Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Manusia


__ADS_3

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk yang lain, diberikan akal untuk berpikir, perasaan, keahlian dan banyak kelebihan lain nya.


Manusia yang memiliki kelebihan itu terkadang memanfaatkan kelebihan nya secara berlebihan, seperti menyerap informasi informasi secara berlebihan dan sesuka nya saja menjadikan informasi positif menjadi informasi negatif.


Selalu haus akan kisah orang lain tanpa peduli kisah senang atau kisah sedih sebagai asupan nya sehari-hari.


Rumor dan gosip seolah nasi dan lauk pauk yang tidak bisa di pisahkan, tanpa nasi maka lauk akan berbeda rasa nya begitu juga sebalik nya tanpa lauk nasi akan terasa hambar.


Tertawa diatas penderitaan manusia lain nya, berucap tanpa berpikir rasa sakit yang dirasakan oleh orang lain akibat perkataan nya.


Bertingkah seolah peduli, nyata nya mereka hanya sekedar ingin tahu.


“Eh eh…kalian tahu gak tadi gue denger gosip tentang si bisu” Ucap seorang murid SMP pada teman nya yang lain.


“Gosip apa gosip apa!?” Seru yang lain dengan semangat.


“Gue denger di ruang guru kalau-“ Murid itu sengaja menggantung ucapan nya untuk memastikan kalau orang yang mereka bicarakan tidak mendengar obrolan mereka.


“Kenapa sih, buruan” Murid yang lain menanti dengan tidak sabar.


“Tadi gue denger Ibu Santi lagi ngobrol sama guru lain terus m bilang kalau si bisu itu pernah kena pelecehan seksual” Gadis itu berbisik, meski berbisik suara nya sengaja di buat besar agar terdengar oleh seorang gadis yang duduk di pojok kelas.


“HAH!??” Kelompok gadis itu serentak berseru karena terkejut.


Mereka serentak menoleh kearah ‘si bisu’ yang mereka maksud, gadis itu tampak tidak terganggu dengan keadaan sekitar meski mereka yakin kalau gadis itu mendengar obrolan merkea sejak tadi.


“Serius?! Eeiiwww” Salah seorang mereka bergidik jijik.


“Ihh jijik banget, trus trus gimana?” Nampak nya kelompok itu sangat haus akan informasi yang belum tentu kebenaran nya.


“Yaa gue cuma denger itu aja, waktu cerita gitu gue lihat muka buk Santi kayak jijik” Ucap gadis yang pertama kali bercerita.


“Jelas jijik lah, murid kelas nya ada yang pernah kena pelecehan begitu”


Mereka terus bercerita sepuas nya sampai bell pulang berbunyi bahkan kelompok gosip itu makin bertambah, sudah bisa dipastikan gosip tentang si bisu pernah mengalami pelecehan seksual itu akan tersebar satu sekolahan.


Mulai hari itu si bisu bertambah gelar, tindak pembullyan pun makin gentar dilakukan para murid yang tidak menyukai nya. Padahal Ayu merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada mereka, boro-boro buat kesalahan berinteraksi saja tidak pernah.


“Saya selaku wali kelas mu ingin tahu kronologi kejadian yang kamu alami” Terang bu Santi selaku wali kelas.


“Kamu tetap diam Ayu? Tidak mau menceritakan kejadian itu pada saya?” Melihat Ayu yang sejak tadi diam, bu Santi mulai kesal.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam Ayu berada diruang BK untuk ditanyai perihal gosip yang beredar disekolah nya, tapi gadis itu tidak sekalipun membuka mulut nya untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan wali kelas nya.


”Tidak mau menjawab Ayu?”


“Kalau kamu cerita, saya akan bantu luruskan masalah ini pada teman mu yang lain”


Ayu tidak tahu, apa guru nya ini benar-benar peduli dan ingin membantu nya meluruskan gosip yang beredar atau hanya sekedar ingin tahu dan menambah bahan gosip nya bersama guru lain.


Karena sudah hampir dua bulan beredar nya gosip sang guru tidak pernah berusaha melarang murid-murid yang membully nya.


Kenapa baru sekarang?


“Kepala sekolah juga ingin tahu” Ucap beliau terus memaksa Ayu untuk bercerita.


“Apa itu penting?” Ucap Ayu akhirnya setelah setelah lama diam.


“Emm— penting”


“Saya perlu tahu kronologi nya dan saya bisa bantu meluruskan gosip pada teman mu yang lain”


“Tidak perlu repot-repot bu, biarkan saja seperti itu”


“Tidak boleh begitu, kamu mau terus-terusan jadi bulan-bulanan mereka?”


“Kalau kamu begini, yang ada jadi teman-teman mu yang disalahkan” Bu Santi mulai terpancing emosi dengan sikap diam Ayu.


“Maksudnya bu?”


“Ya maksud saya kalau kamu paseah begini di bully nanti ujung-ujung nya teman mu yang disalahkan”


Ayu bingung, ini maksud nya dia yang salah atau bagaimana?


Bukan nya mereka memang salah karena telah membully Ayu, tapi kenapa ucapan bu Santi seolah-olah menyalahkan Ayu.


“Tetap tidak mau bicara?” Ayu hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“Kenala kamu tidak mau bicara? Apa gosip itu memang benar?”


“Bukan nya mereka tahu dari ibu yang membicarakan gosip itu dengan guru lain?”


“Bu..bukan! Saya juga dengar dari orang lain”

__ADS_1


“Yasudah bu, tanya saja pada orang itu bagaimana kronologi kejadian nya”


“Saya bertanya pada kamu karena kamu korban nya!!” Seru bu Santi.


“Betul, saya korban nya bu. Tapi kenapa ibu sejak awal tidak bertanya langsung pada saya sebelum ibu membicarakan nya pada guru lain”


“Murid di kelas mendengar cerita ini dari ibu, tanpa mau bertanya terlebih dahulu pada saya. Mereka langsung menatap saya jijik”


“Saya korban bu bukan pelaku, apa pantas diperlakukan seperti ini?”


Sontak bu Santi terdiam, tidak terpikir oleh nya kalau Ayu akan berontak seperti ini. Beliau pikir Ayu akan bercerita padanya sambil menangis tersedu-sedu.


Di kelas Ayu terkenal sebagai murid yang pendiam dan penyendiri oleh sebab itu Ayu tidak punya teman ataupun dapat perhatian dari guru yang mengajar.


“Makanya saya suruh kamu cerita biar saya bantu meluruskan”


“Tidak perlu bu terimakasih, saya permisi”


Ayu meninggalkan ruang BK dengan perasaan sesak, dengan wajah datar Ayu kembali ke kelas berusah menulikan telinga nya dari omongan tidak enak dari murid kelas.


“Itu dia itu dia” Murid perempuan paling depan langsung menunjuk-nunjuk kearah Ayu.


”Kok balik ke kelas lagi sih, harus nya kan di keluarin” Bisik murid barisan tengah.


“Kalau gue jadi dia, udah gak mau masuk sekolah ishh malu”


“Lihat muka nya kayak kesal gitu”


Ayu tidak peduli dengan bisik-bisik murid se-kelas nya, terus berjalan menuju meja nya yang berada dipojok kelas.


Lagi?


Lagi, Ayu mendapati kursi nya ditaburi kapur putih dan meja nya penuh dengar coretan kapur putih juga.


Sudah abai karena terbiasa, Ayu mengambil selembar kertas dari tas nya dan membersihkan kursi dan meja seadanya. Kembali duduk dengan tenang mengabaikan decakan kesal dari murid kelas yang lain.


Selama ini Ayu abai bukan berarti pasrah saja dibully, tapi selama mereka tidak melakukan kekerasan fisik Ayu masih bisa terima.


Sejauh ini mereka hanya akan mencoret-coret meja dan kursi nya, mengejek, menyindir dan menatap nya jijik.


Selalu memasang wajah datar nya sepanjang hari disekolah agar terlihat kuat, tapi Ayu akan menjadi anak cengeng ketika bercerita pada bunda. Tidak ada Ayu yang datar dan berusaha kuat hanya ada Ayu cengeng yang lemah, selalu ada bunda yang menyemangati nya.

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


__ADS_2