
...*Happy Reading**đź’•*...
“Lo baik-baik aja?” Sekarang Revan sudah tidak menyuapi Ayu buah kupas itu karena Ayu sendiri sudah tidak mau lagi gadis itu malah meminta Revan untuk mengatur brankar nya agar diposisi setengah duduk. Ayu tidak nyaman kalau ada laki-laki diruangan ini memandangi nya sedang berbaring.
“Lo Kenapa?” Karena merasa pertanyaan pertama nya diabaikan, Revan kembali bertanya tatapan serius nya tak lepas dari wajah Ayu seolah menuntut jawaban.
“Gapapa” Jawab Ayu singkat.
“Gue nanya serius, Kalau gapapa gak bakal gini” Raut wajah Revan sangat serius membuat Ayu gugup.
“Bukan urusan lo” Ayu menjawab ketus mengalihkan tatapan nya kearah pintu berharap ada orang yang datang menyelamatkan nya dari situasi ini.
“Bukan urusan gue?” Revan mengulang ucapan Ayu.
“Belakangan ini lo udah banyak ngelibatin gue di masalah lo, dan lo bilang bukan urusan gue?”
“Gue udah terlanjur masuk dalam kehidupan lo, sampai dititik gue merasa khawatir sama lo”
“Gue gak minta” Jawab Ayu singkat.
“Bukan lo yang minta, tapi gue yang mau” Balas Revan serius.
“Gue emang bukan siapa-siapa lo, bahkan lo gak kenal sama gue. Tapi beberapa waktu belakangan ini gue merasa deket sama lo”
“Please jangan kayak gini, lo nyakitin diri lo sendiri trus apa beda nya sama mereka yang nyakitin lo?”
“Setidak nya kalau orang udah nyakitin kita, kita gak boleh ikut nyakitin diri sendiri juga”
“Kalau gak bisa di tahan sendiri, lo bisa berbagi. Lo punya tiga sahabat yang sayang sama lo, gak sendirian. Jangan egois”
“Jangan egois, mau lo hancur gimana pun orang yang nyakitin lo gak bakal nyesel malah mereka seneng”
“Dengerin gue”
“Gue gak tau apa yang lo alamin di masa lalu, tapi..lo gak bisa selama nya gini”
__ADS_1
“Masa lalu lo gak berhak merusak masa depan lo”
“Seburuk apapun itu, jangan pernah nyakitin diri lo sendiri. Pikirin orang-orang yang sayang sama lo”
Hening
Ayu tidak membalas apapun Revan juga sudah tidak berbicara lagi, laki-laki itu sibuk memandangi raut wajah Ayu.
Ayu yang penasaran laki-laki itu sedang apa karena sudah tidak bicara apapun, dengan rasa penasaran nya Ayu menoleh kearah Revan.
Mata mereka bertemu, dengan cepat Ayu kembali mengalihkan mata nya kearah lain.
“Gue harap ini terakhir kali lo ngelakuin ini”Revan berbicara tegas tidak mengalihkan mata nya dari Ayu.
“Bukan ur…” Baru saja Ayu hendak menjawab tapi sudah dipotong Revan.
“Urusan gue!” Ucap Revan memotong kalimat andalan Ayu.
Mendengar itu Ayu mendengus, merasa Revan sangat aneh bertingkah seolah dia peduli padahal mereka tidak dekat.
“Lo yang kenapa?” Revan selalu membalik kan pertanyaan Ayu membuat gadis itu makin kesal.
“Keluar” Ayu masih bicara pelan berusaha menahan emosi nya, bagaimanapun Mama Revan sangat baik pada nya jadi tidak boleh berbuat hal tidak baik pada Revan.
“Gue bilang keluar” Revan tidak menganggapi usiran Ayu, dia betah duduk sambil memandang gadis itu.
“KELUARR!!” Ayu berteriak kencang, laki-laki ini tidak bisa dibaikin ternyata.
Melihat tidak ada pergerakan dari laki-laki ini membuat Ayu hendak berteriak lagi menyuruh nya keluar, tapi tidak sempat karena laki-laki itu sudah menarik Ayu dalam dekapan nya.
Ayu terdiam mencoba memahami keadaan, laki-laki ini memeluk nya menyalurkan rasa hangat yang selama ini Ayu idam-idam kan.
Aroma parfume maskulin yang menenangkan, elusan pelan dibelakang kepala nya dan tepukan lembut dipunggung nya menyatu menjadi bius yang membuat Ayu tidak sadarkan diri.
Tidak ada penolakan atau makian yang Revan terima itu berarti gadis ini memang membutuhkan pelukan penenang dari seseorang.
__ADS_1
“It’s oke, semua akan baik-baik saja” Bisik Revan di telingan Ayu sambil terus menepuk lembut punggung rapuh gadis itu.
“It’s oke, lo baik-baik aja” Bisik Revan lagi
“It’s oke, ini bukan salah lo”
Ucapan dan tindakan Revan membuat Ayu benar-benar merasa ada seseorang yanh mempedulikan perasaan nya.
Selama ini Ayu selalu menyembunyikan tangis nya di hadapan ketiga sahabat nya, bukan tidak menganggap alasan nya hanya tidak ingin membuat mereka khawatir.
Hiks
Hikss
Suara tangis kecil keluar dari mulut Ayu, bisa Revan rasakan kalau tubuh gadis itu sedikit bergetar karena menahan tangis.
“Nangis aja gapapa…” Ucap Revan lembut, elusan lembut di belakang kepala gadis itu sekarang terasa seperti memberi kekuatan.
Hiks hiks
Tidak peduli malu, atau apapun Ayu makin menangis. Waktu bunda masih ada, bunda selalu memeluk nya ketika dia menangis.
Tiba-tiba saja semua memori buruk nya terlintas di pikiran, pembully-an, pelecehan dan kekerasan yang Ayu alami dimasa lalu sungguh merenggut banyak hal dari nya.
Titik terendah dalam hidup Ayu adalah saat Bunda tersayang nya meninggal, saat mengalami banyak hal buruk Ayu selalu mengandalkan Bunda. Makanya saat bunda pergi Ayu benar-benar hanya bisa mengandalkan diri sendiri.
Ayu selalu berpikir dia anak yang kuat seperti apa yang selalu bunda nya ucapkan, ternyata Ayu kuat hanya karena ada Bunda disisi nya, sisa nya Ayu tidak bisa apa-apa bahkan hanya sekedar tersenyum Ayu tidak bisa.
Ayu yang ceria dan bawel lenyap di telan kejadian buruk, bertahun-tahun duka dan rasa kehilangan itu belum bisa pudar.
...🌼🌼🌼...
diReal life
__ADS_1
Cowok ke cewek : Jangan nangis lo ngerepotin jir.