Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Yogi II


__ADS_3

...*Happy Reading**đź’ś*...


Hari ini Ayu berencana untuk pulang ke-kost dengan jalan kaki, karena memang jarak nya tidak terlalu jauh. Hitung-hitung olahraga di sore hari apalagi Ayu paling malas untuk olahraga.


Tapi rencana tinggal rencana, tiga sahabat nya malah menjebak nya untuk pulang diantar Revan yang kebetulan mereka berpapasan di koridor kelas.


“Van!! Mau pulang yah?” Adiba menyapa Revan, dia langsung mengalihkan perhatian dari ponsel dan menatap mereka.


“Oh? Iya nih” Jawba Revan.


“Langsung balik kerumah gak nih?” Ucap Adiba berbasa-basi.


“Iyaa langsung balik, kenapa?”


“Emm—boleh nitip Bunga pulang gak?” Adiba menunjuk Ayu yang melamun.


“Eh! Apaan?” Sewot Ayu.


“Tadi dia berangkat nya bareng gue, tapi gue ada ekskul hari ini pulang sorean. Jadi nih anak gak ada temen pulang” Jelas Adiba mengabaikan pelototan Ayu.


“Gak! Gak ada, gue pulang jalan kaki aja” Tolak Ayu.


“Boleh yaa Van?” Bujuk Adiba, dia masih diam menunggu Ayu mau atau tidak.


“Gak masalah kalau gue mah”


“Yaudah, thanks Van. Sana lo balik sama Revan jangan pulang sendirian” Adara menolak punggung Ayu pelan kearah Revan.


Ini kenapa Ayu merasa sedang dijual oleh tiga sahabat nya.


“Balik gih, kita udah mau langsung ekskul..hush hush” Ambar dengan tega nya mengusir Ayu.


“Ayo” Ajak Revan, dia tidak keberatan sama sekali karena pada dasarnya dia juga ingin tahu dimana tempat kost Ayu. Belakangan ini mama nya sibuk menanyakan kabar Ayu dan lain-lain.


“Gausah, gue jalan kaki aja” Jawab Ayu menolak ajakan Revan.


“Bung, tadikan gue udah cerita kalau Yogi lagi nyariin lo. Kalau lo pulang sendiri takut nya dicegat sama dia ditengah jalan trus diseret pulang kerumah ngadu sama bokap lo. Gimana?” Jelas Adiba.


“Iyaa untuk sementara lo gabisa balik sendirian atau berangkat sendirian, Yogi pasti lagi mikirin cara buat tau alamat lo” Ambar ikut menimpali.


“Udah gausah mikir lagi, balik sama Revan aja dijamin aman dari gangguan Yogi” Adara kembali mendorong punggung nya.


“Ck..yaudah!” Ayu setuju kalau dia tidak akan aman jika sendirian pulang, mengingat Yogi sering memaksa dia untuk pulang.


*“Okee by bestie*, ati-ati lo ya bawa temen gue” Adara langsung dadah-dadah.


“Kalau lo liat ada cowok nyamperin dia langsung gebukin aja, gue yakin lo yang menang” Adiba memberi saran yang sesat.


“Papay Bunga, kita pergi dulu\~\~” Ambar menarik dua orang itu sebelum banyak saran sesat lagi keluar dari mulut Adiba.


“Ayo” Ajak Revan lagi, melangkah duluan.


Sementara Ayu hanya mengikuti dari belakang. Dan sampai di parkiran Ayu langsung menghampiri motor Adiba untuk mengambil helm nya.


Sepanjang perjalanan sepi, tidak ada obrolan dari kedua belah pihak. Hanya suara kendaraan lain dijalan yang ramai.


Sampai tiba di lampu merah, Revan bersuara.


”Mama nanyain lo” Ucap Revan, menoleh sekilas agar Ayu tahu dia berbicara pada nya.


“Hah?” Ternyata ucapan Revan tidak diterima dengan baik.

__ADS_1


“Mama nanyain lo” Kali ini suara Revan sedikit keras.


“Oohh…belum sempat kesana” Nanti—Ayu berencana untuk mengunjungi Dokter Risa kan sudah janji sebelum keluar dari rumah Revan.


“Mama nanyain lo kost dimana sama gue, padahal kan gue gak tau”


“Hahaha” Ayu terkekeh pelan.


“Nanti minta nomer mama lo deh biar gue kabarin” Lanjut Ayu.


Lampu merah sudah berubah hijau dan obrolan singkat mereka pun selesai, begitu memasuki kompleks kost-an nya mata Ayu menyipit melihat motor yang terparkir tepat di depan pagar kost-an nya tentu saja juga dengan laki-laki yang duduk diatas motor nya.


“Sialan!”


Motor Revan berhenti sesuai instruksi Ayu, bertepatan itu Yogi langsung melihat kearah Revan dan Ayu.


Ayu turun dari motor, menatap tajam Yogi.


”Ngapain lo?”


“Bunga” Sapa Yogi sambil tersenyum.


”Baru pulang?”


“Cih basi-basi”


“Gausah basa-basi, ngapain lo disini!?”


“Mau nemuin kamu” Jawab Yogi


“Pergi!”


“Bunga jangan gini”


“Abang gak akan mengganggu mu tapi jangan nyuruh abang pergi”


“Gue gak peduli, gue bilang pergi ya pergi”


“Abang cuma mau ngomong sebentar, kamu kenapa pergi dari rumah?” Yogi mengabaikan kehadiran Revan yang setia menonton keributan mereka.


“Peduli apa lo?”


“Abang peduli Bunga!!”


*“Stop!!* Gausah banyak bacot pergi dari sini atau gue suruh seret security!!?”


“Bunga—“


“Pergi!!!” Teriak Ayu.


“Gimana abang bisa pergi saat adek ku seperti ini?” Ucap Yogi frustasi.


“Seperti ini? Apa maksud lo dengan kata seperti ini?” Sinis Ayu


“Kamu lagi gak baik-baik aja Bunga, jangan seperti ini. Kabur dari rumah bukan solusi biar kamu ngerasa baik-baik aja”


“Gue jauh lebih baik-baik aja, setelah kekuar dari neraka itu”


Yogi terdiam.


“Abang khawatir kalau kamu benar-benar keluar dari rumah Bunga”

__ADS_1


“Khawatir? Bertahun-tahun gue lo abaikan dan sekarang lo sok khawatir?”


“Maaf, maafin abang”” Ucap Yogi tulus.


“Lo minta maaf untuk apa?”


“Enak bilang maaf semudah itu?


“Bertahun-tahun lo ngabain gue, dan sekarang semudah itu minta maaf sialan?”


“GUE TAU LO GAK TULUS!! LO GAK PEDULI SOAL APAPUN!!” Teriak Ayu, sungguh emosi nya tidak bisa ditahan lagi.


Revan sudah turun dari motor nya dan jalan mendekat kearah Ayu, dia tahu ini bukan hak nya untuk ikut campur tetapi dia tidak akan membiarkan Ayu meledak dengan emosi nya. Terlalu fatal jika Ayu meledak dan mencari pelampiasan buruk lagi.


“Abang minta maaf, abang salah” Mata nya berkaca-kaca dan merah, seperti orang hendak menangis.


”Abang berada diposisi yang serba salah Bunga, ini bukan sepenuhnya salah kami karena hadir ditengah-tengah keluarga kalian. Kalau bisa memilih abang juga gak berada diposisi ini”


“Jadi ini salah siapa? Salah gue? Salah bunda gue karna lengah menjaga suami nya wanita ular itu?”


“Ini salah Ayah!!” Nada bicara Yogi meninggi.


“Kalau dia tidak datang dengan seribu janji manis nya pada mama yang saat itu memang sudah lelah dengan hidup nya sendiri. Kami gak akan pernah hadir diantara kalian” Yogi sudah memelankan nada suara nya.


“Mama juga punya trauma dengan keluarga nya sendiri, mental mama bermasalah sejak dulu. Abang gak bisa seenaknya buat mihak siapa”


“Gimana sama gue?” Tanya Ayu sarkas.


”Apa menurut lo mental gue baik-baik aja setelah dilecehin sama om bejat lo?”


“Nyokap lo gak cukup cuma jadi simpanan, dia bersikeras, dia serakah mau jadi istri sah tanpa mikirin akibat dari keserakahan nya”


“Sebelum meninggal bahkan bunda lebih tersiksa dari sekedar sakit mental, dia sekarat”


“Lo bilang lo berada di posisi serba salah? Gak bisa milih untuk mihak siapa?”


”Lo tenang aja gue gak pernah berharap lo ada dipihak gue, dari dulu sampe sekarang sedikit pun gue gak pernah berharap”


“Begitu juga dengan ayah, gue udah nyerah sama apapun yang berhubungan sama kalian. Keluarga udah gak ada arti lagi dalam hidup gue”


”Semua ninggalin gue cuma karena kesalahan yang gak gue perbuat.


“Lo bilang kalau bisa milih lo gak mau diposisi ini? Gue juga kalau bisa milih gue gak mau lahir dimuka bumi ini”


“Bunga abang minta maaf..” Yogi maju selangkah refleks Ayu melangkah mundur sampai menabrak dada bidang Revan yang memang sengaja berdiri dibelakang nya.


“Maaf…” Yogi maju lagi, dia ingin segera menarik Ayu dalam pelukan nya dan memberi tahu kalau dia masih punya keluarga yang peduli padanya.


“JANGAN MENDEKAT!!” Teriak Ayu lantang, punggung nya makin menempel dengan dada Revan. Nampak nya laki-laki itu tidak mengelak ataupun menghindari nya, dia tetap berdiri ditempat nya kokoh.


Ayu pun tidak mengelak, entah lah rasanya hari ini Ayu butuh sandaran.


“Bung—“ Yogi ngotot ingin merengkuh tubuh rapuh Adik tiri nya.


“Cukup, dia gak mau lo sentuh” Revan memotong ucapan Yogi dengan datar.


Yogi langsung melihat tajam kearah Revan, kenapa laki-laki itu selalu ada disekitar Ayu apa mereka dekat.


Bagaimana bisa? Bukan nya Ayu takut pada laki-laki?


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


Utor lagi sedih, banyak yang komen lanjut, next, crazy up. tapi gak mau kasih vote…wessh lah walaupun gak ada vote utor usahain tetap up :)


Btw tengkiyu yaa udah mau repot-repot baca. Cerita utor.


__ADS_2