
Brukkk
Untung saja tangan besar revan berhasil menahan kepala gadis itu hingga tidak langsung terhantuk kelantai.
“BUNGAAAA” Teriakan serentak ketiga sahabat ayu berlari.
...🌼🌼🌼...
“Lo bisa bawa motor gue?” Tanya revan pada adiba yang masih menepuk pipi ayu pelan.
“Ha?” Tanya adiba bingung, Karena sejak tadi dia tidak mendengarkan ucapan revan.
“Lo bisa bawa motor gue?” Tanya revan lagi, dan adiba hanya balas gelengan kepala.
“Gue bisa!!” Seru adara.
“Oke, ini” Revan memberikan kunci motor nya pada adara, lalu mengangkat badan ayu diantara kedua badan nya.
“Lo mau bawa ayu kemana?” Tanya adiba menahan tangan laki-laki itu.
“Rumah sakit?” Tanya revan memastikan.
“Jangan bawa kerumah sakit!” Seruan ambar membuat revan bingung.
“Bawa kerumah diba aja” Pinta ambar.
“Kerumah gue aja lebih dekat dari sini” Jelas revan, sekarang ayu masih tidak sadarkan diri dalam gendongan revan.
“Gak usah, rumah gue aja” Ucap adiba.
“Gini, dia pingsan. Jadi harus diperiksa Kesehatan nya Kalian bilang gaboleh bawa kerumah sakit. Nyokap gue dokter” Setelah mengucapkan itu revan meninggal kan teras rumah ayu, berjalan kearah pinggir jalan menunggu taksi.
“Udah biar sama revan aja, bunga bisa periksa sama nyokap nya” Ucap ambar menengahi.
“Ayo!” Ajak ambar pada adara dan adiba menyusul revan di pinggir jalan.
“Revan kita ngikutin dari belakang ya” Ucap adara begitu melihat ada taksi yang berjalan kearah mereka, revan hanya balas dengan anggukan lalu menaiki kursi belakang taksi.
...🌼🌼🌼...
Revan sudah turun dari taksi bergegas memasuki rumah nya, di depan pintu mama revan sudah menunggu dengan raut wajah khawatir. Saat di Taksi tadi revan sudah mengabari mama nya tentang ayu yang jatuh pingsan.
“Langsung bawa ke kamar riva aja bang!” Perintah mama pada revan dan dituruti.
Hendak langsung menyusul revan ke dalam rumah namun langkah mama terhenti karena melihat ada tiga motor yang berhenti di perkarangan rumah nya, dan satu diantara motor itu mama kenal sebagai motor revan saking panik nya mama tidak fokus melihat revan yang pulang naik taksi.
“Permisi tante, ini rumah revan kan?” Sapa ambar sopan.
“Iyaa, kalian temen nya bunga?” Tanya mama revan dengan senyuman ramah.
“Iya tante tadi revan nyuruh kita susul” Jelas ambar lagi.
“Yasudah, ayo masuk. Bunga sudah didalam” Ucap mama revan.
“Mamaaa…maaamaaa” Terdengar suara revan memanggil mama nya dari arah kamar riva.
__ADS_1
“Kenapa teriak-teriak sih bang. Mama gak kabur kok” Tegur mama, begitu masuk dari pintu kamar.
“Ini kamu Kenapa ninggalin temen nya bunga, gak sopan ya!” Seru mama nya sambil menunjuk ketiha gadis yang muncul dari balik pintu.
“Gak gitu, revan buru-buru” bela revan, dia sama sekali tidak berniat untuk meninggal gadis-gadis itu tapi emang dia sudah keburu panik melihat kondisi ayu.
“Mama perhatiin kamu dari tadi kelihatan panik banget, kenapa? Emang kamu siapa nya ayu?” Mama revan menelisik wajah anak nya sambil mengambil beberapa alat kerja nya untuk memeriksa kondisi ayu.
“Atuh mama, emang kita harus ada hubungan dulu baru bisa bantuin orang” Jelas revan tegas.
“Ya enggak juga, tapi kamu itu kayak pacar orang yang lagi pingsan aja. Panikan” Ejek mama setelah berhasil membaca ekspresi revan sebelum nya.
Revan diam, tidak ada bantahan bukan karena membenarkan perkataan mama nya namun hanya sudah kehabisan kata saja. Kalau berdebat dengan ibu negara jangan pernah berekspetasi untuk menang deh karena ibu negara sudah banyak pengalaman hidup.
“Dia pingsan karena kelelahan, dehidrasi dan seperti nya dia sedang stress” Ucap mama revan Setelah memeriksa kondisi tubuh ayu.
“Ini tangan nya kenapa?” Tanya mama revan begitu melihat banyak bekas luka sayatan di tangan ayu.
“Bunga…” Ucapan mama revan menggantung.
“Iya tante, bunga sering menyayat tangan. Terakhir kali baru kemarin tante” Jelas Adiba masih memperhatikan ayu yang betah menutup mata nya.
“Boleh bicara sebentar diluar sayang?” Tanya mama revan pada adiba, ambar dan adara dan dibalas anggukan oleh ketiga gadis itu.
“Abang jagain bunga yaa, kalau udah sadar panggil mama” Ucap mama mendoronv pelan ketiga gadis itu keluar dari sana.
Revan mengalihkan pandangan nya dari pintu dan sekarang menatap wajah pucat ayu yang masih memejamkan mata.
“Woi bangun lo, pingsan apa K.O gabangung-bangun” Dasar revan, sudah tahu gadis itu tidak sadar masih aja diajak ngobrol.
Revan sejak kecil sudah di ajari untuk menghargai perempuan, tidak pernah terpikir sedikit pun oleh nya untuk merusak perempuan karena bagaimanpun mama nya seorang perempuan.
Terlalu asik melamun revan tidak sadar kalau jemari ayu sudah bergerak menandakan perempuan itu sudah sadar.
“Hiks.. hiks..hiks” Suara isakan tangis Terdengar di kamar itu membuat revan tertarik dari lamunan nya.
“Eh lo udah bangun..kenapa nangis?” Revan panik.
“Gue panggil mama dulu” Revan beranjak dari kursi belajar riva, namun langkah nya tertahan begitu ayu menahan tangan kiri nya.
“Kenapa? Mana yang sakit hm?” Ucap revan lembut sambil melihat seluruh wajah ayu yang masih pucat.
Ayu menggeleng menandakan tidak ada yang sakit, gadis itu menangis bukan karena sakit fisik nya melainkan sakit hati nya yang sangat perih. Lengan kiri nya ayu gunakan untuk menutupi kedua mata nya dan lengan kanan nya masih menggenggam tangan revan menahan nya agar tidak keluar.
“Hikss hiks hikss hikk” Suara tangis ayu makin jelas daripada sebelum nya. Membuat revan kebingungan.
“Gue panggil mama dulu ya biar lo di periksa oke?” Nada bicara revan yang terdengar sangat lembut di telinga ayu membuat gadis itu melepaskan tangan yang menutupi mata nya, sekarang ayu bisa melihat raut wajah khawatir revan.
“Sakit bangett.. hiks” Ayu makin menangis.
“Sakit banget.. hiks hiks”
“Bunda sakitt.. huuu” Isak tangis ayu makin pilu.
__ADS_1
“Hiks..hiks hik, sakittt” Ayu memukuli kepala nya dengan kedua tangan, dan menjambak rambut sebahu nya.
“Hush hush jangan kayak gitu” Revan membujuk ayu dengan nada bicara yang lembut lalu menarik pelan tangan ayu yang masih saja memukul kepala.
“Bilang sama gue apa yang sakit, jangan gini” kedua Tangan ayu sudah berada dalam genggaman revan.
“Gue bukan cewek murahan hiks” Ayu berseru.
“Iya gue tau” Jawab revan pelan.
“Lo gak tau!!” Nada ayu meninggi membantak revan.
“Bahkan ayah gue aja gak tau, ma..mana mungkin lo l..lebih tau” Ayu berbicara dengan segugukan.
“Bokap lo salah” Balas revan lagi.
“Gue yang salah.. gu..gue yang salah. Hiks hiks”
“Bukan salah lo” Revan tak tahu lagi bagaimana cara menenagkan gadis ini, tapi revan juga sedang berusaha.
“Gue.. hikss yang salahh” Ayu menarik paksa kedua tangan nya dari genggaman revan.
“Lepasin!!” Bentak ayu memberontak.
“Gue lepasin kalau lo gak mukul kepala lagi” Ucap revan tegas.
“Lepas, gue gak murahan, gue gak gila hiks hiks” “Gue gak murahan”
“Bundaa jemput bungaa..hiks bunga udah gak kuat” Ayu menatap keatas seperti sedang berbicara pada seseorang.
“Bundaa hiks..hikss ayah.. ayah jahatin bunga” Gadia itu kembali mengadu entah pada siapa.
Revan sudah tidak tega melihat gadis yang di hadapan nya, tangan nya langsung membawa bunga jatuh dipelukan nya.
Revan memeluk ayu, tangan kanan nya membelai lembut rambut ayu dan menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.
“It’s okay…semua bakal baik-baik aja”
“Lepass!!” Teriak ayu sambil berontak menarik diri dari pelukan revan.
“Gue gak tau gimana cara nenangin lo” Ucap revan. Tangan nya masih sibuk membelai dan menepuk pelan gadis itu.
“Gue tau itu pasti sakit, tapi lo gak boleh nyerah masih ada sahabat-sahabat lo yang sayang sama lo mereka masih mau disini bareng lo” Ucap revan lagi.
“Kalau lo nyerah yang ada mereka yang nyakitin lo bakal seneng, tapi sebalik nya kalau lo bangkit mereka akan berhenti nyakitin lo”
“Bertahan demi orang yang lo sayangin dan yang menyayangi lo, bukan nyerah karena sakit” Gadis itu sudah mulai tenang, tidak memberontak tapi masih tetap menagis.
“Gue takut hikss mereka ninggalin gue hikss” Ucap ayu akhir nya.
“Gue udah buat dara di tampar ayah, gue yang selalu lari dari masalah ini bawa mereka susah” Ayu segugukan.
“Gak. Mereka gak bakal gitu. Satu kesalahan yang bahkan bukan lo yang buat gak akan buat mereka ninggalin lo percaya sama gue”
...🌼🌼🌼...
__ADS_1