Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Paman?


__ADS_3

...*Happy Reading**🌤*...


“Thanks yaa udah jenguk gue, mana bawa makanan banyak lagi..hehe” Meski sedang sakit, sifat ceria Sindi tidak berkurang.


“Sama-sama, lo cepet sembuh nya biar kita beri mereka serangan balik” Mendengar Sindi yang menceritakan kronologi kejadian nya membuat mereka geram.


“Hari ini udah bisa keluar gue, tapi harus istirahat dirumah dulu”


“Iyaa pokok nya lo harus cepat sembuh”


“Sindi…” Panggil Ayu yang sejak tadi dia.


“Kenapa kak Ayu?”


“Sorry ya gara-gara gue lo malah kena imbas nya” Ayu merasa semua ini adalah salah nya sendiri, karena andai saja hari itu dia bisa menahan diri untuk tidak memukul cewek berbedak tebal itu pasti Sindi tidak akan di keroyok.


“Apasih kak..bukan salah lo juga” Sudah berkali-kali Sindi bilang kalau dia baik-baik saja, sore itu dia hanya shock sampai pingsan.


“Iya Yu, ini bukan salah lo namanya tim ya harus gini nanggung penderitaan bersama” Ujar Lisa bijak.


“Udalah Yu, gausah merasa bersalah gitu. Kita malah makasih sama lo karna udah nonjok tu cewek muka tebal jadi dendam kita terbalas. Yaa meskipun gak puas” Semua anggota tim setuju dengan perkataan Nisa.


“Kalau ada rencana untuk serangan balik tungguin gue yak, gue mau ikut” Padahal Sindi masih babak belur begini sudah bahas serangan balik.


“Lo tenang aja, kita kasih serangan lebih mematikan” Mereka kompak tertawa.


“Udah mau maghrib nih, kita balik dulu ya”


“Iyaa…hati-hati ya, makasih udah dateng” Ucap Sindi tersenyum, sangat menyenangkan ternyata mengobrol banyak dengan teman tim nya dan mereka terlihat sangat peduli padanya meskipun dia masih anggota baru dan masih kelas sepuluh.


Mereka berpamitan pada Sindi dan mama nya, hari sudah hampir petang.


“Rumah lo dimana ayok gue anter” Ucap Lisa.


“Thanks tapi gue dijemput kok, lo duluan aja” Jawab Ayu.


“Dijemput siapa?” Lisa hanya perlu memastikan.


“Emm—temen, makasih yaa udah nebengin gue”


“Di jemput Revan ya?” Lisa tersenyum menggoda, sejak tadi melihat Revan yang mendorong Ayu dari kelompok nya. Lisa jadi heboh sepanjang jalan menggoda Ayu.


“Enggak, dijemput orang. Udah sana” Ayu mendorong Lisa naik keatas motor nya, teman nya yang lain sudah berpencar untuk pulang.


“Yaudah deh, bilangin Revan nya jangan ngebut-ngebut” Goda Lisa, menyalakan motor nya lalu memakai helm.


“Iya” Jawab Ayu singkat.


“Tuhkan dijemput Revan, santai Ayu gue gak ember kok” Ayu tidak percaya mengingat sifat Ayu yang banyak tingkah.


“Gue duluan kalau gitu, dadah” Lisa melambaikan tangan sebentar dan dibalas Ayu.


Ayu pun berjalan menuju halte yang ada di depan rumah sakit, setelah sampai di halte dia langsung mengabari Revan untuk segera menjemput nya.



Sambil menunggu Revan, Ayu membuka grup chat dengan sahabat nya dia yakin pasti mereka sudah menunggu kabar dari Ayu.

__ADS_1



“Bunga!”


Ayu langsung mendongak melihat siapa yang memanggil nya dan ternyata itu Revan.


“Ngapain jongkok disitu?” Revan turun dari motor nya dan mendekati Ayu.


“Lo lama” Jawab Ayu ketus.


“Sorry yaa agak macet tadi, udah ayok balik”


Ayu memasang helm pinjaman nya dan segera naik keatas motor dengan sedikit bantuan dari pundak Revan.


“Langsung ke kost?” Revan memandang Ayu dari kaca spion motor nya.


“Emm—lo lagi buru-buru?” Revan menggeleng, dia sedang tidak buru-buru dan kalau bisa dia ingin lebih lama lagi berduaan dengan Ayu.


“Boleh mampir ke minimarket dulu?”


“Boleh…” Revan tersenyum tipis, harapan nya terkabul.


.


.


.


“Lo serius beli mie instan sebanyak itu?” Revan melihat ngeri isi keranjang belanjaan Ayu yang dipenuhi mie instan berbagai rasa.


“Hemm”


“Bawel lo” Ketus Ayu.


“Kalau dibilangin itu denger, kurangin mie nya. Setok nya jangan bangak-banyak nanti lo bisa makan mie tiap hari lagi” Revan merebut keranjang Ayu dan meletakkan beberapa bungkus mie pada tempat nya semula.


“Apasih, balikin gak!?” Ayu berusaha merebut keranjang milik nya tapi apalah daya tenaga Ayu tidak sebanding dengan Revan.


“Jangan bandel” Revan menyentil pelan dahi Ayu membuat sang gadis mendengus kesal.


“Dulu tetangga gue, hari ini dia makan mie instan besok nya rumah nya langsung rame didatangin warga” Revan bercerita dengan raut serius.


“Kenapa? Dia mati?”


“Enggak, ada kenduri”


“Ishh” Kesal Ayu memukul lengan Revan.


“Hahhaha…emang ada kok orang meninggal gara-gara makan mie instan tapi bukan tetangga gue”


Saking kesal nya, Ayu langsung meninggalkan Revan tidak ingin mendengarkan lelucon garing Revan lagi cukup sekali.


“Bunga?” Langkah Ayu terhenti membuat Revan yang mengejar nya hampir menabrak punggung Ayu karena gadis itu berhenti mendadak.


“Benar Bunga kan?” Tubuh Ayu mematung, menatap orang yang baru saja menyapa nya.


Dia! Orang yang sangat Ayu hindari sejak dulu, kenapa tiba-tiba ada disini.

__ADS_1


“Bunga” Orang itu mendekat, membuat Ayu refleks mundur sampai menabrak dada bidang Revan yang berdiri tak jauh dibelakang nya.


“Kenapa?” Bisik Revan, dia menyadari perubahan wajah Ayu.


Orang itu makin mendekat membuat tubuh Ayu bergetar ketakutan, Revan yang menyadari nya pun langsung membalik kan tubuh Ayu menghadap kearah nya.


“Are you okay?” Bisik Revan pelan menelisik wajah tegang Ayu, muka nya merah dan mata gadis itu sudah berkaca-kaca.


“Bunga?” Orang itu sudah berada tepat dibelakang Ayu, membuat Revan langsung menoleh.


Seorang Pria dewasa dengan setelan formal seperti pegawai kantoran pada umum nya, pria itu menatap sendu kearah Ayu.


“Kamu Bunga kan?” Tanya pria itu lagi.


Tangan bergetar Ayu meraih lengan Revan yang masih berada di pundak nya, genggaman kuat itu membuat Revan tersadar dari pikiran nya yang menebak siapa pria dewasa itu.


“Balik aja” Revan meraih keranjang nya yang terletak dilantai dan satu tangan nya menarik pelan Ayu agar beranjak dari situ.


“Tunggu!!” Seru pria itu.


“Bapak siapa ya?” Tanya Revan berusaha sopan.


“Saya..saya—“ Pria itu terlihat gugup tetapi tetap menatap sendu kearah Ayu yang sudah bersembunyi dibalik punggung Revan.


Ayu menarik lagi lengan Revan “Kami permisi” Ucap Revan sopan.


“Tunggu!” Seru nya lagi, Revan abai. Seperti nya Ayu tidak nyaman dengan orang itu karena lengan Ayu digenggaman nya mendingin dan berkeringat.


Segera berjalan menuju kasir, berharap pria itu tidak mengikuti mereka lagi. Untung saja kasir tidak sedang antri jadi mereka bisa cepat keluar dari minimarket itu.


“TUNGGU!! BUNGA TUNGGU!!” Ternyata pria itu mengikuti mereka sampai parkiran motor.


“Ada perlu apa sih!?” Bentak Revan emosi, bodo amat dengan sopan santun.


“Bunga kita perlu bicara!” Pria itu berusaha meraih lengan Ayu namun Revan dengan cepat menepis.


“Dia tidak nyaman, jadi tolong pergi dari sini” Sarkas Revan penuh penekanan.


“Tidak, saya perlu bicara dengan Bunga” Pria itu bersikeras.


Revan acuh, dia meraih helm yang tersangkut di stang motor nya dan memakai kan pada Ayu dan gadis itu hanya diam menerima perlakuan Revan.


“Bunga!! Kita perlu bicara” Kekeuh nya.


“Enggak!” Gumam Ayu pelan.


“Ayolah, ini sudah sangat lama dan kita perlu bicara”


Helm sudah terpasang dan Revan menarik lengan Ayu agar segara naik keatas motor namun dengan cepat tangan Ayu di cekal orang itu. Revan kesal dan turun dari motor nya menarik kerah kemeja pria dewasa itu dengan kasar.


“Dia gak mau bicara sama lo jadi lepasin tangan nya” Tekan Revan mengancam.


“Bukan urusan mu!”


“Bunga paman minta maaf” Ucap nya sedih menatap sendu Ayu.


“Paman?”

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


__ADS_2