
...*Haopy Reading**🌼*...
Seorang gadis kecil berumur 10 tahun sedang berdiri didepan sebuah restorant mewah, dia menunggui paman nya yang sedang berada didalam. Tidak diperboleh kan untuk masuk oleh pegawai karena penampilan nya yang lusuh, muka pucat, rambut acak-acakan terlihat seperti anak gelandangan.
Pintu restorant terbuka dan dia melihat seseorang yang dia tunggui keluar dari sana bersama seorang wanita.
“Paman?” Panggil nya lirih, menarik pelan ujung kemeja sang paman. Membuat langkah pria itu terhenti.
“Paman juga malu padaku kan?” Dia Menunduk, tidak berani menatap mata tajam sang paman.
“Itu sebab nya paman mengabaikan ku kan?”
“Tidak apa-apa” Dia menggeleng sambil memaksakan senyum.
“Teman-teman dan guru ku juga melakukan nya juga—ayah”
“Bunda juga bilang kalau aku tersesat, jangan sebutkan alamat dan nomor telepon”
“Setiap bunda mabuk, katanya lebih baik kami mati saja. Haha” Air mata nya sudah membasahi kedua pipi chubby nya.
“Paman…apa mati itu memang lebih baik?” Tanya gadis itu putus asa.
Sang paman tidak menjawab apapun, tetapi membiarkan gadis kecil itu terus berbicara.
“Daripada mereka yang mengejek ku anak kotor, ternyata paman lebih jahat. Hiks”
“Tapi aku tidak benci paman kok, hehe” Meski sudah menangis, gadis kecil itu tetap memaksakan senyum manis nya.
“Paman baik, tidak seperti ayah dan aku menyukai paman”
“Aku takut, kalau aku membenci paman, aku tidak punya lagi orang yang aku sukai karena aku hanya menyukai bunda dan paman saja”
“Memikir kan nya saja membuat hati ku sakit. Makanya aku tidak bisa membenci paman”
“Kata bunda dia sangat menyayangi paman, jadi aku mohon jangan membenci bunda”
“Terimakasih sudah menyayangi ku, dan maaf kan aku karena membuat paman malu tetapi aku sebenarnya juga tidak ingin itu terjadi”
”Aku juga sudah berusaha melawan dia, tapi tenaga ku tidak kuat. Aku menyesal karena merengek saat paman menyuruh ku ikut akademi bela diri”
“Bunda juga bilang..aku terlalu kecil untuk ikut akademi bela diri, tapi kalau tau akan begini aku lebih baik percaya paman saja…haha bunda mungkin tidak tahu kalau anak nya akan dilecehkan”
Pria itu tetap diam ditempat tanpa sepatah kata, gadis kecil itu pikir mungkin sang paman memang sangat malu padanya sampai mengabaikan nya.
Menghapus air mata “Aku berjanji tidak akan menemui paman lagi dan aku juga berjanji untuk menjaga bunda dengan baik” Ucap gadis itu memasang senyum terbaik nya.
“Dadah paman” Setelah melambaikan tangan nya lucu, gadis kecil itu berlari menjauh dari sang paman.
...🌼🌼🌼...
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Ayu mengalah dan mengikuti kemauan paman nya dan yaa—sekarang mereka sudah duduk bersama di sebuh caffe disamping minimarket.
“Ingin bicara apa?” Tanya Ayu setelah lama hening.
“Mau pesan makan atau minum dulu?” Tanya nya lembut.
“Tidak perlu! Langsung saja, anda ingin bicara apa?” Ucap Bunga menolak.
Mengabaikan penolakan Ayu, paman nya tetap memanggil pelayan untuk memesan.
”Emm—Bunga masih suka ice cream mangga kan?” Tanya nya semangat.
__ADS_1
“Ice cream mangga nya satu mbak, yang jumbo yaa..sama jus mangga nya dua” Meski Ayu tidak menjawab pertanyaan nya sang paman tetap memesankan ice cream kesukaan Ayu.
Ayu menatap dalam pria dewasa yang ada dihadapan nya, pria ini adalah paman yang dulu sangat dia sayangi melebihi rasa sayang nya pada sang Ayah.
Tapi itu dulu—sekarang tidak ada rasa sayang sedikitpun dihati nya tersisa untuk orang yang dulu dia panggil paman.
“Apa kabar Bunga?” Tanya sang paman.
“Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja” Jawab Ayu.
“Kamu sudah tumbuh besar dan cantik ya” Dia tersenyum, menatap lekat wajah Ayu.
“Dia pacar kamu?” Menunjuk Revan yang duduk disebelah Ayu.
“Jangan basa-basi lagi atau saya pergi dari sini!”
Pria itu menatap Revan memberi kode pada Revan untuk meninggalkan mereka berdua dan Revan paham seperti nya mereka akan membahas hal pribadi yang Revan tidak boleh ketahui.
Geseran kursi Revan membuat Ayu langsung menoleh kearah nya.
”Gue tunggu diluar ya” Revan mengusap lembut pucuk kepala Ayu.
“Enggak!” Ayu menggeleng meraih jemari Revan dan memaksa nya untuk duduk kembali.
”Disini aja…gue takut” Bisik Ayu pelan, menggenggam kuat jemari Revan.
Revan menurut, dia duduk dan membawa genggaman tangan mereka keatas paha nya lalu memberi usapan lembut guna menenangkan Ayu.
“Cepat bicara” Ucapan Ayu menyentak lamunan sang paman.
“Baiklah” Tersenyum miris melihat Ayu yang sangat membenci nya.
“Paman minta maaf” Cicit nya pelan.
“Karena paman mengabaikan kamu dan bunda dulu, demi apapun paman juga tidak ingin seperti itu”
“Benarkah? Tapi saya pikir tidak begitu” Ucap Ayu sinis.
“Anda dan keluarga anda mencampak kan bunda saya hanya karena dia memilih menikah dengan pilihan nya dan menolak dijodohkan”
”Tidak hanya di campak kan, kalian juga tidak memberikan hak yang seharus nya milik bunda saya” Ucap Ayu menggebu.
“Kami hanya tidak ingin kakak memberikan semua harta warisan kakek pada pria miskin itu”
“Kami tidak ingin bunda mu dibodoh-bodohi oleh pria miskin yang mengincar harta nya"
“Dengan mencampak kan nya?” Skak Ayu.
“Kalian tau sesusah apa hidup bunda saya karena semua perlakuan kalian? Tidak cukup dengan mencampak dan menahan hak nya dengan kekuasaan juga kalian mempersulit bunda mencari pekerjaan”
“Saya tidak tahu kenapa kalian sebenci itu, sampai di memohon maaf beribu kalipun tidak kalian maafkan”
”Apa hanya karena kesalahan itu kalian memutuskan hubungan keluarga, hubungan anak dan orang tua juga kakak dan adik”
“Itu masalah orang dewasa, kamu tidak akan mengerti” Ucap paman nya lembut.
“Dulu memang saya tidak mengerti tetapi ketika bunda sakit sampai meninggal, perlahan saya mengerti. Keluarga seperti apa yang dimiliki bunda”
“Dan—setelah saya mengalami nya sendiri, saat ini saya sangat mengerti”
Revan tidak melepas pandangan nya dari wajah Ayu, meski memasang wajah datar tapi di mata nya dapat Revan lihat ada kekecewaan yang besar disana.
__ADS_1
“Ucapan kami terbukti bukan? Pria miskin itu bukan pria baik-baik karena apa, dia berselingkuh sampai selingkuhan nya melahirkan anak. Kamu pikir kami tidak tahu?” Tidak ada lagi nada lembut terdengar.
“Lalu….dimana kalian saat itu?”
Pria itu terdiam, rasa bersalah nya kian besar.
“Menertawai penderitaan bunda? Berbangga diri diatas penderitaan nya?”
“Entah dosa apa yang pernah bunda perbuat sampai hidup nya benar-benar menderita, dicampakkan keluarga, penghianatan suami—“
“Dan memiliki anak seperti saya…” Cicit Ayu pelan, hati nya terasa ngilu jika sudah mengungkit kehidupan bunda nya yang berat.
“Di detik-detik terakhirnya, bunda masih sempat meminta saya untuk menyampaikan permintaan maaf nya pada keluarga yang sudah mencampakkan nya”
”Saya kecewa, sebagai satu-satu nya orang yang merawat bunda. Saya tidak mendapat perkataan apapun untuk bekal saya hidup sendiri setelah kepergian nya”
“Bukan nya menyesal karena harus meninggalkan saya, bunda justru menyesal karena tidak dapat maaf dari keluarga nya…i”
”Bunga maaf kan paman…” Ucap nya tulus penuh penyesalan.
“Sekarang kakek dan nenek sudah memaafkan kakak dan menyuruh paman untuk membawa pulang cucu nya”
“Hahahahhaha” Tawa yang dipaksa.
“Cucu? Hahahahahha” Ayu tertawa lagi, sampai pengunjung lainmelirik aneh kearah nya.
Revan mempererat genggaman mereka, demi apapun tawa Ayu terasa sangat menyakitkan.
”Dulu anda dan keluarga anda mengabaikan saya karena malu bukan? Anda malu punya keponakan yang korban pelecehan seksual bukan? Bahkan ketika saya berkali-kali menjelaskan kalau saya juga tidak mau mengalami hal itu anda malah tidak pernah melirik saya sedikitpun”
“Dulu paman terlalu bingung dengan keadaan, kakekmu marah besar ketika mengetahui paman yang diam-diam menemui kalian. Kakek mengancam akan menghapus nama paman dan kakak dari hak ahli waris keluarga”
“Ooh jadi permasalahan nya hanya karena harta?”
“Bukan begitu, paman hanya berusaha mempertahan kan hak milik kakak. Kalau paman berulah sedikit saja kakek mu akan marah”
“Bagus….anda berusaha mempertahan kan harta lalu mengabaikan kakak kandung anda sendiri?”
“Paman—“
“Cukup!” Ayu memotong ucapan sang paman.
”Cukup sampai disini, tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan karena permohonan maaf kalian tidak akan mengembalikan bunda saya”
“Saya sudah punya kehidupan saya sendiri, jadi saya mohon jangan mengganggu saya lagi. Bersikaplah seperti bagaimana kalian bersikap selama ini”
“Saya bukan bagian dari keluarga Lim, bahkan tidak pernah jadi bagian dari keluarga Lim. Jadi cukup sampai disini! Saya tidak akan menggangu dan saya harap kalian juga begitu” Ayu berdiri dari duduk nya karena merasa tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan.
Ayu melepaskan genggaman tangan Revan dan berjalan keluar cafe, Revan menatap punggung Ayu yang menghilang dibalik pintu cafe lalu menoleh pada pria dewasa yang menunduk di hadapan nya.
“Maaf karena tidak sopan mendengarkan pembicaraan kalian” Pria dewasa itu mengangkat pandangan pada Revan.
“Saya memang tidak berhak untuk ikut campur, tetapi saya berharap bapak mengikuti permintaan Bunga. Dia sudah cukup disakiti ayah nya jangan menambah beban nya lagi”
“Maaf dan saya permisi” Revan berdiri dan mengejar Ayu keluar cafe.
Pria itu hanya tersenyum miris, apa baru saja dia dikatakan beban oleh anak laki-laki itu?
...🌼🌼🌼...
Revan POV!
__ADS_1