Mentang-mentang Ayah kamu lagi di luar kota, bebas kamu ya!” Wanita itu tetap berbicara meski Ayu tak peduli.
“Dengar gak saya ngomong!!” Wanita itu mulai berteriak, suaranya sudah menggema di ruangan.
“Sttt. Berisik!” Sebelum benar-benar menggapai knop pintu, Ayu berucap sambil menarik jari telunjuk nya di ujung bibir.
BRAKKK
Ayu membanting pintu kamar nya dengan keras membuat wanita yang masih setia menggerutu itu kontan terperanjat kaget.
“Makin kurang ajar anak itu”
“Awas saja kamu” Wanita itu masih terus mengomel, dia merasa sangat tidak dihargai sebagai nyonya dirumah ini.
__ADS_1
...🌼🌼🌼...