Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Pantai


__ADS_3

...*Happy Reading**đź’ś*...


“Bunga, kamu harus tau kalau kita berada diposisi yang sama.. kita sama-sama gak ingin lahir keadaan keluarga seperti ini, jadi kita butuh satu sama lain untuk saling menguatkan jadi abang harap kamu cepat pulang” Setelah mengucapkan itu Yogi bergegas menaiki motor nya untuk meninggal kan Revan dan Ayu disana.


Nyali nya sedikit menciut melihat tatapan tajam yang sejak tadi dilayangkan Revan, Yogi juga tahu untuk ukuran badan dan kekuatan dia tidak sebanding dengan Revan.


Anak STM PB tidak bisa dianggap sepele dalam hal baku hantam.


“Gue masuk” Pamit Ayu hendk memasuki pagar kost-an nya.


“Gak, lo ikut gue” Revan menarik Ayu pelan menyuruh nya menaiki motor. Ayu menolak dan bersikeras tetap masuk.


“Lo ikut gue atau gue aduin sama Adiba” Ancam Revan, karena Adiba sudah mewanti-wanti Revan jika Ayu membangkang.


“Ck!! Mau kemana” Ayu pasrah, lebih baik ikut Revan daripada harus meladeni kebawelan tiga pawang nya sekarang karena mood nya benar-benar rusak.


Motor Revan melaju keluar dari gerbang utama kompleks perumahan, setelah menempuh waktu yang hampir satu jam. Revan dan Ayu sampai di salah satu pantai yang cukup terkenal dikalangan masyarakat.


“Pantai?” Gumam Ayu, dia menatap heran pada Revan yang berjalan lebih dulu menuju tepi pantai.


Kenapa dia rajin sekali emmbawa Ayu ke panati, padahal ini sudah sangat sore bahkan di sekitaran pantai ini cukup sepi.


“Kenapa kesini?” Ayu menyamakan langkah nya dengan Revan.


“Katanya Anton disini sunset nya bagus” Jawab Revan sekena nya.


Iya terus? Kalau sunset nya bagus kenapa?


“Gue gak suka pantai” Ucapan Ayu membuat Revan sontak menghentikan langkah nya.


Revan merasa tidak enak kalau sudah begini, dia bertindak tanpa bertanya pada orang yang bersangkutan.


“*Sorry*, gue gak tau” Ucap Revan tulus.


“Kalau gitu ayo kita pulang” Ajak Revan, memutar balik kearah mereka datang.


“No, its okay” Ayu tetap melanjutkan langkah nya dan mau tidak mau Revan harus mengikuti nya.


“Kenapa gak suka pantai?”


“Emm—gue suka pantai nya…” Ayu menggantung ucapan nya.


“Tapi gue gak suka kenangan nya” Lanjut Ayu.


Revan langsung menoleh, meneliti wajah Ayu dari samping.


Cantik seperti nya tidak cukup untuk mendekripsikan wajah nya, karena dia terlihat cantik dan manis disaat bersamaan.


Bentuk wajah nya oval dengan garis wajah yang mononjol di titik-titik tertentu, hidung nya bangir dengan pangkal yang menonjol sombong menguasai bagian tengaj wajah nya.


Revan sadar bola mata Ayu berwarna cokelat gelap yang nampak serasi dengan bulu mata gadis ini yang panjang dan lentik, walaupun tidak telalu tebal. Aksesoris alami bawaan lahir dimata nya tetap menawan.


Mata Revan turun pada pipi Ayu sedikit bersemu merah sangat kontras dengan kulit putih pucat nya mungkin karena paparan sinar matahari meski sudah sore matahari lumayan panas jika dipantai.


Lalu turun pada bibir cantik nya berbentuk hati dengan bagian bawah yang penuh sedikit.


Masih terekam jelas diingatan Revan bagaimana senyum manis yang diberikan Ayu pada nya beberapa waktu lalu.


Gigi gingsul nya menambah kesan manis setiap gadis ini tersenyum, sangat pas.


Revan pikir apakah Tuhan sedang bahagia saat mencipatakan makhluk bernama Ayunina Bunga Kaureen ini? Karena setiap yang ada padanya terlihat sangat indah.


Tiba-tiba Ayu menoleh pada nya membuat Revan kelabakan membuang muka kesembarang arah.


”Ekkhmm” Revan berdehem guna mengembalikan fokus nya.


”Ada apa dengan pantai dan kenangan nya?” Tanya Revan tanpa menoleh, karena dia masih bisa merasakan jika Ayu saat ini masih menatap wajah nya.

__ADS_1


“Entalah..bukan tentang kenangan buruk, tapi gue tetap gak suka”


“Dulu gue kira..hanya kenangan buruk yang bisa menyakitkan bagi kita tapi, kenangan indah pun bisa berubah menjadi buruk seiring berjalan nya waktu dan berubah jadi menyakitkan” Ayu mulai bercerita.


“Bunda gue suka banget sama pantai”


Ayu mendudukkan diri nya di pasir putih pantai yang terasa hangat, kedua kaki nya ditekuk dengan tangan kebelakang untuk menumpu beban tubuh nya.


Revan mengikuti Ayu yang duduk dihamparan pasir putih pantai, kini kedua nya ditemani matahari yang menguning, desiran lembut angin yang menyapa dan bunyi hempasan ombak yang bersahutan.


“Oiya?” Tanya Revan antusias menanggapi cerita Ayu. Dia suka dengan Ayu yang mulai terbuka dengan perasaan nya seperti ini.


“Iyaa..dulu hampir setiap weekend bunda ngajak kepantai, piknik, berenang bahkan cuma sekedar nyari kulit kerang dihempasan air ombak”


“Sangat sederhana dan gue suka, weekend gue paling semangat karena bunda pasti ngajak ke pantai. Walau cuma kami berdua gue tetap senang banget”


“Gue kira bunda ngajak gue ke pantai karena memang beliau suka banget sama pantai, tapi ternyata enggak”


”Bunda ngajak ke pantai supaya gue senang dan merasa sama dengan anak-anak lain yang sering cerita tentang liburan keluarga mereka”


“Gue gak mikir sejauh itu karena gue pun gak pernah iri dengan cerita mereka, berada dikelurga yang gak harmonis bahkan sejak gue di dalam kandungan pun gue gak pernah iri sama keharmonisan keluarga orang lain”


“Selama gue punya bunda, gue rasa semua baik-baik aja dan itu memang benar. Bunda beri gue kebahagian dan keharmonisan melalui kasih sayang nya yang berlimpah, tanpa bantuan ayah sedikitpun”


“Gue menikmati semua nya tanpa tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran bunda sebenarnya, dia depresi berat, gangguan kecemasan dan pada puncak nya bunda gangguan bipolar”


“Saat itu gue sempat benci sama bunda, karena menurut gue berubah total dari sosok bunda yang penyayang jadi bunda yang kasar”


”Gue terlalu egois membenci bunda cuma karena dia kasar dan melampiaskan semua emosi nya sama gue”


“Bunda mulai tidak terkontrol, kadang baik banget kadang juga kasar dan banyak lagi begitu seterus nya sampai gue berontak dan kabur dari rumah”


Ayu menunduk, air mata nya sudah menumpuk di ujung mata. Jika dia berkedip maka air itu pasti tumpah.


Revan menyimak dengan baik, menatap wajah Ayu dalam dan meneliti raut wajah nya yang berubah-ubah.


”Kalau bisa diulang lebih memilih saat itu gue gak kabur dari rumah, lebih baik gue melihat semua kekacauan yang ada dirumah daripada keluar”


Ayu mengerjab, air mata nya dengan mulus meluruh dipipi.


”Andai aja gue gak gegabah berlari keluar rumah mengabaikan teriakan bunda yang manggil-manggil gue”


“Andai aja gue balik waktu bunda manggil gue..”


“Andai aja gu..gue”


Hikss hikss hikks


Isakan tangis nya terasa perih sampai ke hati Revan, ini sudah keberapa kali Revan mendengar nya menangis dan Revan tetap tidak nyaman mendengar nya.


Terlalu banyak kata ANDAI yang menari-nari didalam pikiran Ayu.


“Hiks..gue celaka karena kecerobohan gue sendirii huhu”


“Gue—gue hiks di di per..kosa aa..huhuuu”


Mendengar itu Revan tersentak, sebelum nya Revan memang pernah mendengar tentang “tidak perawan” yang diucapkan oleh Ibu tiri Ayu kala itu, tapi Revan sama sekali tidak mengira akan sejauh ini kejadian nya.


“Jijikk..gu gue jijik sama diri sendiri hiks”


Ayu menggosok wajah nya kasar sambil teris menangis.


Revan langsung meraih pergelangan tangan Ayu yang sudah memukul dada nya kuat beberapa kali.


“Stop” Bisik Revan.


Dia bisa merasakan tangan Ayu bergetar hebat digengagaman nya.

__ADS_1


“Guee udah mohon supaya dilepasin..tap tapii dia mukul gu guee” Ayu menggeleng keras, menunjukkan betapa keras usaha nya saat dia memohon untuk dilepaskan.


“Leher gue dicekik, sakit bangett..”


Revan menebak, jika saat ini tangan Ayu terlepas maka dia akan mempraktikkan nya dengan mencekik leher nya sendiri tapi tidak akan Revan biarkan.


“Toloongg..tolooonggg” Suara Ayu pelan seperti orang berbisik.


“Gue udah teriak minta tolong, tap tapii gak ada yang nolongin guee”


Ayu terus bercarita seolah-olah dia sedang berada dimasa yang dia ceritakan.


“Bundaaa! bundaaa!!” Ayu teriak memanggil bunda dan menoleh kiri kanan.


“Gue manggil bunda..kenceng bangett—tapi bunda juga gak nyamperin gue”


“Brengsek itu nampar gue sampe bibir gue berdarah..”


“Dia narik kemeja sekolah gue paksa..ditarik terus ditarik sampai semua kancing putus”


”Gue berontak..” Ayu menatap Revan dalam, menyampaikan emosi didalam hati nya.


“Gue berontak sebisa gue…tapi si brengsek itu terus mukul gue”


“hikkss hikkss GUE BERONTAK!! GUE GAK PASRAH!!” Ayu berteriak kencang.


“Revan…” Panggil Ayu pelan.


“Hm?” Jawab Revan lembut, menatap kasih pada Ayu. Dia ingin menenagkan gadis ini tapi sepertinya akan sedikit sulit.


“Gue berontak kok..hikss”


Entah siapa yang berusaha gadis ini yakin kan untuk percaya pada nya, karena Revan tisak sedikitpun berpikir buruk pada nya.


“Gue dibekap, sampai gak bisa nafas”


Mata merah nan penuh air mata nya menatap kosong.


“Cukup!” Seru Revan.


“Lo gak harus cerita semua, kalau itu bikin lo sakit..oke?”


Ayu langsung menoleh kearah Revan.


”Kenapa? Lo gak percaya sama gue?”


“Lo jijik sama gue?”


“Lo percaya kalau gue pasrah saat diperkosa itu?!”


“Enggak!!” Seru Revan setengah berteriak, apa-apaan gadis ini. Kenapa cepat sekali menuduh nya yang tidak-tidak.


“Gue percaya sama lo, gue gak jijik sama sekali sama lo karena gue tau lo juga gak mau hal itu terjadi sama lo—dan gue percaya saat itu lo udah berusaha keras melawan dia dengan apapun usaha lo” Jawab Revan cepat.


“Tapi..mereka gak percaya sama gue-“


”Mereka nuduh gue…nyalahin dan menjauhi gue”


“Gue korban..tap..tapi mereka membela si brengsek”


”Ayah guee mati-matian belain si brengsek itu, padahal gue puteri kandung nya”


Sudah tidak sanggup, Revan menarik tangan Ayu langsung merengkuh tubuh ringkih gadis itu. Memeluk nya erat memberitahu bahwa Revan berpihak padanya.


...🌼🌼🌼...


Jangan lupa vote nya yee..biar utor makin lancar update nya.

__ADS_1


__ADS_2