
Warning!!
Di bab ini banyak kata-kata kasar dan perkelahian, mohon untuk bijak dalam membaca nya.
Dan jangan ditiru yee
...🌼🌼🌼...
Ayu langsung turun dari motor trail revan begitu sampai di halaman rumah nya, dia berlari sekuat tenaga untuk mencapai pintu rumah nya namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam.
Braakk!! Braakkk!!
Ayu menggebrak pintu rumah ayah nya, sesekali menendang kuat.
“BUKA PINTU NYAAAAA!!” Ayu berteriak, wajah nya sudah merah padam menahan emosi.
“BUKAAAA!!” Ayu berteriak lagi, menggedor pintu kencang-kencang.
“Bunga, kamu udah pulang?” Itu suara yogi yang baru muncul dari balik pintu yang dibuka nya.
Bukk
Ayu meninju hidung yogi dengan kepalan tangan kiri nya tanpa basa-basi.
“Awwss” Yogi meringis memegangi hidung nya, gerakan ayu sangat cepat sampai dia tidak sempat mengelak.
“Kamu kenapa sih?” Tanya yogi lagi, yogi merasa dia tidak berbuat salah apa-apa sampai harus kena tinju ayu.
“Bacot anj1ng!!” Maki ayu.
“Gue udah nahan diri dari tadi sore buat gak ninju muka lo, tapi lo betingkah” Ayu menggertak yogi dengan mengangkat lagi kepalan tangan kiri nya.
Revan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari ayu hanya melongo, dia melihat dengan jelas aksi bar-bar ayu yang meninju hidung laki-laki yang membuka pintu itu juga memaki dengan kata-kata kasar.
“Gak bisa dianggap remeh ni cewek” Batin revan.
Adiba, adara dan ambar juga sudah sampai dirumah ayu mereka langsung berlari kearah revan yang masih berdiri di teras rumah itu.
“Bunga mana?” Tanya adiba langsung pada revan.
“Itu..” Tunjuk revan kearah bunga yang masih berada didepan pintu.
“Wah..wah tau jalan pulang juga kamu anak bandel” Suara wanita terdengar, ternyata itu ibu tiri nya yang baru muncul dari dalam rumah.
“Berandalan sekali kamu main pukul-pukul anak saya!!” Wanita itu memegang tangan yogi dan berusaha melihat hidung anak nya.
Ayu tak menanggapi perempuan itu hari ini dia hanya ada urusan dengan ayah nya, perempuan ini tidak penting sekali dalam hidup nya.
“Mana suami mu?” Tanya ayu pada perempuan itu.
“Itu ayah kamu, kalau lupa…. Atau sudah tidak dianggap anak lagi? Upss” Perempuan itu sedang berakting rupanya.
“Akting lo jelek!” Seru ayu men skak perempuan itu.
“Saya mama mu!!” Bentak perempuan itu, dia sama sekali merasa tidak pernah dihargai sebagai nyonya dirumah ini.
“No! Lo cuma wanita ular” Ucap ayu lagi, baiklah sekarang dia sudah berniat untuk ribut dengan wanita ini.
“Yang sopan kalau sama orang tua!!” Bentak wanita itu lagi.
“Diem!! Lo gak ada hak atas gue!!” Ayu juga membentak wanita itu.
“Lo cuma wanita perusak rumah tangga orang, jadi jangan sok negor gue soal sopan santun” Ayu melangkah, mendekati perempuan itu lalu tersenyum sinis.
“Berani kamu sekarang sama saya hah?!” Seru wanita itu.
__ADS_1
“Gue gak pernah takut sama lo, dan gak akan pernah. karena lo gak ada penting nya dalam hidup gue” ayu berbisik, namun masih bisa terdengar oleh mereka yang ada disana. Seperti nya ayu sengaja.
“Kurang ajar kamu!! Gak pernah diajarin sopan santun sama bunda mu hah?” Teriak wanita itu tepat di depan muka ayu.
“Mulut lo bau busuk, hueekk” Ayu berpura-pura muntah dan menutup hidung nya.
“Dan mulut bau lo gak pantes ngomongin bunda gue” Ucap ayu lagi, perempuan itu sudah hendak menangis mendengar hinaan ayu.
“BUNGA!!” Teriak yogi marah.
“APA!!” Ayu juga berteriak keras membalas yogi. Ayu sekarang sudah sangat emosi tidak peduli siapa yang melihat dia sekarang.
“Kenapa lo mau nangis? Trus ngadu sama suami kesayangan lo itu” Ayu bertanya sarkas.
“Kurang ajar kamu!!” Wanita itu mengangkat tangan nya hendak menampar ayu, namun ayu lebih dulu menangkap tangan ibu tiri nya.
“Lo pernah dengar cerita tentang anak tiri yang menyiksa ibu tiri nya?” Ayu bertanya sinis. Tangan nya meremas kuat tangan ibu tiri nya.
“Lepasin mama” Yogi hendak menarik tangan ayu dari tangan mama nya, namun ayu sudah lebih dulu menendang tulang kering yogi sampai laki-laki itu meringis kesakitan.
“Lo belum pernah denger kan? Gue juga. Jadi gimana kalau kita berdua yang buat cerita itu sendiri. Lo, gue siksa hm?” Ayu berucap dengan nada pelan tapi terdengar menyeram kan.
Revan sudah merinding sejak tadi melihat aksi ayu yang bicara sinis dan blak-blakan.
“Apa-apaan kamu!!” Bentak pria paruh baya itu. Dia melihat istri nya sedang berhadapan dengan ayu.
“Lepasin!” Seru laki-laki itu menarik kuat tangan ayu dari istri nya lalu mendorong ayu kasar sampai ayu terhuyung kebelakang namun tidak jatuh.
Refleks revan bergerak hendak membantu ayu namun ditahan oleh adiba.
“HA HA HA HA” Ayu tertawa kencang, namun sangat terdengar dipaksakan.
“Kalau lihat kalian bertiga berdiri di sana sekilas seperti keluarga kecil yang bahagia ya” Ucap ayu setelah selesai dengan tawa nya.
“Tapi asli nya kalian cuma kumpulan sampah yang tidak tau malu” Ucapan ayu membuat emosi pria paruh baya itu mendidih.
“Lalu dia, anak dari hasil penghianatan kalian berdua disebut apa ya?” Lanjut ayu lalu menunjuk yogi.
“Cukup!!” Bentak pria itu pada ayu dengan muka yang penuh amara.
“Cukup apanya? Bahkan gue belum mulai apapun” Kekeh ayu sinis.
“Selama ini gue gak ada ganggu kehidupan bahagia keluarga kalian, tapi kenapa kalian selalu gangguin hidup gue sih?” Ayu bertanya pada ketiga orang itu.
“Gak cukup cuma gua aja yang dikasarin? Kenapa sampai nampar sahabat gue juga” Ayu masih berbicara dengan nada tenang menatap ayah nya.
“Gue gak pernah minta banyak hal dari ayah, dari sekian banyak rasa sakit hati yang gue dapat apa gak cukup? Jadi tolong jangan gangguin orang yang gue sayang” Ucap ayu tegas pada ayah nya.
Ayu sudah sangat muak dengan tingkah laku kasar ayah nya, bukan tidak mau melawan namun ayu masih ingin mendengarkan nasihat bunda nya dulu yang selalu menyuruh nya untuk sopan pada ayah dan menghargai ayah. Namun nyata nya orang yang hendak dia hargai pun tidak ada baik sedikit pun.
Selama ini kalau mereka berantem, ayu masih coba menjaga tutur bahasa nya selalu memanggil diri menggunakan kata ‘aku’ pada ayah nya namun sekarang dia sudah tidak peduli lagi ‘lo gue’ sudah ayu gunakan.
“Jadi benarkan kalau mereka itu yang menyembunyikan kamu?” Akhir nya ayah ayu berbicara sambil menunjuk tiga gadis yang berdiri disana.
“Kalau iya kenapa dan kalau enggak kenapa?” Tanya ayu sewot, padahal sudah berusaha untuk tenang kali ini namun seperti nya tidak bisa.
“Pantas saja kamu berandalan karena punya teman seperti itu” Ucap pria itu tak mau kalah.
“Hahaha haha” Ayu tertawa paksa.
“Kemarin-kemarin nyalahin bunda gue, sekarang nyalahin sahabat gue. Besok siapa lagi?” Lanjut ayu.
“Pernah nyalahin diri sendiri gak?” Tanya ayu sinis.
“Coba deh sekali-kali nyalahin diri sendiri, berkaca dan turun kan ego ayah yang sangat tinggi itu untuk menyalankan diri sendiri.
__ADS_1
“Sebagai seorang ayah apa tidak malu? Mereka yang notabene nya adalah orang lain. Bukan saudara saja mereka berusaha jagain gue, selalu ada disetiap gue kesulitan” Ayu berucap sambil menunjuk kearah tiga sahabat nya.
“Apa ayah mau tau? Mereka lah orang yang selalu bantu aku buat ngobatin luka-luka bekas ayah pukulin, mereka orang yang pertama nangis lihat gue sakit, mereka orang yang paling khawatir kalau gue gak ada kabar barang satu jam aja” Jelas ayu, tangan nya masih menunjuk kearah tiga sahabat nya.
“Gue bersyukur bisa dipertemukan sama mereka disaat gue udah bener-bener nyerah sama kehidupan gue, gue beruntung. Dari semua hal buruk yang gue alami ternyata .Tuhan sangat baik ngasih hadiah dengan mempertemukan gue temen yang bisa gue jadiin tempat bersandar dan cerita” Mata ayu mulai berkaca-kaca, sungguh kali ini dia merasa sangat sakit hati pada tingkah ayah nya yang menampar adara.
“Dia kurang ajar mengatai saya brengs3k”
“YA MEMANG BRENGS*K!!” Balas Ayu berteriak kencang.
PLAKK
Lagi, pria itu menampar ayu sangat keras sampai ayu terjatuh kelantai membuat revan yang ada disana sangat shock. Revan bersumpah ini pertama kali dia melihat kekerasan ayah pada anak perempuan nya secara langsung di depan matanya membuat darah nya mendidih emosi, kaki nya melangkah kearah ayu yang kini terduduk di lantai.
“Berdiri” Revan mengadahkan tangan nya ke muka ayu untuk membantu gadis itu berdiri, namun ayu hanya memandang tangan besar revan.
Selama ini ayu selalu berdiri sendiri dari jatuh yang dialami, sesakit apapun kaki nya untuk berdiri dia tetap berusah karena bagaimanapun ayu tahu kalau tidak akan ada orang yang membantu nya berdiri di saat seperti ini termasuk ayah nya. Tapi sekarang berbeda laki-laki yang bahkan ayu baru kenal kemarin ini sudah melakukan banyak hal dari untuk nya, apa kali ini tuhan memberikan nya hadiah lagi?
“Berdiri” Ucap revan lagi, masih mengadahkan tangan nya.
Ayu meraih tangan revan lalu berusaha berdiri sambil memegang pipi nya dengan tangan sebelah lagi, perasaan revan sangat kacau begitu melihat pipi ayu yang merah ada perasaan yang ingin di lepaskan saat ini juga.
Perasaan ingin meninju pria dewasa dibelakang nya saat ini, tapi itu tidak benar karena dia bukan siapa-siapa disini.
“Sabar van, sabar” batin revan.
“Ooh jadi ini anak laki-laki yang tadi sore, kamu yang membawa bunga pergi dari taman kompleks itu kan?” Ucapan pria itu membuat revan berbalik badan, menatap datar kearah pria itu.
“Kamu ingin membantu dia bersembunyi? Kenapa, apa yang anak ini berikan sampai kamu bersedia membawa dia” Tanya ayah ayu lagi, namun revan sama sekali tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan unfaedah itu.
“Oh biar saya tebak… kalian sudah tidur bersama?”
“Maaf ya” Bisik revan pada ayu yang terlihat shock disamping nya mendegar ucapan ayah nya sendiri. Tapi gadis itu masih bisa mendengar ucapan revan hanya saja dia belum sempat mencerna maksud ucapan revan dan kejadian berikut nya malah membuat dia makin shock.
BUKK
“AaaaAAAaa sayaaaangg” Si ibu tiri sudah berteriak histeris begitu melihat suami nya sudah tergeletak pingsan di lantai dengan hidung mengeluarkan darah., akibat pukulan revan yang tepat mengenai hidung nya.
Hanya sekali pukulan saja sudah K.O tapi tetap berlagak sok keras, pengecut bisa nya cuma lawan perempuan.
“Apa-apaan lo!!?” Seru yogi membentak revan, revan hanya membalas dengan tatapan mematikan andalan nya. Dan benar saja nyali yogi langsung ciut melihat tatapan revan.
“Yogi, ayo bantu bawa papa kedalam!” Seruan panik si ibu tiri.
Yogi langsung bergerak, mengangkat sekuat tenaga badan bongsor papa nya kedalam rumah.
“Saya akan laporkan kamu ke polisi, awas saja” ibu tiri mengancam revan tidak santai lalu berlari masuk kedalam rumah.
Revan hanya acuh dia tidak takut sama sekali karena merasa tidak bersalah, revan menoleh kesamping melihat ayu yang masih betah memandang kearah lantai tempat ayah nya pingsan tadi tapi tatapan nya kosong.
“Maaf gue gak maks….”
Tiba-tiba saja badan ayu oleng kesamping membuat revan refleks menangkap bahu gadis itu dan malah badan revan ikut tertarik jatuh bersama ayu yang sudah tidak sadarkan diri.
Brukkk
Untung saja tangan besar revan berhasil menahan kepala gadis itu hingga tidak langsung terhantuk kelantai.
“BUNGAAAA” Teriakan serentak ketiga sahaby ayu berlari.
...🌼🌼🌼...
Rezeki itu gak selalu dalam bentuk uang ataupun materi.
Teman yang baik dan setia juga adalah bentuk rezeki yang baik dari Tuhan.
__ADS_1