
...*Happy Reading**🌼*...
“GILA! GILA GILAAAA” Teriakan nyaring mendengung ditelinga baru saja terdengar dari Adara.
“Ini kelas bukan hutan woi!” Teriak Joko frustasi.
“GILAAAA!!!!” Adara makin berteriak kencang menerobos kelompok yang duduk disekitar meja guru. Langkah nya dengan semangat berjalan menuju Ayu yang duduk tenang dikursi nya tentu saja dengan novel ditangan dan telinga yang tersumbat earphone.
BRAK!!
Gebrakan meja yang kuat menyadarkan Ayu dari dunia imajinasi nya dan menatap kesal pada pelaku.
“GILAAA BUNG LO JADI ARTIS!!” Mengabaikan tatapan kesal Ayu, Adara kembali berteriak.
Ayu menghela nafas lelah, pagi tenang yang dia impikan sudah dirusak si perusuh Adara.
“Apalagi?” Tanya Ayu malas, menyimpan novel nya diatas meja dan melepas sumbatan telinga nya.
“Lo gak tau?” Tanya Adara antusias.
“Gak”
“Ck…lo yang jadi artis tapi kok gak tau sih?” Gerutu Adara “Coba lihat ini!” Adara melemparkan sebuah majalah fashion kearah Ayu.
Hanya majalah fashion biasa yang sudah sering terlihat dimana-mana karena memang sedang viral belakangan ini dikalangan masyarakat, majalah fashion milik salah satu perusahaan swasta yang beberapa waktu lalu mereka datangi.
Tapi sekarang masalah nya bukan majalah itu, tapi wajah yang terpampang di halaman sampul majalah fashion itu. Ayu melongo sebentar—“Bentar…..itu gue kan?” Tanya Ayu bingung dan dijawab anggukan antusias oleh Adara.
“Iyaa! Ini foto yang kita ambil kemarin di tempat kerja nya kak Dina…”
“Lo dapat darimana?” Ayu mengambil majalah itu lalu melihat lebih teliti lagi dan memang benar itu foto beberapa waktu lalu.
“Dari Adiba—noh orang nya!” Adara menunjuk Adiba yang baru memasuki kelas dan ada Ambar dibelakang nya juga.
“Buruan kasih tau Bunga, lo dapet majalah ini dari siapa?” Desak Adara.
“Sabar jir, gue belum nafas habis ngejar lo!” Seru Adiba emosi.
“Buruan!!”
“Kok foto nya malah di jadiin cover? Kan perjanjian nya gak kayak gitu diawal?” Cerca Ayu ikut penasaran.
“Hehe…ceritanya panjang, inti nya pihak mereka udah minta izin ke gue buat jadiin foto itu cover edisi minggu ini—“ Adiba menggantung ucapan nya.
“Dan?”
__ADS_1
“Dan gue izinin dong, kesempatan gini tuh gak dateng dua kali. Jadi harus dimanfaat kan sebaik-baik nya siapa tahu habis ini lo bakal do kontrak jadi model nya mereka” Jelas Adiba panjang lebar demi keselamatan nya dari amukan Ayu.
“Dan lo gak ngomongin ke gue dulu?” Sinis Ayu menatap sahabat nya tajam.
“Udalah Bung, bener kata Bunga kalau ini itu kesempatan bagus buat lo” Bela Adara.
“Gue sih setuju Bung, kalau sampai emang lo di kontrak jadi model nya mereka kan cuan nya pasti jelas” Sambung Ambar.
“Bukan cuma masalah cuan, tapi ini bagus juga buat ngembangin diri lo. Kalau udah kontrak mereka pasti ada pelatihan yang lebih professional buat kemampuan lo, lo gak mungkin mentok disini terus kan?”
Ayu hanya mendengus sebal, dia tidak munafik kalau dia pernah ingin menjadi model yang professional tapi untuk sekarang Ayu belum siap.
Ayu tidak terlalu siap wajah nya dilihat banyak orang apalagi sampai ke tangan keluarga Lim, hal itu adalah yang paling dia hindari. Selain nyaman dengan kehidupan tenang nya sekarang, Ayu juga ingin tetap bersembunyi dari mereka.
“Bung…..” Panggil Adiba lembut.
“Kita gak tau lo ada masalah apa belakangan ini, lo tau kan kita gak akan banyak nanya kalau belum lo sendiri yang cerita ke kita?” Ayu menunduk.
“Kita juga gak maksa buat lo cerita ke kita, cerita kalau memang menurut lo itu nyaman untuk diceritain kita nunggu kok. Tapi yang harus lo inget, lo gak sendiri—ada kita. Adara, Ambar sama gue” Adiba mengelus lembut rambut sebahu Ayu.
Sejak kejadian yang diceritakan Revan beberapa waktu lalu, tentang pertemuan Ayu dan paman nya. Mereka bertiga mengamati tingkah Ayu yang lebih sering melamun dan lebih pendiam dari biasanya.
“Kita gak bisa bantu banyak hal, tapi kita akan selalu ada disini bareng lo” Ambar memeluk lengan Ayu manja.
“Apasih pagi pagi gini mellow, cih!” Adara mendelik kesal, mengambil majalah fashion yang sejak tadi diabaikan diatas meja lalu berjalan bangga kearah kelompok teman sekelasnya yang lain.
“Woi woii rakyat jelata!!” Jeritan menyebalkan Adara mendapat banyak makian.
“Udah pernah lihat artis belum para rakjel ini? Belum kan, sini gue kasih lihat” Adara mendekat lalu mengangkat tinggi majalah itu diatas kepala nya dengan maksud agar semua teman yang lain dapat melihat sampul majalah itu.
“Ini kenalin temen gue artis nya!!” Seru Adara bangga menunjuk wajah Ayu disampul itu.
Sedangkan di meja sana, ketiga sahabat nya hanya menutup wajah karena malu dengan tingkah Adara.
“Siapa itu?” Celetuk Joko yang kebetulan berdiri paling depan.
Belum sempat Adara memberi tahu tiba-tiba majalah itu sudah direbut oleh Nur dari belakang.
”Ini kan—“ Nur menyimak dengan teliti wajah wanita disampul itu lalu melirik kearah Ayu yang duduk dengan menutup wajah nya.
“AYUUU??!!” Teriak Nur histeris.
“Demi apa? Ini beneran Ayu!!?” Seru Nur lagi, setelah memerhatikan lagi.
“Iyaa bener!! Ini Ayu” Nur menunjuk Ayu lalu menujuk sampul majalah bergantian.
__ADS_1
“Yaap, Nur bener ini Ayu” Sahut Adara bangga.
Langsung saja mejalah itu jadi rebutan kaum kepo dikelas, mereka berebut agar bisa melihat dengan jelas dan tentu saja untuk memastikan karena mereka “Anti hoax-hoax club”
“Minggir woi, gue mau foto dulu biar disebar di grup angkatan!!” Seru Nur emosi.
Tidak bisa dibiarkan, dia harus jadi orang pertama yang menyebar berita membanggakan ini keseluruh penjuru sekolah.
Selaku teman sekelas Ayu, Nur merasa ikut berbangga diri.
Kapan lagi yakan punya teman yang wajah nya terpampang jelas di sampul majalah yang lagi viral di masyarakat.
“Heh antri-antri!! Jangan rebutan, kalau mau minta tanda tangan harus bayar uang pendaftaran ya sama gue\~” Seru Adara tersenyum bangga.
“Iyaa woi beneran Ayu, kok bisa muka nya Ayu ada disini?” Tanya Ajis.
“Yaa bisa dong, lo yang jelek gini gak bakal tau gimana rasanya” Ejek Adara.
“Dih najis, bukan muka lo juga” Ejek Ajis balik.
“Heh gue kasih tau yaa!! Ini gue photographer nya, gak lihat noh nama gue ada disana” Adara menunjuk bangga bagian sudut sampul itu.
Mereka kompak ikut melihat tulisan pojok yang menuliskan nama photographer dan mereka kompak melongo, memang benar ada nama Adara disana dan juga Ambar dan Adiba.
Sejak sekelas mereka memang tahu, kalau empat perempuan cantik ini aktif melakukan pekerjaan online shop milik Adiba tapi mereka tidak menyangka kalau akan berprogress sampai ke tahap sampul majalah fashion yang sedang viral.
“Good Job gurls!!!” Teriak Nur bangga pada keempat teman sekelas nya.
“Kerja bagus istri-istri ku!!” Seruan Joko langsung mendapat sorakan jijik dan tampolan hangat di kepala nya.
Satu persatu mereka mendatangi meja Ayu dan menyalami Ayu sambil mengucapkan “Kerja bagus” tidak lupa dengan senyuman bangga yang terasa tulus dari para teman sekelas nya.
Bahkan teman perempuan yang lain juga memberikan pelukan singkat pada Ayu.
Hey! Ayolah, ini hanya pencapaian kecil yang bahkn Ayu sendiri tidak merasa bangga dengan ini tapi ada apa dengan mereka. Teman sekelasnya.
Selama ini bahkan Ayu sangat membatasi interaksi dengan mereka, tapi kenapa mereka terlihat sangat bangga dengan Ayu.
Ini terlalu asing—bagi Ayu keadaan ini terlalu asing, kenapa mereka semua bisa begitu bangga dengan apa yang Ayu lakukan?
Ayu yang sudah terbiasa diasingkan kini merasa keberadaan nya dianggap, tidak ada cemoohan, ejekan ataupun makian yang dia dapat seperti masa SMP nya.
Senyum Ayu perlahan terbit, apa kali ini dia pantas untuk tersenyum?
...🌼🌼🌼...
__ADS_1