Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Hancur


__ADS_3

...*Happy Reading**💜*...


⚠️⚠️ *Part ini agak sensitif dan beberapa kata-kata dan perilaku kasar, jadi jangan ditiru ya guys**😱*


“Woi!!” Suara Adara menyentak Ayu dari lamunan nya.


“Bengong bae lo, kenapa dah. Ambeyen?” Adara bicara ngelantur, sejak kapan orang bengong karena ambeyen.


“Brisik lo” Jawab Ayu ketus.


“Lagian lo bengong-bengong aja daritadi, kesurupan baru tau rasa lo” Ucap Adara, ternyata dia belum selesai dengan ocehan nya.


“Mikirin apasih?” Lanjut Adara.


“Gak ada, pengen bengong aja” Ucapan Ayu sontak membuat Adara dengan kesabaran tipis nya itu kesal.


“Emang aneh ni anak, orang mah dimana-mana itu pengen seblak, bakso, pizza, siomay. Gak ada orang yang pengen bengong Bung gak ada. Lo doang kayak nya” Cecar Adara yang sudah sangat kesal.


“Berisik Dar, brisik” Cicit Ambar kesal.


“Lo pada kapan pulang?” Tanya Ayu menatap


“Lo ngusir?”Ucap Ambar dan Adiba serentak.


“Iya! Pulang sana, gue mau tidur” Rengek Ayu mengusir ketiga sahabat nya.


“Ya tidur tinggal tidur, urusan nya sama kita apa?” Jawab Adiba.


“Ya masalah nya lo pada nyemak di kamar gue!!” Cecar Ayu emosi.


Sudah seminggu sejak Ayu memutuskan kost, dan kebetulan kost-an teman yang Adiba maksud itu sedang ada kamar kosong. Setelah memutuskan beberapa hal akhirnya Ayu sudah menempati kamar kost itu dalam 4 hari belakangan.


Selama 4 hari belakangan ini juga ketiga sahabat nya sering mampir dari pulang sekolah bahkan sampai tengah malam, kadang juga mereka lebih memilih menginap.


Ayu sudah sering marah-marah, tapi ketiga sahabat nya seolah tuli. Mereka gak peduli.


Ayu paham, ketiga sahabat nya selalu berusaha berada di sisi nya. Mereka pasti tidak mau sampai Ayu merasa kesepian.


padahal Ayu merasa dirinya sudah baik-baik saja, tidak lagi memikirkan pertengkaran antara dia dan Ayah nya beberapa hari lalu.


Benar, hari itu Ayu pulang kerumah untuk mengambil pakaian dan beberapa keperluan nya yang tinggal dirumah, tapi nasib buruk sedang menimpa Ayu. Karena hari itu kebetulan Ayah nya pulang lebih awal dari kantor dan berpapasan dengan Ayu di ruang tamu.


Bisa ditebak, pertengkaran antara Ayah dan anak tidak bisa dielak kan lagi. Ayu pikir, Ayah nya akan marah perihal dia yang tidak pulang beberapa minggu nyatanya beliau marah hanya karena Ayu membuat kamar nya berantakan dan membuat istri kesayangan nya repot membereskan kamar milik Ayu.


Siapa suruh?


Rasa nya mau kecewa, tapi Ayu sudah mati rasa dengan ketidak pedulian Ayah nya.


Biarkan saja, Ayu juga sudah lelah.


Ayu hanya ingin mengambil barang nya dan pergi dari rumah itu dengan tenang, tapi sang istri kesayangan Ayah nya tidak bisa diam.


“Wah mau kabur dari rumah kamu? Pasti mau bebaskan diluaran sana. Mau kumpul kebo sama laki-laki itu?”


Laki-laki yang dimaksud adalah Revan, ya Revan yang menemani Ayu untuk mengambil pakaian nya. Kenapa bisa? Tentu saja semua ini hasil dari rencana tiga sahabat laknat nya.


Mereka pura-pura sibuk dan dengan santai nya Adiba menelefon Revan.


Brukk


Tas ransel besar yang sejak tadi di pegang Ayu terjatuh dilantai, dengan langkah besar Ayu berjalan kearah ibu tiri nya.


Plak

__ADS_1


“Tutup mulut lo—ja****” Bisik Ayu dengan suara rendah, membuat siapa saja yang mendengar nya merinding.


“BUNGAA!!”


Sang Ayah langsung meneriaki Ayu, sudah pasti dia tidak terima istri kesayangan nya di tampar.


“Lucu—heheh” Ayu terkekeh sarkas, terdengar sangat mengejek.


“Sekarang jal*** bisa teriak jal*** ya?” Ucap Ayu dengan suara rendah.


“Sebenernya gue jijik bersentuhan sama jal*** kayak lo, tapi mulut lo memang minta di sobek”


Ayu mengelapkan tangan kanan nya ke bahu dress yang dipakai wanita dihadapan nya, wajah jijik nya sangat ketara.


“Udah sering gue ingetin, lo gak ada urusan nya sama gue. Cukup lo urus suami kesayangan lo itu jangan sampe mati karena serangan jantung”


“Karna kalau dia mati, lo sama anak lo otomatis jadi gelandangan. Dan…gue gak sebaik itu bisa nampung jal*** sama anak haram nya dirumah ini”


Revan— dia hanya diam memandang pertengakarang Ayu dan wanita yang sepertinya adalah ibu tirinya.


Revan rasa ini bukan hak nya untuk ikut campur, masalah keluarga mereka pasti tidak se-sederhana kelihatan nya. Melihat Ayu yang baru saja menampar wanita itu, tangan nya yang memutih karena dikepal terlalu kuat oleh empu nya.


“Anak saya bukan anak haram!!” Teriak wanita itu tidak kalah marah.


“Oya?” Tanya Ayu remeh.


“Perlu gue ingetin? Lo dihamili sama laki-laki yang berstatus suami orang” Tangan Ayu menunjuk kearah Ayah nya berdiri tanpa mengalihkan tatapan tajam dari wanita yang dia panggil ******.


“Laki-laki yang tidak tau diri, sibuk mencari kesenangan. Bermain bersama jal***-jal*** diluar sana tanpa mempedulikan istri nya yang sakit-sakitan dirumah” Demi apa—sekarang suara Ayu sudah bergetar menahan tangis.


“Bunga kamu sudah keterlaluan” Pria dewasa itu menggeram marah, menarik kasar tangan Ayu agar segera menjauh dari istri nya.


“Awsh” Ringis Ayu pelan, menarik paksa tangan nya kembali.


“Jaga ucapan mu Bunga, apa kamu tidak tau sopan santun!!” Bentak Pria dewasa memaki anak nya.


“Gak, gue gak tau” Ayu menggeleng.


Ayu malas ribut, sungguh. Hari ini Ayu memilih mengalah bukan karena tidak bisa melawan Ayah nya, tapi—Ayu lelah.


Ayu menunduk berusaha untuk menguasai emosi nya yang sudah di ubun-ubun.


Mengambil tas nya di lantai dan berjalan kearah Revan yang sudah setia berdiri menunggu Ayu sejak tadi.


“Cuih, lebih jal*** mana sama anak yang masih SD tapi sudah tidak perawan”


Deg!!


Kaki Ayu berhenti, tubuh nya membeku seketika mata nya tak sengaja bertemu tatap dengan mata Revan. Laki-laki itu tampak kebingungan, Air mata yang sejak tadi Ayu tahan akhirnya jatuh juga, bagaimana cara menjelaskan nya kalau kalimat itu sangat menyakiti Ayu?


Demi apapun Ayu sudah berusaha melupakan itu semua, masa lalu kelam yang sampai sekarang meninggalkan bekas permanent di tubuh nya.


Berusaha meredam tangis, Ayu berbalik badan menatap tajam wanita yang baru saja melukai hati nya.


“Wah…” Ucap Ayu, bertingkah seolah kagum.


“Apa sekarang lo, lagi bagi informasi kalau adik brengs*k lo itu penjahat kelamin? Pedofilia? Narapidana? Pecandu? Pe—“


“CUKUP!!!” Teriak wanita itu sambil menutup telinga nya.


“Adik brengs*k lo keluar masuk penjara karena kasus pemerkosa*n kan?” Ayu tidak peduli, dia terus menyebutkan kelakuan adik kandung dari istri Ayah nya ini.


“Dan— gue mau ngingetin, Bukan nya Adik laki-laki lo yang menjual kakak kandung nya sendiri ke dunia malam. A.k.a pel****”

__ADS_1


Melihat wanita itu terus berteriak seperti orang gila membuat Ayu merasa senang.


“Upss” Ayu menutup mulut, berlakon seperti orang yang keceplosan.


“Cukup Bunga, keluar kamuuu!!” Bentak Ayah nya berang.


“Atau——“


“Atau jangan jangan lo udah sering di pake sama adik lo sendiri!!???”


“Wah tebakan gue kayak nya gak salah”


“Aarrggghhhh” Wanita itu terus berteriak, Ayah nya sampai kelimpungan untuk menenangkan istri kesayangan nya.


“Harus nya sesama orang yang sakit mental, kita gaboleh ungkit hal-hal sensitif tentang trauma orang lain”


“Sekarang tau kan gimana rasa nya di ingatkan tentang kejadian yang menjijikkan di hidup lo?”


“Bunga cukup” Ayah nya menggeram marah, lalu berdiri hendak mencekik Ayu.


Tapi kalah cepat dengan Revan yang lebih dulu menepis kasar tangan nya dan menarik Ayu agar bersembunyi di belakang nya.


“Jangan ikut campur!!” Gerakan tiba-tiba Revan tambah membuat Ayah semakin marah.


“Urusin tante itu aja om” Revan menunjuk wanita yang sudah terduduk dilantai terus menangis histeris sambil menutup telinga nya.


Ayah tidak peduli, terus menatap Ayu yang berdiri dibelakang Revan.


“Jangan bertingkah seolah kamu tau semua nya Bunga, ini peringatan terakhir saya. Jangan mengungkit semua kejadian itu di hadapan istri saya atau—“


“Atau apa?” Potong Ayu dengan suara lirih.


“Saya bunuh kamu!” Ayah menekan setiap kata di ucapan nya.


Deg!


Revan yang mendengar ancaman itu sontak terkejut tidak percaya, kalimat itu tidak terdengar hanya sebagai ancaman semata. Ada rasa dendam dan kilatan amarah di mata pria dewasa itu.


Beberapa detik kemudian Revan menoleh kebelakang begitu merasakan sentuhan dari tangan dingin yang bergetar di lengan nya.


“Per..gi” Gumam Ayu sangat pelan, Ayu menunduk dalam.


Paham dengan keadaan Ayu yang ketakutan, Revan langsung meraih tangan dingin dan bergetar itu, menggenggam nya kuat membuat Ayu beberapa detik merasakan kehangatan dari tangan besar Revan.


“Ayo!” Ajak Revan, meraih tas ransel Ayu yang entah sejak kapan sudah berada dilantai dengan sebelah tangan nya lagi menarik lengan Ayu pelan.


Ayu merasa sangat ketakutan, sekelebat memori yang menakutkan terlintas di otak nya.


“DIAM!!”


“Tolooonggg—hmmpbb”


“SAYA BILANG DIAM!!”


“Emmbbppp—“


“DIAM ATAU SAYA BUNUH KAMU!!”


Bruk!!


Ayu merasa tubuh nya tiba-tiba lemas, dan pengelihatan nya gelap. Hal terakhir yang dia lihat adalah wajah Revan yang terlihat khawatir dan beberapa kali memanggil nama nya.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


__ADS_2