
...*Happy Reading**🌼*...
“Jadi ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi kemarin sore?” Tanya Pak Rahmat.
“Bapak dapat laporan dari guru SMK sebelah, kalau salah satu dari murid STM PB memukul murid nya sampe pingsan”
“Ada yang mau mengaku siapa pelaku nya?”
Ayu yang berada di barisan belakang angkat tangan “Saya pak” Jawab Ayu.
“Maju” Perintah pak Rahmat.
“Kenapa kamu nonjok anak orang?”
“Karena saya kesal pak” Jawab Ayu santai.
“Mereka duluan pak yang main kasar sama kita” Ucap Nisa lantang.
“Benar pak” Lisa ikut berseru.
“Kalau mereka kasar trus kalian harus balas kasar begitu!?”
“Tidak pak” Jawab mereka serentak.
“Sekarang ceritakan kronologi kejadian nya, secara detail!”
Mereka menceritakan semua kejadian yang ada di lapangan kemarin sore, mulai dari tim lawan yang memaki kasar pada mereka sampai diakhir cerita tim lawan yang dengan sengaja melempar kan bola basket ke kepala Ayu.
Pak Rahmat mengangguk paham, baik kalau begini dia bisa membela murid-murid nya di hadapan kepala sekolah dan di hadapan guru SMK sebelah yang minta pertanggung jawaban. Tapi bukti nya belum lengkap.
“Kalau bapak gak percaya, hari itu banyak kok yang nge-videoin pertandingan kita dari awal sampe akhir”
“Iya pak, saya lihat Adara yang di pinggir lapangan juga ngerekam pak. Pasti dia punya video nya”
“Panggil Adara kesini” Titah pak Rahmat, Lisa langsung pamit ke kelas XI TKJ-1.
“Sebenarnya bapak tau, kalian gak akan menganggu kalau tidak diganggu duluan. Tapi tetap saja balasan seperti itu tidak bisa di benarkan. Kepala sekolah menyuruh bapak untuk memperjelas tentang masalah ini dan juga guru dari pihak mereka minta pertanggung jawaban”
Mendengar penyataan pak Rahmat, membuat mereka langsung bisik-bisik. Memikirkan kemungkinan yang ada.
“Permisi pak” Sapa Adara sopan, dia tahu pak Rahmat sedang dalam mode serius saat ini jadi tidak boleh diajak bercanda seperti biasanya.
“Adara..apa kamu masih menyimpan video pertandingan kemarin sore?” Tanya pak Rahmat to the point.
“Masih pak, saya punya video nya lengkap dari awal pertandingan sampe lapangan sepi” Jawab Adara mantap.
“Boleh bapak lihat?”
__ADS_1
“Kamera saya ada di loker pak”
“Boleh kamu ambil sekarang? Kita harus perjelas masalah ini jangan sampai merambat ke hal lain”
“Boleh pak, kalau gitu saya ambil dulu” Adara bergegas lari ke loker nya.
“Ini pak” Adara menyerahkan kamera nya pada pak Rahmat.
Belum sempat pak Rahmat memutar rekaman video itu, datang seorang murid perempuan.
”Permisi pak….tadi pak sekolah menyuruh saya untuk memanggil bapak” Ucap nya sopan.
“Kalau begitu kalian bubar dan kembali ke kelas masing-masing, untuk sementara masalah ini bapak bicarakan dengan Pak Kepala sekolah”
”Terlepas dari kalian benar ataupun salah nanti nya, kalian tetap harus mendapat konsekuensi dari perbuatan kalian, Paham?”
“SIAP! PAHAM PAK!”
“Ini tidak bapak anggap kesalahan individu melainkan kesalahan semua anggota tim, jadi siapkan diri kalian untuk hukuman nya” Setelah menjelaskan itu pak Rahmat berlalu untuk memenuhi panggilan dari Kepala sekolah.
“Adara…ikut bapak” Akhirnya pak Samsul, Adara dan murid perempuan tadi meninggalkan lapangan indoor.
“Huhh…” Keluh mereka membubarkan diri dari barisan mereka memilih duduk di lantai.
“Sorry gara-gara gue, kalian jadi kena imbas nya” Ucap Ayu tulus, dia merasa bersalah karena melibatkan teman tim nya akibat kesalahan nya sendiri.
“Kalau menurut gue sih lo salah Yu!” Ucapan Lisa membuat semua anggota tim menatap nya tidak percaya.
“Maksud lo apa? Kenapa jadi nyalahin Ayu” Feli, pemain inti yang lain terpancing emosi.
“Ayu juga ngelakuin itu buat balasin mereka karna udah nyelakain kita” Nisa ikut nimbrung.
“Ya jelas lah dia salah…..” Lisa menggantung ucapan nya.
“Salah banget, KENAPA CUMA SEKALI NONJOK NYAAA? HARUS NYA SAMPAI BABAK BELUR DONG BIAR TAU RASA TUH CEWEK BEDAK TEBAL!!!” Suara teriakan Lisa menggema dilapangan indoor basket.
Plak!!
Nisa memukul kuat bahu Lisa, karena sudah memancing emosi mereka.
”Bisa-bisa nya lo”
“Aawwssh…sakit” Keluh Lisa karena dia mendapat banyak pukulan dari teman nya yang lain.
“Rasain lo, bikin orang kesel aja”
“Tapikan gue bener, harus nya Ayu nonjok sampai babak belur jangan cuma sekali” Ucap Lisa membela diri.
__ADS_1
“Yaa menurut lo aja, sekali tonjok aja dia langsung pingsan gimana kalau Ayu nonjok sampe babak belur bisa meninggoy tuh anak”
“Bener juga yaa”
“Tapi Ayu, tonjokan kidal lo emang warbiasah” Lisa mengacungkan dua jempol nya kearah Ayu.
“Lebih keras yang mana Yu, kiri apa kanan?” Tanya Lisa penasaran.
“Yang kiri, kenapa lo mau ngerasain?” Ayu mengangkat kepalan tangan kiri nya ke wajah Lisa.
“Hehe enggak…”
HAHAHAHAHHAHHAH
Mereka menertawai wajah ketakutan Lisa.
...🌼🌼🌼...
Setelah perbincangan panjang antara kepala sekolah dan pak Rahmat, akhir nya tim basket puteri di hukum membersihkan lapangan basket indoor dan outdoor juga harus lari mengelilingi lapangan dua puluh kali. Lapangan selebar itu mereka harus kelilingin di terik matahari ini.
“Tiba-tiba aja gitu gue ngerasa lapangan sekolah kita tambah luas” Cicit Lisa lemas.
“Udah jangan nge-bacot lagi…Ayo lari!!” Seru Nisa kuat.
“Kalian gausah ikut lari, nanti gue bilangin sama pak Rahmat aja” Ucap Ayu pada sepuluh anggota yang memang tidak ikut main di pertandingan kemarin sore, kan kasihan. Mereka ikut dihukum padahal tidak salah.
“Gakpapa kak..kita kan tim, jadi harus berbagi penderitaan dong” Ucap adik kelas Ayu.
“Widdihhh so sweet banget adik akuu” Lisa langsung merentangkan tangan hendak memeluk, tapi sang adik kelas malah mengelak dengan wajah jijik disengaja.
“Hahahahhah” Lagi-lagi Lisa jadi bahan tertawaan mereka semua.
Lima belas anggota tim basket puteri itu pun berlari berbarengan, dengan kostum basker mereka yang berwarna merah dan hitam.
Tentu saja mereka jadi pusat perhatian banyak murid, karena kebetulan sekali saat ini sedang jam istirahat.
Banyak dari mereka yang memberi semangat secara terang-terangan, ada juga yang menawarkan air minum dingin dan banyak lagi.
Untuk keputusan dan pertanggung jawaban pada pihak SMK sebelah itu adalah urusan pak Rahmat dan kepala sekolah, mereka juga tidak tahu mereka salah atau benar yang jelas. Hukuman tetap harus dijalankan.
Begitulah konsep dari STM PB, tidak ada pembenaran dari kekerasan fisik yang mereka lakukan meskipun itu bentuk pembelaan diri mereka sendiri. Pihak sekolah juga tidak akan membela murid mereka secara berlebihan tetapi mereka lebih baik memberi tindakan tanggung jawab pada korban kekerasan murid mereka.
...🌼🌼🌼...
Side story
__ADS_1