Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Yogi


__ADS_3

...*Happy Reading**💕*...


“Ma—“ Sapa Yogi pada mama nya yang sedang duduk santai diruang TV.


”Kenapa nak?”


“Bunga kemana ma? Kok gak pernah kelihatan lagi drumah” Yogi sudah ingin bertanya dari kemarin, tapi belum ada waktu yang tepat.


“Gak usah kamu tanya-tanya dia” Balas nya ketus.


“Kenapa memang nya ma?”


“Dia udah keluar dari rumah ini”


“Hah?” Yogi kaget mendengar ucapan mama nya.


“Yaa dia sudah keluar dari rumah sudah seminggu” Wanita itu tersenyum senang.


“Kemana ma?”


“Gak tau! Jangan tanya mama”


Merasa tidak akan mendapatkan informasi lebih banyak dari mama nya, Yogi berlari keluar rumah menuju garasi untuk mengambil motor nya. Tak sengaja dia melihat motor Ayu terparkir manis disamping mobil sang papa.


Makin khawatir, Yogi buru-buru menyalakan mesin motor nya dan menancap gas kencang. Satu yang ada dipikiran nya sekarang adalah mendatangi rumah Adiba dan bertanya keberadaan Adik nya.


Tidak butuh waktu lama, Yogi langsung sampai didepan pagar rumah Adiba.


”Permisi pak, Adiba ada dirumah?” Seru Yogi pada satpam yang berjaga.


“Siapa ya?” Tanya satpam itu balik.


“Saya abang nya Bunga pak, yang sering main kesini”


“Oowhh, dek Bunga gak disini mas” Jawab satpam.


“Adiba nya ada pak? Saya mau ketemu Adiba”


“Non Diba—“ Belum sempat satpam menjawab, orang yang dicari sudah muncul dengan wajah marah.


“Ngapain lo!?”


“Adiba…” Panggil Yogi, berjalan mendekati Adiba diatas motor nya. Tampak nya Adiba baru pulang dan masih memakai seragam sekolah.


“Gue mau nanya Bunga dimana?” Tanya Yogi langsung.

__ADS_1


“Gue gak tahu!” Adiba melipat tangan didada tatapan tajam nya menghunus kearah Yogi.


“Lo pasti tahu, tolong kasih tau gue” Yogi memohon.


“Apa peduli lo?” Adiba tidak mau repot-repot turun dari motor nya.


“Gue peduli karna dia adik gue”


“Adik? Hahaha” Tawa sarkas Adiba terdengar mengerikan.


“Lawak lo!—minggir gue mau lewat” Adiba hendak meng-gas motor nya namun dengan cepat Yogi berdiri mengahalang dari depan.


“Kasih tahu gue Bunga dimana? Kenapa dia gak ada disini apa dia dirumah dua temen lo yang lain”


“Gak, Bunga gak ada sama gue ataupun temen gue yang lain. Minggir gue bilang” Yogi sudah menahan stang motor Adiba agar motor itu tidak bergerak.


“Please kasih tahu gue” Yogi terus memohon pada Adiba, karena dia yakin gadis ini tahu dimana keberadaan Ayu.


“Buat apa lo mohon-mohon gini sama gue? Gak ada gunanya, Bunga udah keluar dari rumah harus nya seneng kan apalagi nyokap lo itu”


“Gak gue khawatir”


“Gausah sok khawatir anjing!!” Umpat Adiba, masa bodo sama sopan santun.


“Kenapa lo baru sekarang nyariin adik lo hah? Dia udah berminggu-minggu minggat dari rumah sampai dirawat dirumah sakit pun. Kenapa lo baru khawatir sekarang?”


“Cih, selama ini lo juga pura-pura buta sama keadaan Bunga. Lo gak pernah sedikit pun peduli sama apa yang dia alami dan sekarang lo sok care nyariin dia. Khawatir lo bilang? Cuih, omong kosong bangsat”


“Lo pura-pura buta aja terus, Bunga juga baik-baik aja selama gak ada lo”


“Gue juga ada diposisi serba salah!” Yogi meninggikan nada suara nya.


“Gue gak bisa seenak nya milih untuk berpihak sama siapa aja, gue harus jaga perasaan mama gue juga”


“Yaudah, lo lanjut aja jaga perasaan mama lo sepuas nya. sampe Bunga mati karena terlalu sering disakitin sama mereka juga lo harus tetap jaga perasaan mama lo”


”Jadi anak berbakti, Oke?”


“Lo cuma orang lain, gak tahu masalah apa yang ada dikeluarga gue jadi jangan sok tahu dan berlagak ikut campur nyembunyiin Bunga”


Mendengar ucapan Yogi membuat Adiba naik darah, emosi yang sejak tadi dia berusaha tahan akhir nya akan meledak.


“Harus nya lo malu anjing!! Gue yang orang lain aja selalu berusaha buat ada disamping Bunga saat bokap dan nyokap sialan lo itu nyakitin dia” Adiba lepas kendali, kalian tahu? Orang ramah itu marah nya bagaimana? Huh—mengerikan.


“Dan Lo—“ Adiba turun dari motor nya, menunjuk Yogi tepat di depan wajah.

__ADS_1


”Lo yang ngaku ABANG gak pernah ada buat dia, sadar sialan”


“Dan jangan karna lo ngaku sebagai abang nya, lo bisa lepas dari kesalahan lo” Wajah Adiba memerah.


”Lo lupa? Kehadiran lo dan nyokap lo adalah sumber sakit hati Bunga yang paling besar”


Yogi terdiam, dalam hati diam-diam membenarkan ucapan Adiba.


Yogi sadar, kehadiran dia dan nyokap nya diantara keluarga Ayu adalah sumber sakit hati Ayu yang paling besar.


Tapi lagi-lagi Yogi tidak terima jika semua kesalahan dilimpah kan pada dia dan mama nya, Ayah Ayu juga ikut andil dalam kesalahan ini. Dialah yang memulai awal kehancuran keluarga nya sendiri.


Siapa yang salah? Jika pria itulah yang datang pada mama nya dengan seribu kata manis dan cinta, menjanjikan kepastian hubungan pada mama nya yang saat itu juga dalam keadaan lelah dengan hidup nya sendiri.


Apakah Yogi salah? Saat dia terlahir dari rahim wanita yang berhubungan dengan suami orang lain? Bahkan Yogi tidak bisa memilih dari siapa dia lahir dan tidak bisa memilih keadaan seperti apa yang akan dihadapi nya saat lahir.


Demi apapun, kalau bisa memilih Yogi lebih baik tidak dilahirkan saja daripada harus menjadi ‘kesalahan’ bagi orang lain.


Kalau bisa memilih Yogi ingin lahir dari pasangan suami-istri yang saling mencintai, bukan seperti ini.


“Sadar! Jangan sibuk menjaga perasaan mama lo sedangkan lo nyakitin perasaan orang lain” Adiba melanjutkan.


”Kalau lo gak bisa belain Bunga setidak nya bilangin sama bokap lo itu jangan main kekerasan fisik lagi”


Mengabaikan semua ceramah dari Adiba, Yogi tetap kekeuh menanyai dimana Ayu sekarang.


”Cukup lo kasih tahu dimana Ayu sekarang, gue gak perlu ceramah dan makian lo”


“Gue juga gak perlu ngasih tahu lo dimana Bunga sekarang” Setelah mengatakan itu Adiba mencabut kunci motor nya, meninggalkan Yogi yang masih termenung.


Adiba memasuki pagar rumah yang telah dibuka kan satpam, dengan cepat memberikan kunci motor nya pada pak satpam dan meminta tolong agar dimasukkan ke garasi nanti.


Yogi memutar otak untuk berpikir bagaimana cara nya dia tahu keberadaan Ayu tanpa harus bertanya pada ketiga sahabat Ayu, karena Yogi yakin pasti mereka bertiga tidak ada yang mau memberi tahu sekeras apapun Yogi bertanya.


Melajukan motor nya dari sana, Yogi harus segera pulang dan mengecek kondisi kamar Ayu. Apa ada tanda yanh ditinggalkan sebelum dia pergi.


”Dari mana saja kamu?” Sapa pria paruh baya begitu Yogi memasuki rumah.


“Rumah temen” Jawab nya singkat dan dengan langkah cepat menaiki anak tangga.


Cklek


Ternyata pintu kamar Ayu tidak terkunci, meraba saklar listrik untuk menyalakan lampu dan langsung saja Yogi membuka lemari memastikan pakaian Ayu tidak masih ada disana.


Isi lemari Ayu masih banyak, koleksi sepatu dan tas yang tersimpan di pojok kamar juga masih lengkap. Yogi berpikir ini tanda nya Ayu pergi dalam waktu sebentar dan akan segera pulang.

__ADS_1


Begitu pikir Yogi.


...🌼🌼🌼...


__ADS_2