
...*Happy Reading**😴*...
Disinilah Ayu sekarang, diruang tamu rumah Revan. Sepanjang jalan tadi Ayu tidak fokus dan ketidak fokusan nya dimanfaat kan Revan untuk membawa kabur ke rumah nya.
Tanpa bicara apapun Revan menyeret nya masuk dan memaksa Ayu duduk di sofa ruang tamu, lalu seenak jidat nya meninggalkan Ayu sendirian.
Sejak bertemu pria dewasa tadi membuat emosi Ayu tidak stabil, ketidakstabilan ini membuat Ayu ingin segera melampias kan nya membayangkan betapa lega nya dia kalau bisa menyayat tangan nya sekarang juga.
Puluhan sayatan seperti nya sangat menyenangkan, tapi apa lah daya Revan breng*** ini tidak mengijinkan nya untuk pulang.
Tenang—Setelah pulang dari sini, Ayu harus segara mencari pisau silet yang dia sembunyikan dari ketiga sahabat nya.
Ayu tidak pernah ingin membohongi mereka, Ayu hanya merasa dia butuh pelampiasan untuk emosi negatif yang betumpuk dikepala nya.
Sudah lama, dari terakhir kali nya dia menyayat tangan sampai masuk rumah sakit.
Kalau boleh jujur, belakangan ini Ayu merasa hidup nya lebih tenang dan tidak pernah memikirkan hal itu lagi sampai dia bertemu paman breng*** nya hari ini.
Pikiran Ayu berkelana pada masa lalu, orang-orang yang mengabaikan nya dulu sekarang muncul dengan rasa penyesalan mereka yang menurut Ayu tidak ada guna nya lagi.
Ayu sudah terlalu hancur disemua bagain hati nya, tidak ada yang bisa diperbaiki dengan penyesalan mereka.
Tok tok tok
“Ma…!”Revan mengetok pintu kamar mama.
Cklek
Pintu terbuka memperlihatkan mama yang sudah memakai daster tidur nya.
“Kenapa baru pulang bang?” Todong mama langsung.
“Tadi abang jemput Bunga pulang dari rumah sakit, habis itu kita ke minimarket trus—“ Revan menggantung ucapan nya.
“Trus?” Mama mengernyit bingung.
“Bunga nya ada di depan ma”
“Loh ada Bunga? Kenapa gak bilang dari tadi sih” Mama langsung bersemangat, menutup pintu kamar dan berniat untuk menyusul Ayu tetapi Revan menghentikan langkah nya lebih dulu.
“Bentar ma!”
“Hem, kenapa?” Mama sedikit mengernyit bingung dengan raut sendu Revan.
“Kenapa bang? Lagi ada masalah hem?” Mama mendekat, mengelus lembut bahu anak laki-laki nya.
Revan menyukai ketika mama nya bersikap lembut seperti ini, meski kadang cerewet dan bawel. Mama tetap jadi orang pertama yang bertanya tentang perasaan nya.
__ADS_1
Revan menggeleng “Abang baik-baik aja ma, tapi kayak nya Bunga lagi gak baik-baik aja” Revan menunduk.
“Bunga kenapa?” Mama sedikit heran, Ayu yang tidak baik-baik saja tapi kenapa Revan juga seperti ini.
“Cerita nya panjang ma, kalau abang ceritain sekarang kayak nya gak sempat trus kayaknya itu hal privasi yang gak bisa abang ceritain”
“Inti nya, mama bisa bantu Bunga” Revan memasang wajah memohon.
“Bantu apa?”
“Bantu Bunga biar dia ngerasa lebih baik”
“Gimana mama bisa bantu kalau mama gak tau duduk perkara nya”
“Simple ma, mama kasih dia pelukan penenang andalan mama”
“Pelukan penenang?”
“Iyaa…pelukan mama selalu bisa bikin abang lebih tenang dan sekarang abang mau mama peluk Bunga biar dia lebih tenang”
Yaa—pelukan ibu memang selalu jadi senjata penenang yang ampuh bagi sang anak, kegelisahan, emosi, dan permasalahan bisa terasa lebih ringan hanya dengan pelukan ibu.
“Mama pasti tau masa lalu Bunga yang diceritakan sama teman-teman nya kan?” Mama mengangguk.
“Tadi kami bertemu sama paman nya, dari yang Revan lihat seperti Bunga ketakutan lihat paman nya. Habis itu sepanjang jalan pulang Bunga melamun terus ma” Jelas Revan.
“Sekarang pikiran nya lagi kacau, abang takut kalau dia tidak bisa tenang sekarang. Dia bisa melukai diri lagi”
Mama mengangguk paham “Yaudah, mama susul Bunga dulu. Abang bersih-bersih dulu gih”
“Makasih mama” Revan mengecup kilat pipi mama lalu berlari ke kamar nya yang ada dilantai atas.
“Bunga\~\~” Ayu langsung menoleh begitu mendengar sapaan lembut itu.
“Tante” Ayu tersenyum tipis, ini yang Ayu khawatirkan. Bertemu dengan orang lain dalam mood yang berantakan seperti sekarang membuat dia semakin kesusahan untuk berekspresi.
“Udah lama?” Mama duduk disamping Ayu.
“Belum lama tan”
”Habis jalan bareng yaa…” Mama tersenyum menggoda, dilihat sekilas saja mama tahu kalau gadis ini sedang tidak baik-baik saja.
Tatapan nya sayu tidak datar seperti biasa nya, senyum nya juga terlihat terpaksa.
“Enggak tan, tadi cuma minta tolong Revan nemenin Bunga ke minimarket”
“Bunga….are you okay?” Bisik mama lembut, jemari hangat nya sudah menggenggam jemari Ayu yang dingin.
__ADS_1
Hening—Ayu menunduk dalam berusaha mengelak dari tatapan menelisik mama.
Demi apapun, Rasanya Ayu ingin berteriak kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
Ayu mengangkat pandangan nya, mata coklat gelap nya langsung bertemu pandang dengan tatapan lembut wanita dihadapan nya.
Air mata Ayu menggenang diujung mata nya. Sekali saja dia mengerjab maka air mata itu akan tumpah membasahi pipi nya.
Hiks
Isakan tangis tertahan itu mulai terdengar, sang pemilik tangis hanya menggeleng-geleng kan kepala. Entah maksud nya.
“Hiks….tante”
“Bunga boleh bilang….kalau Bunga lagi gak baik-baik aja sekarang?” Tanya nya putus asa.
Mama mengangguk “Boleh sayang, boleh banget” Mengelus lembut pucuk kepala Ayu.
”Kamu berhak jujur dengan apa yang kamu rasakan sekarang, gak selama nya menyembunyikan perasaan itu baik buat kamu”
Mama membaya Ayu kedalam dekapan nya, mengelus lembut surai sebahu gadis itu.
Ayu menangis tersedu-sedu, pelukan ini sangat hangat, nyaman dan menenangkan. Ayu suka.
“Saat kamu merasa lelah, takut atau kesal. Kamu boleh menangis”
“Jangan ditahan” Mama memberikan tepukan pelan dipunggung Ayu.
“Selama ini Bunga mencoba untuk selalu terlihat kuat, tapi sebenar nya Bunga sangat ketakutan dan kesepian”
Mama hanya diam, tidak ada kata-kata motivasi yang mama ucapkan ataupun memberi Ayu semangata. Bukan tidak ingin menenangkan tetapi untuk beberapa keadaan ada saat nya pelukan lebih dibutuhkan daripada seribu kata motivasi.
Mama membiarkan Ayu menangis sepuas nya dipelukan mama, pelukan yang Revan bilang adalah pelukan penenang dan mama berharap semoga pelukan penenang ini benar-benar bisa menenangkan gadis cantik ini.
Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan dan kita tidak ada di posisi mereka sampai merasa pantas untuk mengucapkan seribu kata motivasi.
Setiap orang memiliki kekuatan mental pada porsi nya masing-masing, tidak boleh disama ratakan kalau semua orang itu kuat ataupun lemah.
...🌼🌼🌼...
Lagi mumet-mumet nya, trus ada yang nanyain.
“Are you okay?”
“Kamu gapapa?”
“Kamu baik-baik aja?”
__ADS_1
Ugghh LANGSUNG MELEDAK!