
“Gue gak punya rumah” Gumam ayu yang masih terdengar oleh revan.
Tapi revan tak bertanya banyak tentang abang nya karena itu urusan keluarga.
“Lo masih mau nunggu angkot?” Tanya revan setelah membalik badan menghadap kearah ayu gadis itu betah sekali dibelakang punggung nya. Ih kan jadi baper.
“Kalau lo masih mau nunggu angkot jangan disini, nunggu diwarung sana aja biasa nya angkot kalau lewat tetap nge-tem di halte beberapa menit nunggu penumpang jadi lo masih sempat” Revan melanjutkan nya karena ayu tidak menjawab hanya menunduk saja.
“Disana aman kok, emang cowok semua sih tapi gapapa mereka anak STM kita” Revan membujuk ayu jangan sampai dia tetap ingin menunggu disini, belum ada jawaban.
Sebenarnya revan ingin menawarkan diantar sama revan saja tapi takut gak sopan.
Ayu mendongak menatap revan yang memang menjulang tinggi di hadapan nya, ayu masih berpikir kalau dia tetap nunggu di halte takut nya ada yang ganggu lagi, kalau balik ke sekolah juga gak mungkin. Ayu takut abang nya mengadu pada ayah dan akan datang marah-marah ke sekolah.
Jadi kesimpulan nya tempat yang aman sekarang ini adalah warung itu sampai angkot datang. Dia tidak ingin pulang kerumah ayah, bersembunyi saja sementara di warung itu.
Ayu mengangguk kan kepala pelan tanda dia setuju untuk kewarung itu, tapi revan tidak paham maksud anggukan ayu itu untuk jawaban dari pertanyaan yang mana.
“Maksud nya?” Revan bingung.
“Gue mau nunggu disana aja”
“Oh yaudah” Revan berjalan lebih dulu menyebrangi jalan diikuti ayu dibelakang nya.
“Santai aja disana aman, mereka gak bakal aneh-aneh” Revan berbicara seperti paham isi pikiran ayu sekarang, dia sedikit canggung.
Tidak sering berinteraksi dengan banyak orang di sekolah membuat ayu merasa canggung, nanti dia harus bersikap bagaimana biar tidak canggung? Haduh sakit perut.
Begitu sampai dipelataran warung mereka langsung disambut pertanyaan.
“Tadi siapa pan?”
“Abang nya” Revan menjawab sambil menunjuk ayu dengan dagu.
“Oh abang” Sebenar nya mereka ingin bertanya banyak tentang laki-laki tadi tapi diurungkan melihat kode berhenti bertanya dari revan.
“Masuk aja, diluar udah penuh” Revan mengajak ayu masuk kedalam warung.
“Ton, nanti kalau ada angkot lewat di stoppin yak” Revan berseru pada anton dan dibalas anggukan dengan sedikit tersenyum pada ayu dilakukan anton.
“Eh dari mana nya kau revan, udah dingin itu mie yang embak bikin tadi” Itu ibu pemilik warung yang menanyai revan.
“Dari depan bak, gapapa dingin yang penting masih bisa dimakan” Revan menjawab lalu duduk dikursi panjang.
“Duduk” Menyuruh ayu yang sejak tadi hanya berdiri di belakang nya.
“Bah siapa ini cantik kali ku tengok, cewek mu nya ini revan?” Ibu warung yang biasa di sapa embak itu baru sadar kalau ada orang lagi di belakang revan.
“Bukan” Revan melihat ayu yang memilih duduk disamping nya, namun sedikit berjarak.
“Oh ku pikir nya ini cewek mu, syukur lah kalau bukan. bisa-bisa patah hati anak gadis ku kalau kau sudah punya cewek”
Ibu warung ini memang orang sumatera utara yang merantau ke sini jadi logat bahasa daerah nya masih kental walau sering memaksakan diri pakai bahasa gaul. Selalu menyuruh mereka memanggil dia dengan panggilan mbak saja jangan ibu karena kata nya masih muda.
__ADS_1
Tapi dasar anak-anak ini nakal mereka malah memanggil ‘’embak’’ bukan ‘’mbak” dia juga sering menjodoh-jodoh kan revan dengan anak gadis nya yang masih kelas 1 SMA.
“Kau udah ada cowok belum dek? Kalau belum mau enggak sama anak ku nomor satu masih jomblo dia” Si embak tetap promosikan anak-anak nya.
“Bak promosi terus heran, itu anak bukan kulkas” Revan merasa tidak enak dengan ayu yang tampak kebingungan.
“Sorry, bak emang gitu. Lo mau minum atau makan gitu?” Revan bertanya.
“Minum aja, es jeruk” Ayu masih memperhatikan sekitar warung ini. Ternyata semacam tempat nongkrong seperti cafe tapi bukan cafe. Disini juga semua hanya ada anak STM PB tidak ada yang lain sangat ramai dan berisik. Ada yang main gitar, ada yang nyanyi ada yang main game dan lain-lain.
Mereka juga tersenyum ramah begitu melihat ayu masuk, tidak ada yang menggangu nya.
“Bak es jeruk satu!!” Revan berteriak agar terdengar embak yang sudah dibelakang.
Tidak ada obrolan diantara mereka berdua, revan memakan mie nya yang sudah dingin karena tadi ditinggal lama. Ayu kembali membuka ponsel memberi kabar pada sahabat nya.
...A4 Pretty Girl...
^^^Saya^^^
^^^Gue di warung seberang halte^^^
Adara Ulani
Kok bisa lo nyasar disana?
^^^Saya^^^
^^^Ceritanya panjang, pokok nya nanti pulang ekskul susul sini.^^^
Jangan kemana-mana!
Ayu kembali memasukkan ponsel nya kembali ke dalam tas, melihat kearah samping ternyata revan sedang menelefon.
“Iya” Suara revan menjawab panggilan di ponsel nya.
“Iya” Kembali terdengar.
Mereka membicarakan apa dan siapa ayu gak tahu dan gak mau tahu, takut dibilangin sok kenal kalau banyak tanya.
“Kata adiba, lo nunggu disini aja” Ayu menoleh begitu mendegar suara revan.
“Itu tadi adiba?” Tanya ayu, revan hanya mengangguk.
maksud nya revan tadi ditelefon oleh adiba gitu? Mereka dekat?
Ayu tiba-tiba merasa penasaran sejak kapan revan dan adiba dekat sampai berbagi nomor.
Ayu akui adiba memang mudah bergaul dengan orang lain makanya dia punya banyak teman, laki-laki ataupun perempuan.
Ya mungkin adiba sudah berteman dengan revan kan, secara adiba itu kemana dia pergi disitu dia punya teman tidak seperti dirinya.
“Ini es jeruk dingin nya dek. Karena kamu pertama kali kesini embak kasih gratis es batu nya” Embak warung datang sambil meletakkan gelas di meja nya.
__ADS_1
“Atuhh si embak, kalau udah es yah pasti dingin. Es batu nya bukan gratis tapi emang gak bayar kan” Revan protes dengan perkataan si embak.
“Sudalah tak usah kau komplen aku” Embak membalas.
Ayu hanya tertawa dalam hati melihat perdebatan revan dengan si embak warung membahas tentang es jeruk dingin?
Ayu menyeruput minumam dingin nya lalu menunduk, memilin kedua tangan nya tampak seperti orang yang sedang gugup dan tidak nyaman saat ini dia memikirkan abang nya yang akan mengadu pada ayah kalau dia ada dirumah adiba sudah dipastikan nanti malam dia akan di jemput paksa oleh ayah nya agar pulang.
Ini bukan kali pertama ayu meninggalkan rumah karena bertengkar dengan ayah nya sudah sangat sering, untung saja sahabat-sahabat nya selalu welcome kalau dia menginap dirumah mereka.
Terlalu asik melamun, ayu tidak sadar jika revan memperhatikan nya intens dengan pandangan khawatir.
“Ehm!” Revan berdehem untuk menyadarkan ayu dari lamunan nya. Namun tidak mempan.
“EHM!!” Revan mencoba lagi dengan suara yang lumayan kencang.
Ayu tersadar mendengar suara itu, lalu menoleh kearah revan sebentar saja dan tidak bertanya apapun.
“Mmm hey!” Panggil revan pada ayu yang duduk disebelah nya tapi jarak lumayan jauh memcoba untuk mencairkan suasana.
“Hm?” Balas ayu menoleh.
“Gue mau minta maaf soal yang waktu itu. Gue gak ada maksud buat lo marah, gue cum….”
“Maksud nya?” Kalimat revan dipotong oleh ayu.
Revan tersentak, apa ayu tidak mengingat kapan hari itu yang dia marah-marah hanya karena revan menyuruh nya minta maaf atas kesalahan adiba. Oh mungkin memang tidak penting menurut nya sampai dia lupa.
“Lupakan. Pokok nya gue minta maaf” Revan pikir ayu benar-benar lupa padahal dia sengaja pura-pura bingung.
“Loh ada tamu disini?” Terdengar suara laki-laki pintu masuk warung itu.
Revan menengok kebelakang arah pintu masuk.
“Eh bang fahri, baru keluar?” Revan menyapa basa-basi pada senior nya dan hanya dibalas anggukan.
“Udah lama disini?” Tanya fahri begitu duduk di kursi dihadapan ayu yang dibatasi meja.
Gadis itu hanya membalas dengan anggukan, dan menggeser sedikit badan nya Kearah revan.
Rasa kesal dirasakan revan saat fahri duduk dihadapan ayu dan juga senang melihat gadis itu tidak nyaman dengan fahri dan memilih menggerser kearah nya meskipun sedikit.
🌼🌼🌼
Aku merasa sudah tidak memiliki rumah untuk tempat ku pulang.
Karena ibu yang jadi tujuan ku pulang sudah pergi.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terimakasih buat yang selalu like setiap bab di cerita ku.
Jangan lupa tambahkan ke favorito
__ADS_1
Like, comment nya juga dunggg.