
...*Happy Reading**🐣*...
Tidak ada yang tahu kalau keributan yang terjadi antara tim basket puteri STM PB dengan tim basket puteri SMK sebelah beberapa waktu lalu akan berbuntut panjang.
Mereka pikir pihak setelah sekolah menyelesaikan secara kekeluargaan permasalahan akan selesai sampai disitu. Dan juga pihak STM PB tidak salah sepenuh nya.
Di senin pagi yang cerah ini beredar kabar kalau salah satu pemain cadangan tim basket puteri yang hadir dihari itu mengalami serangan brutal dari murid perempuan SMK sebelah pada sabtu sore.
Dia di keroyok seorang diri di halte yang tidak jauh dari rumah nya, kenapa mereka bisa tahu?
Orang tua dari korban lah yang melapor ke pihak STM PB, beliau memberi tahu kalau anak nya sedang dirawat inap disalah satu rumah sakit daerah. Luka nya tidak terlalu parah hanya saja sore itu warga yang menemukan nya tergeletak di lantai halte dalam kondisi tidak sadarkan diri langsung melarikan nya kerumah sakit.
“Lo udah tau belum yang anak basket di keroyok anak SMK sebelah?” Ayu mengangguk, sudah sewajar nya dia tahu karena tadi pagi pak Rahmat langsung mengumpulkan anak basket dan memberitahu langsung permasalahan nya.
“Trus kalian ada rencana apa?” Tanya Adara lagi.
“Nanti pulang sekolah mau jenguk Sindi dulu” Jawab Ayu santai.
“Ada rencana serangan balik gak?” Ayu hanya menggeleng.
*Ayu paham “Serangan balik”* yang dimaksud Adara barusan, itu ide yang bagus tetapi pak Rahmat sudah memeringati mereka agar tidak melakukan “Serangan balik”.
Apakah mereka menurut?—Oh tentu saja IYA, tapi untuk hari ini, tidak tahu kalau besok!
Semua tim basket puteri akan memikir kan nya nanti setelah melakukan introgasi langsung pada Sindi selaku korban.
.
.
.
“Gue balik sama anak basket ya, mau mampir jenguk Sindi” Jelas Ayu pada tiga sahabat nya sambil membereskan buku dimeja nya.
Biasanya Ayu akan menunggu sampai sekolah sepi baru mau pulang, tapi sekarang baru beberapa detik bell pulang sekolah berbunyi Ayu sudah bergegas pulang.
“Duluan\~” Ayu melambaikan tangan pada sahabat nya yang masih cengo ditempat.
“Kenapa Bunga buru-buru banget?” Tanya Ambar.
“Dia mau jenguk Sindi sama anak basket” Jawab Adiba dan ikut membereskan meja nya.
“Kita gak boleh ikut?”
“Gak, biarin Bunga nyelesain masalah nya sama temen nya yang lain”
“O..oke”
Ayu dan teman nya yang lain sudah janjian untuk berkumpul di parkiran motor sebelum berangkat kerumah sakit.
Sampai nya di parkiran, Ayu bisa melihat Lisa dan Nisa sudah disana lalu Ayu langsung menghampiri mereka.
“Ayu!” Panggil Lisa melambaikan tangan kearah Ayu.
__ADS_1
“Yang lain mana?”
“Masih dikelas mungkin, tadi kami kelas nya cepat selesai” Jelas Nisa.
Beberapa menit kemudian, sekitar sepuluh anggota tim basket sudah berkumpul di dekat pintu masuk parkiran membuat mereka jadi pusat perhatian beberapa murid yang lewat karena sudah pasti karena berita yang tersebar hari ini.
“Langsung cabut nih?” Mereka serentak mengangguk.
“Gue nebeng ya, gak bawa motor” Ucap Ayu dan tangan nya langsung ditarik Lisa untuk mengikuti nya.
“Bareng gue, lo ada helm?” Ayu menggeleng, hari ini berangkat sekolah jalan kaki tidak dijemput Adiba.
“Emm—pinjem helm siapa ya? Kan gak mungkin lo gak pake helm” Lisa menatap sekitar mencari bantuan.
Mata Ayu tidak sengaja menangkap kelompok laki-laki yang ada di sebelah kanan parkiran dan dia teringat ucapan Revan yang waktu itu bilang kalau Anton selalu bawa helm dua.
”Bentar” Ayu beranjak mendekati kelompok Anton, meski sedikit takut tapi karena disana ada Revan. Ayu merasa sedikit aman.
“Anton” Suara berat serak-serak basah Ayu membuat kelima laki-laki itu kompak menoleh.
“Eh ada Ayu, kenapa?” Tanya Anton, agak nya dia sedikit kaget ketika Ayu memanggil nya.
Berusah menghilangkan ketakutan nya, Ayu menatap Anton sebentar dan menatap kearah helm di tangan Anton.
”Boleh pinjem helm?” Tanya Ayu to the point.
“Hah?” Masih shock Anton jadi lemot.
“Nih” Revan langsung menyerahkan helm fullface milik nya.
“Gak!” Tolak Ayu “Pinjem punya Anton” Ayu kembali menatap Anton.
“Oh helm….bol—“ Ucapan Anton dipotong oleh Revan yang menarik tangan Ayu dan menyerahkan helm nya.
“Pakai ini aja, gue pake punya Anton. Udah sana!” Revan buru-buru mendorong Ayu dari tempat nya.
Meski bingung, Ayu tetap menurut ketika Revan mendorong nya. Lebih cepat lebih baik, Ayu sadar dengan tatapan teman Revan yang lain sejak dia memanggil Anton.
“Nasib baik banget si Anton di sapa kembang sekolah” Ucap Hendri cemberut, kan dia juga pengen.
“Iri bilang boss”
“Tapi kok Ayu kepikiran minjem helm ke lo sih?” Tanya Aldi situkang kepo.
“Gue bilang kalau Anton selalu bawa helm dua” Celetuk Revan santai.
“Kan lo lagi! Ngaku aja lo pacaran kan sama Ayu” Seru Hendri.
“Belum- maksud gue enggak!” Ketus Revan.
“Cih gue mencium bau-bau pebinor” Sindir Hendri bercanda.
“Pebinor? Apa itu?” Tanya Bima, makhluk paling pendiam diantara mereka.
__ADS_1
“Perebut Bini Orang!”
“Emang Bunga bini lo!?” Tanya Revan tidak santai.
“Duhhh santai man, hahahah” Anton ngakak parah sama Revan yang sensitif kalau sudah membahas Ayu.
“Calon bini gue tuh, ibu dari anak-anak gue” Hendri melanjutkan halu nya tanpa tahu ada hati yang kepanasan.
“Macam Ayu mau sama lo aja” Ejek Bima nyelekit.
“Udah, ayo balik” Revan melihat motor yang Ayu tumpangi sudah keluar dari gerbang sekolah diikuti sembilan motor lain nya.
“Itu anak basket puteri mau kemana rame-rame ya?”
“Katanya mau jenguk Sindi” Jawab Anton.
“Kok lo tau?”
“Tau lah, kan ada gebetan gue di sana”
“Muka lo pas-pasan, gausah belagak jadi playboy” Sindir Revan.
“Dari pada mas nya, posesif padahal bukan siapa-siapa” Sindir Anton balik.
“Lo udah ada gebetan ya? Adara buat gue kalau gitu” Ucap Aldi pada Anton.
“Enggak!!” Bentak Anton keras membuat Aldi shock berat.
Revan terkekeh geli “Sebelum ngomong, nagaca dulu mas nya” Ucap nya ketus pada Anton.
“Yang konsisten jadi cowok, kalau suka satu ya satu aja jangan tebar umpan dimana mana” Ucap Hendri tidak sadar diri.
“Murahan” Bima, si pendiam yang sekali ngomong memang suka nyelekit.
“Kayak gue, dari dulu sampe sekarang suka nya sama adik nya Revan” Lanjut Bima.
Revan langsung menatap sinis Bima, dia tidak terima kalau adik kesayangan nya di dekati sejenis buaya seperti Bima.
“Najis! Gak ridho gue adik gue sama lo” Sarkas Revan.
“Abang ipar gak boleh gitu” Rengek Bima manja sengaja untuk menambah emosi Revan.
Kontan empat teman buaya nya tertawa ngakak, menertawai nasib Revan yang punya adik cewek. Mentang-mentang mereka tidak punya adik cewek jadi bisa menertawai nya, mereka tidak tau perasaan seorang abang yang khawatir adik nya jatuh kedalam perangkap teman nya sendiri.
“Dih amit-amit” Batin Revan.
...🌼🌼🌼...
Ini nih orang nya! Cemburuan dan posesif padahal bukan siapa-siapa!
Tangkap aja mbak!!
__ADS_1
Side story!