
...*Happy Reading**đź’ś*...
“Lo gapapa makan itu?”
Hening—
Gadis yang ditanyai tidak menjawab ataupun melirik si penanya barusan.
“Gapapa Van, Bunga udah biasa makan makanan pedes. Pencernaan nya udah mati rasa kayak orang nya” Celetuk Ambar, berusaha mencairkan suasana canggung yang di ciptakan Ayu.
“Eekkhm…bagus lah” Kalau bisa jujur, Revan memang sedikit khawatir melihat kuah pedas dari mangkuk milik Ayu.
Revan memang bisa makan pedas tapi selalu dalam batas wajar, karena kalau kelewatan mama Risa bisa ngamuk-ngamuk dari senin sampai minggu.
Keenam orang itu melanjutkan makan tanpa obrolan sama sekali, takut nya kalau mereka ngobrol trus ada part ketawa nya yang bisa bikin ciwi-ciwi pecinta pedas itu kesedak kan bahaya.
Sesekali Revan memperhatikan Ayu yang makan dengan tenang, terlihat sangat menikmati dan tidak ada tanda-tanda gadis itu merasa pedas. Sedangkan Ambar dan Adiba sudah mulai seperti ular yang berdesis-desis kepedasan.
“Selain pencernaan dan orang nya yang mati rasa, apa lidah nya juga mati rasa?” Revan mengoceh dalam hati, mengutuk Ayu yang makan tanpa beban sedangkan dia khawatir.
Adara sudah selesai makan karena memakan mie kuah normal nya lebih baik dan bisa cepat, mangkuk nya sudah bersih mengkilat seperti sudah dicuci
“Jangan mubazir makanan, masih banyak diluar sana orang yang gabisa makan!”
Prinsip hidup Adara yang dia junjung tinggi, Adara sering menegur tegas Ambar yang sering menyisakan makan bukan sengaja tapi memang kapasitas perut Ambar yang sedikit, jadilah dia sebagai tempat penampungan akhir untung saja porsi makan nya banyak. Jadi bisa mempertahankan prinsip hidup nya.
“Habisin seblak setan lo, gue gak bisa nampung itu” Adara lebih dulu memperingati Ambar yang sudah seperti ular, mendesis.
“Habis ini mah, kan gak pake nasi” Ambar sudah memperhitungkan nya lebih dulu kalau sekiranya semangkuk seblak muat di perutnya dia paham kalau Adara tidak bisa jadi penampung kali ini.
“Pintar” Adara mengacungkan jempol.
Ayu juga sudah selesai makan, mengambil tissue membersihkan bibir nya.
Ketika hendak meraih gelas es jeruk dingin pakai es nya, Revan lebih dulu meletakkan botol air mineral di dekat Ayu.
“Minum air putih dulu” Suruh Revan pada Ayu, gadis itu langsung menoleh heran pada sikap Revan.
Mata Revan langsung terfokus pada bibir Ayu yang 3M. Merah, merona dan—menggoda iman(?)
Wkwkwkwkwk
Revan langsung membuang muka, melanjutkan makan nya.
*“Gak baik, habis makan pedes minum es. Nanti bisa radang tenggorokan” Jelas Revan, dia tidak mau dikira sok care* meski sebenarnya memang care.
“Gak” Ayu menggeser botol air mineral kearah Revan, meraih gelas es jeruk dingin pakai es nya dan menyeruput penuh khidmad.
(Kan jadi kebiasaan ngetik es jeruk dingin pakai es, ck gara-gara Ambar sih)
“Buat gue aja Van, gue juga habis makan pedes. Takut radang tenggorokan nih” Ucap Ambar dengan nada sedikit manja.
“Dih, jangan jadi buaya betina dah lo” Adara langsung ngomel.
“Issh, gue kan cuma gak mau kena radang tenggorokan” Ambar menggeser es jeruk dingin pakai es nya pada Revan.
“Tuker aja ya, belum gue apa-apain kok…hehe” Revan hanya mengangguk dan sedikit tersenyum masih shock dengan penolakan Ayu dan emm—bibir 3M.
“Jangan mesum anj” Batin Revan mengutuk jiwa lelaki normal nya yang bangkit disaat tidak tepat. Emang tepat nya kapan?
“Thank you” Seru Ambar senang kembali duduk dan berusaha membuka tutup botol itu tapi tidak bisa, mungkin karena tangan nya licin.
“Sini” Anton sigap meraih botol itu dan dengan mudah membuka tutup botol itu.
“Lo berdua cocok deh, satu nya buaya betina satunya lagi buaya jantan” Ucap Adara bertepuk tangan.
“Gue cubit pake gunting kuku mau?!” Ambar kesal, padahal niat nya baik menyelamatkan Revan dari rasa canggung dan malu setelah dapat penolakan dari Ayu.
Begitu juga Anton, niat nya baik untuk membantu orang yang lagi kesulitan.
(Cocok kan? Sama-sama punya niat baik(?)
Bukan kah niat baik harus disegera kan?)
__ADS_1
Semua sudah selesai makan, Adiba dan Anton sedang mengobrol tentang beberapa hal dan Adara sedang bermain ponsel.
Tiba-tiba…..
“Bung, bibir lo cipokable banget”
*Ctarr**⚡️⚡️*
Anggap saja bunyi petir di pikiran Ayu, sangat terkejut dengan ucapan Ambar yang sangat tidak tepat waktu. Kalau cuma mereka berempat Ayu tidak apa masalah nya disini ada dua laki-laki, ingat laki-laki.
“Anjir muncung nya lantam dan tidak tau diri!” Adiba menoyor kepala Ambar dengan senang hati, sampai Ambar oleng kearah bahu Anton.
Eh kok keras? Ini bahu Anton apa bahu jalan?
“Eh sorry” Cicit Ambar, sebodoh-bodoh nya dia. Ambar tahu bersandar kepundang laki-laki yang bukan milik kita itu pamali.
Takut nya nyaman dan baper.
“Gapapa” Anton tersenyum tipis, sejenak dia bisa mencium aroma lembut dari rambut Ambar.
“Ck, gue duluan” Ayu kepalang malu dengan tingkah Ambar. Bergegas keluar kantin.
“Gue duluan” Revan juga bangkit dari duduk nya, berlari kecil keluar kantin.
“Kenapa tu orang dua?” Kembali lagi dengan Ambar.
“Gara-gara lo dodol, Bunga jadi canggung” Adara mengutuk Ambar dan pengikutnya.
“Dengerin mami yaa sayang, lain kali kalau mau ngomong itu kamu filter dulu, kamu pikir dulu. Lihat situasi dan kondisi nya pantes gak buat ngomongin hal itu? Ada orang yang tersinggung gak kalau kamu ngomong itu”
Adiba menjelma menjadi sosok mami penyayang, menjelaskan dengan lembut. Adiba tahu sahabat nya ini tipe orang yang di kasarin makin menjadi-jadi, bicara lembut adalah solusi nya.
Tapi tidak selalu begitu, kadang Adiba akan menabok langsung pada tempurung kepala nya karena saking emosi nya.
Yaa namanya juga manusia, persahabatan mereka memang se-sehat itu dan se-ribut itu.
“Bunga!!”
“Bunga!!”
Ayu tahu itu Revan, karena mengenal suara nya dan siapa lagi yang memanggil dia dengan nama BUNGA di sekolah ini selain tiga sahabat nya. Cuma Revan.
Tiba-tiba, tubuh jangkung Revan sudah berada di depan Ayu membuat Ayu yang tak siap terlambat rem akhirnya menabrak dada Revan.
“Njir keras, itu dada orang apa dada patung garuda?” Batin Ayu mengutuk.
“Gue mau ngomong” Ucap Revan, menghalang langkah Ayu yang berusaha kabur.
“Ck-“ Ayu berdecak karena langkah nya di hadang.
“Apa?” Ketus sekai nona ini.
“Lo menghindar dari gue?” Revan harus bertanya pada orang nya langsung bukan, untuk menghindari salah paham.
“Gak”
“Lo menghindar!” Tegas Revan.
“Gue bilang gak ya gak, awas” Ayu mendorong tubuh Revan kuat, tapi Revan tidak bergeser sedikitpun.
“Lo menghindar dari gue, gue mergokin lo beberapa kali ngindarin gue”
“Emang kita deket sampe lo ngerasa gue hindarin?”
“Sebelum nya lo gak kaya gini” Ucap Revan.
“Sebelum nya bahkan kita gak saling kenal” Ayu menatap Revan tajam.
“Gue tau, tapi jangan kayak gini. Kalau gue buat kesalahan sama lo gue minta maaf” Ucap Revan frustasi, dia tidak bisa jika Ayu tiba-tiba menghindar.
Dahi Ayu mengernyit bingung, kenapa laki-laki ini meminta maaf padahal tidak berbuat salah apa-apa. Ucapan nya juga terdengar tulus bukan seperti terpaksa, tapi apa dia se-positif itu? Ketika orang lain menghindari nya maka dia akan menyalahkan diri dan meminta maaf dengan tulus.
Apa dia tidak berfikir dulu penyebab orang itu memghindari nya?
__ADS_1
Lalu? Apa penyebab Ayu berusaha menghindari laki-laki ini.
Malu.
Ayu malu padanya, dengan kejadian beberapa hari lalu. Revan mendengar semua permasalahan hidup yang dia alami, kalau masalah penyakit mental Ayu tidak masalah jika Revan mengetahui nya toh Revan sudah pernah menemui nya dengan tangan tersayat dan berlumuran darah di kamar.
Tapi ada satu masalah yang selama ini sangat Ayu jaga agar tidak diketahui orang lain, bahkan dia rela jadi korban bully se-masa SMP daripada harus menceritakan kejadian itu. Membiarkan orang lain berspekulasi buruk tentang dirinya, selama ada tiga sahabat nya Ayu yakin dia baik-baik saja.
“Gue minta maaf kalau buat kesalahan sama lo” Ucapan Revan menyentak Ayu dari pikiran nya.
Kembali menatap mata Revan yang terlihat frustasi entah karena apa Ayu tidak tahu, tapi kenapa dia terus meminta maaf? Dia tidak salah Ayu lah disini yang salah.
Menarik orang lain kedalam hidup nya yang gelap, sudah berapa kali laki-laki ini menolong Ayu, melindungi nya dan menenangkan nya.
Ayu pikir dengan mengetahui fakta bahwa Ayu pernah mengalami pelecehan seksual, Ayu pikir setelah mendengar perkataan ibu tirinya hari itu Revan akan menatap nya jijik seperti para siswa laki-laki di masa SMP nya.
Tapi tidak!
Revan malah, mengejar nya dan meminta maaf padanya tanpa menanyakan alasan gadis itu menghindari nya.
Ayu yakin bukan karena Revan malas bertanya, tapi memang seperti nya itu tidak penting baginya. Menyamping kan penyebab lalu dengan rendah hati menawarkan solusi.
Menurut Ayu, lebih baik dipandang dengan jijik daripada dipandang kasihan oleh orang lain. Di kasihani adalah hal yang paling Ayu hindari karena dia sendiri tidak pernah meng-kasihani dirinya, dia tidak selemah itu sampai harus dikasihani.
Lagi-lagi Ayu tidak menemukan pandangan kasihan dari mata Revan, lebih terlihat rasa bersalah di mata nya.
“Lo gak salah apa-apa” Jawab Ayu akhirnya.
“Apapun itu, gue minta maaf dan jangan menghindar”
Tahu apa yang Ayu rasakan sekarang?
Dia takut.
Takut ketika merasa nyaman dan aman terhadap seseorang, orang itu akan pergi meninggal nya seperi yang dilakukan bunda nya.
Bagaiman dengan ketiga sahabat nya?
Yaa…tiga orang itu sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan nya, terlepas dari maut yang sudah di tentukan Tuhan itu diluar kuasa manusia.
Tapi Ayu percaya, tiga sahabat nya tidak akan ingkar janji. Ayu yakin itu.
Lalu bagaimana dengan Revan?
Apa laki-laki ini mau berjanji dan menepati janji?
Karena jujur saja, Revan laki-laki pertama yang berhasil memberi Ayu rasa nyaman dan aman jika Revan berada disekitar nya.
Bahkan Ayahnya sekalipun tidak bisa memberi dia rasa nyaman dan aman itu.
Ayu sudah memutuskan, daripada menghindar dan ketakutan. Lebih baik dia memaksa laki-laki ini berjanji agar terus berada disisi nya dan harus memaksa jangan ingkar janji.
Yaa— seperti nya ide bagus.
“Eh?” Revan sedikit tersentak, ketika melihat Ayu tersenyum.
Bukan senyum yang dipaksa, tapi senyuman lebar dan emm—manis.
...🌼🌼🌼...
Bukk!
Ehh…apa itu yang jatuh? (Mempanik)
Ohhh HATI AYUUU (menglega)
🤣🤣🤣
Bagaimana bisa Ayu (dibaca author) tidak jatuh jika abang se-tampan ini.
Eh eh eh (mempanik)
__ADS_1
*Setampan ini maksud nya**🥺*