
...*Happy Reading**🌼*...
“Sekarang lo harus cerita! Kapan, dimana dan mengapa lo gebukin anak orang sampai masuk rumah sakit!?” Baru sampai di kostan, Adara langsung mencecar Ayu dengan banyak Pertanyaan nya.
“Yaa gituu…” Singkat Ayu.
“Jelasin yang bener, jangan ya gitu ya gitu aja lo!” Sentak Adiba ikut emosi.
“Jadi gue harus flashback nih?” Tanya Ayu malas.
“IYAA!” Jawab tiga sahabat nya serentak.
“Yodah!”
Flashback
Hari ini Ayu pulang tanpa pengawasan dari tiga sahabat nya, karena dia pulang jam 6 sore setelah latihan basket kan tidak mungkin mereka menunggui Ayu sampi jam 6 sore.
Sebelum pulang ke kostan, Ayu berniat mampir ke minimarket yang berada tidak jauh dari sekolah nya emm lebih tepat nya di dekat SMK Sebelah.
Ayu hanya berjalan kaki, sampai sekarang dia masih belum berani untuk naik ojek online ataupun ojek pangkalan apalagi naik angkutan umum. Berjalan pelan sambil bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang berasal dari earphone yang menyumbat di kedua telinga nya, Ayu mengamati gedung sekolah SMK sebelah yang terlihat sangat sepi gerbang yang sudah terkunci serta beberapa lampu sudah dinyalakan.
Wajar saja, hari sudah mulai gelap. Ketika sampai di samping gedung SMK itu Ayu melihat ada sekelompok murid perempuan yang masih mengenakan seragam. Sekitar lima orang dan setelah mengamati Ayu dapat mengenali kelompok itu—ya mereka adalah tim basket puteri yang bertanding dengan mereka beberapa waktu lalu dan juga orang yang telah membuat Sindi masuk rumah sakit.
Membayangkan wajah Sindi yang babak belur membuat Ayu geram seketika, Ayu sangat ingin melakukan serangan balik tapi Ayu tidak ingin memperpanjang masalah apalagi sampai melibatkan anggota tim nya. Dengan santai Ayu lanjut berjalan mengabaikan suara berisik dari kelompok gadis itu sampai salah satu dari mereka meneriaki Ayu.
“WOIIII BISUUUU!!” Teriakan itu sontak membuat langkah Ayu terhenti.
“Kan bener, lo si bisu itukan?” Perempuan itu mendekati Ayu dan ketika berada di depan Ayu gadis itu menghembuskan asap rokok nya ke wajah Ayu.
Whattt—mereka merokok disamping gedung sekolah? Ajigilee.
“Widih, punya nyawa berapa lo berani lewat kawasan sekolah gue?” Tanya nya Remeh.
Ayu hanya diam, tidak menanggapi tetapi dia mengamati wajah perempuan yang ada di depan nya saat ini.
Muka putih, leher hitam, bibir merah merona, alis kayak ulat bulu emm—like a chili…upss
Tanpa sadar Ayu tertawa dengan pikiran nya sendiri.
“Ngapa lo ketawa sendiri, gila?” Sentak nya marah, membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjak nya kuat.
“Gimana kabar nya temen lo yang kita keroyokin kemarin? Masih idup he?” Ujung jari nya mendorong bahu Ayu kuat sampai Ayu mundur selangkah. Oh dan kalian harus tau kalau sekarang posisi Ayu sudah di kelilingi oleh kelompok mereka.
“Semoga masih idup yaa…” Ucap nya lagi.
“Duh gue lupa, lo kan bisu mana bisa jawab pertanyaan gue….hahahahah”
Teman nya yang lain pun ikut menertawai Ayu.
__ADS_1
Ayu melihat jam kecil dilengan kiri nya untuk melihat pukul berapa, hampir jam tujuh dan Ayu harus mampir ke minimarket dulu karna ada kebutuhan perempuan yang kebetulan habis.
Kalau Ayu meladeni omong kosong kelompok ini pastinya butuh waktu lama dan Ayu tidak ingin kemalaman sampai kostan.
Dilirik nya lagi perempuan yang masih menatap nya remeh dan ujung mata nya melihat posisi empat orang lain nya, dua disebelah kiri dan dua disebah kanan. Dan sekarang Ayu paham, dia harus menyelesaikan secepatnya.
Melepas earphone ditelinga nya Ayu mundur dua langkah, memperbanyak jarak antara dia dan gadis wajah tebal itu.
”hahah kenapa? Lo tak—“
Bukk
Melayang sudah tinjuan kidal andalan Ayu, tepat mengenai batang hidup lawan.
”Awsshh…..” Ringis nya kesakitan.
“ZILAAA” Teriak empat teman nya mendekati Zila yang sudah terduduk lemas ditanah sambil memegangi hidung nya.
“Zil…hidung lo berdarahhh!!” Seru teman nya panik.
”Uuh mama….sakiitttt” Tangis Zila pecah, melihat tangan nya yang sudah penuh darah.
Salah satu dari mereka berdiri dan mendekat kearah Ayu “Kurang ajar lo” Gadis itu melayangkan tangan nya hendak menampar Ayu tapi gerakan lambat nya membuat Ayu masih sempat untuk mengelak.
Ayu menangkap tangan itu, menarik nya mendekat lalu memelintir kuat sampai terdengar bunyi tulang yang bergeser dari tempat nya. Tidak sampai disitu, Ayu menambahkan bonus tinjuan lengan kanan.
“AAAAAA SAKIiitttt” Dih lemah, padahal menurut Ayu tinjuan lengan kanan nya tidak sekuat itu. Yaa meski hidung nya tetap berdarah.
Keributan tidak akan terjadi kalau tidak ada kesempatan dan niat.
Begitulah, awalnya Ayu tidak berniat ingin ribut dengan mereka tetapi karena ada kesempatan dan keadaan yang mendukung membuat niat Ayu jadi menggebu.
Terlalu mudah untuk Ayu menyelesaikan tiga orang lain nya, hanya perlu menendang, meninju dan memelintir itu saja sudah cukup untuk membuat kelompok gadis manja ini kesakitan dan menangis memanggil mama.
Sorry banget nih, Ayu tidak ahli berantem ala perempuan. Menjambak rambut dan menyakar wajah, cih Ayu tidak level.
Setelah empat orang tergeletak ditanah, Ayu berjalan mendekati Zila. Secara pribadi Ayu memiliki dendam dengan gadis ini karena dia adalah orang yang menyebar kan gosip yang tidak benar tentang Ayu di sekolah SMP dulu. Dia juga lah yang telah menghasut teman-teman nya yang lain untuk ikut membully Ayu.
Ayu berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan gadis yang masih terduduk ditanah.
”Rasanya gue pengen robek mulut busuk ini” Ayu menampar pelan bibir merah merona Zila.
Zila yang awalnya sibuk dengan rasa sakit dihidung nya kontan terpatung ketika mendengar suara Ayu.
Ini pertama kalinya dia mendengar Ayu berbicara, bahkan setelah banyak hal mereka lakukan untuk memancing Ayu berbicara gadis itu tidak pernah terpancing.
Dikurung di toilet, dikurung di kelas dan banyak kejahilan lain nya dan Ayu tidak pernah berbicara apapun apalagi untuk mengadukan mereka ke guru. Itulah yang membuat mereka yakin kalau Ayu bisu.
Tapi sekarang, dia bisa mendengar jelas suara Ayu setelah sekian lama dan satu hal yang Zila sadari kalau suara Ayu terdengar menakutkan baginya.
__ADS_1
“Kenapa? Lo kaget denger gue bisa ngomong heh!?” Selidik Ayu.
“Gue gak bisu, cuma males buang-buang tenaga buat ngomong sama sampah kayak kalian”
”Tapi sekarang gue harus rela buat bicara sama sampah kayak lo, karna lo udah mengusik temen-temen gue”
“Tangan mana yang lo pake untuk mukul temen gue?” Zila masih diam membeku.
”Gak bisa jawab, bisu?” Ayu terkekeh pelan.
“Yang ini?” Ayu mengangkat lengan kanan Zila.
Dan—Kreekkk
Bunyi tulang yang bergeser dari tempat nya.
“Aaarrrrhhhh” Teriak Zila kuat, ketika merasakan tangan nya sakit akibat di pelintir Ayu.
“Oh salah? Jadi yang mana dong?” Ayu bicara seolah tidak melakukan apapun.
“Yang ini pasti” Ayu mengangkat lengan kiri Zila.
Dengan kuat Ayu meremuk kan jemari Zila, sampai teriakan gadis itu teredam saking sakitnya.
“Cupcup, jangan nangis dong. Nanti bedak nya luntur” Ayu mengelus pelan kedua pipi Zila.
.
.
Flashback off
“Terus, terus lo apain?” Desak Adara tidak puas.
“Yaa gitu, gue tampar dikit doang” Jawab Ayu.
“Dikit doang? Apa sampai dia pingsan?” Selidik Adiba tajam.
“Hehe—sampai pingsan aja kok” Jawab Ayu santai.
“Anjir, santai banget ngomong nya” Adara menoyor kepala Ayu penuh semangat.
“Jadi yang masuk rumah sakit itu, si Zila sama siapa?” Tanya Adiba lagi karena dia mengenal Zila saat SMP.
Ayu hanya mengangkat bahu acuh, mana dia tahu siapa yang harus dilarikan ke rumah sakit karena menurut Ayu dia tidak terlalu kasar pada yang lain nya yaa—kecuali Zila.
“Bunga….lo—“ Ambar yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Lo….psikotes?” Cicit Ambar pelan.
__ADS_1
“PSIKOPATTT!!” Teriak Adara dan Adiba kuat.