
Setelah perginya Revan membawa ayu
dari sana adiba, adara dan ambar melanjutkan laju motor nya menuju rumah adiba
untuk menemui ayah ayu dan mereka harus bertindak seperti tidak tahu keberadaan
ayu.
"Eh ada apa ini? rame-rame
dirumah saya?" Tanya adiba begitu sampai didepan pagar rumah nya..
"Mana bunga?" Ayah ayu
bertanya to the point.
"Loh kan anak om kok tanya
saya?" Adiba menjawab pura-pura tidak tahu.
"Jangan sembunyikan anak kurang
ajar itu!" Seru ayah ayu lagi dia yakin kalau anak-anak ini berbohong pada
nya pasti mereka tahu keberadaan ayu sekarang.
"Demi kerang ajaib ni om, kami
gak tau ayu ada dimana" Kali ini adara yang menjawab.
"Tidak usah berbohong saya tahu
kalau dia disini karena yogi yang memberitahu, jangan sembunyikan dia atau saya
akan menggeledah rumah ini untuk mencari bunga!" Pria paruh baya itu
memberikan ancaman pada ketiga gadis itu.
"Mau rumah nya di jungkir balik
kan juga om gak akan nemuin ayu. Kan udah dibilang kita gak tau ayu ada
dimana" Ucapan adara ini memancing emosi pria itu dan memerintahkan anak
buah nya untuk membongkar rumah adiba.
"Bongkar rumah ini!" Perintah
ayah ayu pada empat orang anak buah nya yang berotot dan muka seram.
"eits jan sembarangan masuk
rumah orang dong kalau gak diizinin. Punya sopan santun gak sih kalian?"
ucap adiba sambil mennghadang pagar hitam rumah nya menghali orang suruhan pria
itu untuk membongkar rumah nya, Bodo amat sama sopan santun.
“Tidak usah sok mengajari saya sopan
santun kamu YA!!” Pria itu a.k.a ayah ayu itu membentak.
"Kalau om tetep mau nerobos
saya teriak maling ni biar di gebukin warga sekalian" Kali ini ambar yang
mengancam.
"Sebelum kamu teriak saya sudah
bunuh kamu" Wah luar biasa sekali pria ini tidak ada takutnya.
"Om pikir saya takut? Maap-maap
ini saya gak takut sama sekali" Ambar berusaha melawan dan tidak telihat
takut padahal sebenarnya mereka bertiga ketakutan, karena sangat tidak
sebanding kalau mereka bertiga yang punya badan mini dan tenaga kacang ini
melawan lima laki-laki dewasa berbadan raksasa. DIlilhat dari segi manapun
tidak ada kemungkinan mereka menang.
"Gini ya om, kita udah bilang
kalau bunga gak ada sama kita. Ini juga tadi kita terakhir ketemu di sekolah
habis itu gak tau bunga kemana lagi" Adiba kembali menjelaskan
dengan pelan siapa tahu masuk kedalam otak pria itu.
"Saya tidak percaya, kalian
semua cari anak itu dikompleks ini sekarag!!" perintah ayah ayu pada anak
buah nya.
“Baik Boss!!” Jawab serentak keempat
pria raksasa itu.
“Kok om masih disini?” Tanya adara
melihat ayah ayu yang masih diam ditempat dengan pandangan tajam pada adiba,
adara, dan ambar.
“Om gak percaya sama kita yah? Yaudah
sih gamasalah. Guys gue duluan ya kebelet nih” Ucap ayu pada kedua teman nya
dengan sesekali mengedipkan mata, mereka yang paham akhir nya menangguk.
“Jangan biarin siapapun masuk”
Peringat ayu lalu pergi berlari kedalam lalu kembali menutup pagar.
Dengan tergesa-gesa adiba mengambil
ponsel nya dari kantong rok abu-abu nya lalu mencari kontak revan.
"Halo." Ucap adiba begitu
revan mengangkat panggilan telefon nya.
"van sorry banget ni, sekarang
bisa lo bawa ayu keluar dari kompleks ini, ayah nya tadi nyuruh orang-orang nya
untuk nyari ayu disini" Adiba menjelaskan pada revan
" Kemana?" Suara revan
menyahut di telefon.
"Kemana aja plis, kita percaya
sama lo. Nanti gue hubungin lagi" Hnya sampai disitu adiba menjelaskan
lalu memutuskan panggilan sepihak.
""""
Panggilan sudah terputus dan revan
masih menatap ponsel nya dengan raut wajah kebingungan karena adiba tidak
menjelaskan lebih banyak, sekarang kemana dia harus membawa ayu untuk
bersembunyi revan bingung. Melihat ke kaca spion nya memperhatikan ayu yang
masih betah menunduk duduk dibelakang nya seperti nya gadis itu sedang berpikir
keras.
"Turun" Revan mneyuruh ayu
untuk turun karena dia sudah memberhentikan motor trail nya, namun gadis itu
tidak merespon. Ayu masih menunduk dan melamun. Sudalah akhirnya revan
yang mengalah dia beranjak dengan hati-hati agar kaki panjang nya tidak mengenai
ayu yang duduk di belakang dan syukurlah kali ini kaki panjang nya tidak
__ADS_1
membawa celaka.
Setelah berhasil revan masih berdiri
diam ditempat melihat ayu, juga masih memikirkan akan kemana dia membawa
ayu sekarang. Meski menunduk wajah ayu
masih bisa terlihat jelas dari tempat revan berdiri, wajah terlihat sangat
kelelahan dan juga merah sangat kontras dengan wajah nya yang putih. Revan
berjalan melewati ayu yang masih duduk diatas motor namun langkah revan
terhenti begitu ujung seragam nya ditahan oleh ayu.Seperti nya gadis itu tidak
mau ditinggalkan.
“Sebentar” Ucap revan lalu
melepaskan genggaman tangan gadis itu dari ujung seragam nya.
Taman ini masih sangat ramai meski
sudah hampir memasuki waktu maghrib,
banyak pedagang gerobakan dan juga ada yang sekedar lari sore. Bukan lari dari
kenyataan yak wkwkw.
Melihat revan yang berjalan kearah
gerobak jualan itu ayu kembali menunduk, pikiran ayu sekarang membayangkan
bagaimana ketiga sahabat nya itu bisa melawan ayah nya yang keras kepala dan
kasar itu, ayu bersumpah tidak akan memaafkan ayah nya kalau sampai main tangan
pada adiba, adara dan ambar dia bersumpah.
“Nih minum dulu” Ucap revan sambil
mengangkat botol air mineral ditangan kanan nya menyodorkan pada ayu.
Ayu mendongak melihat revan sekilas
lalu menatap air mineral dan tissue basah yang disodorkan revan lalu menerima
kedua barang itu.
“Ini?” Ayu bertanya sambil
mengangkat tissue basah itu.
Revan yang mengerti maksud ayu lalu
mengangguk dan tersenyum tipis.
“Itu bersihin ingus yang ada di pipi
lo, jorok banget jadi cewek” Ucap revan dengan nada mengejek.
“Ha?” Ayu bingun dan menyentuk kedua
pipi nya, memeriksa apakah bener ada ingus tapi dari mana datang nya kan ayu
tidak lagi flu.
“hahahahahahaa” Itu suara tawa revan
yang besar, menertawakan ekspresi lucu ayu yang meraba-raba kedua pipi nya.
Setelah sadar dengan tatapan tajam
ayu, revan pun meredakan tawa nya.
“Gak, maksud gue itu lo bersihin
muka soalnya muka lo kusut banget sampe merah gitu” Akhirnya revan menjawab
serius karena melihat tatapan tajam ayu, bukan revan bukan takut tapi salting saja
kalau dipandangi cewek cantik. Ekhmmm.
Ayu hanya mendengus, sedekil apa sih
membelikan dia tissue basah. Sudalah toh dia juga tidak peduli mau sejelek
apapun dia sekarang biar illfeel aja sekalian ini cowok pikir ayu.
Tangan ayu pun perlahan membersihkan
muka nya dengan wajah yang masih ditekuk karena kesal.
“Lo bersih-bersih nya sambil jalan
ya, tadi adiba nelfon gue bawa lo dari sini karna orang-orang nya bokap lo
nyariin di sekitar kompleks ini sekarang” Ucapan revan sontak membuat ayu
berhenti dari kegiatan nya dan beralih memandang revan sendu.
“Iya kita pergi dari sini, jadi tenang
aja oke?” Nada bicara revan terdengar sangat lembut dan tenang di telinga ayu.
Ayu langsung menunduk nada bicara dan tatapan lembut revan yang menenangkan nya
membuat debaran jantung ayu mendadak tidak santai.
“permisi” Gumam revan yang sekarang
tengah berusaha naik keatas motor nya, sedikit sulit karena ada nya ayu yang
masih duduk diatas motor itu juga.
“Gue mau ngebut, lo pegangan yang
kenceng” Revan memperingati ayu, jadi langsung saja ayu memegang tali tas
punggung revan erat.
Sesuai peringatan nya tadi revan
memang melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi membuat ayu ketakutan tapi
hanya diam tidak berani protes karena ayu juga tidak mau sampai tertangkap oleh
orang-orang suruhan ayah nya. Kalau tertangkap bisa habis dia hari ini juga.
Tidak sampai sepuluh menit motor
revan sudah berhenti didepan pagar silver yang tinggi da nada rumah bertingkat
didalam sana. Revan membunyikan klakson motor nya dua kali sampai pagar itu
dibuka oleh seorang pria paruh baya yang tersenyum kearah revan.
“Silahkan bang” Ucap pria paruh baya
itu tetap tersenyum.
“Makasih ya pakde” Seru revan lalu
menjalankan motor nya melewati pria yang revan panggil pakde tadi.
Begitu motor berhenti ayu langsung
turun tanpa diperintah revan lagi.
“Dimana?” Tanya ayu sambil melihat
rumah dihadapan nya saat ini. Dia bingung kenapa revan membawa nya ketempat
yang tidak dia ketahui.
“Ini rumah gue, gue bingung tadi mau
bawa lo kemana” Jelas revan yang turun dari motor nya.
Mendengar itu ayu reflex memundurkan
kaki nya kebelakang.
“Eh sorry jangan salah paham gue gak
__ADS_1
maksud apa-apa sama lo” Revan panic dan dia maju mendekati ayu,
“Didalam ada mama sama adik cewek
gue kok, bukan gue sendiri” Jelas revan lagi sebelum ayu benar-benar salah
paham.
“Eh abang, udah pulang kok gak
masuk?” Terdengar suara perempuan revan langsung membalik tubuh nya dan
mendapati adik nya yang berdiri di belakang pintu. Bukan nya menjawab
pertanyaan adik nya revan malah menghadap ke ayu lagi.
“Nah itu adik gue” Revan memebenarkan
maksud nya tadi kalau dia tidak berbohong.
“Masuk bang, mama nyariin abang tuh
ajak kakak cantik nya masuk” Ucap adik nya lagi dan berlalu dari pintu.
“Ayo masuk dulu udah maghrib”
Setelah berucap revan pun meninggalkan ayu yang masih bingung, tapi mau
bagaimana lagi ayu harus mengikuti revan dari belakang.
Melihat ayu yang mengikuti nya revan
pun tersenyum tipis lalu masuk kedalam rumah nya.
“Dari mana saja kamu bang hah, kalau
mau pulang lama itu kabari mama atau adik mu biar gak khawatir” Begitu masuk
revan langsung disambut oleh kebawelan mama nya.
“Iya mama cantik maaf ya tadi revan
gak sempat” Ucap revan lalu meraih tangan mama nya untuk salam.
“Ya ampun abang, anak gadis siapa
ini yang kamu culik HAH? Jangan macam-macam ya bang mau kamu di gantung papa”
Mama revan langsung menghujani revan dengan pertanyaan begitu melihat anak nya
pulang membawa anak gadis orang.
“Atuh si mama kuping abang pengang
ini jangan teriak-teriak, dengerin abang dulu” Revan mengeluh.
“Marahin aja terus ma, abang emang
gak pernah jelas” Itu ucapan adik perempuan revan yang dipintu tadi.
“Gausah kompor kamu dek” Revan
memperingati adik nya.
“Jadi ini the temen sekolah revan,
nama nya ayu” Revan membuka perkenalan pada mama nya.
“Gak usah kamu kasih tau mama bisa
baca dari seragam nya” Jawaban mama membuat revan mendengus kesal.
“Halo bunga” Sapaan mama terdengar
sangat lembut.
“Atuh nama nya cantik kayak orang
nya ya” Mama kembali memuji ayu, padahal tadi marah-marah gak jelas.
“Iya tante” Ucap ayu sambil
tersenyum dan salam seperti yang dilakukan revan tadi pada mama nya.
“Kamu pacar nya revan?” Tanya mama
pada ayu, sudah pasti ayu kaget dan menoleh kearah revan meminta pertolongan.
“Ih mama jangan nanya yang aneh-aneh”
“Jangan mau sama abang kak, dia
kalau tidur mata nya melek” Ucap adik perempuan itu pada ayu.
“Bukan pacar revan” Ayu menjawab
seadanya.
“Bagus lah kalau bukan, jangan mau
ya sama anak tante nyusahin aja bisa nya revan itu” Mama revan kembali memburukan
revan pada ayu.
“Mama jangan gitu, nanti anak nya
gak laku-laku” Revan berbicara dengan nada merengek manja. Ayu hanya mengangguk
menanggapi ucapan mama revan.
“Dek, kamu bawa kakak nya keatas ya.
Pinjemin baju juga soal nya dia udah bau. hehe” Revan memberitahu adik nya.
“Enak aja, mana ada cewek bau” Balas adik nya
tidak terima.
“Ayo kak ke kamar aku, jangan
dengerin omongan si abang jelek itu” Adik revan menarik ayu.
“Iya ikut riva aja ya bunga, nanti
kesini lagi kamu ganti baju dulu” Ucap mama lembut sambil mengelus puncak
kepala ayu pelan.
Entah mengapa rasa nya mama revan
memperlakukan dia seperti itu, seperti orang yang sudah berkenalan lama saja.
Akhirnya ayu beranjak dari sana
mengikuti riva. Namun begitu berpapasan dengan revan ayu dengan sengaja
menyenggol bahu revan kuat sampai laki-laki itu termundur selangkah saking
keras nya membuat revan meringis pelan.
“Makanya jangan usil” Ucap mama
karena pasti tadi ayu tidak terima dibilang bau sama revan.
“Jelasin sama mama cepat”
“””””””””””””””””””””””””””””””””
Maaf banget ni baru bisa update.
Huhuhu hp ku rusak ;(
Ini aku ngetik di laptop jadi mohon
di maklumi kalau banyak typo, Karena ngetik di laptop lebih susah ternyata..
wkwkwk
Terimaksasih telah membaca cerita ku
Jangan lupa like, comment dan
tambahkan ke favorite yaaa.
Sampai jumpe..
__ADS_1