
Makan malam dengan keluarga revan sudah selesai, jadi revan langsung memberitahu Ayu kalau adiba menyuruh nya untuk pulang.
“Eh udah nyampe ya?” Kata sambutan dari adiba yang sengaja menunggu ayu sampai dengan revan.
“Ayo masuk, yang lain udah nunggu di dalam” Ucap adiba menarik lengan ayu pelan meninggalkan revan yang masih bengong disana.
“Revan ayo masuk, lo mau jadi batu disitu?” Ajak adiba, namun revan hanya menggeleng, tidak mungkin kan dia masuk kerumah itu yang isinya cuma ada perempuan.
“Gapapa, masuk aja” Bujuk adiba lagi namun tetap revan menggeleng.
“Bung, lo masuk dulu deh, gue ada yang mau diomongin sama revan” Ucapan adiba membuat ayu bingung, namun tetap setuju.
“Makasih untuk semua bantuan nya hari ini” Ayu berucap sambil menunduk, kemudia pergi meninggalkan adiba dan revan.
Bagaiman reaksi revan? Sudah pasti jaga image padahal di lubuk hati yang paling dalam dia senang. Karena pertama kali ayu berbicara pada nya tanpa diumpan terlebih dahulu.
“Lo mau langsung balik apa mau mampir bentar?” Tanya adiba basa-basi.
“Hmm gue balik aja deh, gak perlu bantuan lagi kan?” Tanya revan memastikan.
“Lo yakin mau balik, kayak nya bentar lagi bakal ada perang antara ayah dan anak loh. Gak mau nonton?” Pertanyaan adiba membuat revan bingung.
“Maksud lo?” Tanya revan.
“Udah tunggu sini aja, bentar lagi si bunga bakal keluar” Adiba berucap dengan sorot mata sendu, gadis itu tetap berdiri di hadapan revan.
...🌼🌼🌼...
Di ruang tamu sekarang ambar sedang mengompres wajah adara dengan air dingin, seperti dugaan mereka kalau pria dewasa itu tidak akan sebanding tenaga nya dengan mereka. Tamparan ayah ayu tadi meninggalkan jejak merah di pipi adara dan terlihat sedikit bengkak.
“Ngapain kalian?” Tanya ayu yang baru masuk dan melihat kegiatan kedua sahabat nya itu mencurigakan.
“Eh gapapa kok” Ambar menutupi pipi adara dengan tissue yang ada ditangan nya refleks.
“Itu pipi dara kenapa? Kok ditutupin” Ayu merasa curiga kalau mereka ada hal yang di sembunyikan.
“Gak ada tadi dara kebanyakan make blush on” Elak ambar sambil pura-pura menggosok pipi adara dengan tissue.
“Bohong!” Ayu menarik tangan menarik tangan ambar.
__ADS_1
“Pipi lo kenapa merah” Tanya ayu pada orang yang bersangkutan namun adara tidak menjawab.
“Gue tanya kenapa?!” Ayu berseru, entah bagaiman ayu berpikir kalau itu adalah ulah ayah nya.
Hiks hiks hiks
Suara tangis terdengar dari adara, gadis itu sudah menunduk dalam sambil memegang pipi nya.
“Gue nanya lo dara!!” Suara ayu semakin meninggi, ayu sangat takut kalau itu memang benar ulah ayah nya dia harus bagaimana.
Bukan nya menjawab adara langsung berdiri dan tiba-tiba memeluk ayu yang sejak tadi berdiri di hadapan nya.
Hiks….
Adara benar-benar menangis.
“Ayah gue?” Tanya ayu, tubuh nya sudah menegang menahan emosi sejak adara memeluk nya.
Ayu merasakan kepala adara bergerak menggeleng di bahu nya karena mereka masih berpelukan.
“Jujur!” Ayu sungguh sebal sekarang.
Adara melepaskan pelukan nya lalu memandang wajah ayu yang terlihat datar.
Bukan siapa-siapa saja rasa nya sakit hati dan fisik, lalu apa yang dirasakan ayu kalau ayah kandung nya yang melakukan sendiri.
Bukan nya merasa senang karena sudah di puji, ayu malah menggeram marah ketika mengetahui siapa yang melakukan ini. Ayu langsung berlari keluar tidak memperdulikan panggilan kedua sahabat nya itu.
“Ee ee.. lo mau kemana?” Adiba menahan ayu tangan ayu yang hendak melewati nya.
“Kunci motor!” Seru ayu tak sabaran mangadahkan tangan kearah adiba.
“Mana kunci motor gue?” Suara ayu sudah meninggi terkesan membentak.
“Gak. Lo gak boleh pergi” Adiba membalas ketus.
“Bunga, gak usah kemana-mana lo sini aja” Ucap ambar, mereka langsung berlari menyusul ayu yang keluar rumah tadi.
“Gak! Gak bisa” Balas ayu.
__ADS_1
“Pinjem motor!” Sekarang ayu malah mengadahkan tangan nya kearah revan yang sejak tadi hanya menonton mereka, sedikit kaget melihat tatapan marah ayu.
Revan melirik adiba meminta persetujuan, tapi gadis itu malah menggeleng.
Revan menyembunyikan kunci motor yang ada ditangan kanan nya kebelakang badan nya, namun ayu tak mau kalah dia malah menarik kuat tangan kanan revan bermaksud merebut kunci. Jelas tidak bisa, tangan revan tidak bergerak sedikitpun meski ditarik ayu kuat laki-laki itu mempertahan kan kunci motor itu.
Karena sudah sangat kesal, ayu kembali menarik paksa tangan revan dengan sekuat tenaga. Namun bukan kunci nya yang tertarik justru badan ayu yang kurang seimbang malah jatuh menabrak revan jadi mereka berdua seperti orang yang sedang berpelukan.
“BGST!!” Maki ayu pada revan lalu menendang tulang kering revan, laki-laki itu langsung jingkrak-jingkrak kesakitan sambil memegang kaki kanan nya.
Ayu memanfaatkan keadaan tangan nya langsung menarik kunci itu lagi, namun tidak sesuai perhitungan revan tetap memegang kunci kencang sampai ayu tidak bisa menarik nya. Ayu pikir dia akan lengah kalau sedang kesakitan tapi ayu salah.
“Gue anter!” Seru revan yang melihat ayu tetap kekeuh menarik kunci ditangan nya.
“Gak, siniin!” Ayu tidak mau, dia masih menarik-narik.
“Gue anter, atau gak sama sekali” Ucap revan dengan nada yang sangat pelan, namun terdengar menakutkan.
“Revan, bunga gak boleh kesana. Lo gak usah aneh-aneh” Akhirnya adiba bersuara menolak ucapan revan.
“Gue gak aneh. Biarin dia ngelakuin apa yang dia mau sekarang” Jelas revan dingin.
“Mau sampai kapan dia terus yang nerima perlakuan yang gak dia suka dari orang lain. Biarin dia menyelasaikan masalah nya sendiri sesuai apa yang dia mau” Ucap revan.
“Lo gatau apa-apa van, masalah nya gak bakal selesai kalaupun bunga pulang sekarang. Yang ada masalah nya makin besar” Adara berseru.
“Gue emang gak tau apa-apa, walapun masalah nya gak bakal selesai tapi setidak nya bunga puas menyampaikan apa yang ada pikiran nya. Gak selamanya nyembunyiin perasaan itu baik” Ucap revan membalas tatapan ayu.
Ayu menatap wajah revan bingung, mengapa revan berbicara seolah dia tahu apa permasalahan nya sekarang.
“Ayo” Revan menarik pergelangan tangan ayu pelan, membawa nya kearah motor yang terparkir.
“Revan!!” Adara memanggil keras laki-laki itu yang bertindak seolah dia benar.
“Udah biarin aja” Adiba menahan adara yang hendak berjalan kearah ayu dan revan.
“Kita ikutin aja” Adiba berbalik menuju motor nya yang terparkir dihalam rumah.
Adara pasrah sedangkan ambar hanya mengamati keadaan dengan tenang, sampai nanti diakhir dia tahu apa yang menjadi headline nya hari ini.
__ADS_1
Setelah menutup pagar, adiba kembali menaiki motor nya nya. Mereka harus cepat menyusul revan dan ayu yang beberapa menit yang lalu pergi mereka tidak boleh ketinggalan takut nya ayu kenapa-napa dan mereka tidak tahu.