
Sore ini di warung embak yang ada didepan halte sekolah tidak seperti biasa nya, hari ini warung embak di datangi empat gadis-gadis cantik yang terkenal di STM Peduli bangsa sampai membuat embak yang punya warung kegirangan menyambut mereka.
“Adudu cantik semua ku tengok kawan-kawan mu ini revan, mantap kali lah memang selera mu bah” Ucapan embak begitu melihat ada tiga gadis yang baru memasuki warung nya.
“Halo adek-adek ayo masuk sini” Embak warung menyambut mereka.
“Iya bu” Balas adiba sopan dan tersenyum.
“Bah jangan lah pulak aku dipanggil ibuk masih muda aku ini panggil embak aja ya adek manis” Tuhkan emang paling tidak terima kalau di panggil ibu padahal kan biar sopan aja sama orang yang lebih tua.
“Embak apa mbak?” Tanya adara yang kini duduk disamping fahri, modus sedikit duduk dekat cogan.
“Ah sama aja nya itu dek, ha mau makan atau minum apa kalian” Tanya embak warung melihat ketiga gadis yang baru datang itu.
“Es jeruk aja yah embak tiga” Adiba membalas, sebenarnya mereka cuma untuk menjemput ayu, namun gak enak juga sama embak nya yang kegirangan melihat mereka.
“Yasudah, sebentar dulu aku bikin kan dibelakang ya cantik” Embak warung berlalu meninggalkan adiba, adara dan ambar yang terkekeh melihat tingkah beliau.
“Si embak orang yang ke 2002 yang bilang gue cantik hari ini” Adara berlagak pamer sambil mengibaskan rambut nya kebelakang.
“Dih, cantik lo?” Ambar bertanya sinis ala-ala selebgram.
“Sirik tanda ndak mampu bar” Adara tidak terima pun menjawab.
“Hush diem, ini bukan daerah kita!” Adiba menyuruh duo keong racun ini diam.
“Ah iya juga, banyak cogan disini gue harus jaim” Adara berdehem memperbaiki rambut nya.
“Eh ada bang fahri, udah lama bang?l” Adara mengubah nada bicara nya lebih sopan ketika menyapa fahri.
Fahri hanya tersenyum tipis dan mengangguk karena dia tahu kalau adara hanya berbasa-basi padahal kan tadi mereka sudah bertemu mata sesekali yang artinya adara tahu kalau fahri sudah disitu sebelum dia datang.
“Gile bunga, nyasar nya ke tempat penuh cogan” Adara berdecak kagum memperhatikan sekitar yang banyak siswa laki-laki dari sekolah nya.
“Gue baru sadar, kalau anak STM PB tu ganteng-ganteng semua” gagal sudah tujuan menjaga image nya.
“Si Anjas bikin malu ae” Adiba menoyor kepada adara dari samping.
“Oiya kok lo bisa sampe nyasar kesini bung?” Akhirnya mereka mempedulikan ayu yang mulai kesal karena di cuekin.
“Yogi…” Ucap ayu membuat ketiga sahabat nya mengangguk paham.
“Adudu ini yang adek-adek cantik es jeruk dingin pesanan nya” Ucap embak warung sambil meletakkan gelas kemeja mereka.
Revan yang mendengar hanya mendengus.
“Nah karena kalian baru pertama datang kesini embak kasih geratis es batu nya. Sering-sering lah kalian kesini biar embak punya kawan bosan kali nengok batang-batang disini” Embak warung yang mengoceh kegirangan.
“Embak mah bikin kita malu aja, makasih ya bak es batu gratis nya” Adara malah meladeni si embak.
“Lain kali kita kesini deh, biar embak punya kawan trus nanti kita masukin embak jadi member geng kita mau gak? Adara memulai.
“Mau lah embak kalau satu geng sama kalian yang cantik-cantik ini siapa bisa ketularan cantik nya yakan” Embak tertawa.
Revan dan fahri hanya menyimak percakapan mereka, baru kali ini ada yang mau meladeni ocehan embak makanya dia kegirangan biasa nya cuma di becandain sama anak-anak cowok yang bandel dan suka lihat embak kesal.
“Oke bak, tos dulu tanda perkenalan sama temen satu geng” Adara memulai memberikan kepalan tangan kanan nya kearah embak.
“Bah ngapain ngajak ribut?” Embak bingung melihat tangan kanan ayu yang mengepal.
“Atuh bukan bak, gini loh Tos!!” Adara berseru begitu berhasil meraih tangan embak dan menyatukan kepalan tangan mereka berdua.
“Oh bilang lah dari dulu kan embak bingung” Kemudian embak melakukan tos tangan dengan ambar yang menyambut dengan baik.
“Embak lucu banget, selamat datang di geng kita yah embak semoga betah” Ambar tersenyum.
__ADS_1
“Welcome yah embak di geng kita” Adiba hanya berkata begitu lalu melakukan tos tangan juga. Melihat si embak yang kegirangan membuat adiba tidak tega menyanggah ucapan adara yang ngadi-ngadi.
“Yang ini kayak pendiem deh, mau tos gak gengs?” Embak warung melihat kearah ayu yang sejak tadi hanya diam di samping revan.
Mereka semua melihat kearah ayu yang memasang muka datar.
“Welcome yah bak” Ayu tersenyum dan membalas kepalan tangan kanan embak.
Deg! Deg! Deg!
Bunyi apa hayo……
Ya bunyi debaran jantung kedua laki-laki yang berada diantara gadis-gadis itu lah, melihat senyuman yang langka bagi mereka.
“Dua kali dan lebih dekat” Revan membatin, dengan debaran jantung tak santai.
Kalau fahri jangan di tanya sudah pasti dia meleyot, dari sekian lama dia memeperhatikan ayu baru kali ini melihat hal langka senyum yang manis dan ikhlas.
“Maklumin aja ya bak, temen kita yang ini kurang gizi jadi susah ngomong” Adara berbisik ketelinga si embak tapi suara nya masih bisa didengar dengan jelas oleh yang lain.
Refleks revan tertawa ngakak membuat ayu menatap tajam kearah nya, berdehem kembali menetralkan jantung nya.
“Iyaa makasih yaa, adudu embak senang kali. Nanti kalau kalian kesini lagi embak traktir lah makanan enak buatan embak” Ucapan bak yang.
“Oke embak, thanks” Adara yang membalas lalu embak pamit kebelakang lagi.
“Ngadi-ngadi lo sama orang tua! Geng apaan!” Akhirnya adiba menyalurkan hasrat menabok kepala adara.
“Yaa gapapa lah, gue liat mbak nya seneng kita kesini. Itung-itung pahala karena udah nyenengin orang tua” Adara membela diri lalu meminum es jeruk dingin nya.
“Alah modus, bilang aja biar lo ada alasan kalau kesini. Ngeliatin cogan?” SKAK! Ambar suhu.
“Sirik mulu idup lo, piknik gih!” Bukan adara namanya kalau hanya diam.
“Gak sirik, gue suka alasan lo” Ambar dan adara tertawa keras. Membuat pandangan orang yang disitu beralih kearah mereka.
“Ibu meysa kalau ngomong suka bener. Hahahahha” Bukan nya marah dikatain gatel adara malah membenarkan ucapa adiba, gak punya malu dasar.
“Oh iya gue duluan ya semua, van dipantau ya” Fahri bergerak dari kursi nya dan dibalas oleh anggukan revan.
“Ayu, gue balik dulu yaa” Fahri kembali pamit, tapi cuma pada ayu dengan senyuman mempesona buat ciwi-ciwi.
“Dasar modusa, yang di senyumin cuma ayu!!” Adiba berseru fahri hanya terkekeh lalu hilang dari pandangan.
“Kesian bang fahri, kasih tak sampai” Adara geleng-geleng kepala menatap pintu yang barusan ada fahri disana.
“Kok gak sampai emang bang fahri kasih apa?” Bisa di tebak ini siapa yang nanya, ya dia ambar.
“Yaa karna gak sampe” Jawab adara.
“Iya gue tau gak sampe, tapi kenapa bang fahri kasih apa kesiapa?” Ambar menjelaskan letak kebingungan nya.
“Dalah hayati lelah” Adara mulai balas berdebat.
“Eh bung, lo tau gak kalau bang fahri ntuh naksir lo?” Adara menanyakan langsung pada orang yang tak peka.
“Hah siapa?” Ayu tadi tidak fokus.
“Issh ituloh bang fahri itu naksir lo dari kita kelas sepuluh” Adara menjelaskan lagi dan dengan santai nya ayu hanya menggelengkan kepala tak peduli.
“Lo yang nanya lo yang begok!” Lagi-lagi adiba menoyor kepala adara.
“Ayu juga nengok cowok seganteng pakceyong gak bakal naksir” Adiba melanjutkan.
“Siapa lagi itu pakceyong?” Ambar bingung emang ada nama orang pakceyong.
__ADS_1
“Gak bar gak ada!” Malas adiba menjelaskan.
“Tapi lo normal kan bung?” Pertanyaan adiba sangat ambigu bila di dengar orang yang baperan.
“Brisik! Ayo balik” Ayu berdiri dari duduk nya menenteng tas.
“Ish ayu gak asik kan masih banyak cogan dsini” Adara cemberut.
Revan yang mendengar adara yang betah disini karena banyak cogan hanya membatin, jadi gini cewek kalau ngumpul itu bahas cowok ganteng. Baru tahu.
Keempat gadis itu sudah berdiri dari kursi dan adara berjalan kearah kasir nya embak buat bayar minuman mereka.
“Ya ampun gue lupa!” Adiba berseru sambil menepuk jidat.
“Kenapa?” Tanya ayu.
“Tadi gue udah janji mau nebengin adik kelas pulang, karena rumah kita satu komplek. Gue kan tadi gak tau kalau lo gak jadi naik angkutan jadi gue nawarin diri” Adiba menjelaskan, meneliti raut wajah ayu yang sudah kesal.
“Ngapain nyuruh nunggu” Ayu berdecak “yaudah gue nunggu angkot aja” Ayu bergerak namun tangan nya ditahan adiba.
“Gue minta maaf ya, tapi tu anak udah nungguin gue di halte. Gue lupa banget” Adiba merasa bersalah sekarang.
“Gapapa gue naik angkot aja” Jawab Ayu kembali.
“Gaboleh bunga sayang…” Adiba membujuk.
“Revan? Udah mau balik belum atau masih mau disini?” Itu ambar yang bertanya lada revan yang masih betah duduk.
“Oh iya ada revan. Van sorry nih sering ngerepotin tapi kali ini ayu bisa nebeng sama lo gak?” Adiba berusaha membujuk revan.
“Yaudah” Revan berdiri dari duduk nya “ayo” revan mengajak mereka beranjak dari situ.
...🌼🌼🌼...
Sekarang keenam orang itu sedang berada di jalan menuju pulang dan sesuai percakapan tadi kalau revan yang antar ayu pulang, motor revan berada paling belakang mengawasi motor adiba dan adara tidak ada obrolan antara revan dan ayu. Gadis itu hanya diam sejak tadi memandang ke kiri jalan.
Setelah beberapa menit motor sampai di kompleks rumah adiba, dan adik kelas yang ditebengin adiba sudah turun. Tinggal berjarak beberapa rumah lagi sebelum kerumah adiba, tapi gadis itu memberhentikan motor nya membuat teman nya yang lain bingung.
“Kenapa?” Tanya adara yang ikut berhenti.
“Itu” Adiba menunjuk mobil yang terparkir di depan gerbang rumah nya.
“Kenapa?” Tanya ayu begitu revan menghentikan motor nya dekat adiba.
“Bung gue gak salah kan, itu mobil ayah lo?” Mendengar itu ayu melihat kearah yang ditunjuk adiba.
“Gue gak mau pulang” ayu bergumam pelan
Seketika tubuh nya menegang dan itu dapat dirasakan revan yang sejak tadi menatap ayu dari kaca spion, gadis itu terlihat gelisah.
“Lo tenang dulu, jangan panik” Ambar menggenggam tangan ayu yang masih duduk diatas motor trail revan.
Revan hanya diam dia tidak bisa ikut campur disini meski dia tahu apa permasalahan nya, adiba memberi solusi.
“Vaan sorry nih kita ngerepotin lo lagi, tapi lo bisa bawa ayu sekarang. Diujung jalan yang kita lewati tadi itu ada taman komplek lo bisa bawa ayu kesitu sebentar nanti gue hubungin lagi” Ucap adiba.
Revan menangguk tanpa banyak bertanya dan menyalakan motor nya kembali, ayu tidak menjawab apa-apa hanya diam menunduk.
“Bunga, lo sama revan dulu ya, biar kita yang ngomong sama ayah lo” Adiba berbicara lembut memberitahu.
“Jangan takut, semua akan baik-baik aja oke!?”Adiba menenangkan ayu dan tidak direspon apapu oleh ayu sampi revan meninggalkan tempat itu.
... 🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...
Terimakasih buat yang selalu like setiap bab di cerita ku.
__ADS_1
Jangan lupa tambahkan ke favorito
Like, comment nya juga dunggg