Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Kakek


__ADS_3

...*Happy Reading**đź’•*...


“Bunga tunggu!” Panggil Kai lagi menahan lengan Ayu.


“Apa lagi!?” Sentak Ayu.


“Paman mohon, kali ini saja ikutlah untuk bertemu kakek” Kai memohon dengan sangat, karena dia sudah berjanji akan menemukan Ayu dengan sang Ayah.


Tiiitttt


Bunyi klakson motor mengalihkan perhatian dua orang yang sedang berdebat itu.


”Revan..?” Gumam Ayu pelan.


“Ayo pulang!” Panggil lelaki itu pada Ayu tanpa wajah bersalah sedikitpun.


Ayu mendekat kearah Revan yang masih setia duduk diatas motor nya “Ngapain?”


“Gue? Nungguin cewek gue” Jawab Revan santai.


“Serius!” Tuntut Ayu.


“Serius atuh….sayang” Revan sengaja mengecilkan suara nya diakhir kalimat agar tidak terdengar jelas oleh Ayu.


“Gue balik sendiri!” Ketus Ayu.


“Eh eh…jangan, udah ditungguin dari tadi juga malah ninggalin gue” Tanpa turun dari motor nya Revan menahan pergelangan Ayu.


“Gue gak minta ditungguin”


“Udah naik buru!” Tegas Revan tidak mau dibantah.


Pasrah, dengan menghentak kan kaki nya Ayu lalu menaiki bagian belakang motor Revan.


Saking asiknya debat dengan Revan sampai Ayu melupakan keberadaan Kai yang menatap nya lekat.


Ayu menatap Kai sekilas, otak nya berpikir keras antara meninggalkan atau ikut pergi bersama Kai. Setelah berpikir keras akhirnya Ayu memutuskan untuk turun dari motor Revan dan menghampiri Kai.


“Loh, kok turun…..”


“Saya akan ikut dengan anda—“.


“Benarkah?” Kai yang hampir putus asa langsung senang mendengar ucapan Ayu.


“Tapi dengan syarat!”


“Syarat?…..apapun itu katakan” Lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?


“Ini pertama dan terakhir kalian mengganggu saya” Kai langsung tersedak mendengar itu, padahal dia sudah senang bukan main awalnya.


“Bagaimana?” Ayu mendesak jawaban.


“Baiklah” Final Kai pada akhirnya, karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepan nya kan. Jadi nikmati saja kesempatan yang datang saat ini.


“Okee-“


”Kalau begitu naiklah” Kai mempersilahkan Ayu untuk naik ke kursi samping kemudi.


“Tidak, saya akan ikut dengan dia” Ayu menunjuk kearah Revan.


“Kami akan mengikuti dari belakang, tenang saja saya tidak akan kabur” Ayu pergi setelah mengatakan itu.


“Kenapa?” Tanya Revan penasaran.


“Lo buru-buru mau langsung balik gak?”


Revan yang bingung, berusaha untuk mengerti keadaan. Dia menatap sekilas kearah Kai yang juga sedang menatap nya lalu menatap lekat kearah Ayu.

__ADS_1


“Gak buru-buru….ayo gue anter” Revan menarik tangan Ayu untuk segera naik.


“Emang tau mau nganter kemana?”


“Gak, tapi kemana aja asal sama lo gue mau mau aja” Gombalan Revan mendapat hadiah pukulan di bahu nya.


“Ikutin mobil itu aja”


“Okee bu boss!”


.


.


.


“Ayo masuk….kakek sudah menunggu didalam” Ucap Kai semangat sangat berbeda dengan Ayu yang memasang wajah datar.


Rumah ini, tidak! Ini lebih pantas disebut istana daripada rumah karena bangunan nya sangat mewah dan megah dengan banyak penjaga yang berkeliaran dimana saja.


“Tidak salah lagi, ini pasti keluarga Lim yang dimaksud Adiba” Batin Revan berdebat.


“Ini rumah siapa?” Bisik Revan pelan pada Ayu yang hanya diam berjalan disamping nya.


“Setan” Enteng sekali gadis ini mengatai keluarga nya setan.


“Kita kesini mau apa?” Ayu mengangkat bahu nya acuh dan terus mengekori Kai.


“Nah, silahkan duduk dulu. Paman akan panggil kakek, Mau minum apa?” Kai bersikap ramah.


“Tidak perlu”


“Gue ha…us” Bisik Revan sangat pelan, membuat Ayu melotot.


“Teman mu seperti nya haus Bunga, jadi sebentar paman panggilkan pelayan” Kai pun berlalu dari sana.


”Jangan malu-maluin, nanti pulang dari sini lo gue traktir sampai kenyang”


Revan menyengir “Janji yaa?” Revan mengangkat jari keliking nya untuk mengikat janji ala-ala.


“Kayak bocil!”


“Awwhhss, gilak pedih banget jepitan kepiting nya bu boss” Revan mengusap-usap paha nya yang baru saja dicubit kecil oleh Ayu.


“KDRT lo!” Rengek Revan manja.


“KDRT pala lo!” Tidak lama, seorang pelayan datang dengan nampan ditangan nya.


Sekarang di meja sudah tersedia minuman segar dan beberapa cemilan yang dibawa pelayan, Ayu mengancam Revan dengan tatapan tajam nya agar laki-laki itu tidak menyentuh makanan dan minuman yang disediakan.


Revan hanya terkekeh gemas, dia tidak benar-benar haus. Tadi hanya berniat bercanda untuk menghilangkan rasa kurang nyaman gadis disamping nya.


Ya—Revan tau, meski berusaha terlihat baik-baik saja. Ayu pasti tidak benar-benar baik berada di istana ini, di lihat dari manik coklat gelap favorite nya itu. Terpancar banyak luka dan sakit yang Ayu sembunyikan.


“Tenang gabakal gue minum, gue juga udah kenyang habis makan mie di warung embak tadi sambil nungguin lo pulang ekskul” Bisik Revan.


“Udah kenyang kan? Gausah traktiran berarti?”


“Enak aja, janji tetap janji! Kan gue kenyang nya sekarang gak tau kalau dua menit lagi”


Baru saja hendak membalas ucapan Revan yang menyebalkan, tapi suara derap langkah mengalihkan perhatian Ayu dari Revan.


Begitu mengangkat wajah, mata nya bertemu pandang dengan mata sayu seorang pria paruhbaya yang Ayu tebak itu adalah papa dari bunda nya.


Kakek? Apa Ayu harus memanggilnya dengan sebutan kakek?


“Papa, ini Bunga. Anak dari cece Jia” Ucapan Kai menyadarkan Ayu dari lamunan nya.

__ADS_1


“Bunga? Cucu ku….” Suara nya bergetar seperti orang yang menahan tangis, tetapi Ayu masih duduk diam membisu tidak memberikan reaksi apapun.


Melihat itu, Kai pun berinisiatif memanggil Ayu “Bunga, kenalin ini kakek”


Sebutan “Kakek” terasa sangat asing di telinga Ayu, karena selama tujuhbelas tahun dia hidup tidak pernah sekalipun bertemu dengan sang kakek. Baik dari pihak ayah ataupun bunda nya.


Revan menepuk pelan lengan Ayu untuk menyadarkan Ayu, ketika Ayu menoleh dapat Revan lihat dipelupuk mata Ayu sudah ada setumpuk air mata yang ketika dia berkedip maka akan mengalir bebas di pipinya.


“Ayo berdiri, beri sapaan hormat sama kakek lo” Bujuk Revan, lalu menarik jemari Ayu untuk ikut berdiri bersama nya.


Menurut prinsip Revan, hormat dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua adalah hal yang utama. Terlepas dari apa kesalahan orang tersebut.


“Selamat malam pak” Sapa Revan sopan dan sedikit menunduk kan kepala nya.


Meski sudah dalam posisi berdiri mengikuti Revan, tetapi Ayu tidak mengikuti hal yang dilakukan Revan.


“Iya selamat malam” Balas kakek ramah meski hanya menatap Revan sekilas.


Kai dan kakek pun mengambil posisi duduk di kursi tepat diseberang Ayu dan Revan.


”Silahkan duduk” Persilah kakek, dengan pelan Revan kembali menarik tangan Ayu agar duduk.


“Bunga, apa kabar kamu?” Hening, Ayu tidak menjawab apapun. Dia masih menunduk menatap jemari nya yang masih digenggam Revan.


“Kakek tau, kamu pasti berat untuk datang kerumah ini…tapi kakek tetap berterimakasih karena kamu masih mau mengunjungi kakek”


“Kamu kekasih cucu saya?” Tanya kakek pada Revan.


“Belum…..eh maksudnya tidak, saya teman Bunga” Jawab Revan salah tingkah.


Kakek mengangguk “Baiklah…terimakasih sudah mengantarkan cucu saya kemari, sekarang kamu boleh pergi”


“Wih, gue di usir nih ceritanya?!” Revan membatin kesal.


“Sama-sama pak, tetapi karena saya kesini bersama Bunga…pulang pun saya akan tetap membawa Bunga” Jawab Revan menyembunyikan kekesalan nya.


Baru saja hendak menjawab, Kai langsung menenangkan sang papa “Biarkan saja pa” Ucap Kai pelan, sudah bisa dipastikan kalau anak laki-laki itu pergi Ayu juga akan ikut pergi.


Akhirnya kakek pasrah dan membiarkan Revan.


“Setelah tujubelas tahun, akhirnya kakek bisa melihat wajah mu secara langsung yaa…dan benar kata Kai kalau kamu mirip dengan Jia anak ku”


“Huh—tentu saja mirip, aku anak kandung nya” Batin Ayu.


“Banyak hal yang ingin kakek sampaikan, tetapi untuk memulai semua nya dengan baik…terlebih dahulu kakek ingin meminta maaf padamu” Ucap kakek pelan.


“Kakek meminta maaf, untuk semua hal buruk yang pernah kakek lakukan pada mu dan Jia”


“Andai saat itu kakek tidak meninggikan ego dan bersedia menerima Jia kembali, semua ini tidak akan terjadi. Kakek tidak akan dihantui rasa bersalah seperti ini setiap harinya” Pria paruh baya itu sudah menangis, meski tidak sampai terisak.


“Andai Jia masih hidup dan berada dihadapan kakek, rasanya kakek ingin memeluk nya dan terus meminta maaf sampai perasaan kakek lega”


“Cukup!” Bentak Ayu.


“Tidak perlu membahas perihal orang yang sudah meninggal, sebesar apapun rasa bersalah kalian tidak akan bisa mengembalikan dia”


“Saya kesini bukan untuk mencari tahu sebesar apa rasa bersalah kalian karena itu bukan urusan saya, saya kesini hanya ingin mengatakan berhenti. Berhenti untuk mengusik hidup saya” Ucap Ayu tegas.


...🦒🦒🦒...



**Nama bunda nya Bunga itu JIA yaa…**


Nama paman nya Kai***


__ADS_1


Gapake nama panjang karena utor paling susah ngarang nama tokoh!


__ADS_2