
...*Happy Reading**đź’ś*...
Siang menjelang sore ini dilapangan basket indoor STM Peduli Bangsa sudah berkumpul sekelompok murid perempuan yang membentuk barisan rapi menunggu guru pembimbing mereka datang.
“Selamatt…..sore semua!!” Seru Pak Rahmat.
“Sore pak!” Jawab mereka serentak.
Pak Rahmat memerhatikan satu-persatu anggota tim basket puteri yang berdiri dengan posisi tegap di hadapan nya.
Sekitar ada lima belas orang yang berbaris saat ini, sebenarnya untuk ekskul basket puteri sendiri itu punya banyak anggota mulai dari kelas sepuluh sampai kelas sebelas. Tetapi karena kelas dua belas sedang melaksanakan PKL (Praktik Kerja Lapangan) jumlah yang hadir tidak terlalu banyak.
“Gimana tidur nya? Nyenyak!?”
Tidur yang dimaksud adalah tidur arti lain tidak pernah latihan basket lagi.
“Siap! Tidak Pak” Jawab mereka serentak.
“Bersikap santai saja, hari ini kita hanya perlu sedikit ngobrol dan peregangan otot” Ucap Pak Rahmat santai. Dia memang mengajarkan sikap disiplin dan tegas pada tim ekskul nya, tetapi untuk beberapa keadaan pak Rahmat banyak memanfaat kan waktu untuk mengobrol santai sekedar sharing dan berbagi keluh kesah untuk kemajuan ekskul basket puteri STM Peduli Bangsa.
“Tujuan bapak mengumpulkan kalian disini mau info kalau anak SMK sebelah ngajak kita sparring besok”
“Besok pak? Kok dadakan?” Tanya Fatin, murid XI TKJ-2.
“Agak dadakan sih, karena bapak juga baru dikasih tau sama ketua yang sebelum nya itu tadi pagi. Tapi ini gak resmi cuma tanding persahabatan gitu, biasalah” Jelas pak Rahmat.
“Gausah khawatir, cuma tanding biasa. Kita anggap aja ini sebagai pemanasan awal setelah beberapa bulan kita gak aktif latihan”
“Siap untuk comeback!?”
“SIAP PAK!!” Jawaban serentak dan semangat.
“Saya suka semangat nya”
Prok prokk prokk
“Ayo pemanasan! Pemanasan!!”
Sore itu tim basket puteri yang sudah istirahat selama beberapa bulan pun melakukan kegiatan pemanasan sampai seleksi anggota inti yang akan ikut tanding besok.
Hanya perlu lima orang pemain inti dalam setiap pertandingan tapi jumlah mereka sudah lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan pemain inti dan pemain cadangan.
Bagi yang tidak terpilih sebagai pemain inti sama sekali tidak berkecil hati, mereka tetap semangat ikut latihan karena akan ada saat nya mereka rolling pemain di beberapa pertandingan.
Mereka latihan sekitar empat jam, dan sekarang sudah pukul enam sore lewat. Sekolah sudah sangat sepi. Karena anak ekskul yang lain maksimal nya sampai jam lima sore.
Anggota tim sudah bubar termasuk pak Rahmat, menyisakan Ayu sendiri yang masih beberes tas nya.
Menyampirkan tas hitam dibahu kanan nya, Ayu melangkah ke pintu keluar. Dan betapa terkejut nya Ayu menemukan Revan menyender santai dengan kedua tangan berada si saku celana abu-abu nya.
“Udah selesai?” Tanya nya begitu menyadari keberadaan Ayu.
“Hah?”
“Ayo pulang” Tanpa memberikan waktu berpikir pada Ayu, dia sudah berjalan lebih dulu.
“Kenapa? Gak mau pulang?” Tanyanya karena Ayu tak kunjung bergerak.
Ayu mendekat “Ngapain?”
“Ngajak pulang” Jawab Revan singkat.
“Di suruh Adiba? Gak perlu repot-repot gue bisa balik sendiri”
“Enggak, gak disuruh Adiba”
__ADS_1
“Hah?”
“Hah huh mulu, buru pulang! Gerbang nya udah mau ditutup”
Ayu berlari kecil untuk menyamakan langkah nya dengan Revan, mereka menuju parkiran dengan hening. Tidak ada percakapan sama-sekali sampai berhenti di samping motor Revan.
“Bentar…” Revan menghentikan Ayu agar berhadapan dengan nya.
Setelah memandang Ayu lamat, Revan mengangkat tangan nya dengan refleks Ayu mundur satu langkah. Dia pikir Revan akan menyentuh nya tapi…
Srekk
“Tissue nya dicopot dulu” Ternyata Revan hanya ingin melepas tissue yang sejak tadi menempel di dahi Ayu.
“Aaiisshh” Ayu meringis malu, dia baru ingat tadi sambil berberes dia menempelkan tissue di jidat nya guna untuk menyerap keringat. Tadi saking kaget nya dengan keberadaan Revan yang menunggu nya dia sampai lupa melepaskan tissue.
Revan terkekeh kecil, dia tau Ayu meringis malu “Nih” Dia menyodorkan helm berwarna merah.
“Helm siapa?” Helm yang diberikan Revan
“Minjem punya Anton” Revan memakai helm fullface nya sambil terus memperhatikan Ayu.
“Terus dia pake apa?”
“Dia biasa bawa helm dua” Jelas Revan.
“Ooh”
“Naik” Ayu menurut, menaiki motor dengan bantuan pundak Revan sebagai tumpuan sementara.
“Udah?”
“Dah”
“Kost-an gue belok kiri!” Peringat Ayu, ketika Revan tidak berbelok malah terus lurus melewati simpang kost-nya.
Banyak tenda-tenda biru penjual makanan disini.
“Ngapain kesini?” Ayu turun mengikuti Revan.
“Gue laper” Jawab Revan singkat, menyangkutkan helm nya di stang motor.
“Gue pengen pulang, bukan laper” Protes Ayu diabaikan Revan.
“Mau makan apa?”
“Gue gak makan” Jawab Ayu kesal, daritadi laki-laki ini terus mengabaikan protes nya.
“Yaudah, nontonin gue makan aja”
“Ck..” Decak Ayu kesal.
“Bu, saya pesen nasi ayam penyet nya dua. Minum nya es jeruk aja” Ucao Revan menyebutkan pesanan nya.
“Kenapa mesenin gue sih?”
“Kesian kalau cuma nontonin gue makan” Revan tersenyum tipis, dia sangat menikmati wajah kesal Ayu sejak tadi.
Gadis yang biasa nya minim ekspresi ini sekarang bisa bereskpresi kesal pada nya, dan—itu sangat menyenangkan.
“Nasi ayam penyet disini recommended, sambel nya pedes lo suka kan?”
“Gak!” Jawab Ayu ketus.
“Hahah kenapa?”
__ADS_1
“Lain kali kalau disuruh Adiba nganterin gue, lo jangan mau. Makin lama makin nge-lunjak dia”
Revan mengangguk “Tapi gue gak disuruh Adiba atau pun temen lo yang lain”
“Jadi?”
“Mau gue sendiri, tadi ketemu Adiba cuma nanya lo dimana”
“Kenapa?”
“Kenapa? Emang gak boleh?” Ayu diam, tidak menjawab. Dia cukup kesal dengan orang yang ditanya malah bertanya balik.
“Basket Puteri udah aktif latihan?” Revan berusah mencari topik pembicaraan.
“Hem”
“Mau ada tanding?”
“Anak SMK sebelah ngajak sparring”
“Kapan?”
“Besok”
“Loh dadakan?”
Ayu mengangkat bahu acuh, dadakan sekalipun mereka tetap akan meladeni.
“Silahkan mbak, mas” Ibu pemilik warung meletakkan pesanan mereka.
“Makasih bu”
“Dimakan” Mau tidak mau Ayu ikut makan, selain karena disuruh Revan dan takut mubajir makanan. Ayu juga sejujurnya lapar.
“Sparring dalam rangka apa?”
“Gak ada, sparring biasa aja”
Kemudian mereka makan dalam hening, Revan tidak niat lagi untuk mengangkat topik. Karena Ayu bisa dengan mudah membunuh topik yang dia angkat susah payah.
Gadis itu terlalu irit bicara.
Selesai makan, Ayu langsung memaksa Revan untuk mengantarkan nya pulang karena hari sudah gelap dan badan nya sangat gerah dan lengket akibat keringatan saat latihan tadi.
“Thanks” Ayu sudah sampai di pelataran kost nya.
“Hem—gue balik dulu”
“Hati-hati” Bisik Ayu pelan, terlalu malu untuk mengucapkan secara terang-terangan. Padahal dia berbisik pun Revan bisa mendengar.
Setelah memastikan motor Revan hilang dari pandangan nya, Ayu bergegas masuk dia sudah gerah.
Duh…rebahan memang hal yang paling nikmat.
Ayu meraih ponsel nya untuk mengecek chat grup yang masuk.
Jadi benar…Revan menunggui nya bukan karena di mintai tolong oleh sahabat nya tetapi memang dasar mau nya dia sendiri?
Ayu pikir Revan berbohong, mana mungkin dia bela-belain nunggu sampai jam enam sore cuma buat nganter Ayu dan itu tanpa di suruh!!
...🌼🌼🌼...
Kiw kiw…Abang Revan sudah mulai mengambil langkah nih guys!!
__ADS_1
Cemungggtthh abang!!