
Bundaa” Panggil Ayu, bunda yang sedang memakaikan kaki kecil Ayu sepatu itu mengangkat wajah nya.
Ayu yang sedang duduk di kursi meja makan itu menatap bunda nya dalam, seperti ada hal yang ingin dia tanyakan.
“Kenapa sayang?” Melihat anak nya yang tak kunjung bicara, bunda pun bertanya terlebih dahulu
“Emm..” Ayu kecil terlihat berpikir.
“Bunda dan Ayah kenapa menikah?”
Pertanyaan itu sontak membuat bunda mengangkat wajah dan melihat kearah anak gadis nya.
Ada rasa terkejut yang mengampiri bunda, tidak menyangka akan di tanyai oleh anak nya yang masih duduk di bangku kelas 1 SD Pertanyaan semacam itu.
“Karena…..Ayah dan bunda saling sayang” Jawab Bunda akhirnya.
“Bohong!”
Ayu kecil menggelengkan, ada raut tidak terima diwajah cantik nya.
“Bunda gak bohong sayang…” Elak bunda, dia sungguh masih belum percaya mendapat pertanyaan seperti itu dari anak nya.
“Kalau saling sayang kenapa ayah sama bunda berantem terus?” Pertanyaan polos itu terasa sangat menyakitkan untuk di dengar.
“Sayang dengerin bunda—“ Bunda sudah selesai memakaikan sepatu pada Ayu, sekarang di memegang kedua pipi chubby Ayu kecil terus mengelus dengan sayang.
“Orang dewasa terkadang tidak bisa mengontrol emosi nya dalam menghadapi beberapa permasalahan” Bunda berusaha menjelaskan secara sederhana pada puteri nya.
“Kenapa?”
“Ada banyak hal sayang, mungkin ayah lagi capek sama kerjaan nya. Jadi gampang emosi” Bunda tau Ayu bukanlah anak kecil yang bisa menerima semua informasi secara bulat. Dia akan terus bertanya sampai rasa penasaran nya tersampaikan.
“Tapi kenapa ayah gak pernah capek mukulin bunda?” Ayu melepas elusan tangan bunda dari pipi nya.
Hening, bunda menunduk menyembunyikan raut sedih nya.
“Kenapa ayah sering marah-marah sama bunda?” Tanya Ayu lagi.
“Ayah gak sayang bunda?”
...🌼🌼🌼...
“Hujan nya awet banget, kayak cinta gue sama Adin” Cicit Adara, mengeratkan balutan hoodie kuning nya.
Udara memang sangat dingin, selain karena masih pagi juga karena hujan deras yang turun sejak kemarin malam.
“Gaya-gayaan lo, cinta bertepuk sebelah tangan aja bangga” Ucap Ambar telak, membuat Adara menatap nya tajam.
“Diem sih Hambar, nyenening temen kek sekali-kali” Adara kesal dengan kisah cinta bertepuk sebelah tangan nya.
“Brisik ah! Buru ke kantin gue laper, belum sarapan” Adiba bangkit dari duduk nya menarik tangan Ayu untuk bangkit juga, abaikan dulu keributan duo keong racun itu karena perut lebih penting saat ini.
Dikarenakan hujan deras, hari senin kali ini upacara bendera ditiadakan dan waktu untuk upacara bendera digunakan untuk menunggu murid-murid atau guru yang mungkin datang terlambat karena terjebak hujan dan sebagainya.
Sangat pengertian bukan?
Meski sangat pengertian, bell untuk mata pelajaran pertama akan tetap berbunyi tepat waktu.
Koridor-koridor kelas sudah terlihat ramai, banyak murid-murid yang berkumpul secara kelompok di beberapa titik lengkap dengan jaket ataupun hoodie yang mereka pakai.
Ayu DKK sedang berjalan di koridor tentu saja dengan tempat tujuan awal yaitu kantin, tapi sepanjang koridor banyak mata yang memperhatikan mereka berempat.
Tahu kenapa? Hmm—tentu saja karena mereka berempat terlihat sangat mencolok dengan hoodie yang mereka pakai.
“Kok orang-orang pada liatin kita yak?” Bisik Adara pada ketiga teman nya yang lain, ternyata dia sadar kalau tengah jadi pusat perhatian.
“Menurut lo?”
“Yaa gak tau, kan gue nanya Diba”
__ADS_1
“Ya menurut lo aja, kita pakai apa sekarang” Adiba mulai kesal, entah Adara pura-pura bodoh atau ketularan lemot Ambar.
“Pakai baju kan? Kecuali kita gak pakai baju”
“Kita pakai hoodie warna-warni, udah kayak ayam-ayam yang di jual di depan SD” Jawab Ayu yang juga ikut kesal.
“Oiyaa—baru sadar gue” Adara menepuk jidat nya.
“Baru sadar lo kata? Kan tadi yang maksa kita pakai hoodie ini lo sendiri” Adiba mulai nyolot ngomong nya guys.
“Tapi lucu tau, kita keliatan menggemaskan kalau pakai hoodie ini” Ambar tersenyum bangga, memanerkan senyuman pada orang-orang yang menatap kearah mereka.
“Menggemaskan pala lo” Ayu dengan ganas nya menoyor kepala.
“Hahahaha” Adara sang pelaku utama yang memaksa mereka memakai hoodie ini malah tertawa tidak tahu malu.
“Gausah ketawa lo, bikin malu aja”
Akhirnya mereka berempat sampai dikantin, Ayu pikir mereka selamat dari pandangan aneh dari orang-orang lain seperti di koridor tadi tapi nyatanya di kantin lebih ramai. Dan bisa dipastikan saat ini mereka jadi pusat perhatian lagi Ayu tidak tahu, karena dia lebih pilih menunduk menghindari tatapan mereka.
“Gile, berasa artis gue. Dimana-mana di liatin terus” Adara berbangga diri kali ini idenya membuat mereka berempat terkenal.
“Ayo duduk disana” Adiba menarik Ayu yang menunduk, dia tahu Ayu tidak berani mengangkat kepala sekedar membalas tatapan orang lain.
“Pesen apenih, gue yang pesenin” Tanya Adara, mereka sudah duduk di meja yang kebetulan letak nya agak ditengah kantin, tidak ada pilihan lain hanya itu meja yang kosong.
“Gue..mie kuah pedes level mampus” Jawab Ayu.
“Gile lo pagi-pagi makan pedes nanti diare tau rasa” Protes Adara tidak terima.
“Ide bagus, dingin-dingin gini enak nya makan yang berkuah plus pedes” Ambar mengabaikan Adara yang melotot kesal.
“Gue pesen seblak level tiga” Lanjut Ambar.
“Gue samain sama Hambar” Ucap Adiba.
“Yaudah gausah ikutan, ribet lo”
“Ck. Minum nya apa?” Adara menyerah.
“Es jeruk dingin” Ucap Ambar santai, mata nya tetap berkeliaran melihat seisi kantin.
Malas berdebat perkara ‘Es jeruk dingin’ dengan Ambar, Adara langsung beranjak setelah Ayu dan Adiba menyamakan minuman mereka.
“Dara!!”
Adara berhenti, berbalik kebelakang melihat Ambar yang memanggil nya.
“Es jeruk dingin nya pakai es yaa!!”
Ambar berteriak karena memang posisi Adara sudah lumayan jauh, dia takut suara nya tidak terdengar oleh Adara.
“Ck—sialan bikin malu” Adara langsung berbalik mengabaikan Ambar.
Beberapa orang sudah terkekeh mendengar teriakan Ambar yang membahana badai dengan suara cempreng nya.
“Malu-maluin tai” Adiba menarik Ambar untuk kembali duduk.
“Cuma ngasih tau Dara, takut nya dia lupa bilangin es jeruk dingin nya pakai es” Sungguh demi apa, Ambar sangat memalukan.
“Dimana-mana Es jeruk itu dingin! Dan kalau dingin itu harus pakai es” Ayu berusaha menjelaskan secara sederhana agara bisa diterima otak 2G Ambar.
“Lo ngapain sih, bikin malu” Adara sudah kembali dari memasan makanan mereka.
“Ya maaf kan gak tau” Jawab Ambar santai.
“Wow ada teletubbies—“ Suara laki-laki terdengar menyapa mereka, dan otomatis keempat gadis itu menoleh.
“Ihh lucu, noleh nya serentak” Cicit laki-laki itu lagi.
__ADS_1
“Boleh nebeng?” Laki-laki yang satu nya lagi bertanya.
“Emm—boleh Van duduk aja” Izin Ambar pada Revan dan teman nya Anton.
Entah sengaja atau tidak, Revan memilih duduk di kursi kosong samping kanan Ayu dan Anton duduk disamping Ambar tepat nya dihadapan Revan.
“Kalian lucu yaa kayak teletubbies” Oceh Anton lagi tidak berhenti kagum dengan keempat gadis itu.
“Tinky winky—“Anton menunjuk Ayu yang memakai hoodie berwarna ungu.
“Dipsy—“Lalu menunjuk Adiba yang memakai hoodie berwarna hijau.
“Lala—“ Ketiga, Anton menunjuk Adara yang menggunakan hoodie berwarna kuning.
“Po—“ terakhir, Anton menunjuk Ambar yang memakai hoodie berwarna merah.
“Hahahahaha” Anton tertawa ngakak.
“Kenapa ketawa lo?!” Tanya Adara ketus.
“Kalian lucu tau” Laki-laki itu masih tertawa.
“Makasih” Cicit Ambar pelan, karena dia merasa Anton tengah memuji dia dan ketiga sahabat nya.
“Sama-sama cantik”
“Ekhhmm roman-roman nya ada buaya nich” Sindir Adiba pada Anton.
“Iyaa nich bestie, gue nyium bau buaya disini” Adara ikut nimbrung.
“Ini pesanan nya dek” Seorang pemilik warung kantin, mengantarkan pesanan kemeja Ayu dkk.
“Makasih mbak” Ucap Adara sopan, lalu membagikan mangkok sesuai pesanan yang lain.
“Sama-sama, pelan-pelan ya makan nya jangan kesedak soalnya itu pedes banget” Peringat mbak kantin.
“Oke—mbak” Jawab Ambar mengangguk.
“Dengerin, makanya pelan-pelan kalau kesedak lo pada bisa masuk kamar mayat” Adara ikut memberi peringatan, melihat warna merah merekah di kuah makanan itu saja membuat Adara merinding apalagi sampai memakan. Adara hanya memesan mie kuah biasa tidak pakai level pedas mampus seperti punya Ayu.
“Ya Ampun, itu merah bener kuah nya neng. Itu mie disambelin apa sambel di kasih mie?” Anton ikut ngeri melihat kuah merah dari mie dan seblak itu.
“Lo gapapa makan itu?” Revan— Dia bertanya pada Ayu yang duduk disebelah nya.
Gadis itu hanya diam, tidak menjawab bahkan melirik sedikit pun kearah Revan.
Entah perasaan Revan saja atau bagaimana, dia merasa belakangan ini lebih tepat nya setelah kejadian dirumah nya beberapa hari lalu Ayu seperti menghindari nya.
Biasa nya mereka memang jarang bertemu jika disekolah karena beda gedung, tapi beberapa kali Revan memergoki Ayu sengaja menghindari dia ketika tidak sengaja bertemu di kantin dan parkiran motor.
Gadis itu akan berbalik, memilih jalan lain agar tidak berpapasan dengan nya, ketika mata mereka bertemu tatap gadis itu akan membuang muka menghindari tatapan Revan.
Seperti sekarang, Gadis itu tidak pernah melirik sedikitpun kearah nya meski diajak biacara sekalipun.
Ternyata dugaan nya benar, gadis ini memang menghindari nya.
Tapi kenapa? Apa dia berbuat kesalahan?
Atau—
Gadis ini merasa malu pada nya, tentang kejadian hari itu?
...🌼🌼🌼...
Teletubbies gurl
💜❤️💛💚
__ADS_1