Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Pamit


__ADS_3

...*Happy Reading**💕*...


“Kamu yakin?” Pertanyaan terlontar dari mama Risa yang merasa tidak yakin dengan pernyataan Ayu barusan.


“Iyaa tan, aku udah lama banget nge-repotin tante sama keluarga yang lain” Jwab Ayu sambil mengangguk mantap.


“Tapi..”


“Siapa bilang kamu nge-repotin, tante seneng kamu disini” Jawab mama Risa tulus, sungguh dia menganggap Ayu sudah seperti anak gadis nya.


“Tapi aku nya gak enak tan, udah nge-repotin tante sampai urus aku segala” Ayu menunduk merasa dia benar-benar merepotkan.


“Jangan ngomong gitu, seolah-olah tante bantu kamu karena kasihan. Sama sekali enggak Bunga tante tulus, tante udah anggap kamu kayak anak sendiri” Sekali lagi mama Risa menjelaskan dengan tatapan tulus.


“Terimakasih tan, tapi aku gak bisa bergantung terus sama orang lain. Takut Ayah ngacau gak jelas lagi jadi keluarga tante kena imbas nya” Cukup hanya Adara yang keciptratan emosi Ayah nya saat itu.


“Tante gak takut, suami tante Abdi Negara. Bisa apa dia?” Ucap mama Risa dengan nada bercanda tidak ingin Ayu merasa tersinggung.


“Betul juga yaa tan, hahah” Ayu tertawa menanggapi candaan wanita dihadapan nya ini, dia tidak tersinggung sama sekali.


“Kalau kamu keluar dari sini, kamu mau pulang kerumah?” Mama Risa bertanya hati-hati.


Setelah diam beberapa saat Ayu menggelengkan kepala sebagai jawaban.


“Syukurlah” Gumam Mama Risa dan tidak terdengar oleh Ayu.


“Jadi kamu mau kemana?”


“Emm..aku mau nge-kost tan” Jawab Ayu pelan.


“Apa nge-kost?!” Ada nada tidak percaya dari ucapan mama Risa.


“Iyaa tan, rencananya sih gitu”


“Daripada nge-kost mending kamu tinggal disini aja yaa?” Ucap nya nya membujuk.


“Maaf tan” Ayu menolak pelan, sungguh dia tidak ingin terlalu merepotkan orang lain dan juga dia tingan bergantung pada siapapun.


“Ya Allah nak, kamu jangan mikir aneh-aneh. Tante dan keluarga sama sekali gak merasa direpotin sama kamu. Liat tuh Riva aja kesenengan selama kamu disini” Jelas mama Risa panjang.


Ayu diam, bingung ingin menanggapi seperti apa. Ini kali pertama ada orang lain yang bukan keluarga nya begitu bersikeras menahan nya, menatap nya khawatir bahkan keluarga nya sendiripun tidak pernah seperti ini.


Melihat Ayu yang diam, mama Risa mencoba untuk memahami isi pikiran anak gadis itu.


Dia paham, untuk usia sekarang Ayu masih dalam fase mencari jati diri dan mencari kebebasan dalam arti bebas dari belenggu Ayah biadab nya.


Tapi mendengar Ayu yang pernah mengalami pelecehan seksual diusia belia, Mama Risa khawatir kalau gadis ini jauh dari pengawasan nya.


Kalau sampai trauma itu kambuh karena berbagai hal buruk yang memicu nya dan saat itu terjadi tidak satu orangpun di sisi nya maka itu sangat fatal untul mental Ayu.


Dia pasti melakukan upaya buruk untuk melukai diri nya sendiri meski itu diluar kendali nya.


Untuk yang dia lihat sekarang, Ayu butuh teman untuk bercerita. Mungkin Ayu bisa bercerita pada ketiga sahabat nya tapi Mama Risa tahu, makin dekat hubungan itu maka makin besar rasa untuk tidak terlihat lemah dihadapan orang terdekat kita.


Itu hukum alam, selemah apapun kita pasti ada saat nya kita tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang-orang terdekat kita.


“Okee, tante percaya kamu sudah memiliki pola pikir yang dewasa. Tentu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk” Mama Risa mengelus pelan surai pendek gadis itu.


“Makasih tan..” Ayu tersenyum lebar.


Pengakuan, remaja yang sedang mencari jati dirinya sangat ingin dapat pengakuan dari orang lain. Juga mereka ingin dipercayai bahwa keputusan yang mereka ambil adalah hal baik untuk mereka sendiri.


“Sama-sama”


“Oiyaaa kamu nge-kost nya dimana? bareng siapa?”

__ADS_1


“Rencana nya baru mau cari kostan nya besok tan, pulang sekolah” Ayu menyengir dengan tampang tanpa dosa nya.


“Loh baru nyari besok, tante kira udah ready”


“Trus bareng siapa kost nya? Temen-temen kamu?”


“Sendiri tan” Jawaban Ayu membuat Mama Risa makin gelisah kalau sampai membiarkan Ayu keluar dari rumah nya.


“Kok sendiri?”


“Iyaa tan, kan temen yang lain masih pada tinggal sama ortu. Untuk sementara aja kok tan, kalau udah mendingan aku bisa balik kerumah”


“Emm…yaudah tante percaya sama keputusan Bunga kok” Mama Risa tersenyum meski perasaan nya tenang.


“Makasih banyak sekali lagi tan” Ucap Ayu tulus menggenggam tangan wanita itu lembut.


“Sama-sama cantik, yaudah naik gih bersih-bersih dulu” Mama menggenggam balik tangan Ayu.


“Tan… Bunga keluar nya malam ini” Ayu berucap pelan, takut kena semprot.


“APA??!!” Nah tukan? Mama Risa meski Ibu yang lemah-lembut tapi tetap saja pada dasarnya Ibu-Ibu di muka bumi ini adalah orang yang cerewet.


“Gak, gak boleh!!” Mama Risa mulai melotot kan mata nya tanda tidak setuju.


“Bunga mau nginep dirumah Adiba tan, tadi udah ngomong” Jawab Ayu cepat.


“Gak boleh! Gak ada bantahan, tante udah ngijinin kamu buat nge-kost bukan berarti kamu harus keluar buat malam ini juga” Ucap mama Risa tegas.


“Kamu tinggal disini sampai kost-an nya dapat, gak ada bantahan!! Tinggal disini sampai ketemu kost-an atau gak nge-kost sama sekali” Ucap mama Risa tegas tidak ingin dibantah.


“Tan..” Rengek Ayu, sangat manja.


“Enggak tetap enggak” Mama Risa menggeser duduk nya, menjauh dari Ayu.


“Tan…” Rengek Ayu lagi.


“Tann…” Ayu langsung dipelototi tidak santai oleh Mama Risa.


“Pengen peluk” Ucap Ayu pelan, entah kenapa rasanya sangat ingin memeluk wanita dihadapan nya ini.


“Apa gak denger?” Bohong, mama Risa mendengar dengan jelas ucapan Ayu. Dia hanya ingin mendengar suara manja Ayu sumpah gadis ini sangat menggemaskan.


“Pengen peluukkkk” Rengek Ayu manja, seperti anak kecil yang meminta mainan baru pada Ibu nya.


“Ulu ulu, ada bayi pengen dipeluk” Ucap Mama Risa mengejek dan dengan cepat menarik Ayu masuk dalam pelukan nya.


“Hangat” Batin Ayu bergumam, mengeratkan pelukan nya.


“Bundaaa…Bunga kangen”


Baru kali ini Ayu menunjukkan sisi manja nya pada orang selain Bunda nya, sejatinya Ayu hanyalah anak perempuan yang kekurangan kasih sayang dari sosok Ibu, gadis rapuh yang berpura-pura kuat.


Dia menjalani masa remaja nya sendirian tanpa bimbingan dari seorang Ibu, benar-benar kesepian. Hanya ditemani rasa trauma yang besar menghantui hari-hari nya.


Tidak ada Ibu tempat dia memberitahu masa menstruasi pertama nya, tidak ada Ibu yang mengajari dia bagaimana cara memakai pembalut dan hal sederhana lain nya.


Sangat sederhana bahkan bagi orang lain itu berlebihan jika harus melibatkan ibu untuk mengajari memakai pembalut, tapi apa kalian percaya hal sederhana seperti itulah yang Ayu tidak bisa dapatkan.


Ayu menyesal, disaat-saat terakhir Bunda nya dia malah sibuk menangisi hal yang tidak perlu Bunda nya ketahui.


Andai….


Andai saat itu Ayu tahu kalau Bunda akan pergi untuk selama nya, Ayu akan menunjukkan senyum terbaik nya pada Bunda.


Andai….

__ADS_1


Andai saat itu Ayu tahu kalau Bunda akan pergi untuk selama nya, Ayu tidak akan menceritakan masa sulit yang dia alami disekolah.


Andai bisa….


Ayu akan bercerita kalau dia memiliki banyak teman yang baik disekolah, guru-guru yang menyayangi nya seperti anak sendiri dan banyak hal indah lain nya.


Meski itu harus berbohong, Ayu tidak masalah selagi Bunda bisa tersenyum disaat-saat terakhir. Tapi tetap saja Ayu paling tidak bisa berbohong pada Bunda.


Dia menceritakan semua tentang mereka yang tidak mau berteman dengan Ayu, tentang guru-guru yang ikut menyudutkan nya.


Masalah pelecehan seksual Ayu mereka jadikan bahan olok-olokan, mereka tertawa disaat Ayu mati-matian menekan rasa takut nya.


Sesama perempuan harus nya mereka bersimpati bukan?


Bukan kah perempuan itu makhluk yang memiliki rasa empati tinggi karena mereka lebih memakai perasaan saat menghadapi masalah dibanding memakai logika.


Tapi apa? Justru mereka yang paling mencemooh Ayu saat itu, dengan Alasan Ayu yang tidak mau menceritakan kejadian itu secara detail jadilah mereka beranggapan Ayu menutupi masalah itu karena dia adalah orang yang bersalah.


Dituduh sebagai orang yang bersalah padahal dia adalah korban.


Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan Ayu jika dia dipaksa menceritakan kejadian yang membuat nya trauma?


Sakit…sangat sakit sampai rasa nya mau mati.


Menyuruh korban pelecehan seksual menceritakan pelecehan yang dia alami adalah hal yang tidak manusiawi itu sama saja kalian bertanya perasaan seorang anak yang baru ditinggal mati kedua orang tua nya.


...🌼🌼🌼...


*Jujur weh aku mewek nulis part ini**😭*


Tidak ada siapapun yang ingin dirinya menjadi korban pelecehan seksual, tidak ada!!


Parah nya sekarang, banyak orang yang menyalahkan mereka “korban”, mengutarakan pendapat-pendapat yang menurut mereka benar secara sudut pandang mereka.


“Pantesan dilecehin, orang pakaian nya aja gitu”


➡️Kalian tau? Banyak dari Korban pelecehan itu yang menggunakan pakaian tertutup.


“Makanya jangan sering keluyuran”


➡️Kalian tau? Bahkan dirumah sekalipun ada mereka yang menjadi korban pelecehan.


“Halah badan dipamer-pamerin giliran di pegang lakik gak terima”


➡️Jadi gimana? Kita harus terima kalau dipegang-pegang sama orang brengsek seperti itu?


Banyak hal-hal yang menggiring opini untuk menyalahkan koraban karena ke-lalaian nya dalam menjaga diri.


Please…stop!!


Ucapan mu itu menyakiti perasaan korban, dia tidak lalai menjaga dirinya hanya saja saat itu nasib buruk sedang menimpa nya.


Disalahkan untuk kejadian yang bahkan dia sendiri tidak mau itu terjadi, sangat tidak manusiawi.


Ajari anak laki-laki mu, saudara laki-laki mu tentang bagaimana cara menghargai perempuan!!


Tanamkan Ilmu agama yang kokoh agar dia bisa menghargai perempuan manapun.


Bicara tentang nafsu, semua makhluk hidup juga punya nafsu termasuk binatang!!


Hal yang membedakan kita dengan binatang adalah AKAL!!


Akal untuk berpikir mana yang baik dan tidak, jangan asal main menerobos hak bebas orang lain hanya karena kau tidak bisa menafan nafsu mu!!


Manusia bukan?

__ADS_1


Dalah, jadi banyak bacot aku😭


__ADS_2