
Tet tet tet
Bell istirahat pertama telah berbunyi membuat para guru yang tadi nya sedang mengajar berhenti dan mengucapkan salam begitu hendak keluar kelas.
“Baiklah kita lanjut minggu depan, jangan lupa selesaikan laporan nya!” Ucap Guru yang mengajar di kelas XI TKR1 itu.
“Siap pak!” Jawab serentak murid kelas itu
“Assalamualaikum” Guru itu lanjut mengucapkan salam.
“Walaikumsalam”
Guru telah keluar dari kelas membuat kelas itu mendadak ramai dari yang awal nya tenang”
“Gilak, tadi itu kelas mana yang teriak. Nyampe kedengaran kesini” Ucap anton yang sejak tadi penasaran dengan teriakan di jam pelajaran.
“Anak TKJ mungkin, karna ada suara cewek”
“Kepo gue” Anton berjalan keluar kelas hendak melihat ke lapangan yang di bawah.
“Oh itu anak Sebelas TKJ1 yang jam olahraga” Anton masuk kembali ke dalam kelas nya memberitahu teman yang lain.
Beberapa dari mereka sudah keluar kelas untuk istirahat, dan juga masih ada yang di kelas. Melihat revan yang berjalan ke luar kelas anton bertanya.
“Mau kemane lo?”
“UKS, biasa” Ucap revan lalu melanjutkan langkah nya.
Anton paham dengan maksud revan itu pasti dia ke UKS hanya untuk numpang tidur, bukan karena sakit atau apapun.
“Tuman! Lo pikir itu UKS kamar hotel” Anton berseru.
Revan tidak membalas lagi, sekarang dia sudah di lantai 1 sedikit heran melihat lapangan basket bisa ramai di jam istirahat biasa nya kan sepi.
Karena penasaran revan berjalan mendekat ke tepi lapangan “Kenapa rame bener”.
“Eh bang fahri” Sentak revan melihat orang yahg menepuk bahu nya barusan.
“Gak nonton pan?” Fahri bertanya.
“Emang ada apa bang?”
“Itu anak sebelas TKJ tanding basket” jawab fahri dan hanya di balas anggukan oleh revan.
Begitu melihat kelapangan mata nya menangkap seorang gadis yang tengah berlari-lari di sana.
Itu ayu, dia tanding?
“Kayak nya mereka tanding” Fahri berucap lagi, sejak tadi memang mata nya melihat kearah lapangan.
Revan hanya mengangguk, di lihat nya kembali kearah lapangan, gadis itu tampak bersemangat, dan menguasai lapangan tidak ada terlihat canggung.
Menoleh ke arah Fahri abang kelas nya masih berada di samping kiri nya. Revan jadi teringat ucapan anton saat itu anton bilang kalau bang fahri menyukai ayu, mungki itu benar Karena melihat cara fahri memandang ke ayu saja sudah sangat ketara. Sesama lelaki revan bisa langsung menebak.
“ADIIITTT!!” Teriakan keras gadis itu terdengar sampai ke tepi lapangan, seperti nya memanggil rekan. Gadis itu terlihat sangat mencolok diantara sembilan laki-laki itu. Karena hanya dia perempuan yang bermain saat ini.
Sebagai kamu minoritas di STM Peduli Bangsa, murid perempuan terkadang di paksa oleh keadaan untuk memacu kemampuan mereka menyamai murid laki-laki agar tidak tertinggal.
Memang primadona di sekolah tapi tidak ada perlakuan khusus dari sekolah pada murid perempuan semua di sama ratakan dari bidang pendidikan, olahraga dan juga hukuman bagi pelanggar peraturan. Jika murid laki-laki di hukum lari keliling lapangan 10 kali maka itu juga berlaku pada murid perempuan.
Tampak nya ayu ingin melakukan shooting revan juga ikut tegang menunggu bola yang di udara itu bisa masuk ring atau tidak.
Dan gadis itu berhasil mencetak poin untuk tim nya.
Yeeeaaaayyyyyyyyyyyyy
Revan sedikit tersentak mendengar teriakan teman sekelas ayu. Wah berbakat jadi penonton bayaran ni orang-orang.
Sebentar dia tidak salah lihat? Gadis itu tersenyum? Dia melihat Ayu tersenyum meski hanya sekilas. Mata revan memang sangat peka untuk mendeteksi sesuatu yang manis seperti senyum ayu.
Hanya sekilas tapi rasa nya membekas.
__ADS_1
Priittttttttt
Bunyi peluit dari guru itu tanda permainan telah selesai. Beberapa sudah beranjak meninggalkan area lapangan.
“Gue duluan ya bang” Revan pamit pada fahri yang masih diam ditempat memperhatikan ayu.
Begitu hendak berbalik revan melihat gadis itu terjatuh bodoh di sana.
“Ceroboh sekali” Pikir revan, namun kejadian selanjutnya membuat revan melongo. Ayu menepis tangan laki-laki nya hendak membantu dia berdiri.
Di Tepis bayangin coba, kalau gak mau di bantu yah biasa aja kan bisa kenapa harus nepis tangan orang. tu cowo pasti malu banget.
Ah sudalah revan melanjukan langkah nya menuju UKS keburu bell masuk nanti gak sempat tidur kan rugi.
Sesampai nya di koridor UKS revan mengintip dari jendela memastikan tidak ada anak PMR ataupun dokter yang bertugas di dalam, kalau ada maka dia harus akting pura-pura sakit kepala biar di kasih izin tidur di UKS.
Syukurlah tidak ada jadi revan tak perlu menambah dosa kalau sampai dia berpura-pura sakit, menutup pintu ruangan dan berjalan ke arah brankar paling pojok dekat AC biar tidur nya adem dan nyenyak.
Revan berbaring menatap langit-langit ruangan itu tiba-tiba dia terbayang senyuman sekilas dari ayu, kenapa dia bisa semanis itu saat tersenyum. Meski senyuman nya hanya sekilas bagi revan itu sangat membekas.
Dia tidak pernah melihat gadis itu tersenyum dimanapun, seheboh apapun ketiga teman nya tertawa ayu tetap memasang wajah datar tidak bereksperti.
Kalimat diatas berdasarkan hasil survey yang revan lakukan selama beberapa hari mengamati ayu dari jauh. Wkwkwk
Revan berharap semoga kedepan nya dia bisa lebih sering melihat senyum manis itu. Eh? Apa maksud?
Ah sudalah revan malah jadi berpikir yang aneh-aneh, rasa ngantuk nya sudah hilang tidak tersisa padahal tadi dikelas ngantuk parah. Tenggorokan yang mulai kering membuat revan duduk dari brankar lebih baik dia ke kantin saja.
Nanti dikantin revan harus pesan minuman pahit untuk menetralkan gula yang dia serap dari manis nya senyuman ayu tadi. Ehem!!
“Takut diabetes gue guys hahahah” Revan terkekeh sendiri dengan pikiran absur nya.
Baru hendak membuka tirai putih yang menutupi brankar nya revan sudah mendengar suara pintu di bukaZ
“Apa dokter nya sudah datang?” Gumam revan, aduh gawat ini kalau sampai dia ketahuan ada disini.
“Ngapain sih narik-narik?”
Kok seperti suara ibu dari anak-anak ku. Eh?
“Ganti perban lo bung” Suara lain juga terrengar.
Bung? Bung harta? Perban, seperti nya hari ini revan sering melihat perban.
Ting 💡
Ah iya dia ingat, hari ini dia terlalu fokus melihat tangan ayu yang diperban. Tadi waktu jadi pemimpin upacara dan juga saat dilapangan barusan, sebenarnya dia penasaran kenapa tangan gadis itu sampai di perban tapi kan tidak mungkin bertanya.
“Pelan-pelan dong, perih tauk” Suara itu revan yakin itu adalah ayu.
“Oh perih? Waktu lo baret pake hanger gak perih?”
Apa gadis itu baret tangan pakai hanger? Waras kah.
“Sekarang gue tanya sama lo, kenapa lo ngelakuin itu lagi?” Suara kali ini revan tebak itu adalah adiba.
Lagi? Berarti dia tidak hanya melakukan sekali. Revan terus mendengarkan obrolan gadis-gadis itu. Revan tahu kalau ini tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi kalau revan keluar sekarang pasti mereka sangat canggung.
“Dia melampiaskan emosi dan rasa sakit nya dengan melukai diri?” Batin revan mulai melakukan kegiatan tanya jawab.
“Self-harm?” Revan menebak karena itu yang dia tahu.
“Bukan nya orang self-harm melukai diri dengan benda tajam loh kok dia pakai hanger”
Hanya sekedar tahu tentang itu tidak pernah mencari tahu juga karena orang terdekat nya tidak ada yang mengalami itu. Dan sekarang revan jadi ingin tahu, apakah ayu calon orang terdekat nya.
Revan membaca hasil pencarian dia di google Kesulitan mengekspresikan emosi adalah salah satu penyebab nya mungkin masih banyak lagi tergantung individu yang mengalami hal itu langsung.
Tadi kalau revan tidak salah dengar adiba mengatakan ke khawatiran nya kepada ayu, dia khawatir kalau di ayu di siksa oleh ayah nya lagi.
__ADS_1
“Kalau lo juga nyakitin diri sendiri kayak gini kita harus gimana? Kita biarin? Gak bisa bunga! Lo gak ada kabar beberapa jam aja kita khawatir, gue sampe maki-maki orang karna lo gak ada kabar” Terdengar suara adiba kembali.
Iya revan sudah jadi korban, revan di maki-maki dan di tuduh yang tidak-tidak hanya karena ayu tak ada kabar. Kalau saja dia tahu alasan adiba memarahi nya pasti revan tidak membuat kesalahan pada ayu.
Hanya karena ingin mengobrol dengan ayu revan malah salah ngomong, jadilah dia merasa tak enak pada ayu. (Eps
Dari percakapan gadis-gadis itu revan bisa menyimpulkan kalau keempat gadis itu berada di lingkungan pertemanan yang sehat, kalau salah ya minta maaf tidak perlu gosip sana-sini saling menjelekkan satu-sama lain. Mereka juga saling perhatian dan menjaga tidak hanya ada kalau kita lagi senang saja.
“COBA LO BAYANGIN GIMANA PERASAAN KITA SAAT NEMUIN LO DI KAMAR UDAH PINGSAN DENGAN TANGAN YANG BANYAK DARAH!!” Itu suara Adiba berteriak kencang dan menangis.
Kalau revan sahabat ayu pasti revan akan sangat panik dan khawatir melihat keadaan ayu begitu.
“Serangan panik gue kambuh, gue juga kepikiran bunda”
“Wah mental illness yang lengkap” Revan bergumam pelan sangat pelan karena takut ketahuan kalau lagi nguping pembicaraan mereka.
Tidak ada maksud untuk mengejek, dia hanya heran kenapa gadis yang dikatakan masih muda itu bisa menderita penyakit mental yang buruk.
Pasti masalah yang dialami nya tidak se-sepele itu pasti sangat berat bagi nya.
“Gue cuma berpikir buat ngasih hukuman ke diri gue sendiri karena udah buat keadaan jadi gini. Gue sendiri yang buat ayah benci sama gue, benci sama bunda. Dan gue juga merasa bunda pergi karena benci sama gue” Suara tangis ayu sudah terdengar.
Revan yang mendengar tangis ayu merasa hati nya ikut sakit, dia tidak tahu masalah apa yang membuat dia di tinggal kan ibu nya ataupun bagaimana dia di tinggalkan yang pasti sangat menyakitkan jika kita di tinggalkan orang yang kita sayangi apalagi ibu.
Tidak ada orang yang bisa menggantikan sosok itu sampai kapan pun.
Menurut revan keadaan yang berkali-kali membuat dia jatuh dan di tinggal kan akhir nya hanya ada satu pilihan yaitu menyalahkan diri sendiri, benar-benar tidak ada kenyataan yang dia dialami untuk membuat dia merasa ini bukan salah nya.
“Ayah selalu nyalahin gue karna milih masuk STM daripada sekolah pilihan ayah, dia selalu memaki gue berandalan cuma karna gue sekolah di sini”
“Selalu di bilang murahan dan gak berguna jadi anak. Gue pikir gue udah kebal dengan omongan jahat itu tapi gue salah, hati gue rasa nya sakit banget”
“Gue sekolah disini bukan buat jual diri atau seneng berada di lingkungan laki-laki. Gu..gue cuma mau ngobatin rasa sakit ini”
Ayu masih tetap berbicara dengan tangisan yang semakin deras dan pilu, keempat gadis itu kini terdengar menangis bersahutan seperti orang debat tapi ini pakai suara menangis. Sampai sini paham!?
Di siksa disalahkan, di maki-maki dengan kata-kata kasar oleh orang terdekat kita bukan lah hal menyenangkan.
Sebagai laki-laki revan pikir kata tidak berguna, berandalan dan murahan bukan lah kalimat yang bisa diucapkan oleh seorang ayah kepada anak perempuan nya. Anak laki-laki saja jika mendengar kalimat seperti itu pasti akan berontak.
Ayah menjadi cinta pertama anak perempuan nya hanya mereka anggap omong kosong karena tidak mengalai nya secara langsung, ayah yang harus nya melindungi anak nya malah dialah yang menyakiti anak nya sendiri.
Satu hal yang revan tangkap dari ayu, dia adalah tipe perempuan yang bijak mencoba untuk menghilangkan rasa sakit dengan cara berada diantara rasa sakit itu, Paham?
Setelah acara debat menangis sekarang dapat revan dengar jika keempat gadis itu sudah tertawa dengan lelucon yang berat menurut revan, ngatain ayah sahabat sendiri dengan kata badak terlalu berar.
Suara pintu yang terbuka dan langkah kaki membuat revan mengintip sedikit dari balik tirain pembatas itu. Keempat gadis itu sudah keluar dari ruangan ini, revan sangat bersyukur jadi dia tidak perlu lama-lama pagi disini karena bell masuk akan segera berbunyi.
Sekitar dua menit setelah kepergian keempat gadis itu revan pun keluar juga dari sana, dia takut jika salah satu dari keempat gadis itu melihat dia keluar dari sini kan bahaya takut di kira nguping.
Merasa aman revan pun menutup pintu UKS kembali namun ketika berbalik badan kebelakang revan terkejut melihat orang yang berdiri di belakang nya saat ini.
“Revan!!” Panggil orang yang di belakang nya.
🌼🌼🌼
Jika seseorang menangis
ketika membicarakan sesuatu.
Maka percayalah apa yang ia bicarakan itu
benar-benar menyakiti nya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terimakasih buat yang selalu like setiap bab di cerita ku.
Jangan lupa tambahkan ke favorito
Like, comment nya juga dunggg.
__ADS_1