
Berdasarkan informasi dari pak samsul tadi kalau guru mereka di mata pelajaran setelah istirahat tidak masuk dan juga pak samsul memberikan mereka mengambil jam itu untuk istirahat. Seperti ke kantin atau mengganti pakaian kembali ke seragam putih abu-abu.
Masalah ijin ke guru piket itu adalah urusan pak samsul karena beliau yang memberi waktu.
Setelah berganti seragam keempat gadis itu kini berjalan menuju UKS, kalau di jam istirahat pertama biasa nya UKS sepi tidak ada anak PMR maupun dokter yang bertugas jadi mereka bisa leluasa di sana.
Bukan nya apa mereka hanya tidak nyaman jika nanti anak ada PMR yang banyak bertanya alasan mereka ke sana jadi lebih baik saat sepi saja.
“Ngapain sih narik-narik?!” Ayu langsung berucap begitu mereka masuk ruangan UKS.
“Ganti perban lo bung” Ucap ambar yang berjalan kearah lemari alat-alat anak PMR.
Adara menutup pintu dan tetap berdiri di belakang pintu itu sambil menyender, adiba mengambil gunting dari kantong plastik yang dia bawa dari koperasi.
“Siniin tangan lo!” Ucap adara, dia hendak menggunting perban di tangan ayu.
Setelah di gunting adiba beranjak ke samping dan memberikan ruang ke ambar untuk membersihkan luka itu dan membalut kembali.
Dengan kotak P3K ditangan nya ambar duduk di kursi depan ayu yang kini duduk di brankar UKS. Ayu hanya diam membiarkan ambar melakukan tugas nya.
Ambar membersihkan luka goresan di tangan ayu dengan alkohol antiseptik menekan-menekan di bagian luka yang sesekali membuat ayu meringis karena perih, setelah di bersihkan ambar mengambil obat merah meneteskan ke luka goresan itu.
“Pelan-pelan dong, perih tauk!” Ayu akhirnya protes pada ambar.
“Oh perih? Waktu lo baret pake hanger gak perih?” Ambar bertanya sinis.
Ayu tidak membalas hanya diam karena dia tau kalau salah.
“Tauk lo aneh, kalau tau bakal perih gitu jangan lukain diri sendiri dong. Giliran gini aja nyalahin orang” Adara menyindir pedas dengan pandangan mata tajam.
“Gue gak nyalahin siapa-siapa” Ayu yang merasa tersinggung pun membalas.
“Sekarang gue tanya sama lo, kenapa lo ngelakuin itu lagi?” Adiba bertanya pada ayu karena sejak kemarin malam di menahan diri untuk tidak bertanya.
“Karena kita-kita nyuruh lo pamit sama orang rumah?” Lanjut adiba bertanya.
“Bung gue minta maaf kalau omongan gue kemarin itu nyakitin lo, tapi gue gitu bukan karna gue benci sama lo” Adiba kembali berucap meski tidak ditanggapi oleh ayu gadis itu hanya mendengarkan.
“Lo nganggep kita bertiga sahabat lo gak bung?” Adiba kembali bertanya, dia ingin melibatkan ayu di percakapan nya.
“Iya” Ayu menjawab singkat.
“Kalau lo nganggep kita sahabat, please jangan kayak gini. Gue tersinggung sebagai sahabat karna lo melampiaskan emosi lo dengan kaya gini padahal ada gue, adara sama ambar di rumah itu” Adiba menunjuk tangan ayu yang masih di obati ambar.
“Gue ngerasa kita gak ada guna nya jadi sahabat kalau lo tetap nyakitin diri sendri sebagai pelampiasan emosi. Lo bisa cerita sama kita bunga. Lo gak sendirian ada kita”
“Gue gak puas” Ayu menjawab
“Iya gue tau lo gak bakal puas kalau cuma cerita sama kita, tapi setidak nya lo gak nangis sendirian bunga, Setidak nya kita bisa ngelarang lo lukain tangan lagi” Adiba berteriak mengeluarkan rasa kesal nya.
Hening sebentar
__ADS_1
“Selama ini lo tau kalau adara selalu ngatain bokap lo karna udah mukulin dan nyiksa, buat lo luka. Lo juga tau sepanik apa ambar nyariin obat kesana-sini buat ngobatin luka lo kalau di siksa sama bokap lo. kita khawatir sama lo bunga” Kedua mata adiba sudah berkaca-kaca.
Ambar sudah berhenti dengan kegiatan nya, adara juga hanya menundukkan kepala menatap lantai.
“Kalau lo juga nyakitin diri sendiri kayak gini kita harus gimana? Kita biarin? Gak bisa bunga! Lo gak ada kabar beberapa jam aja kita khawatir, gue sampe maki-maki orang karna lo gak ada kabar”
“Kita takut lo kenapa-napa, kita takut lo di siksa lagi. Karna kita gak bisa ngelakuin apa-apa buat bantuin lo didepan bokap lo. Kita cuma bisa jagain lo. Dan lo dengan santai nya nyayat tangan LAGI!!!” Adiba meledakkan emosi nya air mata nya sudah jatuh dan suara tangis pun terdengar.
“COBA LO BAYANGIN GIMANA PERASAAN KITA SAAT NEMUIN LO DI KAMAR UDAH PINGSAN DENGAN TANGAN YANG BANYAK DARAH!!” Adiba berteriak kencang dengan tangis makin deras.
“LO MIKIR KESITU GAK, JANGAN CUMA MIKIRIN PERASAAN LO!!” Adiba benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosi nya.
“Adiba udah” Adara mengelus lengan adiba berusaha menenangkan.
“Adaraa, kasih tau bunga jangan gitu lagi please, dia gak mau dengerin omongan gue”
Hiks Hiks hiks
Tangisan adiba begitu pilu. Membuat ketiga teman nya juga ikut menangis.
Adara hanya mengangguk dan ikut menangis pelan tetap mengelus lengan adiba menenangkan sahabat nya itu.
Kejadian kemarin malam memang sangat menyakitkan bagi mereka, bagaimana perasaan nya ngeliat sahabat sendiri mencoba bunuh diri padahal kalian ada disana. Rasa nya sangat tidak dianggap berguna.
“Serangan panik gue kambuh, gue juga kepikiran bunda” Kalimat yang di ucapkan ayu membuat ketiga gadis itu menatap kearah nya.
“Emosi gue udah numpuk di kepala, gue gak ada niat buat bikin kalian khawatir tapi terlalu sakit kalau gue tahan lagi” Ayu sudah menangis pilu.
Pandangan ayu menerawang, pikiran nya kembali memutar beberapa potongan memori buruk nya.
“Bungaa” Panggil ambar yang sudah mengenggam tangan ayu.
“Bunga itu bukan kesalahan lo, Semua yang lo alami sekarang bukan kesalahan lo!! Lo cuma korban” Ambar mengelap air mata di pipi ayu.
“Berhenti nyalahin diri lo sendiri!”
“Hiks hiks. Gue minta maaf karena udah bikin lo pada khawatir gue beneran minta maaf. Kalian udah terlalu sering lihat keadaan gue yang kacau, gua yang menyedihkan gue yang kesepian” Suara tangisan ayu dan ketiga teman nya bersahutan.
“Gu..guee cuma takut kalau kalian bakalan ninggalin gue karna terlalu sering liat gue yang kacau….ninggalin gue kayak bunda” Ayu masih terisak.
“Ayah selalu nyalahin gue karna milih masuk STM daripada sekolah pilihan ayah, dia selalu memaki gue berandalan cuma karna gue sekolah di sini”
“Selalu di bilang murahan dan gak berguna jadi anak. Gue pikir gue udah kebal dengan omongan jahat itu tapi gue salah, hati gue rasa nya sakit banget”
“Gue sekolah disini bukan buat jual diri atau seneng berada di lingkungan laki-laki. Gu..gue cuma mau ngobatin rasa sakit ini”
Hiks Hiks hiks
“Udah stop jangan ngomong lagi!” Ambar berseru memotong ayu yang ingin berkata lagi dia juga ikut merasa sakit ketika ayah sendiri mengucapkan kata-kata seperti itu.
Peran ayah harus nya melindungi puteri perempuan nya, jangan sampai ada orang yang melukai perasaan puteri nya tapi ayah ayu terbalik.
__ADS_1
Justru beliau lah yang sebagai ayah memberikan banyak luka fisik, dan juga mental kepada ayu sejak kecil. Dibesarkan dengan kata makian dan kata kasar, kekerasan dan juga di bandingkan dengan saudara tiri nya membuat ayu memiliki rasa takut berlebihan kepada laki-laki.
Tetapi ayu yang di paksa dewasa oleh keadaan itu mulai berpikir dan mencari kenyataan kalau tidak semua laki-laki brengsek seperti ayah nya. Mencoba kembali berinteraksi dengan laki-laki perlahan-lahan, memperbaiki sudut pandang nya terhadap laki-laki.
“Bung lo salah, kita gak bakal ninggalin lo sekacau apapun keadaan lo saat ini. Kita ada buat nemenin lo dalam semua keadaan lo” Adiba memeluk ayu dari samping, dia merasa bersalah karena membentak ayu tadi.
“Iyaa, lo jangan salahin diri lo lagi karna lo gak salah apa-apa” Ambar juga memeluk pinggang ayu dari depan.
“Bunga!! Gue bakal maki-maki lo juga karna udah nyakitin diri sendiri sama kayak si bapak badak itu!” Adara beralih meraih pundak ayu lalu memeluk ayu dari samping.
Ucapan adara barusan membuat adiba, ambar dan ayu terkekeh pelan.
“Gue tersinggung loh kalau lo bilang ayah gue badak” Ucap ayu menanggapi candaan adara.
“Bodo amat!!” Seru adara, mereka terkekeh tetap dalam posisi berpelukan, lebih tepat nya memeluk ayu.
“Udah ah awas, kayak teletubies aja berpelukan” Ayu menggeser tubuh nya berusaha melepaskan pelukan sahabat nya dan pelukan mereka terlepas.
“Lah, kan emang teletubies. Berpelukaaannnn” Ambar kembali memeluk pinggang ayu diikuti adara dan adiba yang kembali memeluk tubuh ayu dari samping.
“Eh bentar…..kalau ayah nya ayu badak, berarti ayu…anak badak? Wkwkwkwkwk” Adara tertawa ngakak dengan pendapatan nya sendiri.
“Iya ayu kan badak” Adiba juga ikut tertawa, jadi mereka semua tertawa melupakan masalah yang tadi.
Padahal mah tadi nangis-nangis bombay sekarang malah ngakak gak jelas dasar anak labil.
Tanpa mereka sadari ada orang lain lagi di dalam UKS itu, yang sejak tadi juga mendengarkan semua percakapan mereka.
🌼🌼🌼
Ini tentang anak perempuan yang hidup, tapi berkali-kali di matikan.
Yang raut wajah nya selalu terlihat bahagia tapi hati nya sangat terluka.
Anak perempuan itu sangat terluka
Bukan karena cinta.
Ingat, bukan karena cinta.
Tapi hal-hal yang ia percaya
tidak sesempurna apa yang ia lihat.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terimakasih buat yang selalu like setiap bab di cerita ku.
Jangan lupa tambahkan ke favorito
Like, comment nya juga dunggg
__ADS_1